
Dua Minggu berlalu, keadaan Arlan semakin gak karuan. Dia mabuk, dan juga senang buat keributan di tongkrongan. Setiap ada yang mengajak balapan, dia akan menerima. Tidak peduli dengan kemenangan, dia hanya ingin hancur, agar bisa merasakan hati Sania yang porak-poranda dibuatnya.
Kasa tidak tahan melihat sahabatnya itu. Dia juga ikut bertanggung jawab. Dia memutuskan mencari Sania. Tidak sulit bagi Kasa yang punya banyak orang suruhan untuk melacak Sania.
"Silakan mau pesan apa?" sambut Sania menekan rasa terkejutnya. Kasa sudah berdiri di depan Sania yang sedang berada di meja kasir dan pemesanan.
"Gue mau bicara. Please, San," pinta Kasa memelas.
"Maaf, Mas. Kalau gak order, silakan minggir, masih ada antrian lain."
Kasa melirik kebelakang. Ada lima orang yang sedang mengantri. Pria itu terpaksa mengalah. Dia menyingkir, tapi tidak segera pergi. Kasa dengan sabar menunggu sampai Sania mau bicara dengannya.
Yang diharapkan akhirnya terjadi. Berkat bos manager restoran yang melihat Kasa menunggu Sania dengan gelisah, karena sesekali pria itu akan mendatangi meja kasir mencari Sania, hingga sang manager yang menganggap Kasa adalah pacar Sania dan menduga mereka sedang ada masalah, meminta Sania untuk berhenti sebentar dan mengajak Kasa bicara.
Bukan apa, sikap dan tingkah Kasa selama menunggu sedikit ekstrim, jadi pelanggan yang ada di sana merasa tidak nyaman.
"10 menit. Aku sibuk!" Sania kini sedikit berubah. Dia jadi gadis yang tegas dan berkeras hati. Semua yang terjadi buatnya sulit menaruh kembali rasa percayanya pada siapapun.
Arlan dan Kasa menghancurkan rasa percayanya pada mereka berdua. Selama ini dia merasa aman dan nyaman karena ada mereka berdua, tapi sekarang?
"Gue yang salah. Taruhan itu rencana gue."
__ADS_1
Manik mata Sania membola, marah mendengar penuturan Kasa yang tanpa beban.
"Tunggu, tapi itu pada awalnya saja. Arlan bahkan tidak menganggap taruhan itu jadi. Saat gue menyerahkan kunci motor, dia juga bingung. Tepat saat gue menjelaskan perihal taruhan, dia sendiri lupa dan akhirnya menolak. Tapi gue memaksa hingga lu keluar dari dalam dan mendengar omongan kita."
"Terima kasih. Kalian para orang kaya, menganggap aku yang miskin dan hina ini hanya sebagai mainan, barang taruhan layaknya benda lain," kata Sania, air matanya turun membasahi pipinya.
"Sania... Aduh, jangan menangis, dong. Ini gimana, jangan nangis, San, please..." Kasa jadi bingung, merasa semakin bersalah. Dia paling tidak bisa melihat gadis menangis, terlebih Sania yang sudah dianggapnya sahabat baik, orang yang juga dicintai Arlan.
Kasa berlutut di tanah, di depan Sania. Merendahkan dirinya dengan semua rasa bersalah yang dia rasakan saat itu.
Dia benar-benar berasa menjadi manusia paling hina karena melakukan taruhan itu. Sania bukan seperti gadis-gadis yang dia kenal, tidak akan mempermasalahkan hal ini, tapi nyatanya dia salah. Sania memiliki harga yang tinggi, dan karena dia dianggap begitu spesial.
Gadis itu mendongak. Matanya masih terus berurai air mata saat menatap Kasa. Dia bisa melihat ketulusan dan penyesalan di mata Kasa. Dia bangkit dari duduknya, begitupun Kasa yang takut ditinggal pergi.
Keduanya bicara di samping restoran, di antara parkiran motor para pegawai restoran. Hanya ada satu pencahayaan temaram yang biasanya diperuntukkan bagi pelanggan yang ingin drive thru.
"Sania... Aku mohon dengan segenap penyesalan di hatiku, aku minta maaf. Maafkan lah kami."
Dia ingat kata ayahnya. Memaafkan orang itu perbuatan mulia. Bila bisa memaafkan keslaah orang dengan tulus, lapang dada, maka akan mendapatkan keberkahan. Sejatinya, orang yang meminta maaf tidak lantas menjadi hina, dan orang yang memaafkan tidak lah menjadi tuan.
Sania mengangguk, tapi tangisnya justru pecah. Kasa ikut menitikkan air mata haru, menarik tangan Sania agar masuk ke dalam pelukannya. Di dada Kasa, Sania menangis hingga tubuhnya bergetar. Kasa semakin mengeratkan pelukannya. Dia berharap semua rasa sakit yang dirasakan Sania bisa pindah ke dirinya. Biarkan dia yang merasakan sakit itu.
__ADS_1
Malam semakin panjang, keduanya masih berpelukan di bawah sinar bulan yang kebanyakan justru bersembunyi di balik awan. Suara motor yang dinyalakan dan segera pergi dari sana tidak membuat keduanya menyudahi pelukan itu.
Arlan membawa kecewanya pergi dari sana. Dia cukup jelas melihat keduanya berpelukan. Katakan dia egois dan IQ yang biasa dia atas rata-rata itu menjadi tumpul tidak bisa berpikir benar. Dia hanya merasa kecewa dan amarah yang menggerogoti hati, jantung dan pikirannya.
Sania tidak mau bertemu dengannya. Dua Minggu sudah dia menunggu. Gadis itu berjanji kalau dia akan menghubungi ketika dia sudah siap untuk bicara dengannya, kenyataan yang dia dapat, gadis itu begitu gampang tanpa beban menemui Kasa bahkan berpelukan.
Arlan terbakar cemburu, itu sudah pasti. Rasa cintanya yang besar justru jadi bumerang baginya dalam menarik kesimpulan.
Kini keadaan berbalik. Tanpa tahu kebenarannya, dia sudah menaruh dendam dan kebencian pada Sania dan Kasa.
Arlan semakin tidak bisa menguasai amarahnya, berkendara dengan kecepatan tinggi. Pikirannya dibayang-bayangi perselingkuhan antara Sania dan Kasa.
"Jadi, selama ini lu hanya bermuka dua? Lu main belakang di depan gue? Lu tidur sama gue tapi juga mau sama teman gue? Dasar gadis brengsek!" umatnya menambah kecepatan.
Emosi yang mengambil alih itu membuatnya tidak mawas diri di jalanan. Belum lagi sebelum pergi mencari Sania karena sudah tidak tahan menahan rindu, Arlan minum bersama ketiga temannya.
Di bawah pengaruh minuman serta dibutakan cemburu, membuat Arlan menabrak truk gendeng yang melaju dari depan. Kecepatan motor Arlan segera mengarah pada truk. Beruntung supir truk itu bisa banting stir ke kanan, dan tabrakan adu banteng itu pun bisa dihindari, tapi Arlan tetap jatuh, terseret dan menabrak bahu jalan.
Seketika pria 21 tahun itu tidak sadarkan diri di tempat. Banyaknya orang yang berkerumun dan memanggil-manggil namanya tidak lagi dapat dia dengar.
Tiba-tiba saja dia berdiri, keluar dari tubuhnya, hanya bisa memandangi keadaannya yang tak sadarkan diri. Dia berjalan mendekat, mengamati wajahnya yang baru saja dilepaskan dari helm yang berhasil melindungi bentukan yang sangat keras di kepalanya. Benturan tubuhnya yang terpelanting ke bak truk gandeng yang paling belakang, yang hampir tabrakan dengannya tadi, ditambah terpelanting di aspal membuat tubuhnya, terlebih jantungnya terkejut dan seketika meregang nyawa.
__ADS_1