Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Mempertahankan


__ADS_3

Alana memanfaatkan semua waktu yang tersisa baginya untuk menjaga buah hatinya. Dia ingin menciptakan kedekatan walau hanya punya sedikit waktu.


Suaminya sudah menunjuk seorang suster untuk membantu mengurus bayi mereka, tapi selain Lily karena Lily merasa keberatan, Alana juga ingin merasakan menjadi ibu yang sesungguhnya. Dia meminta pada Lily, disisa waktunya, agar dia diperkenankan mengurus dan menjaga putranya seorang diri. Lily menyetujuinya, toh hanya seminggu ini. Jadilah sang suster berperan hanya sebagai penolong Alana, itu pun jika dibutuhkan.


Tapi pada hari ketiga, Lily kembali terhempas, saat Arun mengatakan niatnya untuk pindah tidur ke kamar Alana. Bagai disambar petir, hati Lily kembali diserang rasa sakit.


"Kau kenapa lagi hun? apa maksud semua ini?" protesnya tentu saja tidak terima. Dia pikir setelah Alana melahirkan anak untuk mereka, tidak akan ada lagi alasan untuk Arun berdekatan atau pun memberi perhatian pada Alana, tapi kini, suaminya itu justru meminta untuk pindah kamar dengan istri sirinya itu.


"Memangnya salah dimana Ly? aku hanya mulai sadar, sudah seharusnya aku bersikap adil pada Alana, dia juga istriku kan?"


"Hun, kau jangan lupa dengan perjanjian itu, Alana hanya kita minta mengandung dan melahirkan anak buat kita, setelah itu kau harus menceraikannya!!" berang Lily semakin kalap.


Seluruh pikirannya hanya dipenuhi rasa cemburu pada Alana kini. Sedikit banyak omongan Sinta mulai masuk dalam pikirannya. Bisa saja Arun berubah karena godaan Alana. Dia kenal betul siapa suaminya itu. Tipe setia.


"Aku berubah pikiran. Maafkan aku Ly, aku tidak bisa melepaskan Alana. Aku tidak akan menceraikan Alana. Dia ibu dari anakku, suka atau tidak, kau harus terima!"


"Tidak, aku tidak akan menerima sampai kapan pun! Kenapa kau begitu jahat, hun? kenapa kau membagi cintamu pada Alana?"


"Seandainya aku bisa Al. Seandainya aku bisa mengendalikan hatiku untuk tidak mencintainya" desis Arun. Itu benar, seandainya hari dimana dia tidak menyentuh Alana malam itu, maka mungkin benih cinta itu di hati tidak akan bersemai.


"Alasan. Ini hanya karena kalian tinggal satu atap, saling bertemu makanya kau punya ketertarikan. Cepat ceraikan dia hun, aku jamin kau pasti akan melupakannya" ujar Lily memohon.


Arun bergeming. Benarkah dia bisa melupakan Alana? mengubur segala perasaan dihatinya?


"Ly, pikirkan juga nasib anakku. Bagaimana nanti keadaannya jika dia berpisah dengan ibu kandungnya? dia masih kecil" ucapan itu lebih ke dirinya sendiri. Menyadari ikatan batin seorang anak dengan ibunya mulai tercipta sejak lahir. Kasihan anaknya harus dipisah dengan ibu kandungnya nanti.

__ADS_1


"Anak itu akan baik-baik saja. Aku yang akan merawatnya karena itulah tujuan awalnya dia dihadirkan di dunia ini" salak Lily tak ingin dibantah.


"Aku lelah, aku akan pindah ke kamar Alana. Aku ingin didekat mereka"


"Aku ga mau. Aku ga setuju" teriak Lily berlari ke dekat nakas, menghancurkan vas bunga kesayangannya ke lantai. Lily sudah diambang batas. Dia kalut, bayangan dirinya tersingkir dari rumah tangganya sendiri, membuatnya frustasi. Dia tidak ingin yang menjadi miliknya dirampas. Dia tidak ingin mengalami nasib yang sama seperti ibunya.


"Ly.." Arun berlari mendekat Lily yang seketika terjatuh lemas dilantai. Arun membopong tubuh Lily ke tempat tidur, menyelimutinya.


Perlahan Arun menurunkan kakinya dari tempat tidur, setelah memastikan Lily jatuh dalam tidurnya. Gadis itu menangis terisak menggenggam tangan Arun yang terduduk ditepi tempat tidur hingga terbuai mimpi.


Setelah menutup pintu kamarnya, dengan langkah pasti Arun menuju kamar Alana.


Tok..tok.. tok..


"Sudah pak. Bayi kami?"


"Sudah tidur juga pak"


"Kalau begitu, kamu keluar biar aku yang menjaga mereka. Nanti kalau aku butuh bantuan, aku panggil" suster itu hanya mengangguk.


Arun menatap gadis yang kini selalu mengisi hati dan pikirannya itu. Tertidur pulas. Beberapa hari ini Alana begadang mengurus si kecil. Arun tahu akan hal itu. Suster itu selalu memberikan laporan setiap kegiatan Alana. Kalau dipikir-pikir sang suster lebih jadi mata-mata buat Arun dibandingkan membantu Alana.


Arun melangkah mendekati tempat tidur. Bayi mungil mereka terlelap dalam pelukan Alana. Bayi mungil itu mewarisi hidung dan juga lesung pipinya. Sementara mata dan bentuk wajahnya lebih pada Alana.


"Hai jagoan papa. Anak kebanggaan papa. Jadi anak yang pintar dan selalu jaga mama ya nak" bisik nya sembari melirik Alana, takut gadis itu terganggu tidurnya.

__ADS_1


Dengan langkah mengendap-endap Arun beranjak menuju sofa yang tidak jauh dari tempat tidur itu. Arun merebahkan tubuhnya dan mulai terpejam.


Saat ketiga orang dalam kamar itu sudah tertidur pulas, seseorang dikamar yang lain duduknya meringkuk ditempat tidurnya. Menangisi keadaannya. Hati sudah tidak berbentuk. Satu hal yang disadarinya, ancaman seperti apapun tidak akan membuat niat Arun menyusut, bahkan Arun akan semakin jenuh oleh sikapnya.


Saat Arun pergi diam-diam tadi, Lily sebenarnya masih bangun. Berpura-pura tertidur dengan pikiran yang berkecamuk.


Tangis mungkin tidak akan menyelesaikan masalah nya dan dia juga tidak ingin menangis. Hati dan pikiran serta tubuhnya lelah, tapi tidak ada yang bisa dilakukan. Dia sudah coba membendung tangisnya, juga tidak berhasil.


***


Rengekan bayi mungil itu membangunkan Alana dari tidurnya. Ini memang sudah jamnya untuk Alana menyusui putranya. Samar matanya menangkap sosok Arun yang tengah tertidur di sofa. Sontak Alana terkejut, dilayangkannya pandangan ke sekeliling ruangan, suster Ani tidak ada di ruangan itu.


Apa yang membuat pria itu datang ke kamarnya dan memilih untuk tidur di sini? untuk memintanya bangun dan pergi dari sini juga rasanya kurang tepat. Jadi Alana memutuskan untuk membiarkan Arun tidur di sana.


Sembari mengasihi bayinya, Alana menatap wajah tampan diujung sana. Hidung mancung, rahang tegas. Entah sejak kapan pastinya Alana sangat suka memperhatikan wajah itu. Kadang muncul dorongan untuk menyentuhnya, tapi selalu dia tahan. Dia cukup tahu diri.


Merasakan tidak ada lagi h*sapan, Alana menolehkan pandangannya pada anaknya. Bayi itu sudah kembali terlelap. Alana beranjak, mendekati Arun, dengan selimut ditangannya dan menyelimuti tubuh atletis suaminya itu.


Saat mau melangkah, Arun menangkap tangan Alana, menarik hingga gadis itu duduk dipangkuan Arun. Sorot mata Alana menatap pria itu tajam. Dia ingin bangkit tapi ditahan oleh Arun. Bukan apa, Alana risih, ada yang mengganjal bokongnya, keras dan sangat mengganggu dibawah sana.


Alana tahu itu apa. Ini sudah hampir subuh, sudah tabiat pria miliknya bangkit di jam segini. Untuk kedua kalinya Alana mencoba menarik diri, namun Arun semakin kuat menarik tubuh Alana, hingga wanita itu terjerembab jatuh di atas tubuh Arun. Lama keduanya saling tatap hingga tangan Arun naik memegang tengkuk Alana, perlahan mendekatkan wajah gadis itu padanya. Lalu semua tampak melayang. Membawa keduanya pada teluk kerinduan yang sudah lama terpendam..


***Hai..aku datang.Jangan ngomelin Eike dong karena up cuma satu bab ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜ฅ Ini juga ngusahakan up satu bab aja perjuangan๐Ÿ˜ฉ๐Ÿ˜ฉ. Benar2 ga fit badan ini๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ


Btw, aku mau minta saran dong dari semua kesayangan aku yang baca novel ini, cocok nya nama si bayi siapa ya?? please bantu komen ya, biar aku makin semangat up nya. makasih๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2