
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Brraaakkkk
Sesampainya di rumah Baskoro turun dari mobil dan menutup pintu mobil dengan sangat keras. Dia masih tidak terima dengan keputusan David yang memecatnya secara sepihak.
Lastri yang melihat sang tuannya pulang dengan marah-marah hanya bisa diam. Dia tidak berani menegurnya yang ada nanti pasti akan marah serta dirinya jadi sasaran empuk kemarahan Baskoro.
"Lastriiiii !!."Baskoro berteriak memanggil Lastri.
Dengan segera Lastri berlari dengan tergopoh-gopoh menghampiri Baskoro yang saat ini sedang duduk di sofa ruang keluarga sambil melepas sepatunya dan melemparnya kesembarang arah.
"Iya tuan, ada apa?."Tanya Lastri dengan sopan dan takut-takut siapa tahu akan di marahi oleh Baskoro.
"Buatkan aku minuman yang segar dan itu sepatu ku kamu letakkan sekalian di rak sepatu. Cepat dan tidak pakai lama !!." Seru Baskoro terlihat sekali jika dia sedang marah.
"Iya tuan, baik. Akan langsung saya buatkan."Seru Lastri lalu pergi ke dapur sebelumnya sudah mengambil sepatu Baskoro terlebih dahulu.
Sambil menunggu Lastri membuatkan minuman, Baskoro meraih ponsel dari dalam kantong celana nya dan segera menghubungi Bella untuk mencereritakan apa yang sudah terjadi dengannya.
[Hallo Pa, ada apa? Bukannya tadi pagi sudah bertemu, kok sudah telepon lagi? dan bukannya ini masih jam kerja?.] Tanya Bella dengan heran.
Saat ini panggilan yang dilakukan adalah Video call sehingga Baskoro tahu apa yang saat ini dilakukan oleh Bella. Bella sedang tiduran di kamar sembari nonton televisi.
[Papa lagi kesal, Sayang. Papa di pecat ! Gara-gara papa sakit dan tidak masuk kerja. Papa saat itu memang tidak ada yang menyampaikan izin sakit. Papa fikir karena papa sudah lama mengabdi diperusahaan, jadi tidak masalah kalau bolos kerja tanpa keterangan pasti.]
[Apa ? Di pecat? Papa dipecat dari perusahaan Widjaya Group?.]
[Iya sayang, maafkan papa ya kalau mulai bulan depan papa tidak bisa kasih kamu uang untuk kamu belanja-belanja. Tapi kamu tidak akan meninggalkan papa kan?.]Tanya Baskoro dengan wajah memelasnya.
[Emmm bagaimana bisa Bella meninggalkan papa. Bella juga nyaman sama papa, biarpun papa tidak memberi uang seperti dulu Bella akan tetap menyayangi papa. Apalagi bayi dalam kandungan ku ini kan juga anak papa, tapi belum yakin 100 persen juga sih. Ada Vito yang bisa menghidupi ku dan memberiku uang.]
[Terimakasih sayang ku, Bella. Papa semakin mencintai kamu. Papa jadi pengen lagi nih padahal tadi sudah hampir dua jam kita main. Papa masih kangen goyangan kamu sayang.]
Deggghhhhh
Lastri yang hendak mengantarkan minuman pun langsung menghentikan langkah kakinya saat dia mendengar obrolan tidak pantas antara ayah dan anak. Lastri kembali mundur dan dia bersembunyi di balik tembok pembatas. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Bella dan Baskoro.
"Apa yang dibicarakan Tuan Baskoro dan Nona Bella? Iya wanita itu Nona Bella, aku hafal suaranya dan Tuan juga memanggilnya Bella,sayang."Ucap Lastri dengan semakin penasaran.
Lastri menajamkan pendengarannya, dia ingin tahu sebenarnya ada kejanggalan apa yang terjadi dengan Baskoro dan Bella. Lastri sendiri memang sering merasa aneh dengan Bella dan Baskoro. Beberapa kali Lastri pernah melihat Baskoro keluar dari kamar Bella di pagi hari. Dan itu terjadi disaat Bella masih belum menikah dengan Vito.
[Papa, jangan seperti itu dong. Bella jadi malu loh, tapi Bella heran deh sama papa. Semakin berumur kok papa semakin gagah dan goyangan papa juga yahut. Mana si Joni semakin kuat, papa sekarang kalau mau main 2 jam selalu kurang. ]
[Iya dong, papa memang menjaga stamina papa agar tetap sehat dan bugar. Dengan begitu kan kamu juga yang puas, apalagi jika bertemu dengan milikmu yang sangat nikmat itu. Duhh papa jadi pengen lagi nih, papa kerumah kamu lagi ya. Papa belum puas sayang, Vito juga belum pulangkan. ]
[Tadi sudah 2 jam loh pa, aku sedang hamil jadi tidak bisa keseringan. Kasihan janinnya nanti dia terganggu juga.]
Lastri yang mendengarkan saja merasa jijik dengan obrolan mereka. Anak dan ayah sama-sama tidak beradab dan tidak tahu malu.
*Ternyata dugaan ku benar, jika tuan dan Non Bella ada hubungan terlarang. Dan pasti ini sudah berjalan lama, soal nya aku melihat Tuan keluar dari kamar Non Bella itu saat Non Bella masih kuliah. Kasihan sekali Nyonya Leni, tapi bukannya dulu Nyonya menikah dengan Tuan juga dari hasil merebut suami orang. Sepertinya hukum karma berlaku dan anaknya sendiri yang sudah merebut suaminya. Dasar manusia gila semua, hanya mementingkan nafsu sesaat saja.*Gumam Lastri dalam hati.
Lastri ragu, malu dan takut mau mengantarkan minuman untuk Baskoro. Dia tidak mau Baskoro mengetahui jika dirinya mengetahui dan mendengar semua obrolan mereka.
[Bella, boleh papa lihat itunya?.] Tanya Baskoro yang sudah tidak bisa menahan dirinya lagi.
[Maksud papa mau lihat mesin kenikmatan Bella? Heheee Boleh dong pa, papa kekamar saja dong jadi biar semakin asik.]
[Kamu mau lihat si joni juga ya. Ok, papa kekamar ya. Ini si joni juga sudah On, mau lihat?] Seru Baskoro mengarahkan ponsel kearah yang dia maksud.
__ADS_1
[ Waaoowww ] Seru Bella sambil tertawa.
Baskoro bangkit dan berjalan menaiki anak tangga dengan sambungan video call yang masih tetap menyala. Dan yang lebih parahnya lagi, si joni dia keluarkan sehingga terlihat jelas oleh Lastri yang memang sedang mengintip.
"Menjijikan !! Bagaimana jika Nyonya dan mas Vito tahu kelakukan mereka berdua? Pasti mereka berdua akan dihajar habis-habisan. Lebih baik aku diam dan tidak perlu ikut campur. Aku cukup tahu saja, itu urusan mereka."Seru Lastri kembali ke dapur dengan nampan yang tetap terisi es yang sudah tidak dingin lagi.
Sepertinya Baskoro lupa jika dirinya tadi meminta es atau minuman segar sama Lastri. Pembahasannya dengan Bella yang sangat serius membuat dia melupakan segalanya.
Baskoro dan Bella saat ini sedang melakukan *3** lewat sambungan video call. Dan mereka ternyata memang sering melakukan panggilan video call seperti itu.
Sementara itu saat ini Leni sedang berada di salah satu toko barang-barang elektronik. Dia memutuskan untuk membeli CCTV yang akan dia pasang di kamar tamu dan kamar Bella. Dia punya rencana yang akan dia jalankan setelah CCTV itu terpasang.
"Aku mau CCTV yang bagus dan tidak mudah diketahui oleh orang. Kira-kira yang seperti apa?." Tanya Leni antisius.
"Mau dipasang dimana, Nyonya?." Tanya pemilik toko dengan ramah.
"Kamar."Jawab Leni singkat.
"Kalau untuk kamar lebih baik pakai CCTV yang bisa diletakkan di lampu kamar saja. Itu yang jarang diketahui orang, dan jika di letakkan di lampu, CCTV itu bisa melihat kesegala sudut kamar. Bagaimana Nyonya, mau?." Tanya pemilik toko.
Leni dengan cepat menganggukkan kepalanya saja. Dia setuju saja apa yang di sampaikan oleh pemilik toko. Dan Leni juga meminta yang terbaik dengan kualitas gambar yang jelas. Tidak lupa dia meminta untuk menyambungkan langsung ke ponselnya.
"Mau dipasang kapan, Nyonya?." Tanya pemilik toko.
"Sekarang."Jawab Leni tanpa tahu jika saat ini dirumah ada suaminya.
"Baiklah, saya akan meminta teknisi untuk ikut kerumah Nyonya. Saya jamin CCTV ini aman dan pemasangannya pun tidak memakan waktu lama."Ucap pemilik toko.
Leni hanya mengiyakan saja, dia sudah tidak sabar untuk memasang CCTV itu rumahnya. Dia segera ingin mengetahui apa yang terjadi antara Baskoro dan Bella.
Tidak menunggu lama Leni dan teknisi itu sudah sampai dirumah. Namun betapa terkejutnya Leni saat mendapati mobil yang dipakai suaminya sudah ada di garasi rumah. Leni memutar otaknya, mencari cara agar CCTV itu bisa segera terpasang dan Baskoro tidak curiga.
"Nanti kalau suamiku atau orang rumah bertanya, bilang saja kamu mau servise AC ya."Ucap Leni.
Leni dan Adi melangkah menuju pintu utama, Leni membuka pintu dengan kunci cadangan yang selalu dia bawa. Rumah terlihat sepi dan tidak ada tanda-tanda adanya seseorang. Leni melihat Lastri ada di halaman belakang sedang menyapu.
"Lastri."Leni langsung memanggil Lastri.
"Iya Nyonya? Kok Nyonya sudah pulang? Mau makan siang dirumah, Nya?." Tanya Lastri kaget mendapati kehadiran majikannya yang tiba-tiba.
"Tidak. Oh iya mana Tuan? Apa dia dirumah, soalnya itu ada mobilnya?." Tanya Leni dengan serius.
"Eemm Tuan ada dikamar, sepertinya sedang istirahat."Ucap Lastri sedikit gugup.
Lastri khawatir jika Baskoro belum selesai video callnya dengan Bella dan akan diketahui oleh Leni.
"Oh ya sudah. Tolong kamu buatkan minuman yang segar-segar dan sediakan kue untuk teknisi yang akan menservise AC, AC sudah mulai tidak dingin dan harus di servise dulu."Seru Leni beralasan.
"Iya Nyonya."Jawab Lastri patuh.
Lastri memang tidak tahu menahu soal AC, sebab setiap kali servise selalu Leni yang memanggil tukang servisenya. Sehingga dia percaya begitu saja saat Leni mengatakan ada orang mau servise Ac.
***********
Nia dan dokter Rachel sudah sampai di Kota M untuk ikut seminar. Saat ini mereka sudah berada dikamarnya masing-masing, kamar bereka hanya selisih satu nomor saja. Nia ada di kamar 214 dan Rachel ada di kamar 215.
"Selamat beristirahat, Nia. Pergunakan waktu mu untuk istirahat karena besok pagi jam 9 kita harus sudah sampai di gedung tempat diadakannya seminar."Ucap Rachel dengan ramah.
"Iya kak, Terima kasih sudah di ingatkan."Jawab Nia dengan sopan.
Nia dan Rachel sampai di Kota M saat sudah menjelang maghrib sehingga mereka memutuskan untuk langsung istirahat saja. Untuk makan malam sudah meminta pihak hotel untuk mengantarkannya.
Nia masuk kekamarnya, dan begitu juga dengan Rachel. Nia meletakkan kopernya dan segera masuk kamar mandi untuk mandi terlebih dahulu.
Tok Tok Tok
__ADS_1
Baru juga selesai mandi pintu sudah di ketuk, namun Nia tidak mau membukakan pintu terlebih dahulu. Dia menyelesaikan memakai baju terlebih dahulu, baru akan membukakan pintu.
Tok Tok Tok
Pintu kembali diketuk sehingga membuat Nia kesal. Nia mengira jika itu adalah petugas hotel yang sedang mengantarkan makan malam. Dan tidak sabar menunggunya.
"Iya sebentar. Sabar dulu !." Teriak Nia dari dalam kamar.
Ceklekkkk
Pintu terbuka dan terlihatlah orang yang berdiri didepan Nia dengan senyum dan tatapan mata yang sulit untuk di artikan.
"Hubby."Seru Nia dengan mata melotot dan mulut terbuka.
"Iya sayang ini aku. Lama sekali sih membuka pintunya." Ucap David.
Orang yang tidak sabaran dan datang ke kamar Nia itu adalah David. David tadi siang memang dengan sengaja ikut penerbangan dengan Nia namun Nia tidak menyadarinya. Dan saat ini dia sudah berdiri dihadapan Nia.
"Hubby kenapa ada disini?." Tanya Nia dengan heran.
"Karena aku tidak mau jauh darimu. Sudah yuk sini masuk saja jangan berdiri di pintu terus. Nanti bisa pegal-pegal kaki ku."Ucap David dengan tangan menarik tangan Nia dengan pelan.
Nia masih heran dengan suaminya yang tiba-tiba sudah ada di depan kamarnya. Dia tadi mengira jika orang yang datang adalah pelayan hotel yang mengantarkan makan malam untuk dirinya.
"Sayang kok diam saja sih?."Seru David.
"Emm. Hubby kenapa tidak kasih tahu kalau mau ikut kesini?." Tanya Nia masih dengan wajah keheranan.
"Bukannya aku sudah bilang saat di hotel kemarin siang. Mungkin kamu saja yang lupa atau memang kamu tidak mendengar kan apa yang aku ucapkan, karena kamu sedang menikmati pergulatan kita."Seru David sambil terkekeh.
Nia mencoba mengingat-ingat, dia sedikit ingat jika David memang bilang akan ikut keluar kota. Nia mengira jika itu hanya bercandaan saja dan tidak menganggapnya serius. Namun siapa sangka jika ternyata David serius.
"Sayang kok diam? Aku mau mandi dulu ya, setelah itu kita makan malam. Apa kamu mau mandi bareng dengan ku?." Seru David semakin menggoda Nia.
"Aku sudah mandi, hubby. Hubby saja yang mandi nanti aku akan bongkar koper Hubby untuk menyiapkan pakaian ganti untuk Hubby."Seru Nia menolak secara halus.
"Baiklah sayang. "Ucap David sambil mencium pipi kanan Nia.
David menerima handuk ysng diberikan Nia dan segera masuk kamar mandi. Sedangkan Nia langsung membongkar koper David dan menyiapkan pakain ganti untuk David.
"Apa dikiranya aku ke kota ini itu sedang berlibur ya? Aku ini ada kerjaan, jika dia ada disini pasti aku tidak bisa konsentrasi. Hemmm dasar suamiku ini memang aneh."Ucap Nia sedikit kesal dengan kebucinan sang suami.
Dreettt Dreeet Dreeet
Ponsel Nia berdering ada panggilan masuk. Nia segera menganggkat teleponnya yang ternyata dari Rachel.
[ Hallo, kak Rachel. Ada apa?] Tanya Nia.
[ Nia, kamu sudah pesan makanan belum? Kalau belum kita makan di restoran bawah saja yuk. Setelah itu baru kita istirahat.]
[Maaf kak, aku tadi sudah pesan makanan. Lagi pula badan capek banget kak, apa lebih baik kakak juga pesan saja.]
[ Iya juga sih. Ya sudah aku juga pesan saja lah, besok pagi saja kita sarapan dibawah.]
[ Iya kak]
[Ok, aku matiin ya teleponnya.]
Tut Tut Tut
Sambungan telepon terputus tepat dengan David yang baru saja membuka pintu kamar mandi. David pun memakai baju yang sudah di siapkan oleh Nia.
Saat David sedang mengenakan pakaian, pelayan datang mengantarkan makan malam untuk Nia. Nia langsung menerimanya didepan pintu saja karena David berganti pakaina di dekat ranjang dan akan terlihat jika pelayan itu masuk.
***********
__ADS_1