Dokter Penakluk Duda Arogant

Dokter Penakluk Duda Arogant
Kabar kehamilan Bella


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Dreett Dreett Dreet


Saat sedang bersantai dengan kedua temannya, ponsel Nia terus berdering. Sebenarnya Nia malas sekali mengangkat telepon itu, namun saat tahu nama siapa yang penelpon dengan cepat Nia menganggkat telepon itu.


[Dimana kamu? Dari tadi aku menghubungimu kenapa baru kamu angkat ? Bukannya acara dari rumah sakit sudah selesai dari 3 jam yang lalu? Tetapi kata Nada kamu belum pulang dan dirumah sakitpun kamu tidak ada!!] Bentak David dengan kasar sampai Nia sedikit menjauhkan teleponnya dari telinganya.


Berta dan Rindi saling melempar pandangan mereka saat melihat Nia yang sedang menerima telepon seperti orang ketakutan. David memang masih sering bersikap arogan terhadap Nia, namu tidak sampai dengan main tangan.


[Maaf Hubby. Aku lupa memberitahu kalau aku sekarang ada dirumah ibu, tapi bukannya semalam aku sudah memberitahu kamu kalau sepulang acara aku akan kerumah ibu untuk bertemu dua temanku.] Seru Nia yang memang semalam sudah memberitahu David.


[Aku tidak ingat. Ya sudah pulang jangan sore-sore, kasihan Nada dirumah menunggu kamu pulang]. Jawab David masih terdengar ketus ditelinga Nia.


Degghhh


Nada ? Nia sampai melupakan keberadaan anaknya itu. Hari ini memang jadwal Nia tidak masuk kerja dan Nada sudah hafal betul dengan jadwal kerjanya itu. Nia benar-benar merasa bersalah, seharusnya tadi dia mengajak Nada ikut kerumah ibu Karti.


[Maaf hubby. Tadi pagi aku lupa memberitahu Nada, aku hanya bilang ada acara tanpa memberitahu kalau akan kerumah ibu.]


[Hemmm.. Ya sudah sana kamu telepon Nada. Atau suruh saja sopir dirumah untuk mengantarkan Nada kerumah ibu.]


[Iya hubby, maaf aku benar-benar lupa. Aku akan meminta pak sopir saja untuk mengantar Nada kerumah ibu.]


[Terserah kamu. Nanti kalau aku pulang cepat aku akan menjemput kalian]


Tut Tut Tut


Belum juga Nia menjawab, David sudah mematikan sambumgan teleponnya secara sepihak sehingga membuat Nia berdercak kesal. Sering kali David semaunya seperti itu, sehingga membuat Nia menjadi kesal dan geram.


"Siapa? Suami kamu dan menyuruh kamu pulang?." Tanya Rindi dengan ke kepoannya yang penuh.

__ADS_1


"Iya ini suami ku. Tapi dia tidak menyuruhku pulang kok. Dia menanyakan aku ada dimana saja, sebab acara sudah selesai dari tadi tapi aku belum juga ada dirumah. Aku lupa memberitahu kalau aku kerumah ibu, semalam sih saat mau tidur aku sudah memberitahu. Mungkin saja karena mau tidur jadi dia lupa. Oh iya nanti aku kenalkan sama Nada ya, dia itu anak yang manis dan menggemaskan. Banyak yang bilang jika kami mirip, sehingga tidak ada yang tahu jiks Nada itu anak tiriku. Biarpun anak tiri, dia sudah aku anggap seperti anakku sendiri."Seru Nia dengan sangat antusius


"Wahh bakal bertemu sama keponakan nih. "Seru Berta dan Rindi bersamaan.


"Aku hubungi sopir dulu ya untuk mengantarkan Nada kesini."Seru Nia.


Nia pun menghubungi sopir yang standby dirumah untuk mengantar Nada kerumah ibu Karti. Tentunya tanpa mbak Nur, mbak Nur memang sedang tidak enak badan sehingga Nia memberikan libur 3 hari untuk mbak Nur.


******


Siang ini Bella datang ke perusahaan Vito, dia datang dengan angkuhnya tanpa mau membalas sapaan dari para karyawan yang menyapanya. Terlihat sekali keangkuhan pada diri Bella.


"Bella !! Ngapain kamu datang kemari?."Tanya Vito tidak suka dengan kedatangan Bella yang secara tiba-tiba.


"Sayang kenapa sih istri datang kok bertanya ketus begitu? Padahal aku datang kesini untuk ngajak makan siang loh. Jangan galak begitu dong, tapi aku suka kok melihat kamu yang galak begini sebab lebih menantang."Ucap Bella yang kini sudah duduk di pinggir kursi kerja Vito sembari tangannya dia kalungkan dileher Vito.


"Bella jaga sikap kamu. Ini tempat kerja bukan rumah, kalau kamu mau mengajak aku makan siang kamu bisa kasih tahu aku dulu dong jadi aku bisa mengerjakan pekerjaan ini dengan lebih cepat. Kamu makan siang sendiri saja, pekerjaan ku masig banyak."Seru Vito masih bersikap acuh dan cuek terhadap Bella.


Meskipun pernikahannya dengan Bella sudah memasuki usia satu bulan. Vito masih saja terlihat cuek dan acuh, bahkan saat berhubungan saja Bella lebih dominan yang mengambil kendali. Vito cukup menikmati permainan Bella dengan membayangkan jika Nia yang saat ini sedang bermain bersamanya.


"Sayang aku ada kejutan untuk kamu. Dan ini tentunya akan membuat kamu bahagia, bukan kamu saja yang bahagia tetapi kedua keluarga kita juga akan bahagia mendengar kabar ini."Seru Bella dengan begitu antisius.


"Amplop? Ini amplop apa? Kenapa kamu memberiku amplop?."Tanya Vito masih tidak paham apa maksud Bella.


"Buka saja Sayang. Kita duduk di sofa saja yuk biar kamu lebih leluasa membuka amplop nya. Aku yakin kamu pasti bahagia setelah membaca isi amplo itu."Ucap Bella.


Bella berjalan lebih dulu menuju sofa dan duduk disana, Vito juga ikut duduk tepat disamping Bella. Rasa penasarannya membuat Vito segera membuka amplo itu, Vito membacanya dengan teliti dan tidak ada satu kalimatpun yang diatinggalkan.


"Hamil? Kamu hamil, Bella?."Tanya Vito seolah tidak percaya dengan apa yang dia baca.


"Iya sayang. Aku hamil, dalam rahimku ini ada anak kamu. Buah cinta kita berdua, dan usia kehamilan ini baru 2 minggu."Ucap Bella dengan bangganya sembari mengusap perutnya yang masih rata.


Bella tidak tahu anak siapa yang dia kandung, entah anak Vito atau anak dari Baskoro. Namun Bella tidak peduli, yang penting saat ini dia hamil dan Vito lah yang menjadi suaminya dan secara tidak langsung Vito ayah dari bayi yang dia kandung.


*Semenjak aku menikah memang aku sudah tidak memakai alat kontrasepsi lagi. Dulu aku memakainya karena takut hamil tanpa suami, sebulan sebelum menikah memang sengaja aku lepas agar aku bisa segera hamil dan Vito akan semakin mencintaiku. Tidak peduli ini anak Baskoro atau anak Vito yang penting saat ini aku sudah hamil.*Gumam Bella dalam batinnya.


Vito masih diam terpaku sembari memandangi kertas dari rumah sakit itu. Dia tidak percaya jika Bella akan hamil secepat ini, padahal saat ini Vito sama sekali belum ada cinta untuk Bella. Dihatinya masih ada nama Nia yang bertahta dan tidak tahu sampai kapan akan bisa hilang.

__ADS_1


"Sayang, apa kamu tidak senang mendengar kabar kehamilan ini? Jangan seperti ini dong sayang, aku ini hamil anak kamu darah daging kamu. "Ucap Bella pura-pura merajuk dengan Vito.


"Bukan begitu maksud ku, Bella. Aku hanya tidak menyangka kamu bisa hamil secepat ini, padahal selama menikah kita baru beberapa kali melakukannya. Tapi kamu bisa langsung hamil begini." Seru Vito dengan wajah heran dan kebingungan.


"Bagus dong sayang. Berarti kita ini sama-sama subur, ini rezeki loh jadi kamu jangan menolaknya."Seru Bella mencoba menasehati Vito.


*Apa yang dikatakan Bella memang benar, anak itu adalah rezeki dari Tuhan. Aku tidak bisa menolaknya, jika memang Tuhan sudah berkehendak pasti apapun itu akan terjadi. Namun kenapa secepat ini? Apa ini pertanda jika aku harus benar-benar melupakan Nia?.*Gumam Vito dalam hatinya.


Vito memaksakan untuk tersenyum dan memeluk Bella, Bella terlihat senang mendapatkan pelukan dari Vito. Untuk pertama kalinya Vito memeluk Bella tanpa diminta lebih dulu.


Bella membalas pelukan Vito, senyum nya mengembang seperti bunga mawar yang baru saja mekar.


*Bagus, ternyata kehamilan ini benar-benar ajaib. Bisa membuat Vito memelukku, aku yakin Vito akan menyayangi dan mencintaiku. Sebab ada calon pewarisnya dalam rahimku.*Gumam Bella dalam hatinya.


"Sayang, nanti malam aku ingin makan malam bersama keluarga kita. Untuk merayakan kebahagiaan kita ini, sekaligus kita kasih tahu mama dan papa jika mereka akan mempunyai cucu. Bagaimana kamu setuju atau tidak?."Tanya Bella dengan manja.


"Terserah kamu saja, Bella."Jawab Vito dengan pasrah.


Bella semakin mengeratkan pelukannya, seakan enggan untuk melepaskannya.


"Sekarang kita makan siang, aku sudah lapar. Kita makan siang di cafe seberang saja."Ucap Vito akhirnya dia mau makan siang dengan Bella.


"Nah begitu dong Sayang. Kalau begini hati istri kamu ini senang dan bahagia. Wanita hamil harus dijaga loh perasaannya agar mood nya selalu terjaga. Jangan sampai ibu hamil mood nya jelek, nanti tidak bagus untuk perkembangan janinnya."Ucap Bella seperti sengaja menggunakan kehamilannya untuk memanfaatkan Vito.


Hemmmm....


Vito hanya berdehem saja menanggapi pertnyataan dari Bella. Vito bangkit dan diikuti oleh Bella yang justru semakin tidak tahu malu. Bagaimana bisa dia berjalan dengan tangan melingkar dilengan Vito, dan kepala dia sandarkan dibahu Vito. Banyak pasang mata melihat kearah mereka, apalagi keadaan perusahaab yang memang sedang ramai. Para karyawan keluar untuk makan siang, Vito ingin mencoba memprotes sikap Bella akan tetapi Vito tidak mau Bella membuat ulah dengan dalih kehamilannya.


"Mau bawa mobil sendiri-sendiri atau bareng?." Tanya Vito dengan kesal.


"Bawa mobil kamu saja sayang. Tujuan kita kan sama jadi untuk apa bawa mobil masing-masing."Jawab Bella dengan manja.


"Hemm ya sudah lepaskan tangan ku, kamu masuk mobil sana ! Jangan buat aku kesal, Bella."Ucap Vito penuh penekanan.


Ceeekkkhhh


Bella berdercak kesal dengan sikap Vito yang sama sekali tidak ada sikap romantis-romantisnya terhadap istri. Padahal saat ini istrinya sedang hamil muda, dan tentunya harus banyak perhatian dan kasih sayang agar tidak stress.

__ADS_1


***********


__ADS_2