Dokter Penakluk Duda Arogant

Dokter Penakluk Duda Arogant
Datang memintaa maaf


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Setelah kejadian malam itu, Leni masih saja terbayang-bayang permainannya dengan Vito. Sepertinya dia menaruh harapan dengan Vito, namun apakah Vito juga sama merasakan apa yang saat ini dirasakan oleh Leni.


Leni ingin datang menemui Vito, namun dia malu untuk bertamu lebih dulu. Dia masih punya rasa malu, apa pantas seorang mantan mertua mendatangi mantan menantu laki-lakinya. Rasa rindu ingin bertemu Vito sudah melekat di hati Leni.


" Apa aku harus datang kerumah Vito lagi? Tidak, aku tidak boleh kesana. Aku tidak mau terlalu kelihatan jika aku memendam rasa untuk Vito. Tidak tahu rasa apa yang saat ini aku rasakan, kagum atau sekedar sayang sebagai seorang anak."Ucap Leni bermonolog sendiri.


Ini sudah hari ketiga dari malam permainan mereka, namun Vito belum menghubunginya sama sekali. Leni mau menghubungi lebih dulupun merasa tidak enak hati.


" Vito, kenapa kamu tidak menghubungiku? Apa kejadian malam itu memang sudah kamu lupakan? Aku memang merahasiakan kejadian itu, tapi aku sulit untuk melupakannya. Aku tahu ini dosa besar, bahkan dia mantan menantu ku. Tapi posisi kami sama-sama sudah sendiri, aku dan Vito tidak memiliki pasangan. Jika aku menuntut hubungan lebih apa Vito mau? Leni, kamu terlalu berlebihan." Ucap Leni pada dirinya sendiri.


Leni pun teringat kata-kata Vito, jika dia harus meminta maaf kepada wanita yang sudah dia sakiti. Wanita yang dulu sudah dia rebut suaminya, yaitu ibu Karti. Leni pun keluar dari ruang kerjanya.


Namun saat Leni sudah keluar dari ruang kerjanya dia terkejut, sebab lantai dua yang dimana di jadikan klinik kecantikan justru terlihat sepi dari biasanya. Hanya ada 3 orang saja yang sedang melakukan perawatan, biasanya di jam-jam seperti ini justru ramai orang yang melakukan perawatan.


" Kenapa sepi begini, Yun?."Tanya Leni kepada kasir klinik.


" Tidak tahu, bu. Sepertinya karena memang ada pesaing bu, itu salon dan klinik kecantikan baru itu sekarang semakin ramai. Dan sepertinya para pelanggan kita banyak yang lari kesana."Ucap Ayu menjelaskan.


Hhhuuufffff


Leni menghela nafas dengan kasar. Inilah dunia bisnis, persaingannya sangat ketat dan Leni bisa memakluminya. Pasang surut dunia bisnis memang sudah lumprah, Leni harus mencari cara untuk kembali menarik pelanggannya lagi.

__ADS_1


" Ya sudah, nanti biar kita pikirkan caranya lagi untuk menarik pelanggan kita lagi. Ya sudah, aku mau keluar dulu dan tolong kamu jaga klinik ini." Ucap Leni lalu dia berlalu menuruni anak tangga.


Dia juga melihat di lantai satu, tempat salon kecantikan juga terlihat lebi sepi dari biasanyanya. Ada beberapa pelanggan saja yang terlihat potong rambut dan spa.


* Kalau begini terus, usaha ku ini bisa bangkrut. Aku harus mengembalikan pelanggan-pelangganku lagi kesini.*Gumam Leni merasa sedih melihat usahanya yang semakin hari-semakin sepi.


Leni keluar dari gedung tempat usahanya itu, dia mengendarai mobil menuju rumah ibu Karti. Saat melewati klinik dan salon kecantikan yang baru, membuat dia berdercak kagum. Banyak kendaraan roda dua yang terparkir di depan gedung itu.


" Sepertinya karena diskon 30 persen ini yang membuat pelangganku lari kesini. Sepertinya aku juga harus membetrikan disko seperti mereka, jika mereka memberikan 30 persen aku harus bisa memberinya diskon lebih. Hemm baiklah, lebih baik sekarang aku melanjutkan perjalananku lagi."Ucap Leni kembali melajukan mobilnya.


Mobil Leni kini sudah sampai di daerah tempat tinggal ibu Karti. Kedatangannya kali ini bukan untuk mencari masalah dengan ibu Karti, tetapi hanya ingin meminta maaf agar hidupnya jauh lebih tenang.


Leni memarkirkan mobilnya di halaman rumah, terlihat ibu Karti yang memang sedang menyirami tanamannya di halaman. Ibu Karti langsung menghentikan aktifitasnya dan memandang ke arah mobil.


" Leni? Mau apa dia datang kesini lagi?." Tanya Ibu Karti pada dirinya sendiri.


Leni berjalan mendekati Ibu Karti, ibu Karti sendiri waspada. Dia tetap memegang selang air yang tadi sudah dia matikan lebih dulu krannya, untum jaga-jaga jika Leni bikin ulah mau dia semprot dengan air saja.


" Emm Karti, apakah kita bisa bicara? Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu. Kamu tenang saja, aku datang bukan untuk mencari masalah. Aku datang secara baik-baik, bisa kita bicara?." Tanya Leni lagi dengan bahasa yang lebih sopan dari biasanya.


Ibu Karti meletakkan selang air dan mengajak Leni untuk bicara didalam rumahnya saja. Karena kedatangan Leni terlihat baik-baik jadi ibu Kartipun mengikuti ucapan Leni.


" Kita bicara didalam rumah saja."Jawab ibu Karti lalu berjalan masuk kerumah lebih dulu dan diikuti Leni dari belakang.


Melihat kedatangan Leni, Wati pun waspada. Siapa tahu Leni ada maksut terselubung yang akan membahayakan nyawa ibu Karti.


" Wati, tolong buatkan minuman untuk tamu ku." Ucap ibu Karti.


" Baik bu." Jawab Wati masih menatap tajam kearah Leni.

__ADS_1


Leni pun sudah duduk di sofa ruang tamu, dia memandangi setiap sudut ruang tamu. Meskipun tidak terlalu besar tapi sangat nyaman dan rapi. Membuat betah siapapun yang tinggal di rumah itu. Pandangan mata Leni tertuju kesalah satu foto yang di pajang di atas meja sudut. Leni mendekati foto itu dan dia pun terkejut saat tahu siapa yang ada di dalam foto itu.


* Ini bukannya tuan David? Dan wanita ini.... !! Jadi wanita ini anak nya Karti dan Tuan David menantunya? Dia mantan pacar Vito, yang juga menjadi rivalnya Bella.*Gumam Leni dalam hatinya.


" Kenapa kamu? Kaget? Kamu pasti kaget karena ternyata anakku adalah wanita yang pernah kalian benci. Wanita yang sudah anak kamu rampas kebahagiaannya, tapi sekarang anakku sudah bahagia dengan pernikahannya dengan David. Dulu kamu merebut suamiku, dan Anak mu kemarin merebut calon suami anakku. Tapi semua hanya masalalu, kini anakku sudah bahagia. Tapi sayang nya justru anak kamu dan kamu yang tidak bahagia. Anak kamu merebut suami mu sendirikan, dan dia juga di ceraikan oleh Vito. Buah memang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya." Ucap ibu Karti bicara cukup panjang.


Leni tidak perlu menutupinya lagi, ternyata ibu Karti sudah tahu semuanya. Tidak perlu Leni menceritakan nya lagi, kini dia akan langsung meminta maaf saja.


" Maaf." Hanya satu kata itu saja yang berhasil lolos dari mulut Leni.


" Maaf untuk apa?." Tanya ibu Karti sinis.


" Untuk semua kesalahan ku dimasalalu, aku sadar betul jika apa yang saat ini aku alami adalah sebuah karma dari perbuatanku di masalalu. Aku benar-benar menyesal dan meminta maaf, Karti. Aku mohon maafkan aku, aku ingin menjadi wanita yang lebih baik lagi."Ucap Leni sambil mengatubkan kedua tangannya.


* Mimpi apa wanita ini? Bisa-bisanya dia datang dan meminta maaf? Apa dia memang takut dengan karma? Semua orang pasti akan takut dan akan mencoba memperbaiki dirinya. Emm apa aku bisa memaafkan dia? Kesalahannya sangat besar dan bahkan masih membekas di hatiku. Tapi, aku memang harus berterima kasih dengan Leni. Karena dia mengambil suamiku, aku bisa tahu kelakuan buruk suamiku. Anak tirinya sendiri juga di embat juga.* Gumam ibu Karti dalam hatinya.


Leni terus saja meminta maaf bahkan kini dia sudah bersimpuh di kaki ibu Karti. Ibu Karti masih saja diam, dia ingin tahu seberapa serius Leni meminta maaf. Wati yang datang mengantarkan minuman pun terkejut melihat Leni yang menangis sambil bersimpuh.


" Wati, kamu bantu dia berdiri."Ucap ibu Karti terdengar sangat tegas.


Wati hanya mengangguk pelan saja, lalu dia menarik bahu Leni dan membawanya ketempat dia duduk semula. Leni mengusap air matanya yang sudah membasahi pipinya.


" Apa kamu mau memaafkan aku, Karti?." Tanya Leni sambil terisak.


" Aku tidak tahu, kamu bukan hanya menyakitiku saja. Akan tetapi saat itu kamu juga menyakiti batin dan fisik gadis kecilku? Ingatkah kamu, dimana saat ini kamu mendorong anakku sampai dia berdarah-darah. Dan kalian justru masuk ke mobil tanpa menghiraukan anakku yang berdarah. Aku tidak tahu bisa memaafkan mu atau tidak, jika anakku memaafkan mu aku juga akan memaafkan kan kamu, Leni."Ucap ibu Karti belum bisa memberikan maafnya untuk Leni.


Leni semakin terisak, rasa bersalahnya membuat hatinya semakin sesak. Seakan-akan Tuhan memang menghukumnya. Rumah tangganya hancur, rumah tangga anaknua juga hancur, bahkan untuk usahanya saat ini juga sedang di ambang ke bangkrutan.


Air matanya semakin membanjiri pipinya, membuat Ibu Karti semakin tidak tega. Namun, keputusan nya tidak akan mudah berubah. Semua keputusan ada pada Nia, dengan begitu Leni harus meninta maaf langsung kepada Nia.

__ADS_1


**********


__ADS_2