Dokter Penakluk Duda Arogant

Dokter Penakluk Duda Arogant
mantan mertua dan mantan istri


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


" Baiklah aku akan menemui anakmu, dan aku akan meminta maaf secara langsung. Semoga saja anak kamu mau memaafkan aku. Jika anakmu memaafkan aku, apa kamu juga mau memaafkan aku, Karti?." Tanya Leni dengan masih dengan isak tangisnya.


Ibu Karti hanya mengangguk dengan pelan. Baginya jika Nia sudah memaafkan Leni untuk apa dia tidak mau memaafkan nya. Ibu Karti tidak mau mempunyai musuh dan tidak mau menyimpan dendan terhadap siapa pun. Dia juga melihat jika Leni meminta maaf dengan tulus.


" Terima kasih, Karti. Aku akan segera menemui anakmu hari ini juga."Ucap Leni sambil mengusap air matanya.


" Anak ku tidak ada, dia sedang tugas ke luar kota."Ucap ibu Karti membuat Leni langsung lesu .


" Kapan dia pulang?." Tanya Leni antusius.


" Aku tidak tahu, nanti kalau dia pulang aku akan memberitahumu. Tinggalkan saja nomor telepon mu, sekarang pulanglah."Ucap ibu Karti tanpa melihat kearah Leni.


Leni mengeluarkan kartu namanya dari dalam tas, dan meletakkannya di atas meja. Hatinya sedikit lega, setidaknya Leni ada harapan untuk dimaafkan oleh Ibu Karti dan Nia.


" Baiklah aku akan pulang, jika anakmu sudah pulang tolong kabari aku. Terima kasih, dan sekali lagi maaf atas semua kesalahanku terdahulu."Ucap Leni.


Ibu Karti tidak menjawab, dia hanya menunjuk kearah pintu. Leni pun sudah tidak bisa berkata-kata lagi, dia segera bangkit dan berjalan keluar rumah. Dia mengendarai mobilnya menuju rumah Vito, tidak tahu kenapa dia ingin sekali kerumah Vito untuk berbagi cerita dengan Vito.


Mobil Leni dan mobil Vito berbarengan saat memasuki pekarangan rumah Vito. Vito yang melihat kedatangan Leni, sedikit canggung. Dia bingung untuk bersikap, terlebih mereka sudah pernah menghabiskan malam panjang berdua.


" Emm mama." Seru Vito menyapa Leni.


" Iya Vito, emm apa mama boleh curhat sesuatu sama kamu?." Tanya Leni sedikit gugup dan canggung.


Vito terlihat bingung, dia khawatir jika menerima Leni takutnya kejadian malam itu akan terulang lagi. Apalagi hari memang sudah sore, Vito tidak mau jika kejadian itu terulang lagi. Kesalahan besar itu benar-benar dia sesali.


" Mama tidak akan lama, jangan khawatir kejadian malam itu tidak akan terulang lagi." Ucap Leni mencoba menyakinkan Vito.


" Baiklah ma, kita mengobrol di dalam saja ya."Ucap Vito akhirnya mengajak Leni masuk kerumah.


Leni dan Vito kini sudah berada di ruang tamu, mereka sama-sama diam. Fikiran mereka melanglang dimana mereka menghabiskan malamnya panjangnya malam itu.


Hhhuuuffff


Leni menghela nafas untuk menenangkan fikirannya sendiri.


* Ayo Leni, jangan lagi kamu ingat-ingat kejadian malam itu. Vito pasti sudah melupakan nya, bukannya dia sudah bilang jika itu yang pertama dan yang terakhir. Tidak akan mungkin terulang lagi, kamu harus bisa melupakannya.*Gumam Leni dalam hati.

__ADS_1


" Mama mau curhat soal apa? Vito lihat mama habis menangis ya?." Tanya Vito akhirnya dia membuka percakapan lebih dulu.


" Emm.. Mama tadi dari rumah wanita yang suaminya dulu mama rebut. Dia akan memaafkan mama, jika anaknya juga mau memaafkan mama. Kamu tahu Vito, ternyata wanita itu adalah mertuanya Tuan David." Ucap Leni.


Haaahhh !! Apa ?


Vito langsung syok mendengar apa yang baru saja di sampaikan oleh Leni. Mertua David? Berarti anak yang dimaksud adalah Nia. Vito menggelengkan kepalanya, dia tidak pernah menyangka jika wanita yang sudah membuat hidup Nia menderita adalah Leni, mantan mertuanya sendiri.


" Jadi Baskoro itu ayah kandung, Nia? Dan mama orang yang sudah membuat hidup Nia dan ibu nya menderita? Vito tidak menyangka jika mama sejahat itu, mama tahu Nia dan Ibunya itu hidup menderita karena ulah mama !!."Bentak Vito emosi.


" Iya. Mama memang orang yang jahat, tapi itu semua bukan salah mama sendiri. Itu juga salah Baskoro, jika Baskoro tidak menginginkan mama dia pasti tidak akan meninggalkan keluarganya."Ucap Leni mencoba membela diri.


Emosi Vito yang tadi meluap kini sudah terkontrol kembali. Apa yang dikatakan Leni memang ada benarnya, semua ini bukan hanya salah Leni tapi juga salah Baskoro.


" Ma, maaf Vito tadi sudah emosi. Ma, kapan mama akan meminta maaf kepada Nia?." Tanya Vito.


" Belum tahu, anak itu sekarang tidak ada di kota ini. Dia ada tugas keluar kota, nanti setelah dia pulang mama akan langsung menemui dia untuk meminta maaf. Semoga saja anak itu mau memaafkan mama." Ucap Leni penuh harap.


" Semoga saja Nia memaafkan mama. Nia itu wanita yang baik, sabar dan lembut. Aku menyesal melepaskan Nia demi wanita murahan seperti, Bella. Sudah murahan, pendusta juga. Hal yang paling aku sesalkan adalah kenapa aku bisa menikah dengan wanita seperti Bella." Ucap Vito sangat membenci Bella.


" Ma, ini sudah mau malam. Lebih baik mama pulang saja, Vito tidak mau kejadian malam itu terulang lagi. Vito tidak mau sampai melakukan dosa lagi ma, cukup malam itu saja Vito tidak bisa mengendalikan nafsu Vito. Maaf, atas kejadian malam itu. Tolong rahasiakan kejadian itu, aku tidak mau ada berita buruk diluaran sana tentang kita ma. Mama bisakan merahasiakan nya?." Seru Vito bicara dengan jelas.


Hati Leni sebenarnya sakit dan pilu saat Vito bicara seperti itu, seperti habis manis sepah dibuang. Tapi mau bagaimana lagi, kejadian malam itu memang sama sekali tidak terencana. Mereka melakukannya karena mereka tidak bisa menahan hasrat mereka. Tidak mau menyalahkan Vito, Leni sendiri juga menikmati permainan Vito.


" Ma,,mama akan merahasiakannya, Vito." Ucap Leni terbata-bata.


* Lelaki itu kamu, Vito. Semenjak kejadian malam itu, mama mengagumi kamu dan ingin memiliki kamu. Tapi aku sadar diri, tidak mungkin kamu mau dengan wanita sepertiku.* Gumam Leni dalam hatinya.


Leni dan Vito kembali saling diam, Vito sudah meminta Leni untuk pulang tapi dia masih saja belum beranjak dari duduknya. Mau memintanya pulang lagi, Vito merasa tidak enak.


" Vito, kapan sidang perceraian kamu dengan, Bella?." Tanya Leni berbasa-basi daripada tidak ada bahan pembicaraan sebab dia masih ingin bersama Vito.


" Besok, Ma. Tapi aku tidak akan datang, semuanya sudah diurus sama pengacara. Jika Bella mau harta gono gini aku tidak akan mengabulkannya, karena memang tidak ada harta bersama. Rumah ini aku beli sebelum menikah denga, Bella. Mungkin aku hanya akan menafkahi anak dalam kandungannya saja, karena belum tahu kepastiannya itu anak siapa jadi aku masih wajib menafkahinya."Jawab Vito panjang lebar.


Leni hanya mengangguk saja, dia sudah kehabisan bahan pembicaraan. Leni bangkit dan ingin pamit pulang, namun saat dia hendak berpamitan tiba-tiba ada seseorang datang dengan senyum mengejek Vito dan Leni.


" Waaoouuwww ternyata ada mantan mertua dan mantan menantu yang sedang berduaan. Wah wah sepertinya aku ketinggalan berita ini, atau jangan-jangan mama ini menyukai suamiku. Jadi mama sangat antusius dengan perceraianku dengan Vito?." Seru Bella datang-datang langsung membuat suasana panas.


" Bella !!." Bentak Leni dan Vito bersamaan.


" Wahh kompak nih ya. Sepertinya ada wanita tua yang mengharapkan mantan menantunya."Seru Bella.


Pllakk


Pllakk

__ADS_1


Leni menampar Bella dengan sangat kuat, sampai sudut bibir Bella mengeluarkan darah. Bella meringis kesakitan sembari memegangi pipinya yang terasa sakit dan panas.


" Tutup mulut busuk mu itu, Bella. Jika kamu tidak tahu apa-apa jangan pernah mengatakan apa yang bisa membuat kamu semakin dibenci orang. Aku datang kesini karena aku ada perlu dengan, Vito. Sekali lagi jangan lagi kamu panggil aku, Mama ! Karena aku bukan mama kamu lagi, aku tidak mempunyai anak seperti kamu. Camkan itu !!." Seru Leni dengan menunjuk wajah Bella.


Leni terlihat sangat marah dan emosi, saat bicara dengan Bella urat-urat lehernya terlihat seakan keluar dari tempatnya. Vito yang melihat keributan didepannya pun akhirnya ikut mengeluarkan suaranya.


" Kamu mau apa datang kesini lagi, Bella? Kita sudah tidak ada urusan lagi, dan besok sudah sidang pertama perceraian kita. Jadi kamu mau apalagi?." Tanya Vito pelan namun tegas.


" Aku datang kesini untuk meminta uang bulanan ku, ingat Vito anak ini ada saat kita masih terikat pernikahan. Jadi kamu masih berkewajiban untuk menafkahinya meskipun dia masih dalam kandunganku." Ucap Bella meminta haknya dengan mengatas namakan anak dalam kandungannya.


" Jadi kamu datang magrib-magrib kesini cuma karena mau meminta uang? Tenang saja Bella, aku tidak lupa dengan kewajibanku, aku masih akan tetap menafkahimu sampai pengadilan ketuk palu. Aku akan mentransfernya utuh seperti dulu, tapi ingat Bella !! Setelah anak itu lahir aku akan lakukan tes DNA, jika terbukti bukan anakku, aku tidak akan memberikan sepeser nafkahku untuknya. Paham !!! Sekarang lebih baik kamu pergi !!." Seru Vito mengusir Bella.


Mata Bella membulat sempurna, jika anak dalam kandungannya terbukti bukan anak Vito otomatis dia tidak akan dapat uang lagi dari Vito. Sedangkan sampai sekarang Baskoro juga belum bekerja, bagaimana dia akan memenuhi gaya hidup mewahnya.


Tabungan pun semakin hari semakin menipis. Hubungan buruk nya dengan sang mama juga tidak mungkin lagi untuk di perbaiki. Uang bulanan dari mamanya juga sudah tidak ada lagi.


" Ok siapa takut, lakukan saja tes DNA nya aku tidak takut. Tapi jika terbukti ini anak kamu, bukan hanya nafkah saja yang aku minta tapi aku minta 50 persen harta kekayaan mu." Seru Bella tersenyum licik.


" Bella !! Kamu ini apa-apaan ? Jangan kamu jadikan anak kamu untuk memeras Vito. Apa kamu tidak malu melakukan itu? Diri kamu saja sudah berselingkuh dan mengkhianati pernikahan kalian, kenapa kamu menuntut harta?." Ucap Leni tidak setuju dengan permintaan Bella yang tidak masuk akal.


Leni hanya tidak mau,Bella semakin bersikap semaunya sendiri. Masih beruntung Vito mau menafkahinya selama proses perceraian, jika lelaki kebanyakan tidak ada yang mau menafkahi Bella lagi sebab Bella sendiri yang mengkhianati pernikahannya.


" Mama tidak perlu ikut campur urusan Bella, bukannya tadi mama bilang aku bukan anak mama lagi kan? Oh maaf, maksud ku bukan mama tapi Nyonya Leni yang terhormat. Wanita tua yang saat ini kesepian karena ditinggalkan anak dan suaminya, kasihan banget sih pasti kurang kasih sayang dan belaian. Makanya Nyonya, kalau punya suami itu di servise dengan baik jadi tidak cari wanita lain." Seru Bella sama sekali tidak ada sopan dan santunnya bicara dengan wanita yang sudah melahirkannya.


Pllaakk


Sebuah tamparan mendarat lagi di pipi Bella, tapi bukan dari tangan Leni melainkan dari tangan Vito. Vito sama sekali tidak suka melihat seorang anak yang kurangajar dengan mama kandungnya. Vito sendiri memang sering membantah mamanya, tapi tidak separah Bella sampai memperolok mamanya sendiri.


" Kamu itu seorang anak, Bella !! Apa kamu tidak bisa bersikap hormat dengan mama kamu. Dia itu orang yang melahirkan kamu, apa pantas kamu bicara seperti itu ? Seharusnya kamu itu malu dan sadar diri, ingat pria yang saat ini menjadi suamimu itu dulunya suami mama kamu sendiri, tidak malukah kamu bicara seperti itu? Apa memang wanita murahan seperti kamu itu sudah tidak punya rasa malu lagi?." Seru Vito bicara dengan menatap tajam Bella.


Leni langsung memandang kearah Vito, dia sangat senang karena Leni merasa Vito membela dirinya. Seakan-akan Vito memperhatikannya, Leni benar-benar senang dan terharu.


" Si4l4n kamu, Vito !! " Seru Bella tidak terima dengan tamparan dan hinaan Vito.


" Kenapa? Tidak terima? Kamu bisa pergi dari sini." Ucap Vito pelan namun cukup tegas.


" Baik aku akan pergi, tapi jangan lupa kamu transfer uang bulananku." Ucap Bella lalu dia keluar dari rumah Vito.


Melihat Bella yang melangkah keluar rumah, Vito tersenyum kecut. Ternyata Bella benar-benar wanita yang tidak punya malu sama sekali.


" Mama juga mau pulang dulu Vito, maaf gara-gara mama kamu dan Bella jadi berantem." Ucap Leni.


" Hemmm iya ma, tidak apa-apa. Kalau mama mau pulang silahkan." Ucap Vito sopan yang sebenarnya mengusir Leni secara halus.


Leni mengangguk, lalu dia melangkah keluar dari rumah Vito menuju mobil nya yang terparkir di depan.

__ADS_1


*********


__ADS_2