Dokter Penakluk Duda Arogant

Dokter Penakluk Duda Arogant
Permintaan Nada


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Dua hari berlalu, kini Nia sudah kembali bekerja sebagai dokter lagi. Sudah dari kemarin Nia menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter. Dan kini waktu Nia banyak dihabiskan di rumah sakit, sebab setelah jam prakteknya selesai Nia akan menunggu ibunya di kamar rawatnya. Nia hanya pulang untuk mandi dan mengambil perlengkapan ibunya.


Tawaran model dari David sudah Nia terima dan dua hari lagi ada jadwal pemotretan. Nia sudah mencoba mencari contoh menjadi model dari beberapa video yang dia tonton lewat sosial medianya.


Sudah dua hari ini juga Nia tidak bertemu dengan Nada, ada rasa rindu dan kangen pada dirinya. Namun dia tidak bisa meninggalkan ibunya begitu saja untuk menemui Nada. Sebab Nia tidak mau terjadi sesuatu dengan ibunya, untuk pulang saja dia lakukan dengan cepat dan buru - buru.


Sementara itu saat ini Nada dan David sedang berada di kamar Nada. Nada meminta David malam ini untuk membacakan dongeng sebelum dia tidur. Malam ini sepertinya Nada akan meminta kepada David untuk menjadikan Nia mamanya yang sesungguhnya. Nada sangat menginginkan kehadiran seorang ibu, apalagi saat sekolah dia melihat teman - temannya diantar dan dijemput oleh mamanya. Bahkan ada yang ditungguin oleh Mamanya.


" Halo sayang katanya mau tidur. Kenapa justru tidak tidur-tidur sayang? Papa kan sudah membacakan dongeng untuk Nada."Seru David yang melihat mata anaknya tetap terbuka lebar.


" Papa, Nada mau mama Nia ikut tinggal di sini sama kita. Nada kangen dan rindu mama Nia. Papa tidak mau menjadikan nama Nia mamanya Nada. Nada mau punya mama seperti teman-teman Nada di sekolah. Nada juga ingin diantar sekolah sama mama, Nada rindu punya mama,Pa."Ucap Nada dengan mata berkaca-kaca. Bocah 4 tahun itu sudah mengerti arti sebuah rindu dan kasih sayang.


Deg


Hati David sangat sakit dan pilu mendengar apa yang dikatakan oleh Nada. Ternyata sekolah yang selama ini David anggap bisa membuat anaknya bahagia , sebab bida berbaur dengan teman-temannya. Justru menyisaksn luka tersendiri untuk Nada, di sekolah justru Nada sering melihat interaksi antara anak dan mamanya.


" Sayang maafkan papa." Seru David memeluk Nada dengan erat dan penuh kasih sayang.


" Papa , Nada mau mama Nia yang sesungguhnya."Ucap Nada dengan air mata yang sudah mulai berjatuhan.


" Iya sayang." Jawab David singkat. Dia asal bicara tidak akan pernah tahu jika jawabannya itu sudah terekam dalam memori Nada.


" Horeeee Nada punya Mama baru ! Hore Nada bisa sekolah diantar mama. Aku akan bilang sama teman - teman jika aku punya Mama. Terimakasih pa." Seru Nada mencium pipi David dengan cepat.


Tanpa David suruh kini Nada sudah membenarkan posisi tidurnya dan sudah memejamkan matanya. Nada terlihat senang dan bahagia saat David mengiyakan permintaannya. Padahal David saja tidak tahu bisa mewujudkan permintaan Nada atau tidak. Setelah Nada nyenyak tidurnya, David turun dari ranjang dan keluar kamar.

__ADS_1


" Nada sudah tidur kak?." Tanya Miska saat melihat David keluar dari kamar Nada.


" Sudah." Jawab David singkat lalu dia menaiki anak tangga yang akan membawanya menuju kamarnya.


Miska dan Mamanya hanya bisa beradu pandang, mereka berdua heran dengan kelakuan David. Biasanya meskipun jutek dan dingin, dia akan ikut bergabung duduk dengan mereka untuk mengintrogasi Miska. David memang terlalu over protektif kepada Miska, dia akan menanyakan apa saja yang terjadi dalam keseharian Miska.


" Kenapa duda arogan itu?." Tanya Karmila kepada Miska.


" Miska tidak tahu ma. Mungkin Kak David pusing dengan urusan kantornya.


" Bisa jadi." Seru Karmila kembali sibuk dengan majalah yang ada ditangannya.


Sementara saat ini dikamarnya, David sedang bingung dengan perasaan dan hatinya sendiri. David memikirkan permintaan Nada tadi, apa mungkin dia harus menikah dengan Nia. Selama ini hanya Nia wanita yang dekat dengan Nada.


" Hera, apa kamu mengizinkan aku menikah lagi? Nada membutuhkan sosok ibu, dia memintaku untuk menikah dengan Nia. Apa kamu merestui aku jika aku menikah lagi?. Maafkan aku Hera, aku saat ini jatuh cinta dengan seorang wanita yang bernama Nia. Tolong kamu jangan marah ya, aku akan tetap menyimpan namamu dan cinta kita dalam hati ini. Aku akan mewujudkan apa yang diinginkan oleh Nada. " Seru David sembari mengusap foto pernilahannya dengan Hera yang tetap terpajang rapi di atas nakas kamarnya.


David meletakkan foto itu kembali ke atas nakas, lalu dia mengambil ponselnya dan memandang foto Nia yang pernah dia ambil dari ponsel Nia.


" Aku malu mengakui perasaan ini. Bagaimana tanggapan dia jika dia tahu aku jatuh cinta dengannya? Bahkan Nada menginginkan dia jadi mamanya. Aku pria yang memang susah jatuh cinta, tetapi kenapa aku bisa jatuh cinta dengan wanita ini." Seru David bermonolog pada dirinya sendiri.


Rasa bencinya terhadap Nia perlahan menjadi rasa kagum dan cinta. David mencoba menyakinkan perasaanya, dia berencana setelah urusan pekerjaan dengan Nia selesai dia akan membahas masalah permintaan Nada tadi kepada orang tuanya.


Sementara saat ini Vito dan Bella sedang makan malam di salah satu restoran favorite Bella. Sebenarnya Vito sangat ingin makan, ayam bakar tenda yang biasa dia dan Nia makan. Namun melihat dandanan Bella yang cetar pasti dia tidak akan mau makan dipinggir jalan.


" Sayang kok kamu tidak makan sih ?"Tanya Bella melihat Vito yang tidak makan sama sekali padahal dia sudah memesan banyak makanan sampai mejapun penuh.


" Aku tidak selera makan ini semua. Cepat kamu selesaikan makan mu, setelah ini aku mau makan ditempat langgananku. Kalau kamu tidak mau ikut kamu pulang naik taksi online saja." Ucap Vito dengan santainya.


Bella mengerucutkan bibirnya, padahal restoran yang dia pilih adalah Restoran mahal dan makanannya pun enak-enak. Namun, ternyata Vito justru tidak menyukai makanan yang sudah dia pesan. Bahkan dia akan makan di tempat langganannya sendiri. Sampai detik ini Vito masih sering bersikap cuek dan dingin terhadap Bella. Padahal mereka sudah resmi bertunangan dan dalam 5 bulan lagi akan menikah.


" Apa makanan di sini tidak ada yang enak? Bukannya kamu biasanya suka ayam bakar? Ini ada ayam bakar, ayam bakar di sini tuh enak banget. Dan ini aku sengaja pesan memang untuk kamu sayang. Tetapi kenapa kamu tidak mau makan? Seenak apa sih makanan yang biasa tempat kamu makan itu? Aku jadi pengen tahu?."Ucap Bella penasaran.


" Sudah kamu makan saja nanti juga kamu akan tahu tempatnya. Sayangkan makanan ini kalau tidak kamu habiskan, ini semua kan kamu yang memesannya. Sudah aku bilang aku tidak mau makan tetapi justru kamu memesan segini banyak. Kalau tidak habis juga mubazir, kalaupun tadi aku ajak kamu ketempat biasa aku makan pasti kamu tidak mau."Seru Vito bicara dengan sangat kesal.

__ADS_1


" Yang benar saja aku menghabiskan makanan sebanyak ini? Perut aku itu bukan perut karung, aku tidak mungkin bisa menghabiskan makanan ini Vito sayang. Kalau tidak habis ya sudah biarkan saja, lagi pula makanan ini tidak akan membuat kita miskin jika kita tidak mau makannya." Jawab Bella dengan angkuhnya.


Sifat sombong dan angkuh Bella inilah yang tidak Vito sukai, bahkan Bela suka memaksakan kehendaknya sendiri tanpa mau tahu alasan dari Vito. Vito tetap baik dalam bersikap terhadap Bella juga karena Vito merasa tidak enak dengan ayah Bella, yang saat ini masih bekerja satu perusahaan dengan Vito. Apalagi kedua orang tua Vito juga berkomunikasi baik dan bersahabat dengan orang tua Bella.


" Terserah kamu saja Bel." Seru Vito dengan malas.


Bella hanya menghabiskan makanannya yang ada didalam piringnya saja. Tidak mungkin dia bisa menghabiskan makanan yang dia pesan, makanan yang dia pesan ada 5 menu makanan. Dengan cepat Bella menghabiskan makanannya sebab dia sangat ingin segera tahu tempat makan yang Vito maksud.


" Ayok aku sudah selesai." Seru Bella setelah mengelap mulutnya dengan tissu.


" Haahh lantas ini semua bagaimana?" Seru Vito menunjuk kearah meja yang masih tersusun rapi makanan yang belum tersentuh sedikitpun.


" Sudah biarkan saja. Aku yang akan membayar semua ini jadi kamu tidak merasa rugi. Bentar ya aku panggil pelayan dulu untuk meminta tagihannya." Ucap Bella dengan santainya.


Bella memanggil pelayan untuk membayar makanannya. Pelayan itu heran , sebab makanan saja masih banyak dan sebagian masih utuh. Bella segera membayar tagihannya , dia tidak perduli dengan makanan yang masih banyak. Vito pun meminta kepada pelayan untuk memakan saja makanan yang masih utuh , dan pelayan itu hanya menganggukkan kepalanya saja.


* Bella dan Nia memang beda. Jika Bella suka menghamburkan uang dan membuang makanan. Justru Nia sangat berhemat dan akan makan ditempat pinggir jalan bukan restoran mewah seperti ini. Meskipun aku sering mengajaknya makan direstoran tetapi tetap saja dia mau makan dipinggir jalan.* Gumam Vito dalam batinnya.


Kini Vito dan Bella sudah dalam perjalanan menuju tempat makan yang Vito maksud. Bella mulai heran sebab Vito justru melajukan mobilnya kearah jalan arah alun - alun kota.


" Kok daerah sini? Bukannya disini tidak ada restoran atau cafe? Adapun tadi kita sudah melewatinya sayang?." Seru Bella dengan heran.


" Iya memang disini tidak ada cafe ataupun restoran mewah. Ini sekarang kita sudah sampai, kalau kamu mau makan lagi silahkan turun. Kalau tidak mau ya sudah, kamu tunggu saja disini. Aku lapar dan aku ingin makan." Seru Vito yang kini sudah mematikan mesin mobilnya.


Mata Bella terbelalak saat melihat pedagang ayam bakar tenda pinggir jalan. Ternyata Vito makan di pinggir jalan dan itu membuat Bella benar - benar tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


" Kok disini? Bukan restoran atau cafe mahal ya?. Seru Bella dengan mulut masih ternganga.


" Siapa bilang restoran dan cafe mahal? Ya memang ini tempatnya. Sudahlah aku lapar, mau makan dulu." Seru Vito yang kini langsung membuka pintu mobilnya dan keluar dari mobil menghampiri pedagang ayam bakar.


Bella masih saja diam di mobil, dia masih syok dan seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat, seorang Vito mau makan di pinggir jalan yang menurut Bella belum tentu kebersihannya terjaga. Bella tidak mau turun dari mobil, dan lebih memilih menunggu Vito di dalam mobil saja. Dia malu dan gengsi untuk makan di tempat pinggir jalan, apalagi dengan dandanannya yang super cetar dan elegant.


* Bagaimana bisa Vito makan di pinggir jalan seperti ini? Ini pasti karena dia dulu berpacaran dengan wanita miskin itu, sehingga dia tertular kebiasaan buruk si wanita miskin itu. Ini tidak bisa dibiarkan, jika Vito terus seperti ini yang ada dia akan mempermalukan dirinya sendiri. Dan tentunya kedua orang tua Vito juga akan malu melihat kelakuan anaknya makan di pinggir jalan seperti ini. Oh tidak, Aku juga pasti akan malu jika teman-teman ku tahu Vito makan dipinggir jalan begini. Dasar gadis kampung, gara-gara dia Vito menjadi seperti ini.*Gumam Bella dalam batinnya

__ADS_1


***********


__ADS_2