Dokter Penakluk Duda Arogant

Dokter Penakluk Duda Arogant
Menjenguk adik bayi


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Rumah tangga Nia dan David semakin hari semakin berwarna dan semakin bahagia. Di usia kehamilan Nia yang 4 bulan membuat perutnya sudah kelihatan buncit. Nada dan David senang bermain dan mengusap perut Nia, sampai terkadang Nia merasa risih dan geli.


Nada sudah tidak sabar ingin segera melihat adiknya keluar dari perut sang mama. Namun Nada harus menunggunya 5 bulan lagi.


" Mama, kata nya dedeknya mau keluar? Kok lama sih ma?." Tanya Nada sudah yang kesekian kalinya.


" Sayang, tunggu 5 bulan lagi baru dedek bayinya akan keluar. Apa Nada sudah tidak sabar ingin melihat adik bayinya?." Tanya Nia sambil mengusap rambut Nada.


" Iya ma. Nada pengen lihat adek bayinya, tapi harus tunggu 5 bulan. Kata Rara 5 bulan itu lama ma, Rara juga mau punya adek tapi tunggu 3 bulan lagi."Seru Nada sambil menunjukan 3 dan 5 jari kanan dan kirinya.


Nia tersenyum melihat Nada yang terlihat menerima dengan baik kehadiran adiknya meskipun belum lahir. Nia pun teringat, jika hari ini dia akan cek kandungan untuk USG melihat jenis kelamin bayi dalam kandungannya. Sepertinya ini momen yang pas untuk Nia mengajak Nada, agar dia bisa melihat adiknya lewat layar monitor saat USG nanti.


" Emm.. Begini saja, nanti sepulang Nada sekolah langsung ke rumah sakit saja ya. Soalnya nanti mama mau USG, nah nanti Nada bisa lihat adik bayinya lewat monitor saat USG. Bagaimana? Nada mau atau tidak?." Tanya Nia dengan pelan.


" Mau,mau. Nada mau lihat adik bayinya. Wahh akhirnya Nada bisa lihat adik bayi juga. Papa mau lihat juga?." Tanya Nada beralih melihat ke arah papanya.


" Iya dong papa juga mau lihat adik bayinya. Meskipun hampir setiap malam papa sudah jengukin adik bayinya."Seru David bicara tanpa ada penyaringannya. Nia langsung melotot mendengar ucapan David yang tanpa filter itu.


* Ini orang bisa lihat tidak sih lawan bicaranya itu siapa? Bisa-bisanya dia bicara seperti itu sama anak sekecil Nada. Kalau dia penasaran kan repot juga mau menjelaskannya. Huhhh dasar suami m3sum.*Gumam Nia dengan kesal.


Nada bengong dan mencoba mencerna apa yang barusan dikatakan oleh papanya. Kalau papanya setiap malam sudah menjenguk sang adik, berarti papanya sudah tahu wajah adiknya. Itulah kira-kira yang saat ini ada di fikiran Nada.


" Papa jenguk adik dimana? Kok Nada tidak diajak?." Tanya Nada dengan wajah polosnya.


Uhhukk Uhhhuuk Uhhukk


Tiba-tiba David tersedak dan batuk-batuk. Dia tidak menyangka jika Nada akan bertanya seperti itu. Ternyata ucapannya tadi di salah artikan oleh Nada.


" Hubby minum dulu. Makanya kalau bicara itu jangan asal-asal."Seru Nia sembari memberikan segelas air putih untuk David.

__ADS_1


David langsung menerima dan meminumnya sampai tandas. Setelah itu dia memandang Nada yang sepertinya memang sedang menunggu jawabannya.


" Papa belum kasih tahu Nada. Dimana papa jengukin adik bayinya. Kok Nada tidak di ajak, berarti papa sudah tahu wajah adik bayinya."Seru Nada dengan wajah cemberut.


" Sayang makasud papa bukan melihat adik bayi secara langsung. Papa itu melihat lewat mimpi, iya lewat mimpi. Adik bayi itu masih di perut mama jadi ya mana bisa papa melihatnya, sayang. Sudah jangan ngambek dong, nanti siangkan mau lihat mama USG nah nantikan bisa lihat adik bayinya."Ucap David mencoba menjelaskan dan merayu Nada yang mulai cemberut.


" Oh dalam mimpi. Ya sudah kalau begitu Nada tidak marah sama papa. Nada mau makan lagi,habis itu mau berangkat sekolah."Seru Nada percaya begitu saja dengan penjelasan papanya.


David dan Nia mengucap syukur dalam hatinya. Beruntung sekali Nada percaya dengan penjelasannya. Jika tidak, sudah pasti mereka berdua akan kesusahan menjelaskannya. Apalagi Nada tipe anak yang selalu ingin tahu.


Setelah sarapan selesai, Nada pun berangkat sekolah dengan diantar pak sopir dan mbak Nur. Nia sekarang sudah jarang mengantar Nada sekolah, karena dia ke rumah sakit pun di antar jemput oleh David. Terkadang saja saat Nada memang bareng dengan mobil David, Nia akan ikut mengantarkannya.


Kini di meja makan hanya ada Nia dan David saja. Tiba-tiba Nia mencubit lengan David dengan cukup kuat sampai David meringis kesakitan.


" Sayang, kok aku di cubit sih?." Tanya David sambil mengusap lengannya yang sakit.


" Itu hukuman untuk Hubby. Hubby ini apa-apaan sih bicara seperti tadi, beruntung Nada percaya sama penjelasan hubby. Pokoknya Hubby jangan sampai bicara seperti itu lagi. "Seru Nia kesal.


" Maaf Sayang, tadi itu keceplosan saja. Janji deh tidak akan bicara seperti itu lagi, tapi memang benarkan setiap malam aku jengukin adik bayi. Sayang juga sekarang yang suka minta duluan."Seru David membuat wajah Nia memerah menahan rasa malunya.


" Ayo berangkat."Seru Nia bangkit lebih dulu dan berjalan keluar rumah meninggalkan David yang masih saja senyum-senyum sendiri.


* Kenapa juga suamiku itu sekarang m3sum banget. Di ot4knya yang ada saat ini selalu begituan mulu, menyebalkan. Tapi memang sih, akhir-akhir ini aku yang suka meminta duluan. *Gumam Nia dan membenarkan apa yang tadi dikatakan oleh suaminya.


*******


" Untuk apa kamu datang kemari?." Tanya ibu Karti dengan marah.


Pagi ini rumah ibu Karti kedatangan Baskoro. Setelah lama bersembunyi, akhirnya Baskoro berani keluar dan menemui ibu Karti. Dia berharap ibu Karti bisa dan mau menolongnya, mengingat Nia yang saat ini mempunyai suami sang penguasa.


" Karti, tolong jangan usir saya. Saya mohon hanya tempat ini yang aman untukku. Tolong aku Karti, aku saat ini sedang di cari polisi. Tapi aku tidak tahu salah ku apa? Leni dan Bella sudah melaporkan aku ke poloisi. Tolong aku Karti, hanya kamu yang bisa menolongku."Seru Baskoro memohon sambil mengatubkan kedua tangannya.


Ibu Karti pun baru ingat jika Bella dan Leni pernah datang meminta maaf. Mereka juga sudah menceritakan apa yang sudah di perbuat Baskoro kepada Bella. Dan saat ini Baskoro datang kepadanya untuk meminta bantuan.


" Makanya kalau masih takut sama hukum dan polisi itu kelakuan dijaga. Jangan seenaknya menyiksa anak orang, tapi bukannya wanita yang kamu siksa itu masih istri sah kamu?." Tanya Ibu Karti membuat Baskoro terkejut.


Baskoro baru tahu jika Karti sudah tahu semuanya tentang dirinya dan sampai dia jadi buronan polisi.

__ADS_1


" Aku khilaf Karti. Semua itu juga karena Bella yang kurangajar dan tidak mau patuh kepadaku. Karti, kali ini saja aku minta tolong sama kamu. Izinkan aku tinggal disini, aku akan aman jika aku tinggal disini. Dan aku juga minta tolong kamu minta sama anak dan menantu kita untuk melindungiku."Seru Baskoro dengan percaya dirinya yang tiada batas.


Hahahaaaaa


Ibu Karti tertawa dengan keras, dia mebertawakam kebodohan Baskoro yang luar biasa tidak terkira. Disaat terjepit seperti ini baru dia mengakui anak. Kemarin-kemarin kemana saja?


" Disaat seperti ini kamu baru ingat dengan anak? Kemarin kamu kemana saja?." Tanya ibu Karti sinis.


" Aku sudah meminta maaf dan mengakui Kurnia, tapi dianya saja yang sombong dan tidak mau mengakui ku. Biar bagaimanapun juga aku ini ayah kandungnya, tidak ada aku tidak akan pernah ada anak itu di dunia ini. Seharusnya dia itu berbakti kepada Ayahnya, bukannya malah menjauh."Seru Baskoro mulai terpancing emosinya.


Plaaakkk


Hadiah satu tamparan dari ibu Karti mendarat di pipi Baskoro.


" Cepat pergi dari sini, sebelum aku panggil polisi untuk datang menangkapmu. Aku tidak segan-segan untuk memanggilnya sekarang juga !!."Seru ibu Karti dengan tegas.


Mendengar keributan didalam rumah, dua pengawal yang sedari tadi ada di luar rumah pun secara bersamaan masuk ke rumah untuk menolong ibu Karti.


" Kalian di luar saja, aku tidak apa-apa. Aku masih sanggup menghadapi pria ini sendirian."Seru ibu Karti meminta dua pengawal untuk keluar, dia ingin menyelesaikan masalah iti sendiri saja.


" Baik Bu."Jawab dua pengawal dengan patuh.


Dua pengawal itupun kembali berjaga diluar, Wati sendiri saat ini sedang ke pasar. Baskoro datang memang pagi sekali. Ibu Karti kembali menatap tajam Baskoro, lama-lama nyali Baskoro menciut juga.


" Cepat pergi."Seru ibu Karti sudah memelankan suaranya.


" Karti tolong aku sekali ini saja. Aku tidak mau di penjara, Karti."Seru Baskoro tetap memohon.


" Pilih pergi atau aku panggilkan polisi sekarang?." Tanya ibu Karti yang mana dua-duanya pilihan yang tidak diinginkan oleh Baskoro.


" Baik, aku akan pergi. Tapi kamu jangan senang dulu Karti, kamu sudah menolak permintaan ku dan kamu juga sudah mengusirku. Aku pastikan suatu saat nanti kamu akan menyesal telah memperlakukan aku seperti ini. Kamu memang tidak pernah berubah, selalu keras kepala."Seru Baskoro.


Setelah bicara seperti itu, Baskoro pun keluar dari rumah ibu Karti dan menuju mobilnya. Baskoro melajukan mobilnya meninggalkan kediaman sang mantan istri pertamanya. Baskoro tidak kehilangan cara, dia memilih langsung menemui Nia di rumah sakit.


Dengan memakai jacket kulit, memakai topi, kaca mata dan masker. Baskoro memasuki gedung rumah sakit, namun niatnya bertemu dengan Nia tertahan dulu, karena saat ini Nia sedang bekerja, jam prakteknya akan habis sekitar 3 jam lagi. Tepat jam 12 siang, saat jam makan siang.


*************

__ADS_1


__ADS_2