
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Sesampainya dirumah, Vito langsung membuka ponselnya untuk mengecek apakah video sudah dikirim oleh Mama mertuanya. Ternyata video itu memang sudah dikirim oleh Leni. Tanpa menunggu lama Vito segera membuka video itu. Sebab dia sangat penasaran dengan video yang dimaksud oleh Mama mertuanya.
" Sebenarnya video apa yang dimaksud oleh Mama, sampai Bella tadi terlihat ketakutan seperti itu."Ucap Vito pada dirinya sendiri, sembari membuka video yang dikirim Mama mertuanya.
Hahhhh ?
Ini Video hubungan ranjang?
Vito masih belum mengenali wajah pemain adegan dalam video yang saat ini dia tonton. Sebab mereka saling berhadap-hadapan dan wajahnya belum seberapa kelihatan. Leni sengaja memotong video yang dikirim ke Vito, Lani mengirimkan video yang hanya terlihat saat Bella dan Baskoro bermain di atas ranjang saja. Tidak mengirimkan video bagaimana awal mulq Baskoro saat masuk ke kamar Bella.
"Bella , Papa !." Seru Vito saat menyadari jika pria dan wanita dalam video itu adalah Bella dan Baskoro.
"Jadi ini yang membuat Bella ketakutan? Ternyata dia berselingkuh dengan papa nya sendiri? Meskipun bukan papa kandungnya, mereka tetap tidak bisa melakukan hubungan ini. Terlebih mereka sama-sama sudah punya pasangan yang sah. Jadi begini kelakuan kamu, Bella? Lihat saja, aku pasti akan menceraikan kamu."Ucap Vito terus bermonolog pada dirinya sendiri.
Vito mengepalkan tangannya, bahkan ponsel dalam genggamannya pun tak luput dari amarahnya. Vito merasa di bohongi dan merasa Bella bukan wanita baik-baik, sehingga dia juga meragukan anak dalam kandungan Bella.
"Aku harus menanyakan kebenaran nya kepada mama Leni dulu. Anak siapa yang saat ini ada dalam kandungan, Bella."Ucap Vito dengan kesal.
Vito segera menghubungi Leni untuk menanyakan perihal video yang baru saja dikirimkan oleh mama mertuanya itu. Dengan tidak sabarannya Vito terus menghubungi mama mertuanya.
[Hallo ma, apa mama masih dirumah sakit?.] Tanya Vito saat panggilan teleponnya sudah di angkat oleh Leni.
[Mama sudah tidak di rumah sakit, ada apa? Apa kamu sudah melihat video yang sudah mama kirim?.]Jawab Leni lalu balik bertanya.
[Vito sudah menonton video itu, Ma. Vito tidak menyangka Bella dan papa tega melakukan hubungan zina itu. Meskipun aku tidak mencintai Bella dan belum bisa menerima dengan tulus Bella menjadi istriku, namun aku tidak sudi mempunyai istri yang berkelakuan rusak moral nya seperti itu. Terus anak dalam kandungan Bella itu anak siapa, Ma?.]
[Maafkan anak mama, Vito. Mama juga tidak menyangka Bella dan papanya berselingkuh seperti ini. Soal anak mama tidak tahu, anak kamu atau anak Baskoro, mama juga tidak tahu pasti. Nanti kamu lakukan tes DNA saja agar semuanya jelas. Tapi, kamu tidak bisa menceraikan Bella dalam keadaan hamil seperti ini. Tunggulah sampai Bella melahirkan, mama mendukung apapun keputusanmu. Sebab mama juga akan mengugat cerai, Baskoro. Sembilan tahun bukan waktu yang sedikit dan sebentar, Vito.]
Haahhhh
Sembilan tahun? Mata Vito terbelalak lebar saat mengetahui papa mertuanya berselingkuh sudah 9 tahun. Apakah selama 9 tahun itu juga, Bella yang menjadi pasangan selingkuhannya.
[ Maksud mama?.]
__ADS_1
[ Bella dan Baskoro sudah 9 tahun berselingkuh. Hati mama sakit, sangat teramat sakit. Jika Bellq itu bukan anak kandung mama, mungkin mama sudah menghabisinya dari kemarin, Vito.]
[Haahh, baiklah Ma. Terimakasih atas semua informasinya. Vito pasti akan menceraikan, Bella. Tapi apa kata mama tadi, tunggu dia melahirkan.]
[Iya itu terserah kamu. Ya sudah mama matikan teleponnya, mama mau istirahat.]
Tutt Tuutt Tuttt
Sambungan telepon diputus begitu saja oleh Leni, padahal Vito yang menghubunginya. Namun Vito tidak mempermasalahkannya, sebab dia juga sudah tidak ada pembahasan yang perlu di bicarakan lagi.
"Ternyata sembilan tahun sudah Bella berselingkuh dengan papa tirinya sendiri. Beginikah wanita terbaik dan terpelajar pilihan mama?." Ucap Vito bermonolog pada dirinya sendiri.
Vito benar-benar menyesal menikahi wanita seperti Bella. Yang bahkan sebelum tidur dengannya juga sudah tidak perawan lagi, ternyata sudah menjadi teman tidur papanya selama bertahun-tahun.
**********
"Sayang, kapan ya di dalam sini ada anakku? Aku sudah tidak sabar lagi ingin mempunyai anak dari rahim kamu, Sayang."Ucap David sembari mengusap perut Nia dengan lembut.
Nia khawatir, diusia pernikahannya yang sudah cukup lama meskipun belum ada 1 tahun. Belum juga di karuniai seorang anak. Sebagai seorang dokter, Nia juga konsultasi soal kehamilan dengan dokter spesialis kandungan dimana tempatnya bekerja, yaitu dokter Rachel.
"Sabar ya Hubby. Mungkin kita masih disuruh untuk pacaran lebih dulu."Ucap Nia mencoba berfikir positif.
"Iya sayang. Berarti kita juga harus lembur terus, siapa tahu dengan kita lembur kita bisa segera punya momongan."Ucap David sambil memainkan alisnya.
Padahal mereka sudah bermain selama 1 jam, namun David belum kenyang juga. Dan tenaganya masih saja full power. David terlihat menyeringai dengan licik, apalagi saat ini Nia juga masih polos hanya tertutup selimut tebal saja.
"Tidak apa-apa dong kalau kita nambah lagi. Lagipula tadikan baru 1 jam, biasanya hampir 2 jam kan, Sayang."Seru David licik.
Huuufffffftttt
Nia menghela nafas dengan panjang, tenaga suaminya memang super full power. Mau tidak mau Nia juga harus mengimbanginya demi keharmonisan rumah tangganya.
"Ahhh... Hubby."Seru Nia saat David mulai memainkan area yang sangat David sukai.
"Aku sangat senang mendengar suara dan d3s4h4nmu, Sayang. Lepaskan suara kamu, jangan kamu tahan-tahan."Ucap David.
Nia terus m3nd3s4h saat David terus bermain di area yang sangat-sangat sensitif itu. David memang sangat pandai membuat Nia tidak berdaya dengan permainannya.
Olah raga David dan Nia semakin psnas dan membuat Nia semakin menuntut lebih. Kali ini Nia benar-benar tidak berdaya dan tanpa sadar dia memintanya langsung.
"Hubby, cepat . Aku..aa.. Aku sudah tidak tahan lagi. Cepat hubby, jangan lama-lama begini."Seru Nia dengan suara parau sembari menahan sesuatu yang sangat besar.
__ADS_1
"Kita mulai, sayang."Seru David merasa kasihan dengan istrinya yang sudah tidak tahan lagi.
Namun, betapa terkejutnya David saat Nia tiba-tiba membalikkan tubuhnya. Dan saat ini David yang berbaring di kasur, dan Nia ada di atas. Nia sudah tidak tahan lagi, sehingga dia akan memimpin olah raga nya.
"Istriku sangat pandai, sudah tidak malu-malu lagi."Seru David senang melihat perubahan Nia.
"Untuk apa aku malu, Hubby. Sedangkan hampir setiap hari kita seperti ini, lagipula kita ini kan pasangan yang sah."Jawab Nia dengan terus bergerak secara serasi.
Ahhhh.. Emmhhh
Suara Nia mendominasi olah raga mereka, malam ini Nia terlihat lebih agresif dan tidak ada kata malu-malu dan cangnggung lagi. Nia bertahan sampai 15 menit di atas sana, setelah itu dia sudah mendapatkan puncak inti dari olah raganya.
Nafas Nia tersengal-sengal, karena dia kelelahan. Biarpun lelah dia bisa mendapatkan kenikmatan yang sempurna dan tiada taranya. Saat Nia sudah kelelahan, David mencoba mengambil alih jalan olah raga malam mereka.
********
Baskoro menemani Bella di rumah sakit. Saat ini Bella dan Baskoro sedang membahas permasalahan yang saat ini mereka hadapi. Bella takut jika Vito menceraikannya, dan Baskoro juga takut jika Leni menggugatnya cerai.
Dulu Baskoro memang tidak takut saat jika Leni menggugatnya cerai, dan bahkan Baskoro sendiri pernah berniat untuk menceraikan Leni. Namun keadaan sekarang sangat jauh berbeda, dulu Baskoro seorang manajer dengan penghasilan yang lumayan besar. Namun sekarang Baskoro hanya seorang pengangguran, sehingga dia tidak mau jika Lani menggugatnya cerai. Jika dia dan Lani bercerai, sudah pasti kehidupan Baskoro akan kembali seperti dulu lagi, dengan statusnya seorang pengangguran dan miskin.
"Jadi bagaimana jika Vito nenceraikan, Bella? Papa sekarang pengangguran, dan mama sudah tidak mungkin untuk memberi aku uang lagi. Lantas hidup Bella bagaimana, Pa? Mana Bella juga sedang hamil."Seru Bella dengan kesal.
" Papa juga bingung, Bella sayang. Kalau papa dan mama bercerai otomatis papa juga bakalan susah. Siapa yang mau menanggung kebutuhan papa, sedangkan papa saat ini hanya menganggur. Pokoknya sebisa mungkin kita tidak bercerai dengan pasangan kita masing-masing. Kalau saja papa masih bekerja sebagai manajer seperti dulu, tentunya papa tidak akan sekhawatir ini."Seru Baskoro dengan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Bella pusing pa. Lebih baik papa pulang saja dab bicara sama mama. Jangan sampai mama tambah marah karena papa menemani Bella di rumah sakit. Besok juga Bella sudah boleh pulang, papa tidak perlu menjemput Bella. Biar Vito yang menjemput, Bella."Ucap Bella sangat percaya diri jika Vito mau menjemputnya.
Baskoro sebenarnya masih ingin berlama-lama menemani Bella di rumah sakit. Namun, Bella terus saja menyuruh nya untuk segera pulang untuk bicara dengan mamanya agar tidak semakin marah. Sehingga akan membatalkan rencananya, untuk memberitahu Vito dan keluarganya.
" Yakin kamu mau sendirian? Papa bisa loh jagain kamu 24 jam."Ucap Baskoro.
" Aku yakin, Pa. "Jawab Bella dengan cepat dan singkat.
" Ya sudah. Kalau begitu papa pulang ya, besok kalau tidak ada yang menjemput kamu. Kamu bubungi papa ya, Sayang. Papa siap kapanpun untuk kamu."Ucap Baskoro.
Bella hanya menganggukan kepalanya saja, tidak lama kemudian Baskoro bangkit lalu mencium pipi kanan, pipi kiri serta kening Bella dengan lembut. Lalu beralih di bibir yang masih tetap merah menyala itu.
Sebenarnya Bela risih dengan apa yang dilakukan oleh sang papa. Namun Bella tidak bisa berbuat banyak, dan membiarkan papanya melakukan apa yang dia sukai agar sang papa bisa cepat pergi dari ke rawat inapnya.
*Semoga saja, papa berhasil merayu mama agar tidak memberitahu Vito dan keluarganya.*Gumam Bella dalam hatinya.
Padahal Vito sudah tahu semuanya, dan saat ini sudah menyusun rencana untuk menceraikannya.
__ADS_1
***********