Dokter Penakluk Duda Arogant

Dokter Penakluk Duda Arogant
Dua hati untuk Vito


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Tringgg


[ Sayang, aku sudah ada di jalan kamu tunggu di depan apa di ruangan kamu? Di ruangan kamu saja ya, soalnya aku mau bertemu dengan paman Irawan lebih dulu.]


Nia membaca pesan yang baru saja dikirimkan oleh sang suami. Jam praktek Nia memang sudah selesai dan David yang akan menjemputnya sendiri. Semenjak kejadian penculikan waktu itu, David merasa sangat bersalah dan dia berjanji akan selalu mengantar dan menjemput Nia.


[ Iya Hubby.] Balas Nia dengan singkat, padat dan sangat jelas.


Nia sudah tahu maksud dan tujuan David menemui paman Irawan. Sudah pasti soal rumah sakit yang mana paman Irawan ingin pensiun dan meminta Miska atau Nia untuk menggantikannya.


[ Sayang ke ruangan paman Irawan saja ya, ini aku sudah ada di rumah sakit sedang menuju ruangan paman Irawan.]


David mengirim pesan lagi dan meminta Nia untuk keruangan paman Irawan saja. Nia juga berhak tahu apa yang akan mereka bicarakan, terlebih Nia juga salah satu kandidat yang akan menggantikan Pak Irawan.


[ Iya Hubby.] Balas Nia cepat.


Nia keluar dari ruangannya lalu dia berjalan menuju ruangan pak Irawan. Nia berpapasan dengan dokter Rachel dan dokter Lita yang ingin pulang.


" Dokter Nia mau kemana?."Tanya Rachel dan Lita bersamaan.


" Ini mau keruangan pak Irawan. Kak Rachel sama kak Lita sudah mau pulang?." Tanya Nia balik.


" Iya nih sudah mau pulang, ya sudah kami duluan ya. Ingat besok waktunya cek kandungan, mau USG lihat jenis kelaminnya tidak?." Tanya dokter Rachel sekaligus mengingatkan Nia.


Beruntung sekali Rachel mengingatkan, Nia benar-benar lupa jika besok jadwalnya dia cek kandungan. Nia mempercayakan semuanya kepada Rachel, dengan Rachel dia lebih bisa santai dan untuk bertanyapun dia tidak sungkan.


" Ok, terima kasih sudah diingatkan kak Rachel."Seru Nia sambil tersenyum ramah.

__ADS_1


Mereka bertiga kembali dengan tujuannya masing-masing. Tidak membutuhkan waktu lama, Nia sudah sampai di depan ruangan dokter Irawan.


Tok


Tok


Dengan sopan Nia mengetuk pintu ruangan pak Irawan terlebih dahulu sebelum diizinkan masuk pun Nia tidak mau sembarangan masuk. Meskipun orang yang ada didalam paman dari suaminya sendiri.


" Sayang, masuk saja. Kenapa pakai ketuk pintu segala."Ucap David membukakan pintu untuk, sang istri.


" Hubby, ternyata sudah ada didalam. Meskipun ini rumah sakit suamiku, aku tetap harus sopan dong Hubby. Tidak bisa bersikap semaunya sendiri, kita harus punya tata krama dan sopan santun mas. Apapun status kita dan apapun pekerjaan kita yang namanya attitude itu sangat penting dan nomor satu. "Ucap Nia menasehati suaminya panjang lebar.


" Iya sayang. Ya sudah kalau begitu masuk dan duduk lah di sofa, cari saja tempat ternyaman untuk kamu duduk."Ucap David.


Nia masuk dan mencari tempat duduk yang nyaman sesuai dengan apa yang dikatakan David tadi.


Tidak menunggu lama, paman Irawan memulai pembicaraannya. Ternyata David menolak saat nama Nia di sebut sebagai penggantinya. Bukan tanpa alasan kenapa David menolaknya, David hanya mau Nia fokus dengan kehamilannya dan rumah tangganya. Jika pun harus bekerja, tidak masalah yang penting tidak menggantikan peran pak Irawan.


" Iya pak, saya tidak sanggup jika harus menggantikan anda. Ada Miska yang lebih pantas, apalagi saya juga hamil dan saya memang akan mulai mengurangi kegiatan di rumah sakit."Ucap Nia lagi.


Setelah kesepakatan bersama, akhirnya Miskalah yang akan menggantikan pak Irawan memegang kendali tanggung jawab rumah sakit.


*********


Bella termenung sendirian di teras belakang rumahnya. Bella memikirkan pertemuannya dengan Vito saat di rumah sakit tadi. Bella akui, sampai detik ini dia masih mencintai Vito dan belum bisa menghapus nama Vito dari hatinya. Dia ingin sekali kembali dengan Vito, namun dia sadar diri jika dia merasa tidak pantas bersanding dengan Vito.


* Kenapa rasa cinta ini masih saja tumbuh, padahal aku sudah berusaha untuk melupakan dia. Aku tidak pantas untuk nya, aku terlalu kotor. Ya Allah, tolong hapuskan rasa cinta ku ini. Aku tersiksa dengan perasaan ini.*Gumam Bella dalam hati.


Melihat Bella yang termenung sendirian, Leni pun menghampiri Bella dan duduk di samping Bella. Leni terus memperhatikan Bella, Leni mengira jika Bella sedang memikirkan perceraian nya dengan Baskoro yang tergolong rumit.


" Bella, apa yang kamu fikirkan?." Tanya Leni dengan lembut.


" Ma, sejak kapan mama ada disini?." Tanya Bella kaget saat mendapati mamanya sudah ada di sampingnya.


" Belum lama kok, kamu melamun? Apa yang kamu lamunin sampai mama duduk sini saja kamu tidak tahu? Lagi mikirin perceraian kamu dengan Baskoro? Kalau soal itu kamu tenang saja, mama yang akan mengatur semuanya. Pengacara mama akan membantu sampai selesai."Ucap Leni menyakinkan Bella.

__ADS_1


Bella hanya tersenyum, namun senyumnya terlihat masih ada kesedihan yang tersimpan. Bella memeluk mamanya dengan air mata yang sudah tidak bisa di tahan lagi. Rasa cintanya untuk Vito sangatlah besar, sehingga dia tidak bisa menyembunyikan perasaannya terlalu lama.


" Ma, apa aku masih pantas bahagia?." Tanya Bella sambil memeluk Leni.


" Kamu ini bicara apa? Semua orang itu pantas dan berhak bahagia dengan caranya masing-masing. Kamu anak mama satu-satunya, mama akan selalu mengupayakan kebahagiaanmu. Jangan menangis lagi ya, dan jangan pernah merasa sendirian. Mama akan selalu ada di sampingmu. Dan jika kelak kamu sudah menemukan kebahagiaan mu, mama tidak akan takut untuk melepaskan kamu."Ucap Leni sambil mengusap bahu Bella.


" Ma, apa aku masih pantas mendapatkan kebahagiaan bersama Vito?." Tanya Bella secara tiba-tiba.


Deegghhhh


Vito ? Tiba-tiba tubuh Leni menegang. Mendengar nama Vito membuat dia teringat tentang kejadian dua malam panas mereka. Leni pun menyadari jika dirinya sampai detik ini juga menyukai dan mengharapkan Vito. Tapi pantaskah dia bersaing dengan anak kandungnya sendiri.


* Tidak !! Bella tidak boleh tahu jika aku dan Vito pernah menghabiskan malam berdua. Apalagi kejadian itu akulah yang salah, aku yang sudah lebih dulu menggoda Vito. Jujur aku memang mencintai Vito, tapi semua itu tidak mungkin untuk aku bisa memiliki Vito. Kebahagiaan Bella itu lebih penting, aku tidak mau anakku menderita.*Gumam Leni dalam hatinya.


Leni melepaskan pelukannya, lalu dia mengusap air mata Bella. Dia berusaha menutupi rasa gugupnya agar Bella tidak merasa curiga.


" Ma, kenapa mama masih mau menerima Bella? Padahal Bella sudah menyakiti mama?." Pertanyaan Bella yang secara tiba-tiba hanya dijawab Leni dengan sebuah senyuman.


" Kenapa mama hanya tersenyum? Apa Vito juga akan memaafkan ku seperti mama memaafkan aku?."Tanya Bella lagi.


" Bella, Kamu itu anak mama dan sudah pasti mama akan memaafkan kamu. Mama akan bahagia jika kamu bahagia. Masalah Vito, mama yakin dia pasti akan memaafkan kamu. Dan masalah hati, coba kamu temui Vito dan bicarakan masalah hati kamu. Mama hanya berharap suatu saat kamu dan Vito bisa menjadi sepasang suami istri lagi."Ucap Leni sambil menahan tangisnya.


Hati Leni sakit, hati Leni hancur. Dia tahu perasaan nya untuk Vito ini adalah sebuah kesalahan. Tidak semestinya dia mencintai pria yang tidak akan pernah mungkin dia miliki. Bahkan Vito saja enggan untuk bertemu dengannya.


* Jika Bella bisa kembali dengan Vito, dan dia bahagia. Aku rela, dan akan mengubur perasaan ku dan kenanganku. Vito lebih pantas dengan Bella.* Gumam Leni dalam hatinya.


" Aku tadi siang bertemu Vito, Ma. Aku bertemu di rumah sakit saat aku pulang menemui Nia. Om Sigit di rawat di rumah sakit, tadinya aku mau ikut menjenguk tapi aku malu dan takut. Takut disana ada tante Hesti dan dia akan menghina dan memarahiku. Jadi aku urungkan keinginanku tadi."Ucap Bella memberitahu jika tadi dia bertemu dengan Vito.


" Apakah Vito tambah tampan? Sehingga anak mama ini sedari tadi galau?." Tanya Leni menutupi kesedihannya sendiri.


" Emm mama ini bisa saja sih. Memang benar sih ma, kalau Vito sekarang semakin tampan."Jawab Bella malu-malu.


* Semoga kebahagiaan datang untukmu, Bella. Mama tahu, kamu sangat mencintai Vito dan mama juga berharap, suatu saat Vito bisa menerima mu lagi.* Gumam Leni sambil mengusap rambut lurus Bella.


**************

__ADS_1


__ADS_2