
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Sesampainya di rumah David, Nia segera turun dan langsung menuju kamar Nada. Nia sudah tahu dimana letak kamar Nada jadi dia langsung masuk kamar Nada begitu saja tanpa permisi. Didalam kamar Nada saat inj hanya ada Nada,Miska dan mbak Nur saja.
" Nada " Seru Nia memanggil Nada dengan lembut.
Nada yang tadinya sedang berbaring tiba - tiba langsung bangun dan duduk mencari keberadaan Nia. Mata Nada berbinar melihat Nia yang sudah ada didalam rumahnya. Dengan segera Nada turun dan memeluk Nia. Rasa rindunya kepada Nia sudah tidak bisa dituliskan lagi, Nada sangat tulus menyayangi Nia bsgitupun dengan Nia sangat tulus menyayangi Nada.
" Mama Nia maafkan Nada." Seru Nada sembari memeluk Nia.
Nia yang sudah mensejajarkan tubuhnya dengan Nada membuat Nada semakin mudah untuk memeluknya. Nia mengusap Nada dengan lembut dan mencium pipi kanan dan kiri Nada. Ternyata Nia benar - benar sangat merindukan Nada.
" Nada tidak salah apa - apa jadi tidak perlu meminta maaf." Jawab Nia dengan lembut.
" Nada sudah marah dan menangis, jadi mama dimarah sama Papa. Maaf ya ma." Seru Nada lagi.
" Iya sayang, mama Nia juga minta maaf ya sebab mama sudah bicara yang membuat Nada menangis. Oh iya katanya Nada sakit ? Nada sakit apa ? Mama Nia periksa dulu yuk." Seru Nia lagi dengan memberikan pertanyaan beruntun.
" Nada kemarin sudah ada Om dokter Rian, Ma. Sekaranv ketemu mama jadi sudah sembuh." Jawab Nada sambil menunjukan deretan gigi putihnya.
Miska dan mbak Nur terharu melihat kedekatan antara Nada dan Nia. Keduanya sudah seperti anak dan ibu yang sedang saling melepas rasa rindu karena berhari - hari tidak bertemu. Miska mendekati keduanya dan mengajak duduk di sofa yang ada dikamar Nada, dan meminta mbak Nur untuk membuatkan Nia minum namun Nia menolaknya sebab dia ingin sholat maghrib terlebih dahulu.
" Kita sholat di mushola saja Kak, yuk Nada kita sholat sama - sama." Seru Miska juga mengajak Nada.
" Iya aunty. Mama kita sholat sama - sama juga ya." Tanya Nada juga mengajak Nia.
" Iya sayang yuk kita sholat." Jawab Nia dengan menyunggingkan senyum manisnya.
__ADS_1
Mereka bertiga berjalan menuju mushola yang ada di dekat teras belakang. Merekapun sholat bersama, pak Widjaya biasanya juga akan sholat di mushola namun tadi dia sudah sholat lebih dulu. Selesai sholat Miska mengajak Nia untuk makan malam, namun Nia mencoba menolaknya.
" Tidak usah Miska nanti saat dirumah saja aku makan dirumah. " ucap Nia menolak secara halus ajakan makan malam dari Miska.
Nia tidak enak ikut bergabung makan malam dengan keluarga Tuan Widjaya. Namun Nada merengek meminta Nia untuk ikut bergabung makan malam. Akhirnya tidak ada pilihan lain selain mengikuti apa yang diminta oleh Nada, daripada Nada menangis dan dia yang akan kembali disalahkan oleh David.
" Baiklah. " Jawab Nia dengan terpaksa.
Nia kini sudah ikut bergabung di meja makan, di meja makan sudah ada David, tuan Widjaya dan istrinya, Karmila. Nia merasa canggung meskipun dulu pernah ikut makan bersama kali ini dia benar-benar merasa canggung kembali.
" Ayo makan Nia, jangan malu-malu. Makan apa yang ingin kamu makan. Tenang saja ini tidak ada olahan udangnga nya kok. "Ucap Karmila kembali bersikap baik dan menyambut Nia dengan lembut.
" Iya Nyonya, terima kasih."Jawab Nia dengan ramah dan sopan.
David melirik sekilas kearah Nia yang duduk disamping Nada. Diantara David dan Nia ada Nada yang duduk di tengah - tengah mereka. Miska juga melirik kearah kakaknya, yang pura - pura jual mahal padahal sudah mulai ada getaran cinta untuk Nia.
* Ciri - ciri orang egois ya seperti itu. Pura - pura cuek padahal peduli. Kalau diambil orang sudah pasti menyesal tuh.* Gumam Miska dalam batinnya.
Acara makan malam berjalan dengan lancar dan tidak ada orang yang mengobrol saat sedang makan. Mereka semua menikmati makan malamnya dalam hening. Di rumah ini memang David yang paling tidak suka di saat sedang makan sembari mengobrol atau berbincang-bincang.
" David, mulai besok Papa mau Nia kembali bekerja seperti biasa di rumah sakit, dan sebagai dokter pribadi nada. Jika kamu tetap memberhentikan dia dari rumah sakit, papa sendiri yang akan bertindak untuk mengembalikannya ke rumah sakit itu lagi." Ucap pak Widjaya meminta David untuk segera mengembalikan pekerjaan Nia.
" Tidak bisa begitu dong pa. Dia itu sudah melakukan kesalahan sampai Nada menangis. dan Nada sakit sampai berhari-hari itu semua karena dia. Jadi David tidak mau segampang itu mengembalikan dia di rumah sakit. Dokter macam apa itu tidak punya rasa tanggung jawab sama sekali." Seru David tetap menolak Nia untuk kembali di rumah sakit.
Pak Widjaya dan Karmila hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sifat David yang benar-benar keras kepala. Selama ini tidak ada yang berani membantah perkataan David selain keluarganya sendiri. Pak Widjaya tetap akan mengembalikan Nia di rumah sakit, dia juga sudah berkonsultasi dengan Pak Irawan. Pak Irawan juga menyetujui jika Nia kembali lagi bekerja di rumah sakit, sebab Nia salah satu dokter muda yang berprestasi di rumah sakit itu meskipun baru beberapa bulan bekerja.
Mendengar jawaban David tadi, sebenarnya Nia ingin sekali menyumpal mulut David menggunakan bantal kursi. Namun tindakannya itu pasti akan semakin membuat David kesal dan membuat Nia malu dengan keluarga Pak Widjaya, sehingga Nia hanya berpura-pura tidak mendengar dan tetap fokus bermain dengan Nada dan Miska.
" Egois, jangan sampai papa bawa Nada ikut pindah bersama kami keluar negeri." Ucap pak Widjaya mengancam David.
" Papa ini jangan mengancam. Nada itu anak David jadi David yang lebih berhak atas Nada." Seru David dengan kesal karena papanya selalu saja memakai Nada untuk mengancam David.
" Apa kamu lupa, jika rumah sakit itu juga milik Papa. Kamu itu hanya sebagai pewaris dan penerusnya saja, Papa juga masih berhak atas rumah sakit itu dan Papa juga berhak menentukan siapa saja yang bisa bekerja di Rumah sakit itu. Jadi sekarang Papa juga tidak harus meminta persetujuan kamu untuk kembali membawa Nia masuk ke rumah sakit itu. Jika kamu tetap saja menghalangi Papa, jangan salahkan papa kalau papa sampai membawa Nada pindah dari Indonesia."Seru Pak Widjaya bicara cukup tegas dan tetap mengancam David.
__ADS_1
David tidak bisa lagi untuk berkata tidak, sebenarnya dia memang sudah berniat untuk mengembalikan Nia kerumah sakit namun dia gengsi untuk mengatakan langsung kepada Nia. Beruntung sekali Papanya tadi membahas soal Nia.
Saat Nia sedang asik bermain dengan Nada dan Miska tiba-tiba ponsel yang ada di kantong celana Nia berdering. Ada panggilan masuk dari salah satu tetangganya yang bernama Tami. Dengan ragu - ragu Nia mengangkat telepon itu , semua pasang mata memandang kearah Nia.
[ Hallo Assalamualaikum mbak Tami, tumben telepon ada apa ya mbak? ] Tanya Nia dengan heran tidak biasanya Tami menghubunginya.
[ Waalaikumsalam Nia. Nia sekarang kamu ada dimana? Cepat kamu kerumah sakit XX Nia. ] Seru Tami.
[ Rumah sakit XX ? Ada apa mbak?] Nia semakin tidak tenang.
[ Ibu kamu mengalami kecelakaan tabrak lari dan ini langsung kami bawa kerumah sakit.]
Deg
Jantung Nia seakan berhenti berdetak saat mendengar kabar ibunya mengalami tabrak lari dan saat ini sedang berada dirumah sakit. Secara spontan Nia langsung menangis sehingga membuat semuanya heran ada apa dengan Nia?
Miska yang duduk disamping Nia langsung mengambil ponsel Nia yang masih terhubung dengan si penelpon.
[ Hallo, hallo Nia ]
[ Iya hallo, maaf Kak Nia sepertinya syok dan menangis. Sebenarnya siapa yang dirumah sakit dan di rumah sakit mana. ]
[ Ibunya Nia di rumah sakit XX.]
[ Baik kak Nia akan segera kesana.]
Klik
Sambungan telepon sudah diputus oleh Miska. Nia langsung bangkit dan berpamitan untuk pulang, dia akan langsung menuju rumah sakit dimana saat ini ibunya dirawat.
" David antarkan Nia." Seru Pak Widjaya.
David tidak membantah, dengan segera dia bangkit dan keluar rumah menuju mobil nya yang ada didepan rumah. David tidak banyak bertanya sebab dia tahu saat ini Nja sedang bersedih dan sedang butuh dukungan. Sebelum pergi tadi Miska menyerahkan ponsel Nia kepada David sebab tadi Nia melupakan ponselnya. Dan kini ponsel nya ada dikantong celana David.
__ADS_1
***********