
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Siang itu Vito keluar dari perusahaannya untuk makan siang. Dan sudah dua hari ini juga dia tidak bertemu maupun berkomunikasi dengan Leni. Bukan tidak berkomunikasi, Leni setiap jam selalu mengiriminya pesan tapi satu pun tidak ada yang dia balas.
Vito makan di salah satu rumah makan sederhana yang dulu sering kali dia datangi bersama Nia. Vito sendirian, tidak mengajak teman nya.
" Bukannya itu dokter muda itu? Dia makan siang disini juga?."Seru Vito bermonolog pada dirinya sendiri.
Miska memang sedang makan siang di tempat itu juga dan dia bertama salah satu temannya, Maya. Vito berniat ikut bergabung dengan Miska,namun dia takut jika tidak di izinkan.
" Kalau tidak aku coba mana aku tahu. Setidaknya aku sudah berusaha, sepertinya dokter Miska itu wanita yang baik dan sederhana."Ucap Vito lagi.
Vito memesan makanan lebih dahulu dan meminta pelayan untuk mengantarkan di meja Miska. Setelah itu Vito berjalan menghampiri Miska dan temannya.
" Dokter Misa?." Seru Vito menyapa Miska.
Miska dan Maya langsung mengalihkan pandangannya kearah Vito. Miska memicingkan matanya mencoba mengingat-ingat siapakah gerangan pria yang saat ini menghampirinya dan mengetahui namanya.
" Oh ini mas yang waktu itu wajahnya bonyok karena kalah berantem memperebutkan wanita ya?." Seru Miska dengan suara keras sehingga banyak pasang mata yang memandang ke arahnya.
* Si4l banget sih hidup ku, kenapa juga dia bicara seperti itu. Aku kan jadi malu, masa iya pria tampan sepertiku memperebutkan wanita dan aku kalah sampai bonyok. Coba sedikit di filter dulu itu ucapannya.*Gumam Vito seakan dia menyesal menghampiri Miska.
Maya menyenggol lengan Miska, tidak seharusnya Miska bicara detail seperti itu. Mulut Miska memang seperti itu, suka japlak tidak pada tempatnya.
" Emm iya betul. Apa aku boleh gabung dengan dokter?."Tanya Vito.
" Boleh, silahkan saja. Oh iya panggil saja nama tidak perlu pakai embel-embel Dokter. Lagipula aku sudah selesai magang dan belum sah menjadi dokter. Lagian aku juga tidak gila pangkat jadi tidak perlu memanggilku seperti itu."Ucapan Miska terdengar biasa saja namun bagi yang belum paham dengan Miska menganggap Miska ketus dan sombong.
" Iya Miska."Jawab Vito dengan ramah.
Tidak menunggu lama makanan Vito pun sudah datang, dan akhirnya mereka bertiga makan dimeja yang sama tanpa ada yang berbicara satu pun. Vito merasa canggung dengan keadaan itu, namun sudah kepalang tanggung dia sudah bergabung di meja Miska.
__ADS_1
" Mis, aku duluan ya. Itu pacarku sudah menunggu di depan."Seru Maya sambil beranjak dari duduknya.
" Iya May, kamu hati-hati ya. Bilang sama Abdi jangan ngebut kalau bawa mobil."Seru Maya sambil terkekeh.
" Siap Nona Miska."Jawab Maya.
Kini tinggal Miska dan Vito saja yang ada di meja itu. Miska menghabiskan makanannya yang belum juga habis, begitupun dengan Vito.
" Miska setelah lulus mau langsung bekerja?."Tanya Vito mencoba mencairkan suasana.
" Sepertinya iya Kak. Emm aku panggilnya Kak saja ya, soalnya umur Kak Vito kan lebih banyak. Mungkin seumuran dengan kakakku."Seru Miska sambil terkekeh.
" Panggil apa saja yang penting kamu nyaman. Kamu mau bekerja di rumah sakit tempat kamu magang kemarin?."Tanya Vito ingin tahu lebih banyak lagi.
" Iya, aku sudah dapat tawaran dari rumah sakit. Lumayanlah tidak terlalu jauh juga dari tempat tinggalku, jadi bisa irit bensin. Oh iya apa kak Vito sudah mau selesai, soalnya aku sudah selesai nih. Mau langsung pulang, soalnya dirumah ada keponakan yang harus aku temani. Mamanya lagi ada pekerjaan di luar kota, jadi untuk sementara keponakan tinggal sama orang tuaku."Ucap Miska jujur.
Miska tidak mau berbasa-basi jadi dia bicara apa adanya saja. Padahal Vito masih ingin berlama-lama mengobrol dengan Miska. Vito terlihat mengumbar senyumnya, dia mulai merasa nyaman bicara dengan Miska.
" Oh kamu sudah mau pulang ? Emm ya sudah tidak apa-apa, salam untuk keponakan kamu ya. Semoga lain kali kita bisa mengobrol lagi. Bolehkan kalau kita mengobrol seperti ini lagi? Ada yang marah tidak?."Tanya Vito sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Oh boleh kok Kak, kalau ada yang marah sih tidak ada. Alhamdulillah pacarku orangnya santai dan tidak mengekang aku mau bergaul dengan siapapun yang penting aku tahu batasannya. Kami saling percaya dan jaga komunikasi dengan baik."Ucap Miska berkata dengan jujur. Namun siapa sangka kejujuran Miska itu justru membuat Vito merasa sedih, baru juga dia akan berusaha mendekati Miska ternyata Miska sudah punya pacara.
Terdengar helaan nafas Vito, dia sedikit frustasi karena ternyata Miska sudah punya pacar. Vito terasa patah hati sebulum tumbuh. Miska pun beranjak dan meninggalkan Vito sendirian. Vito menatap kepergian Miska dengan pandangan yang sulit di artikan.
* Sepertinya diriku ini di takdirkan untuk sendiri, baru juga merasa nyaman dan cocok dengan Miska ternyata dia sudah punya pacar. Miska itu baik, cantik, lembut dan sederhana sama seperti Nia dulu. Sepertinya aku harus mencari tahu siapa pacar Miska.*Gumam Vito dalam hatinya.
" Hai Vito."Seru seseorang menghampiri Vito.
Vito langsung mengalihkan pandangan kearah sumber suara tadi. Dilihatnya ternyata ada Bella dan Baskoro yang sudah berdiri tepat di sampingnya. Vito tidak menanggapinya, dia diam dan buang muka secepat mungkin setelah tahu siapa yang memanggilnya.
" Kita bertemu juga disini, sudah lama ya kita tidak bertemu. Bagaimana kabar kamu, Vito? Apa aku boleh duduk disini?." Tanya Baskoro bersikap sopan,
" Silahkan."Jawab Vito singkat.
Vito mengeluarkan rokok dari kantong celananya lalu dia merokok tanpa memperdulilan Bella yang memandang tajam kearahnya. Dengan santainya Vito m3nghis4p rokoknya dan menghembuskan asapnya tinggi-tinggi. Inilah salah satu alasan Vito makan di rumah makan yang sederhana, sebab disini diperbolehkan untuk merokok.
" Kamu sendirian saja?."Tanya Baskoro.
__ADS_1
" Seperti yang ada lihat."Jawab Vito dengan malas.
" Sayang aku tidak mau makan di tempat ini, aku mau makan makanan jepang."Seru Bella dengan manjanya.
Bella seakan memamerkan kemesraannya dengan Baskoro di depan Vito. Jika seperti itu, Bella salah besar. Vito justru jijik dan muak melihat Bella yang bertingkah seperti anak kecil.
" Bella sayang, bukannya tadi katanya kamu mau ayam bakar? Nah disini ini ayam bakar yang enak, sudah dong jangan cemberut seperti ini nanti canriknya hilang loh."Seru Baskoro.
" Iya tadi pengen ayam bakar, tapi sekarang gak lagi. Ternyata tempatnya kampungan seperti ini, aku mau makanan jepang."Seru Bella terus merengek.
Baskoro tidak bisa mencegah Bella, dan pada akhirnya dia pun mengikuti apa mau Bella. Bella dan Baskoro pun keluar dari rumah makan itu. Vito yang melihat Baskoro dan Bella pergi juga ikut beranjak dari duduknya. Jam makan siangnya sudah habis dan dia harus segera kembali keperusahaan.
* Sial ! Kenapa tadi pakai ketemu Vito sih. Jadi aku berprilaku mesra saja didepannya biar dia tahu, jika aku tanpa dia juga bahagia. Tapi sebenarnya sampai saat ini aku masih sangat mencintai Vito. Meskipun dia bukan orang pertama yang menyentuhku, akan tetapi Vito itu cinta pertama ku. Apa suatu saat nanti aku bisa bersatu lagi dengan Vito?.*Gumam Bella dalam hati.
" Kamu kenapa melamun, Sayang?."Tanya Baskoro melirik Bella.
" Aku tidak apa-apa."Jawab Bella ketus.
Baskoro hanya menggelengkan kepalanya, dia lebih fokus dengan setir mobilnya saja. Gara-gara mengikuti maunya Bella, sepertinya Baskoro akan terlambat kembali ke perusahaan. Setelah 15 menit, mobil yang dikendarai Baskoro sudah sampai di depan restoran yang menyediakan makanan jepang.
" Turun sayang, ini sudah sampai di restoran jepang."Seru Baskoro dengan lembut.
" Tidak jadi, aku mau pulang saja. Wanita hamil tidak boleh makan-makanan daging mentah."Seru Bella dengan ketus.
" Disini juga tidak hanya menyediakan makanan mentah, ada juga yang matang. Yuk masuk, aku sudah sangat lapar dan aku juga harus segera kembali ke kantor. Kamu tahukan aku ini baru bekerja jadi tidak bisa seenaknya."Ucap Baskoro mulai kesal dengan tingkah Bella yang seperti anak kecil.
" Pokoknya aku tidak mau ya tidak mau !! Kamu ini tuli atau bagaimana sih? Dasar pria tua, pantas saja kalau sudah tuli."Seru Bella semakin kurangajar.
Bella !!!
Baskoro membentak Bella dengan tangan yang terangkat, hampir saja Baskoro menampar Bella. Baskoro dibuat naik darah oleh tingkah Bella yang seperti anak kecil.
" Jika kamu tidak mau makan disini terserah kamu ! Sekarang kamu turun dan aku akan kembali ke kantor, terserah kamu pulang mau naik apa. Kali ini kamu masih aku maafkan Bella, sekali lagi kamu seperti ini dan sampai menyebutku prua tua dan tuli aku pastikan tanganku ini akan menyentuh pipimu dengan kasar."Ucap Baskoro dengan penuh amarah.
Bella langsung terdiam, dia ketakutan melihat Baskoro yang marah. Seumur hidup Bella, baru kali ini saja Bella melihat Baskoro marah kepadanya. Sampai hampir melayangkan tamparannya di pipinya, namun Bella tetaplah Bella. Dia tetap bersikap ketus tanpa mau meminta maaf, dia pun turun dari mobil.
Setelah Bella turun, Baskoro melajukan mobilnya menjauh dan membiarkan Bella begitu saja.
__ADS_1
*Sesekali aku memang harus tegas dengan Bella, aku tidak mau dia semakin bersikap seenaknya dengan ku. Aku ini suaminya, bukan teman tidurnya saja. Sepertinya mulai sekarang Bella harus melayaniku seperti sebagaimana mestinya seorang istri.*Gumam Baskoro.