Dokter Penakluk Duda Arogant

Dokter Penakluk Duda Arogant
Gangguan Sari


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Nia masih menjalani aktifitasnya seperti biasa, di usia kandungannya yang semakin membesar tidak merubah semangat Nia untuk tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang dokter. Dia menjalankan pekerjaannya dengan penuh rasa tanggung jawab. Sedikitpun dia tidak mengeluh, dia menganggap pekerjaannya sebagai olah raga saja. Jika dia cuti sudah pasti dia tidak bisa lagi banyak gerak, David akan membatasi setiap kegiatannya.


" Semoga lekas sembuh ya bu."Seru Nia kepada pasien terakhirnya.


" Aamiin. Terima kasih dokter Nia. "Jawab sang pasien dengan ramah.


Pasien terakhir sudah keluar dari ruangan, kini di ruangan itu tinggal Kesa dan Nia saja. Mereka membereskan barang-barang nya, karena jam praktek juga sudah selesai.


" Nia, kapan kamu ambil cuti? Perut kamu semakin besar loh, aku kasihan sama kamu kalau terlalu capek begini."Tanya Kesa yang memang dia takut Nia kelelahan.


" Dua minggu lagi aku cuti mbak, jadi nanti ada waktu 1 bulan aku di rumah. Yang pastinya akan makan tidur saja dan aku menjadi pemalas, mau apa-apa juga pasti tidak di izinkan oleh suamiku."Jawab Nia dengan suara melemah.


" Sudah jangan sedih begitu, ikuti apa kata suami. Suami kamu itu hanya tidak mau kamu kelelahan, tapi kalau kelelahan yang lainnya diperbolehkan?."'Tanya Kesa sambi terkekeh.


Nia langsung paham dengan apa yang dikatakan oleh Kesa. Dia juga ikut tertawa, yang dikatakan Kesa memang benar, hampir setiap malam mereka melakukannya. Nia sendiri tidak tahu kenapa dia justru yang sering minta, David hanya mengiyakan permintaan Nia.


" Kenapa melamun? Sepertinya bumil ini hampir setiap malam ya lembur terus?."Tanya Kesa menggoda Nia.


Wajah Nia sudah bersemu merah, apa yang dikatakan Kesa memang benar adanya. Tapi Nia tidak semudah itu mengakuinya, Nia masih malu membicarakan hal seperti itu.


" Sudah jangan mesum terus yang di bicarakan. Yuk keluar, ini sudah waktunya jam pulang. Oh iya, besok kan libur mbak Kesa main dulu kerumah ku. Sesekali gitu main kerumah, masa selama aku bekerja di rumah sakit ini mbak Kesa tidak pernah loh main kerumah ku? Cuma iya-iya terus kalau di suruh main."Ucap Nia dengan wajah nya yang dibuat cemberut.


" Aku nih bukannya tidak mau, Nia. Aku hanya tidak enak sama suami kamu, pasti saat hari libur kamu dan suami kamu menghabiskan waktu bersama. Masa iya aku mau ganggu, tapi sebenarnya aku ini takut dengan suami kamu juga sih. Suami kamu itu wajahnya selalu serius, jadi tidak salah aku takut. Hahahaaa."Seru Kesa lalu tertawa dengan lebar.


Ceklekkkk


Pintu ruangan Nia tiba-tiba dibuka dan David sudah berdiri di ambang pintu. Kesa langsung diam tidak berkutik, bahkan tawanya pun seketika itu langsung berhenti.


" Hubby."Seru Nia kaget melihat suaminya sudah ada di ruangannya.


" Aku sengaja menjemputmu sampai ruangan kamu, ternyata ada yang sedang membicarakanku."Seru David berjalan mendekati Nia sambil melirik Kesa yang menundukkan kepalanya.


* Aduhh.. Apa tadi tuan David dengar ya apa yang aku ucapkan. Sepertinya dia mendengarnya, m4mpus lah aku kalau sampai dia mendengarnya dan pasti dia akan menghukumku. Jangan sampai dia memecatku.*Gumam Kesa dalam hatinya.


Nia melihat Kesa yang menunduk ketakutan pun merasa kasihan. Apalagi wajah David saat ini terlihat menyeramkan, seperti hendak makan orang saja.


" Emm Dokter Nia, saya pulang duluan ya. Mari tuan David."Seru Kesa buru-buru keluar dari ruangan praktek.


" Tunggu !!."Seru David menghentikan gerakan tangan Kesa yang hendak membuka handel pintu.

__ADS_1


Hhhuuufffff


Kesa menghela nafas dengan pelan, dia berbalik badan dan memandang kearah David dan Nia. Kesa terlihat ketakutan.


" Besok datanglah kerumah sesuai dengan permintaan istriku tadi." Seru David dengan tegas.


" Iyyy.. iya tuan. "Jawab Kesa terbata-bata.


" Sekarang pergilah."Seru David.


" Iya tuan, permisi." Jawab Kesa buru-buru dia membuka pintu dan segera melesat keluar.


Nia dan David masih tetap ada di ruangan itu berduaan. David berdiri di samping Nia dan dia pun membantu Nia untuk bangkit dari dudukunya. Dengan santainya David menggandeng tangan Nia dan menenteng tas milik Nia keluar dari ruang praktek Nia.


Seumur menjadi istri David, baru kali ini David mau membawakan tas Nia. Apalagi sampai di lihat orang-orang seperti saat ini. Nia saja heran dengan tingkah manis yang di tunjukan David hari ini.


* Suamiku kenapa ya? Tumben hari ini dia manis sekali, hemm agak aneh.*Gumam Nia dalam hatinya.


" Sayang, mau langsung pulang atau mau beli sesuatu dulu?."Tanya David sebelum dia melajukan mobilnya.


" Emm aku mau makan martabak manis yang ada di jalan XX itu hubby. Jam segini mereka sudah buka kok."Jawab Nia dengan semangat.


" Martabak? Bukannya kamu ini tidak suka makanan yang terlalu manis ya? Kok mau makan martabak?."Tanya David dengan wajah penuh keheranan.


Setahu David, Nia memang tidak suka dengan makanan yang terlalu manis. Apalagi semenjak hamil, Nia sama sekali tidak menyukainya. Tapi aneh saja kalau sekarang dia mau makan martabak manis.


" Yang lagi ingin itu dedek bayinya, Hubby."Ucap Nia sambil mengusap perutnya yang buncit.


Buugghhh


Nia memukul lengan suaminya. Bisa-bisanya dia bicara seperti itu. Orang hamil sah-sah saja kapan dia mau ngidam dan tidak mengharuskan saat hamil muda.


" Maaf sayang, kan biasanya memang begitu."Seru David sambil meringis.


" Sudah cepat jalan. Nanti keburu martabaknya antri, kalau sudah antri pokoknya hubby yang mengantri."Ucap Nia dengan wajah cemberut dan bibir mengerucut.


" Siap Nyonya."Jawab David disertai candaan.


Nia tidak lagi cemberut, dia sudah kembali tersenyum karena candaan dari sang suaminya barusan. Mobil yang dikendarai David melaju meninggalkan parkiran rumah sakit.


*******


Miska dan Rendi saat ini sedang makan malam bersama. Mereka makan di salah satu restoran, sudah ada 5 hari mereka tidak bertemu karena kesibukan Rendi yang tidak bisa di tinggalkan.


" Maaf jika akhir-akhir ini aku sibuk terus, aku sedang menangani proyek besar besar. Kakak mu mempercayakan aku untuk menangani proyek itu sendirian, semoga saja hasilnya sesuai harapan. Kamu doakan aku ya."Ucap Rendi sebelum dia menyuapkan makanan ke mulutnya.


" Iya kak, doaku selalu bersama kak Rendi. Kak, nati setelah kita menikah apa kak Rendi masih menjadi assistennya kak David juga?."Tanya Miska yang memang ingin menanyakan masalah ini dari kemarin-kemarin.

__ADS_1


Hhuuuffffff


Rendi menghela nafas lalu dia meletakkan sendok dan garpunya. Masalah ini sebelumnya memang sudah dia bicarakan dengan David. Rendi dan David sudah mempunyai solusi dan pilihan sendiri.


" Soal itu sudah aku bicarakan dengan Tuan David. Dia sudah memintaku untuk mencari pengganti assisten dan mulai aku ajari apa saja yang harus di kerjakan. Tapi masalahnya sampai sekarang belum ada kandidat yang cocok untuk menggantikan ku. Setelah menikah aku akan tetap bekerja di Widjaya group, tapi bukan sebagai assisten lagi. Tidak tahu jabatan apa nanti yang akan Tuan David berikan."Jawab Rendi sesuai dengan kesepakatannya dengan David.


" Oh begitu. Kalau soal itu memang urusan kak Rendi dan kak David saja. Aku hanya berharap kak Rendi tetap diberi kesehatan dan kelancaran rezki agar bisa selalu membelikan apa saja yang diminta istrinya. Haha haaa."Ucap Miska lalu dia tertawa lebar.


Sementara itu di meja yang lainnya, ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan Miska dan Rendi. Orang itu mengepalkan tangannya, dia merasa jika dia selaku kalah dari Miska.


" Kurangajar !! Jadi Miska dan Rendi itu ada hubungan spesial. Ini tidak bisa dibiarkan, aku yang dari dulu suka sama Rendi tapi kenapa justru Miska yang mendapatkan cintanya Rendi. Rendi dulu terlalu cuek dan jual mahal, ternyata dia lebih mengincar Miska."Seru dokter Sari terus menggerutu.


Orang yang sedang memperhatikan Miska dan Rendi adalah dokter Sari. Dia yang sedang makan malam tidak sengaja melihat Rendi dan Miska di restoran yang sama.


Dokter Sari bangkit dan berjalan mendekati Miska dan Rendi. Malam ini dokter Sari akan menganggu makan malam mereka.


" Hai Rendi."Seru dokter Sari menyapa Rendi dan mengacuhkan Miska.


" Ehh... Sari. Kamu sama siapa?"Tanya Rendi sedikit terkejut dengan kehadiran Sari.


" Aku sendiri, tadinya sih memang ada janji sama teman tapi dia tidak datang. Oh iya apa aku boleh gabung dengan kalian?." Tanya dokter Sari sambil melirik Miska dengan sinis.


Rendi tidak bisa memutuskan sendiri apalagi saat ini dia sedang makan malam sama Miska. Rendi memandang kearah Miska, dan Miska hanya menganggukkan kepalanya.


" Silahkan."Jawab Rendi terlihat jika sebenarnya dia juga terpaksa.


Sari tersenyum manis dan sengaja mengambil duduk di samping Rendi. Miska sudah bisa membaca maksud dan tujuan Sari bergabung dengan mereka. Apalagi kalau bukan ingin mengacaukan acara makan malamnya.


" Wahh ternyata ini dokter Miska ya? Maaf tadi aku tidak menyapa karena memang aku tidak sebegitu mrlihat."Seru Sari dengan senyum yang sama sekali tidak bersahabat.


" Iya ini aku. Anda mau apa? Mau ngobrol sama kak Rendi? Silahkan saja, aku disini tidak merasa terganggu juga dengan kehadiran anda. Oh iya, sekarang anda bekerja dimana?."Tanya Miska sengaja menanyakan soal pekerjaan.


" Maksud kamu apa? Bukannya Sari ini bekerja di rumah sakit keluarga Widjaya?."Tanya Rendi yang memang tidak tahu jika Miska dan Sari pernah bermasalah dan berakhir pemecatan Sari.


" Sudah aku pecat sekitar 2 minggu yang lalu."Jawab Miska dengan santainya.


Sari merasa jika Miska itu memang sengaja ingin menjatuhkan harga dirinya didepan Rendi sehingga dia mengungkit masalah yang sudah berlalu.


" Kamu memecat Sari? Masalahnya apa, kok aku tidak tahu?." Tanya Rendi masih penasaran.


" Karena dia memfitnahku dan memfitnah kak David. Untuk kewarasanku dengan terpaksa aku memecat dia."Jawab Miska lagi.


Melihat wajah Rendi yang masih belum paham serta heran. Akhirnya Miska pun menceritakan semuanya secara mendetail agar Rendi tidak lagi bingung.


" Kurangajar kamu, Sari. Kamu ini dari dulu memang tidak pernah berubah. Dulu kamu suka cari masalah, sampai sekarang masih saja suka cari masalah."Ucap Rendi dengan kesal.


" Rendi, maksud ku tidak begitu. Aku kan tidak tahu kalau Miska ini adik dari tuan David."Ucap Sari membela diri.

__ADS_1


" Sayang, sudah jangan di bahas lagi. Sekarang kita pergi saja yuk darisini, kita cari tempat lain saja agar tidak akan pengganggu."Ucap Miska sengaja memanggil Rendi dengan panggilan sayang.


*************


__ADS_2