Dokter Penakluk Duda Arogant

Dokter Penakluk Duda Arogant
Keberangkatan Nia


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Hari ini, Nia harus berangkat ke daerah yang memang sudah menjadi target kerja bersama para team dokter yang lainnya. David mengantarkan Nia sampai rumah sakit, mereka akan bera gkat dengan mengendarai Helly, 3 Helly David kerahkan untuk membawa para team dokter.


Helly akan berangkat dari pelataran rumah sakit. Hari ini juga David akan kesepian tanpa kehadiran sang istri untuk beberapa minggu kedepan.


" Sayang, kamu jaga kesehatan kamu dan kandungan kamu. Jika ada apa-apa kamu langsung hubungi aku, pokoknya jangan sampai lepas dari ponsel."Ucap David memberi ultimatum Nia.


" Iya Hubby. Aku ingat semua pesan mu, bukannya dari semalam sudah diberitahu. Hubby, selama aku tidak ada di dekatmu tolong jaga hati ya. Dan jangan marah-marah, jika karyawan melakukan kesalahan, jangan langsung dimarah. Aku tidak mau kamu arogan seperti dulu, ingat aku sedang hamil jadi kamu harus bersikap yang baik-baik agar anaknya nanti juga bersikap baik."Ucap Nia terus mengingatkan David agar tidak suka marah-marah.


" Iya sayang." Seru David sambil mengusap kepala Nia dengan lembut.


Team dokter yang lainnya juga sudah naik ke Helly masing-masing. Hanya tinggal menunggu Nia saja yang tak kunjung naik, pamitan sudah hampir satu jam tapi tak kunjung selesai juga. Mau menegur tapi takut dengan David, yang ada mereka akan di sentak David.


" Hubby aku berangkat ya, lihat teman yang lainnya sudah menunggu. Bahkan mereka sudah siap semua, Hubby juga jaga kesehatan ya." Ucap Nia mengambil tangan David lalu menciumnya.


" Sayang aku bakal kangen." Seru David seperti anak kecil.


Padahal jika dia kangen bisa terbang dengan Helly pribadinya. Tidak perlu merengek seperti anak kecil seperti itu. Nia semakin tidak enak dengan yang lainnya, David memang sepertinya memang sengaja mengulur waktunya agar Nia lama berangkatnya.


" Nanti bisa datang kesana, Hubby. Sudah ya Hubby aku berangkat. Assalamualaikum." Seru Nia sambil melambaikan tangannya.


" Waalaikumsalam."Ucap David sambil melambaikan tangannya.


Helly yang membawa Nia sudah mengudara dan semakin menjauh dari pelataran landasan di rumah sakit. David terus memandangi Helly yang semakin menjauh. Dia sangat sedih harus berjauhan dengan sang istri, apalagi istrinya sedang hamil muda.


" David, sudah jangan di pandangi terus. Istri kamu itu seorang dokter jadi dia harus bekerja secara profesional, ingat sumpah dokternya." Seru paman Irawan mengingatkan David.

__ADS_1


" Paman kenapa memilih istriku, istriku saat ini itu sedang hamil muda paman. Lihat saja kalau sampai terjadi sesuatu dengan istriku aku pastikan papa akan menerima akibatnya." Ucap David mengancam.


Deggghhh


Pak Irawan tidak tahu jika Nia saat ini sedang hamil, jika dia tahu Nia hamil tentunya dia juga tidak akan menyetujui Nia untuk berangkat. Sebelumnya, pak Irawan tidak asal tunjuk saja. Namun, dia lebih dulu bertanya soal kesanggupan Nia. Dan meminta Nia untuk meminta izin lebih dulu dari David. Jika David tifak mengizinkan tentunya Nia juga tidak akan berangkat.


Akan tetapi, justru Nia menyetujuinya langsung dan berharap ikut dengan rombongan dokter yang akan dikirim ke tempat yang terkena bencana.


" Tapi kamu kan mengizinkannya, kalau kamu tidak mengizinkan sudah pasti Nia tidak akan berangkat. Lagipula paman juga tidak menunjuknya langsung, tapi Nia sendiri yang langsung bersedia ikut, David. Dan paman sama sekali tidak tahu jika Nia saat ini sedang hamil. Sepertinya dia sengaja merahasiakan kehamilannya dari paman." Ucap pak Irawan membela diri.


" Aku memang mendukung karier istriku paman,tapi aku juga khawatir Nia ada di sana. Disana itu sedang bencana, sepertinya beberapa hari lagi aku akan kesana."Ucap Satria.


Pak Irawan tidak bisa mencegah David untuk datang kesana. Dicegahpun pasti tetap akan kesana, namun ada baiknya dia memang kesana untuk memastikan keadaan Nia. Apalagi disana untuk listrik dan saluran telepon pun mati, semuanya rusak karena gempa dan banjir. Hanya tempat-tempat tertentu saja yang masih ada listrik dan jaringan telepon.


" Paman, bagaimana dengan magangnya Miska? Apa dia melakukannya dengan baik?." Tanya David yang kini mereka berdua sudah ada di ruangan David.


" Bagus sangat bagus. Dia menyelesaikan magangnya dengan sangat baik dan nilainya juga semua bagus. Miska itu sama seperti istri kamu, cekatan dan bertanggung jawab dengan pekerjaan."Jawab pak Irawan dengan jujur.


Heeemmm


*********


Setelah perjalan udara yang cukup lama, Nia dan rombongan sudah sampai di tempat tujuan. Nia merasakan pusing dan mual yang hebat, itu pasti efek dari kehamilannya. Sehingga dokter Rachel dengan cekatan menangani Nia terlebih dahulu sebelum mereka mulai bertugas.


Mereka semua sudah berada di posko tempat pengungsian. Untuk para team dokter di siapkan tempat sendiri, sehingga Nia lebih leluasa untuk beristirahat lebih dulu.


" Kamu sih sudah aku larang untuk ikut tapi masih saja ngeyel, kamu itu sedang hamil muda Nia. Apalagi ini kehamilan pertama kamu, kalau sampai terjadi sesuatu dengan kamu pasti juga kami semua ini yang akan kena. Kamu ini istri dari pemilik rumah sakit, Nia."Ucap dokter Rachel memarahi Nia.


" Tidak apa-ap kok kak Rachel, ini semua cuma sebentar saja. Mungkin juga tadi efek dari angin saja jadi ya seperti ini, ini juga sudah mulai membaik. Sudah lebih baik kak Rachel sekarang istirahat, kita nanti akan langsung terjun ke masyarakat. Oh iya aku mau menghubungi suamiku dulu ya kak."Seru Nia mengambil ponsel yang ada di kantong jas dokternya.


" Hubungi bagaimana? Saluran telepon di sini rusak dan listrik pun mati, tapi kamu coba saja siapa tahu bisa."Ucap Rachel.


Nia mencoba menghubungi David, tapi benar saja tidak ada sinyal telepon sama sekali. Nia m3ndes4h dengan pelan, sepertinya akan sia-sia saja dia menghubungi David.

__ADS_1


Nia dan rombongan beristirahat lebih dulu, baru nanti mereka akan bertemu dengan para warga yang ada di pengungsian. Dokter juga manusia, mereka harus beristirahat lebih dulu sebelum bertugas. Perjalanan tadi cukup menantang, dari Helly turun dan menuju posko butuh 30 menit perjalanan yang cukup melelahkan dengan berkendara mobil.


Setelah dirasa cukup, Nia dan rombongan langsung menuju posko-posko tempat pengungsian para korban bencana banjir dan gempa. Disana para tim dokter di sambut dengan baik oleh para warga, ada beberapa warga yang sakit dan membutuhkan pertolongan tim dokter.


" Apa sebelumnya belum ada dokter yang kesini pak?."Tanya Nia kepada salah satu warga.


" Ada mbak, tapi memang tidak setiap hari datang. Para dokter harus berkeliling ke posko-posko secara berganti, maklum mbak daerah sini sangat jauh dari rumah sakit. Ada juga cuma puskesmas. Mbak dokter ini dari kota ya?."Tanya nya balik.


" Iya pak, saya dan ke empat teman saya memang dokter relawan dari kota. Nama saya Nia, bapak bisa memanggil saya Nia."Ucap Nia dengan ramah.


" Terima kasih ya mbak Nia sudah mau datang untuk membantu kami semua."Ucap bapak itu dengan ramah.


Terlihat sekali jika warga disini ramah-ramah dan sopan. Membuat Nia mudah untuk berinteraksi dengan mereka.


Sementara itu saat ini di kota, Miska dan mamanya datang kerumah David untuk menemani Nada. Jika tahu Nia berangkat menjadi dokter relawan, tentunya Miska juga akab ikut namun sayang dia sama sekali tidak tahu. Dia tahu Nia pergi pun dari sang mama yang memberitahunya.


" Ma, tumben kak David memberi izin kak Nia pergi jadi relawan. Padahal disana cukup bahaya sih, apalagi saat ini kak Nia sedang hamil muda mana anak pertama lagi. Dulu saat sama kak Hera saja, kak Hera pergi ke mall sendirian tidak di izinkan. Tapi sama kak Nia kok kak David beda ya, Ma?." Seru Miska merasa aneh dengan sikap kakaknya.


" Sssttt... Jangan bicara seperti itu. Nanti di dengar Nada, tidak baik membicarakan almarhum Hera di depan Nada. Nanti dia bisa bersedih, soal itu kamu nanti bisa tanyakan langsung sama Kakakmu saja."Seru Karmila dengan sedikit berbisik.


Miska memandang ke arah Nada, beruntungnya Nada tidak mendengar apa yang tadi dia katakan. Nada sedang fokus menggambar keluarga kecilnya.


" Nada, waktu mama Nia minta izin sama Nada kalau mama mau pergi Nada nangis tidak?." Tanya Miska.


" Tidak. Mama kan sudah cerita kalau seorang dokter itu harus bekerja sungguh-sungguh tidak boleh menolak kalau ada orang yang perlu bantuan. Mama juga bilang seorang dokter harus siap kapanpun saat ada tugas. Nada kan mau jadu dokter juga, jadi Nada tidak menangis saat mama pergi kerja jauh." Ucap Nada bocah yang sebentar lagi akan genap berusia 5 tahun.


Miska dan Karmila saling melempar pandangan, mereka berdua tidak menyangka jika Nada akan bisa bicara sebijak itu. Anak seusia Nada sudah tahu arti tanggung jawab sebuah pekerjaan. Nada senyum-senyum kearah Miska dan omanya, secara bersamaan mereka mengacungkan dua jempol tangan mereka ke arah Nada.


" Kak Nia benar-benar pawang nya Nada, Ma. Mama ingat kan, Nada ini dulu paling susah dikasih tahu namun sekarang dia sudah berubah, Ma." Seru Miska.


" Kamu betul, Miska. Pawangnya benar-benar pas dan cocok."Jawab Karmila sambil menggelengkan kepalanya.


Hari semakin sore, di depan terdengar deru suara mobil David. Sepertinya sang tuan arogan itu sudah pulang dari kantor, Miska melihat ke depan ternyata disana juga ada Rendi yang ikut pulang bersama dengan David.

__ADS_1


* Apa kak Rendi akan menginap disini, kasihan sekali kak Rendi kalau diminta menginap. Pasti kak David akan mengajaknya lembur pekerjaan nya di rumah, kebiasaan kak David dari dulu tidaj berubah. Jika dia kesepian pasti larinya ke pekerjaan yang ada kak Rendi juga harus ikut lembur. Terus waktu untuk kita jalan pun tidak ada.*Gumam Miska dalam hati.


*********


__ADS_2