
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Tiga hari berlalu, Nia saat ini berada di salah satu acara yang diselenggarakan di salah satu gedung Aula hotel bintang lima. Nia datang mewakili Rumah Sakit tempat dia bekerja, kali ini Nia datang sebagai salah satu dokter yang akan menerima penghargaan.
Nia dinobatkan sebagai salah satu dokter baru dan dokter muda yang sangat berpontensi. Nia tidak menyangka jika dia akan mendapat penghargaan itu. Padahal karier nya diduni kedokteran juga belum genap 1 tahun.
"Selamat ya dokter Nia, semoga setelah ini karier Dokter Nia semakin sukses dan cemerlang. "Ucap salah satu dokter yang ikut di acara itu.
"Terimakasih dokter Ilham."Jawab Nia dengan senyum sumringahnya.
Dokter Ilham juga salah satu dokter muda spesialis jantung. Dia mengenal Nia beberapa bulan yang lalu saat Nia ikut seminar keluar kota. Dokter Ilham terlihat senang saat bertemu dan berbincang dengan Nia. Dia ingin mengenal Nia lebih dekat lagi, sehingga malam ini dia mengajak Nia untuk makan malam sebagai perayaan atas penghargaan yang didapat oleh Nia.
"Dokter Nia, bagaimana kalau nanti malam kita makan malam bersama. Bukan apa-apa sih, hanya sebagai perayaan atas penghargaan yang dokte Nia dapatkan."Ucap dokter Ilham dengan senyum malu-malu.
Haahhhh ?
Nia bengong setelah mendengar ajakan dokter Ilham. Bagaimana bisa dokter Ilham bisa mengajaknya makan malam padahal mereka juga tidak terlalu dekat. Bertemu juga baru beberapa kali.
*Sepertinya dokter Ilham ini tidak tahu kalau aku sudah bersuami. Hemm aku tidak mau suamiku marah dan salah paham, jadi aku harus memberitahu dokter Ilham jika aku sudah mempunyai anak dan suami.*Gumam Nia dalam batinnya.
"Bagaimana dokter Nia?." Tanya dokter Ilham serius.
"Emm.. Bagaimana ya, Dok? Soalnya saya harus meminta persetujuan suami saya dulu, kalau dia mau aku akan ikut undangan makan malam dokter Ilham. Tapi kalau suamiku tidak mau ya aku tidak akan datang. Tetapi sepertinya aku tidak bisa, Dok."Jawab Nia dengan bijak.
"Suami? Dokter Nia sudah menikah?." Tanya Dokter Ilham dengan serius.
__ADS_1
"Iya saya sudah menikah dan mempunyai anak satu. Memang banyak yang tidak tahu jika saya sudah menikah. Mungkin karena saya masih terlalu muda, heheee."Seru Nia secara tidak langsung mengakui jika dirinya memang masih sangat muda.
Dokter Ilham jadi serba salah, diapun malu sudah berani mengajak istri orang untuk makan malam. Dokter Ilham menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal untuk menghilangkan rasa gugupnya.
*Ternyata dokter Nia sudah menikah dan punya anak ? Hemm kenapa setiap kali aku suka dengan perempuan, perempuan itu selalu sudah punya pasangan. Mungkin memang sudah nasibku seperti ini, karierku bagus tapi percintaanku tidak bagus*.Gumam Dokter Ilham dalam hati.
"Dokter Ilham, maaf saya permisi lebih dulu ya. Ada pekerjaan lain yang ingin segera saya selesaikan. Sekali lagi terimakasih atas tawaran makan malamnya dan saya minta maaf tidak bisa menerima ajakan makan malam anda."Ucap Nia tetap meminta maaf.
"Iya dokter Nia, tidak apa-apa."Jawab dokter Ilham lagi.
Nia mengangguk dengan ramah, setelah itu dia melangkah meninggalkan aula Hotel dan segera menuju parkiran. Siang ini dia akan kerumah ibunya sebab kedua temannya, Berta dan Rindi akan datang. Berta sudah dari kemarin dia pulang dari luar negeri, dan Rindi semalam baru sampai di kota kelahirannya.
Sampai saat ini Nia belum cerita dengan kedua temannya jika dia sudah menikah. Saat ini dia sedang ketar-ketir, bagaimana dia akan memulai memberitahu kedua temannya. Rindi dan Berta pasti akan marah mengetahui jika Nia sudah menikah. Nia menikah tanpa mengabari kedua temannya.
Berta dan Rindi saat ini memang sudah sampai lebih dulu dirumah Nia. Mereka benar-benar kaget saat mendapati jalanan menuju rumah Nia sudah mulus, bahkan rumah Nia juga ikut berubah.
"Kenapa kalian datang tidak kasih kabar sama ibu dulu. Kalau kalian kasih kabar pasti ibu akan memasak makanan kesukaan kalian."Ucap ibu Karti sangat senang dengan kedatangan kedua teman anaknya yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri itu.
"Berta semalam sudah kasih tahu Nia, mungkin Nia lupa ya bu. Maklum Nia sekarang sudah menjadi seorang dokter yang sukses."Ucap Berta sembari meletakkan cangkir tehnya diatas meja.
*Semoga saja apa yang aku pikirkan tidak terjadi dengan Nia. Aku tahu bagaimana Nia, tidak mungkin dia akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang secara instan.*Gumam Rindi dalam batinnya sembari dia mendengarkan obrolan antara Berta dan Ibu Karti.
"Iya, mungkin dia memang lupa memberitahu perihal kabar kedatangan kalian ke rumah. Soalnya memang sudah ada satu minggu ini ibu tidak bertemu dengan Nia."Ucap Ibu Karti sembari mengulas senyum dengan ramah.
" Maksud ibu bagaimana? Bukanya ibu dan Nia tinggal satu rumah? Kenapa bisa satu minggu tidak bertemu?."Tanya Berta semakin heran dan semakin khawatir dengan Nia.
Ibu Karti baru ingat jika Nia memang pernah bercerita belum memberitahu kabar pernikahannya kepada Berta dan Rindi. Dan mungkin sampai saat ini dia memang belum menceritakan kabar pernikahannya. Sehingga saat ibu Karti bicara Nia tidak tinggal dengannya lagi, kedua teman anaknya itu merasa heran.
" Nia sekarang tinggal dengan suaminya, nak Bera"Jawab Ibu Karti membuat Berta dan Rindi langsung berteriak.
"Apa ? Suami?." Seru Berta dan Rindi bersamaan dengan suara yang keras.
__ADS_1
Mereka berdua benar-benar syok mendengar jawaban dari ibu Karti yang mengatakan Nia sudah menikah. Sejak kapan Nia menikah ? dan dengan siapa Nia menikah? Bahkan kabar terakhir yang mereka tahu Nia sudah putus dengan Vito. Dan sekarang justru Nia sudah menikah.
"Nia sudah menikah, Bu? Kapan? Dan kenapa kami tidak dikasih tahu?."Tanya Rindi beruntun.
" Pernikahan Nia memang tidak ada pesta apapun, hanya acara akad nikah dirumah saja. Itu semua atas permintaan Nia, ibu hanya mengikuti apa kata Nia saja nak. Ibu minta maaf ya nak Berta dan nak Rindi jika saat Nia menikah kalian tidak dikasih tahu."Ucap ibu Karti merasa tidak enak dengan Berta dan Rindi.
Bruumm Brummm Brummm
Belum sempat Berta dan Rindi menjawab, terdengar suara mobil memasuki pekarangan rumah ibu Karti. Ibu Karti tahu jika itu Nia, tapi Berta dan Rindi tidak tahu jika itu Nia. Baru saat Nia turun dari mobil mereka menyadari jika itu adalah Nia, bahkan Nia mengendarai mobil itu sendiri.
"Berta, Rindi aku kangen."Ucap Nia memeluk kedua temannya secara bergantian.
Namun Berta dan Rindi kompak saling diam dan tidak ada yang menyapa Nia. Mereka masih kesal dengan Nia yang menikah tanpa memberitahu mereka. Melihat kedua temannya yanh diam saja, membuat Nia menghampiri ibunya dan menyalami serta mencium tangan ibu Karti.
"Kalian ngobrol saja dulu, ibu mau membantu Wati menyiapkan makanan. "Ucap ibu Karti lalu pergi menuju dapur.
"Bisa kamu jelaskan semua ini, Nia?." Seru Berta tedengar sangat serius.
"Maaf... Aku tidak bermaksud untuk melupakan kalian. Semua ini terjadi begitu cepat."Ucap Nia mulai bercerita.
Nia akhirnya menceritakan awal mula dia mau menikah dengan David kepada kedua temannya. Tanpa ada yang dia tutupi. Berta dan Rindi mendengarkan dengan serius.
"Jadi semua yang kamu miliki ini dari suami kamu? Bukan dari hal yang negatif kan?."Tanya Rindi serius. Dia takut apa yang pernah dituduhkan Vito kepada Nia itu benar.
"Maksud kamu ? Aku jual diri gitu? Dasar mulut kurangajar ya, bisa-bisanya kamu mempunyai fikiran seperti itu."Ucap Nia dengan kesal dengan melempar bantal kursi kearah Rindi.
"Jadi suami kamu itu David? Dari keluarga Widjaya, yang punya perusahaan Widjaya group itu kan, Nia? Kamu bahagia menikah dengannya? Kamu benar-benar seriuskan dengan pernikahanmu, bukan karena ingin membalas Vito saja?."Tanya Berta masih dengan mode serius.
"Iya, David yang itu benar suamiku. Bukannya tadi aku sudah menceritakan semuanya sama kalian. Kalian ini memang kurangajar ya, berarti kalian berfikir aku ini jadi wanita tidak benar atau jadi istri simpanan gitu. Dasar menyebalkan."Gerutu Nia.
"Salah kamu sendiri tidak jujur dari awal, coba kalau kamu itu kasih tahu kami dari awal kalau kamu sudah menikah atau mau menikah. Pasti kami tidak akan berfikir negatif, jadi impas dong kamu juga sudah membuat kami kesal."Seru Berta.
__ADS_1
Nia menghambur kepelukan Berta dan Rindi, ketiga wanita muda itu akhirnya berpelukan dan saling menumpahkan keluh kesahnya. Mereka sama-sama menangis, sembari berpelukan.
************