
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Seminggu berlalu dari acara pesta pertunangan Vito dan Bella. Nia sudah memantapkan dirinya untuk melupakan Vito, sebab dia sudah tidak mau lagi mengingat - ingat soal Vito. Hatinya sudah terlalu sakit atas penghinaan dari Vito.
Nia semakin sibuk dengan pekerjaanya sebagai seorang dokter. Kini Nia menjadi Dokter yang di idolakan oleh para pasiennya. Sebab pembawaan Nia yang lembut, ramah , sopan dan murah senyumlah yang membuat para pasiennya menyukai Nia.
" Mbak Kesa pasien sudah habis kan?."Tanya Nia sembari dia melepaskan stetoskop dari kalungan lehernya.
" Sudah, hari ini kamu cuma sampai jam 12 saja kan? Karena kamu ada jadwal ke rumah Tuan Boss David." Jawab Jesa sembari tersenyum mengejek ke arah Nia.
" Iya mbak. Sebenarnya aku malas ke rumah Tuan David, meskipun dia ada di perusahaan tetapi saat sore hari dia akan pulang dan pasti aku akan bertemu dengannya. Memangnya kalau orang kaya itu memang sombong begitu ya mbak? Kalau bicara suka membentak, tidak ada sopannya sama sekali. Lama-lama bikin bosan juga aku di ketemu dia mbak, pokoknya kalau bertemu dia pasti senam jantung." Ucap Nia dengan kesal.
" Jangan terlalu membenci. Nanti kalau sudah jatuh cinta malu loh." Seru Kesa mengejek Nia sembari terkekeh pelan.
Bughhh
Nia memukul Kesa menggunakan map yang ada di atas mejanya sembari mengerucutkan bibirnya. Brdekatan dan berada satu tempat dengan David saja sudah bisa membuat Nia senam jantung. Apalagi sampai bisa jatuh cinta dengan David ? Bagi Nia sepertinya itu hal yang mustahil. Nia sama sekali tidak mengharapkan mempunyai pasangan dari kalangan orang kaya. Seakan dia sudah trauma dengan hubungannya dengan Vito. Orang tua Vito tidak menyetujuinya karena dia memang dari kalangan miskin dan tidak mempunyai apa-apa.
" Ogah amat mbak jatuh cinta sama boss arogan seperti Tuan David itu mbak. Sepertinya kelak aku mau mencari calon suami bukan dari kalangan orang kaya mbak. Aku mau mencari suami dari kalangan orang biasa saja, sehingga kita tidak akan merasa direndahkan. Capek mbak dihina dan direndahkan terus, apalagi kita pasti akan dipandang sebelah mata. Tapi tidak semua sih orang kaya seperti itu, tergantung bagaimana mereka bersikap saja. "Ucap Nia sembari mengingat kenangan buruknya saat bertemu dengan keluarga Vito.
" Sepertinya kamu pernah mengalami apa yang barusan kamu ceritakan tadi ini ya tanya Keisha.
" Iya mbak kenangan buruk dan tidak akan pernah aku lupakan, semua itu sudah aku jadikan pelajaran hidup saja mbak dan insya allah tidak akan terulang lagi di kemudian hari. Oh iya sudah kalau begitu mbak Kesa boleh istirahat. Saya juga mau makan siang terus lanjut ke rumah situan Arogan." Ucap Nia sambil terkekeh kecil.
" Ok . Aku keluar dulu ya? Ingat jangan terlalu benci sama Tuan David, soalnya kamu bisa saja banti jatuh cinta sama dia. Daaaa..." Ucap Kesa sembari keluar dari ruangan praktek dan melambaikan tangannya.
Nia membuka bekal makan siang yang tadi dibawakan oleh ibunya. Ibunya memang wanita paling mulia dan paling tulus menyayanginya. Satu kesalahan yang sampai detik ini Nia sesalkan, Nia belum berani bicara jujur soal kandasnya hubungannya dengan Vito.
" Aku harus bicara sama ibu. Aku tidak bisa membiarkan ibu masih menganggap aku dan Kak Vito masih bersama." Ucap Nia pada dirinya sendiri.
Nia memakan bekal makan siangnya di ruang prakteknya, dia sengaja makan di ruangan praktek untuk menghemat waktu. Setelah makan dia menuju mushola rumah sakit untuk melaksanakan sholat dzuhur.
__ADS_1
Sholat dzuhur pun selesai, Nia keluar dari mushola dan menuju lobby rumah sakit. Di sana sudah ada sopir pribadi keluarga Widjaya yang menjemputnya. Nia menghampiri pak sopir sembari menyunggingkan senyum ramah dan santunnya.
Para dokter dan perawat serta karyawan lainnya yang bekerja di Rumah Sakit, tidak ada yang tahu jika Nia juga menjadi dokter pribadi anak dari sang pemilik Rumah Sakit. Hanya dokter Irawan, dokter Rian dan suster Kesa saja yang tahu soal itu selebihnya tidak ada yang tahu lagi.
Sehingga para perawat yang sering melihat Nia dijemput oleh mobil mewah, sering bertanya-tanya siapa Nia yang sebenarnya. Yang mereka tahu Nia itu orang yang kurang mampu yang saat itu berkuliah dengan beasiswa. Sebab saat Nia magang dulu dia memperkenalkan dirinya sebagai salah satu mahasiswa yang mendapatkan beasiswa. Bahkan ada beberapa yang mengira jika Nia mempunyai pacar kaya yang sudah memfasilitasi kehidupannya.
" Nada tadi sekolah tidak pak?" Tanya Nia ramah saat dalam perjalanan menuju rumah David.
" Sekolah mbak. Tadi pulang dijemput sama Tuan." Jawab pak sopir dengan ramah.
" Berarti sekarang Tuan ada dirumah pak?." Tanya Nia dengan kaget.
" Iya ada Mbak. Tuan tadi saat saya berangkat jemput mbak Nia , Tuan David sedang makan siang sama keluarganyanya. " Jawab pak sopir.
Nia hanya bisa menghela nafasnya deongan berat saat mengetahui jika David ada di rumah. Dengan begitu Nia akan lebih lama lagi bertemu dengan David. Sebenarnya dia sudah mencoba menghindari David agar tidak sering menerima ocehan dari David. Tapi mau bagaimana lagi, dia bekerja di rumah David sudah pasti bisa bertemu dengannya kapanpun.
Mobil yang dikendarai Pak sopir sudah sampai di halaman rumah David yang sudah berdiri megah seperti istana. Bahkan dari rumah para tetangga, rumah David lah yang paling besar dan paling megah dan memiliki lantai 3 tingkat.
" Mama Nia " Nada berteriak memanggil Nia dengan antusius.
Dibelakang Nada ada David yang berdiri tegap sembari menatap tajam kearah Nia. Nia sendiri mencoba mengabaikan tatapan mata David. Dia menghampiri Nada serta memeluk dan mencium Nada seperti anaknya sendiri.
" Emmm maaf Tuan. Tuan apa kabar ?" Tanya Nia mencoba ramah dengan David.
" Tidak perlu berbasa - basi denganku!" Bentak David sepertinya dia sedang kesal.
* Haaahhhh sebenarnya apa sih maunya Tuan arogan ini? Tidak ditegur dibilang sombong, ditegur bilang tidak perlu berbasa-basi. Salah terus deh aku ini ? Dasae Tuan Arogan yang menyebalkan, bagaimana bisa dia dapat ibu untuk Nada kalau sikapnya saja arogan begitu.* Gumam Nia dalam batinnya.
" Jangan mengumpatku !" Seru David sedikit berteriak sehingga membuat Nia kaget.
Hhhuuufffff
Nia langsung mengusap dadanya dengan pelan, beruntung sekali dia ini tidak ada riwayat sakit jantung sehingga aman saat mendapat bentakan dari David.
" Papa jangan marah - marah terus kasihan mama Nia. Sana papa kerja lagi, katanya tadi mau kerja lagi. " Ucap Nada membela Nia. Bocah 4 tahun itu memang paling tidak suka melihat papanya memarahi Nia.
David melirik Nia yang sedang menahan tawanya. Sekarang Nada sudah berpihak sama Nia, padahal David itu papanya tetapi malah diabaikan.
__ADS_1
" Kok papa disalahin sih ? Kan papa ini papanya Nia?" Tanya David mencoba membela dirinya.
" Iya Nada tidak suka papa marah , papa sukanya juga marah - marah. Nada pusing dengar papa marah." Ucap Nada bicara dengan suara khas anak kecil yang belum fasih mengucapkam huruf R nya.
" Nada ajak mama Nia masuk ya sayang. " Panggil pak Widjaya dari dalam rumah. Sehingga perdebatan antara ayah dan anak itu berhenti.
Nada masuk lebih dulu sebab dia ingat gambarannya dari sekolah tadi dan berlari masuk kamar untuk mengambilnya hendak dia tunjukan kepada Nia. Saat Nia mau melangkah masuk tiba - tiba David mencengkal lengan Nia dan memegangnya dengan kuat sehingga Nia kesakitan.
" Jaga sikap kamu. Kamu itu disini hanya dokter yang merangkap sebagai pengasuh anakku ! Jadi kamu harus tahu diri ! Jangan ajarkan anakku hal - hal yang tidak baik !" Seru David bicara dengan penuh penekanan.
" Baik Tuan. Aku tidak pernah mengajarkan anak Tuan yang tidak-tidak. Jika tuan tidak percaya dengan saya, lebih baik Tuan cari orang lain saja yang bisa menggantikan saya." Seru Nia dengan berani.
Selesai bicara seperti itu Nia berjalan masuk dan mencari keberadaan Nada. Melihat Nia yang berani membantahnya membuat David mengepalkan kedua tangannya. Diapun segera menuju mobilnya dan kembali keperusahaan, sebab 1 jam lagi ada meeting dengan klien yang tidak bisa diwakilkan, biasanya bisa diwakilkan kepada Rendi sang assistenya.
" Mama ini gambar kuda sama ayam. Tadi sama ibu guru dusuruh gambar hewan yang kakinya dua sama empat." Ucap Nada dengan senangnya menunjukan hasil karya gambarannya kepada Nia.
" Wah Nada sekarang sudah pintar menggambar ya. Bagaimana sekolahnya tadi, temannyz banyak dan seru kan?" Tanya Nia dengan lembut.
" Iya ma seru , banyak teman. Tadi Nada juga bilang sama teman-teman, kalau Nada sekarang sudah punya mama lagi. Tapi mamanya Nada tidak bisa mengantar Nada sekolah, sebab mama sekarang bekerja sebagai seorang dokter. Iya kan ma? Mama Nia sekarang kan jadi mamanya Nada." Ucap Nada dengan wajah polosnya.
Nia semakin bingung harus menyikapi sikap Nada, dia tidak mau Nada terlalu berharap. Anak seusia Nada belum paham apa itu yang namanya sebuah hubungan. Nia bukanlah mamanya, dan tidak mungkin Nada akan terus - terusan mengakui Nia sebagai Mamanya. Sebab suatu saat David pasti akan menikah dan Nada akan mempunyai mama baru. Hal itulah yang membuat Nia takut, takut jika Nada tidak bisa menerima kenyataan dan dia akan syok dan down.
" Nada boleh menganggap saya mama Nada tapi saya bukan mama Nada. Saat papa Nada nanti menikah, Nada akan punya mama baru. Yang bisa menemani Nada main, mengantar jemput Nada sekolah dan bacakan dongeng untuk Nada. Jadi kalau nanti papa sudah menikah Nada tidak boleh panggil mama Nia dengan panggilan mama ya ? Tapi kak Nia atau Kak dokter ." Ucap Nia memberi pengertian kepada Nada dan bicara dengan pelan sembari mengusap rambut Nada dengan lembut.
Nada langsung menundukkan kepalanya, tiba - tiba air matanya mengalir membasahi pipinya dan isakan tangisnya mulai terdengar. Semakin lama isakan tangis itu cukup kuat sehingga membuat Nia merasa bersalah. Mendengar cucunya menangis, Karmila dan pak Widjaya menghampiri Nada yang sedang menangis sesunggukan. Tampak Nia yang mencoba menenangkan Nada tetapi justru Nada semakin keras menangisnya.
" Kenapa Nada ? Kamu apakan cucu saya ?" Tanya Karmila langsung menghakimi Nia dan membentak Nia dengan kasar.
Karmila memang terkadang suka berbicara dengan ketus, namun sebenarnya dia baik. Mungkin hanya karena panik saja melihat Nada yang menangis membuat dia bicara dengan suara yang lantang.
" Maaf Tuan, Nyonya saya tidak tahu kenapa Non Nada menangis seperti ini. Apa mungkin tadi saya yang salah bicara sama Non Nada." Ucap Nia takut - takut.
" Nada sayang kamu kenapa sayang?" Tanya pak Widjaya menghampiri Nia.
" Iya sayang kenapa menangis , coba bicara sama oma?" Tanya Karmila dengan lembut.
Nada masih saja menangis dan belum mau bicara alasan dia menangis. Melihat Nada yang menangis sesunggukan membuat Nia merasa bersalah. Tidak tahu kenapa mendengar tangisan Nada membuat Nia merasa sesak dan seolah ikut pilu dengan tangisan Nada. Sehingga Nia merutuki kebodohannya sendiri sudah membuat Nada menangis.
__ADS_1
* Ya Allah perasaan apa ini ? Kenapa aku sangat sakit mendengar tangisan Nada, aku memang sangat menyayangi Nada. Apa mungkin rasa sayang ini yang membuat aku ikut merasakan kesedihan Nada.* Gumam Nia dalam batinnya.
**********