Dokter Penakluk Duda Arogant

Dokter Penakluk Duda Arogant
Foto diponsel Nia


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


" Alhamdulillah operasi ibu dokter Nia berjalan dengan lancar. Insya Allah beliau akan segera sembuh, kalau begitu saya tinggal dulu ya. Kalau pasien sudah siuman jangan banyak diajak bicara dulu. Dokter Nia pasti tahu bagaimana kondisi pasien. Sabar dan semangat ya, ibu dokter Nia pasti segera sembuh." Ucap dokter Irawan menjelaskan.


Kali ini yang menangani ibu Nia adalah dokter Irawan langasung, dan tentunya atas perintah dari sang pemilik rumah sakit. Siapa lagi kalau bukan Tuan David yang arogan tetapi baik hati.


" Terimakasih pak. Tolong panggil Nia saja ya pak, jangan terlalu formal. Apalagi sekarang saya sudah tidak bekerja lagi dirumah sakit ini." Seru Nia merasa sungkan dengan dokter Irawan sang dokter senior sekaligus pimpinan rumah sakit.


" Ya sudah baiklah Nia, semoga ibunya lekas sembuh ya. Oh iya Nia kamu hebat sudah mulai berhasil meluluhkan hati sang batu es." Seru Pak Irawan lalu dia melangkah menjauhi Nia.


Nia hanya bengong saja, sebab dia tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh dokter Irawan. Batu es? Batu es apa Nia pun tidak tahu. Namun Nia tidak memusingkan ucapan dokte Irawan tadi. Dia segera masuk ke ruang rawat ibunya dan ibunya nampak masih memejamkan matanya.


" Ibu, bangun bu. Ini Nia ada disini lagi jagain ibu. Ibu pasti akan cepat sembuh, Nia akan berusaha semampu Nia agar ibu bis cepat sembuh." Ucap Nia sembari mengusap tangan ibunya.


" Ibu jangan pernah tinggalkan Nia. Nia bukan apa-apa tanpa ibu." Seru Nia lagi.


Nia terus berbicara sendiri dan menjawabnya sendiri. Malam ini diapun akan bermalam di rumah sakit. Setelah ibunya keluar dari rumah sakit,Nia akan menanyakan apa yang terjadi sampai sang ibu mengalami tabrak lari. Biasanya jalanan di tempat tinggal nya kendaraan tidak ada yang berjalan kebut - kebutan, apalgi disaat malam hari.

__ADS_1


Ceklekkk


Pintu ruang rawat ibu Karti terbuka dan masuklah perawat untuk mengecel keadaan ibu Karti. Perawat itu tersenyum lembut kearah Nia, dia juga membalas senyum dengan ramah. Suster mulai mengecek ibu Karti dan mencatat hasil pemeriksannya pada buku yang dia bawa.


" Terimakasih suster." Seru Nia mengucapkan terimakasih kepada suster sudah memeriksa keadaan ibunya.


" Sama-sama dokter Nia. Kalau begitu saya permisi dokter Nia." Seru suster dengan ramah.


Nia hanya menanggapi dengan senyum sembari menganggukkan kepalanya. Setelah suster tadi keluar, Nia merebahkan tubuhnya diatas sofa yang ada diruangan rawat ibunya. Dia mencoba memejankan matanya untuk menghilangkan penat pada tubuhnya. Namun seketika dia membuka matanya dan melihat kearah sekeliling kamar rawat ibunya.


Nia baru menyadari jika saat ini ibunya dirawat dikamar VIP. Di semakin bingung dapat uang darimana dia untuk membayar perawatan ibunya. Apalagi untuk biaya operasi tadi, Nia menganggap itu sebuah pinjaman dari David.


* Kalau ini juga bentuk pinjaman dari Tuan David, aku bisa bayar sampai berapa tahun? Sedangkan saat ini aku saja masih belum bekerja. Berapa puluh juta yang harus aku pulangkan kepada Tuan David. Bahkan kamar ini saja semalamnya lebih dari 3 juta.* Gumam Nia dalam batinnya.


Nia kembali memejamkan matanya, siapa tahu saat dia terbangun semua itu hanya mimpi.


" Kalau dilihat-lihat dia ini cantik, manis, polos. Dan tidak suka memakai make up dengan tebal, bahkan sepertinya dia juga jarang sekali memakai make up."Seru David sembari memandangi foto Nia yang ada di layar depan ponselnya.


David membuka galeri di ponsel Nia, dia menemukan banyak sekali foto - foto Nia bersama dua orang wanita yang David yakini itu teman - teman Nia. Namun seketika rahangnya mengeras saat melihat ada beberapa foto Nia bersama Vito. Tanpa menunggu lama David memnghapus semua foto Nia yang bersama Vito tanpa ada yang tersisa satupun.


Kini foto di galeri ponsel Nia hanya ada foto Nia bersama kedua temannya dan foto - foto pemandangan saja. Ada satu foto yang membuat David ingin memiliki foto itu, foto dimana Nia sedang tersenyum sembari memakai kacamata dan seragam dokternya. Dengan segera David mengirim foto itu ke ponselnya sendiri.


" Nah bagus juga ini foto. Manis, cantik dan bersahaja. Sebenarnya aku ini kenapa sih ? Jantungku jadi berdetak tidak menentu begini, ini bukan jatuh cinta. Lebih baik aku besok periksakan jantungku agar aku tahu apa yang terjadi denganku." David terus bermonolog sendiri.

__ADS_1


David membuka aplikasi kamera langsung mengarahkan kamera kearahnya. Dengan senyum yang dipaksakan David mengambil gambar dirinya menggunakan ponsel Nia.


" Nah kalau begini kan tampan. Dan fotoku lebih pantas ada di ponsel dia ketimbang foto pria yang bodoh itu." Seru David pada dirinya sendiri.


David bangkit dan keluar dari ruang kerjanya, diamenuju ruang perawatan ibu Karti. Saat dia membuka pintu, dilihatnya Nia sedang tertidur disofa sedangkan ibu karti juga masih tertidur efek dari obat saat operasi tadi.


" Apa dia tidak melihat ranjang satu lagi yang ada di samping ibunya itu. Ini itu ruangan VIP dan juga disiapkan ranjang lagi untuk penunggu pasien. Kenapa justru dia tidur di sofa " Ucap David.


David mendekati Nia dan mengangkat Nia, memindahkannya ke ranjang yang ada di sebelah ranjang ibu Karti yang hanya terhalang nakas saja. Dengan hati - hati David membawa Nia, namu dia menghentikan langkahnya saat mendengar Nia memakinya.


" Dasar tuan David arogan ! Aku benci sama orang arogab sepertimu. Bisa - bisanya kamu memecat ku secara sepihak begini." Seru Nia dengan mata masih saja terpejam.


* Sial ternyata cuma mengigau. Dalam tidurnya saja dia berani memakiku seperti ini. Aku lempar saja dia dari atap gedung ini. * Seru David dengan kesal.


David kembali melangkahkan kaki mendekati ranjang dan membaringkan Nia dengan pelan. Selesai membaringkan Nia tanpa tahu apa yang merasuki diri David tiba - tiba David mencium bibir Nia. Dengan segera David melepaskannya,dia merutuki dirinya sendiri yang seolah mengambil kesempatan dalam kesempitan.


" Kenapa aku justru menciumnya." Seru David pada dirinya sendiri.


David mengambil ponsel Nia dalam kantong celananya dan segera meletakkannya diatas nakas. Setelah itu dia buru - buru keluar, khawatir jika Nia akan bangun dan mengomelinya.


David langsung menuju parkiran untuk menghampiri mobilnya yang dia parkir di parkiran umum rumah sakit. Setelah sampai parkiran dengan segera David melajukan mobilnya membelah jalanan malam yang sudah semaki ramai.


" Apa aku harus mengikuti apa yang diperintahkan oleh papa ya ? Untuk mengembalikan wanita itu bekerja dirumah sakit. Kasihan sekali hidupnya,dia sudah tidak punya ayah lagi dan saat ini ibunya juga terbaring dirumah sakit. Baiklah aku akan meminta paman Irawan untuk memberitahu dia , mulai besok dia sudah bisa kembali bekerja lagi." Seru David terus bermonolog pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Nobil yang dikendarai David sudah sampai di depan gerbang rumahnya. Tanpa harus turun, gerbang itupun terbuka sendiri. Sebab mobil David sudah memakai sensor sehingga gerbang otomatis akan terbuka. Rumah sudah dalam keadaan sepi, sepertinya semua penghuni rumah sudah tertidur terkecuali para satpam dan penjaga yang lainnya dan pelayan yang memang biasa terjaga. Pelayan yang sengaja tejaga untuk menunggu David pulangpun membukakan pintu untuk David. David masuk ke rumah dan langsung menuju lantai atas di mana kamarnya berada.


***********


__ADS_2