
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Malam ini untuk pertama kalinya David menginap dirumah Nia. Rencananya besok pagi David akan memboyong Nia kerumah pribadinya, David akan tinggal dirumahnya sendiri. Rumah yang memang sudah dia siapkan, untuk istri barunya. Sedangkan rumah yang dulu pernah dia tempati dengan Hera sudah tidak dia tempati lagi.
" Maaf tuan, kamarnya memang sempit, kalau untuk dua orang dewasa pasti sangat sempit. Bagaimana kalau tuan tidur di atas saja dan aku yang akan tidur dibawah dengan memakai tikar." Ucap Nia masih malu-malu untuk seranjang dengan David.
* Bagaimana dia ini? Bukannya ini malam pertama kami kenapa justru tidur harus atas bawah. Huuhhh kalau tahu begini aku renovasi dulu kamar dan rumah ini sebelum menikah jadi saat malam pengantin tidak seperti ini.*Gumam David dalam batinnya.
" Terserah kamu saja. Sudah aku mau tidur, badan ku lelah sekali." Seru David dengan kesal sebab malam pengantinnya tidak seindah yang dia bayangkan.
David membaringkan tubuhnya diatas kasur yang lumayan keras, menurut David lumayan keras namun bagi Nia itu kasur ternyamannya yang sudah menemani Nia sampai belasan tahun. Kasur itu dibeli saat Nia masih duduk dibangku kelas 5 SD.
* Ini kasur atau papan. Huuhhh gagal total ! Duuhh David apa yang kamu fikirkan? Jangan merendahkan harga dirimu lagi, jangan menunjukan sikap seolah kamu menginginkan malam pertama kalian. Sampai sekarang juga Nia belum membalas kata cintamu.*Gumam David dengan kesal.
David memaksakan diri tetap membaringkan tubuhnya, dia mencoba memejamkan matanya. Namun sampai dia mendengar dengkuran halus Nia, belum juga David bisa memejamkan matanya. David bangun dan melihat kearah bawah, dia melihat Nia sudah terlelap dengan pulasnya.
" Perasaan tadi baru saja dia berbaring kenapa sekarang sudah mendengkur. Sepertinya dia juga sangat kelelahan sehingga dia tidur dengan cepat." Ucap David bermonolog sendiri.
David turun dari ranjang sembari membawa bantal serta guling lalu dia ikut tidur di bawah bersama Nia. Anehnya tidur beralaskan tikar bersama Nia justru membuat David nyaman dan tidak merasakan sakit pada punggungnya. Tanpa menunggu lama David sudah terlelap dan mengarungi alam mimpinya yang indah.
Kini mereka tidur sudah saling berpelukan, tanpa ada jarak lagi diantara mereka. Tidur mereka berdua benar - benar sangat nyenyak sekali.
Keesokan paginya, saat terdengar Adzan subuh dari toa masjid yang tidak jauh dari rumah Nia, Nia mulai terbangun dan membuka matanya. Namun dia merasakab berat pada bagian perutnya dan Nia melirik dibagian perutnya ada satu tangan kekar yang melingkar di perutnya. Hampir saja Nia menjerit namun tiba - tiba dia ingat jika dirinya sudah menikah.
" Tuan David kenapa tidur disini? Kalau dia mau tidur dibawah pasti semalam aku saja yang tidur diatas." Seru Nia pada dirinya sendiri.
Nia mencoba memindahkan tangan David dengan pelan - pelan agar David tidak terganggu tidurnya. Kini Nia duduk disamping David sembari memandangi wajah David dengan lekat.
" Sebenarnya dia ini tampan sekali, tapi kenapa dia arogan dan sombong. Kalau bicara suka seenaknya dan suka menghina, tapi memang tampan sih." Ucap Nia lagi.
Seketika David langsung membuka matanya dan memandang Nia. Pandangan mata mereka saling beradu dan seketika Nia mengalihkan kearah lain pandangannya.
" Sudah puas memandanginya? Aku memang tampan, seharusnya kamu bersyukur bisa menikah dengan ku. Bukan malah menghinaku, arogan dan sombong. Aku ini suami kamu, jadi kamu harus patuh kepada suami mu dan bersikap baik."Seru David kesal, sebab baru juga bangun tidur sudah dikatakan sombong dan arogan oleh istrinya sendiri.
__ADS_1
" Maaf aku mau sholat subuh dulu, apa Tuan tidak mau sholat ?." Tanya Nia mengalihkan pembicaraan.
Sholat?
Sudah lama David melupakan kewajibannya itu, semenjak Hera meninggal dia justru melupakan sang pencipta. Saat itu dia beranggapan jika semua yang terjadi itu tidak adil untuknya. David menyadari kesalahan dan kekeliruannya selama ini.
" Kamu duluan ambil wudhu. Apa disini ada alat untuk aku sholat?." Tanya David.
" Sarung ada, tapi kalau baju koko dan peci tidak punya. Sementara pakai yang ada aja dulu ya. Oh iya nanti sholatnya dikamar saja ya, soalnya tidak ada tempat lapang untuk sholat. Apa mau sholat diruang tamu? Nanti berjamaah sama ibu juga." Ucap Nia secara tidak langsung dia meminta David untuk menjadi imam.
David langsung menggelengkan kepalanya, dia mau sholat sendiri saja dulu di kamar. Belum sanggup untuk menjadi seorang imam. Mungkin lain kali dia bisa, tidak untuk saat ini terlebih dia sudah lama tidak melaksanakan sholat.
Nia keluar kamar dan mengambil wudhu di kamar mandi yang ada didekat dapur. Sedangkan David masih ada dikamar dan berbaring di ranjang Nia. Saat Nia baru selesai mengambil wudhu ibu Karti juga sudah berada didapur, sedang merebus air untuk membuat teh.
" Ibu sudah sholat?." Tanya Nia.
" Sudah baru saja selesai. Ibu kira tadi kamu sedang mandi Nia. Kok kamu tidak mandi sekalian, memangnya kamu tidak sholat?." Tanya ibu Karti serius.
" Mandi ? Biasanya juga sholat subuh Nia juga belum mandi bu? Lagipula jam segini mandi dingin banget bu, airnya saja dingin seperti es." Jawab Nia.
" Memangnya kamu dan Nak David belum..." Ucapan ibu Karti terhenti karena tiba - tiba saja David datang dan langsung masuk kamar mandi, David terlihat buru - buru sepertinya sedang kebelet buang air.
" Belum bu. Sudah ah Nia mau sholat."Seru Nia lalu masuk kamarnya untuk melaksanakan dua rakaatnya.
Selesai sholat Nia menyiapkan sarung untuk David, setelah Nia keluar kamar David masuk untuk giliran melaksanakan sholat subuhnya. Untuk pertama kalinya semenjak Hera meninggal, kali ini David kembali melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.
*************
Sementara saat ini dikediaman Bella, saat masih subuh tiba - tiba Baskoro masuk kekamar Bella. Baskoro bisa kapan saja masuk kamar Bella, meskipun tekunci. Sebab dia punya kunci cadangan kamar Bella. Bella dan Baskoro tidak pernah takut jika hubungan mereka akan di ketahui oleh Leni dan para pelayang. Untuk CCTV rumah Bella memang tidak ada lagi, sehingga mereka berdua leluasa bermain.
" Bella, Bell... Bella sayang. Bangun dong, papa lagi pengen nih." Seru Broto membangunkan Bella sembari mengusap - usap paha mulus Bella yang terekspose dengan indah.
Bella hanya mengenakan lingerie yang transparan tanpa mengenakan dalaman lagi. Hal itu sudah menjadi kebiasaan Bella saat tidur malam.
" Eeemmm.. Papa kenapa kekamar Bella? Ini jam berapa?." Tanya Bella dengan suara berat khas orang yang baru bangun tidur.
" Sssttt... Jangan banyak tanya Bella sayang. Ini masih jam setengah 5, masih subuh. Papa mau main sekarang, sebab semalam kamu kan tidak memberikan haknya papa." Ucap Baskoro yang kini mulai menyingkap lingerie Bella.
Bella sebenarnya masih sangat mengantuk, tapi bagaimana lagi bayi tuanya sedang membutuhkan sebuah kehangatan apa lagi memang udara sangat dingin sekali. Tanpa menolak Bella mengikuti apa yang diinginkan oleh papa tirinya.
__ADS_1
Merasa Bella sudah memberikan lampu hijau membuat Baskoro tidak menyia-nyiakan kesempatan lagi. Kini Baskoro sudah membuang lingerie Bella kesembarang arah, dan dia juga sudah melepaskan piyama tidurnya dan mulai menjelajahi lembah.
" Bella sayang, kenapa papa tidak terima jika ada pria lain yang menikmati tubuhmu ini. Papa mau kamu selalu untuk ku, aku tidak bisa melepaskan kamu Bella sayang." Ucap Baskoro sambil terus bekerja diatas sana.
" Kamu jangan egois, Baskoro! Aku tidak mungkin melajang terus menerus. Lagipula jika aku sudah menikah juga kamu bisa untuk melalakukannya. Tapi jangan keseringan, aku tidak mau membuat Vito curiga. Sudah cepat kamu selesaikan apa yang ingin kamu selesaikan jangan banyak bicara! Nanti keburu mama bangun susah urusannya!." Bentak Bella dengan kesal.
Makin kesini Baskoro semakin mengatur hidupnya dan semakin banyak mau. Baskoro sudah tidak banyak bicara lagi, dia fokus dengan mesinnya yang sedang beroperasi. Kini suara mereka saling bersahut - sahutan menikmati percintaan yang sudah mereka ciptakan. Kamar Bella memang saat ini dibuat kedap suara sehingga tidak ada yang mendengar suara aktifitas mereka berdua didalam kamar.
* Pria tua ini tenaganya semakin luar biasa dan cara bermainnya pun semakin membuat aku mabuk kepayang. Dia benar - benar pintar membuat aku puas, tidak perduli dia ini papaku. Yang penting kami sama-sama mau, lagipula dia hanya papa tiriku.*Gumam Bella dalam batinnya.
Bella tetap membiarkan papanya terus mengoperasikan mesin pencetaknya. Mereka akan berhenti disaat mereka sama-sama kelelahan.
" Bella bagaimana kalau aku ceraikan mama kamu terus aku menikah dengan mu. Aku tidak mau kamu dimiliki pria lain, Bella. Aku sangat menginginkan kamu menjadi milikku seutuhnya. " Ucap Baskoro sembari memberhentikan mesin cetaknya seban dia sudah kelelahan tetapi belum juga mau turun.
" Hai Baskoro!! Jangan gila kamu, ingat dulu kamu itu bukan siapa - siapa. Karena menikah dengan mamaku saja kamu sekarang bisa hidup enak dan pekerjaan enak. Itu semua berkat mama ku, jadi kamu jangan macam-macam dengan mamaku." Teriak Bella lalu dia mendorong Baskoro turun sehingga Baskoro terjatuh, beruntung jatuhnya masih dikasur.
Bella tidak mau ibunya bersedih jika Baskoro menceraikannya. Sebab mamanya sangat mencintai Baskoro, dan Bella tidak akan membiarkan Baskoro menceraikan mamanya.
" Tapi apa yang kita lakukan ini juga akan membuat mama kamu bersedih, Bella. Sudah 8 tahun kita melakukan hubungan terlarang ini dan aku justru lebih nyaman dengan kamu ketimbang dengan mama kamu." Ucap Baskoro membela diri.
" Jika kamu tidak buka mulut mama tidak akan tahu. Lihat saja jika kamu membuat mamaku bersedih aku tidak mau lagi untuk berhubungan denganmu." Ucap Bella mengancam Baskoro.
Baskoro akhirnya mengalah dan menuruti kemauan Bella, dia tidak bisa kehilangan Bella. Bisa gila mesinnya kalau Bella tidak mau lagi beroperasi. Baskoro mendekati Bella dan memeluknya dengan erat. Mereka tidak malu padahal saat ini mereka sama-sama polos. Baskoro merebahkan Bella, dia melihat mesin Bella yang merah merona membuat Baskoro menelan salivanya sendiri.
Dia ingin mengulanginya lagi tetapi saat ini sudah jam 6 pagi tentunya sang istri sudah bangun. Bella yang melihat Baskoro beberapa kali menelan Salivanyq hanya tertawa kecut. Papa tirinya itu ternyata memang tidak bisa melihat barang bagus.
" Mau lagi?." Seru Bella dengan manja sembari membuka lebar-lebar kakinya sehingga membuat Baskoro semakin tidak bisa mengendalikan dirinya.
Baskoro langsung membumgkuk dan menciumnya. Kini dia melakukan sesuatu yang berbeda dari permainannua yang tadi. Mulut dan lidah itu menikmati sesuatu yang merah merona, membuat Bella benar - benar tidak bisa berkutik lagi.
* Kamu tidak akan bisa menolak permainanku, Bella sayang. Dengan begini kamu pasti akan selalu memintaku untuk melakukannya lagi dan lagi. Bodo amat dengan Leni, wanita yang sudah membosankan itu pasti saat ini sedang mencariku.* Gumam Baskoro dalam batinnya.
* Sial !! Kenapa pria tua ini bisa melakukan hal ini, junur ini sangat-sangat nikmat. Ternyata dia benar - benar pria sejati yang mengerti apa yang aku inginkan.* Gumam Bella sambil memejamkan mata.
Aaahhhhhhh!!
Suara Bella semakin memekakkan telinga, namun Baskoro justru sangat menyukai suara yang dikeluarkan oleh Bella.
*************
__ADS_1