
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Video perdebatan Nia dan Bella sudah di lihat oleh David, David sama sekali tidak marah. Justru dia bangga karena istrinya sudah bisa bersikap dengan tegas, dengan berani membongkar aib Bella dihadapan banyak orang. Tujuan Bella yang tadinya ingin mempermalukannya justru dia malu sendiri. Seperti senjata makan tuan.
" Apa perlu video yang sudah beredar itu kita hapus, Tuan?." Tanya Rendi.
" Tidak perlu. Video itu biarkan saja, sama sekali tidak merugikan istriku. Justru wanita bodoh itu yang dirugikan, biarkan saja dia terkenal dengan kebodohannya itu. Kembalilah keruanganmu dan selesaikan pekerjaanmu." Ucap David dengan tegas.
* Ehhh bussheet nih calon kakak ipar. Tegas benar dia memintaku untuk keluar dari ruangannya, bukannya aku ada di ruangannya juga karena dia yang memanggilku.*Gumam Rendi dalam hati.
" Tidak usah bicara dalam hati, jika tidak suka langsung bicara saja." Seru David memandang tajam Rendi.
Rendi menelan salivanya sendiri, dia lupa jika boss nya itu bukanlah sembarang Boss. Boss besar yang seolah-olah bisa membaca isi fikiran lawan bicaranya.
" Tidak kok, Tuan. Saya permisi Tuan." Ucap Rendi sambil membungkukkan tubuhnya.
Dengan cepat-cepat Rendi keluar dari ruangan panas itu. Meskipun di ruangan David ada 2 AC yang semuanya menyala, namun bagi Rendi tetap saja terasa panas. Apalagi jika Satria sudah marah dan mengamuk, bisa seperti didalam oven saat berada di ruangan David.
" Istriku semakin hari semakin hebat saja. Kelly setelah kejadian pagi itu sudah tidak pernah datang kerumah ku, bahkan menunjukan batang hidungnya saja sudah tidak pernah lagi. Sepertinya Kelly takut dihajar lagi oleh istriku. Istriku benar-benar hebat, sekarang dia sudah menjadi Nia yang garang, bukan Nia yang malu-malu kucing lagi. Duhh jadi ingat permainan ranjang semalam, istriku luar biasa." Ucap David bermonolog sendiri membanggakan sang istrinya.
Permainan mereka semalam masih terngiang-ngiang dalam ingatan David. Dan serasa ingin mengulanginya lagi, namun pekerjaan yang menumpuk tidak bisa dia tinggalkan.
" Huuuh pekerjaanku menumpuk begini dan harus selesai hari ini juga. Nanti malam saja, pokoknya nanti malam harus lembur karena besok dia sudah berangkat tugas luar daerah. Jika aku merindukan istriku bagaimana? Apa aku harus menyusulnya kesana atau aku ikut saja ya?." Ucap David terus bicara pada dirinya sendiri.
__ADS_1
David kembali dengan pekerjaannya lagi agar cepat selesai dan dia bisa cepat pulang. Padahal kantor-kantornya sendiri dan bisa pulang sesuka hatinya. Namun jika dia pulang cepat tanpa alasan yang pasti, sang istri pasti akan marah. Sebab tidak mencerminkan pimpinan perusahaan yang baik.
Hesti mendatangi kantornya yang saat ini di pimpin oleh Vito. Dia ingin membicarakan masalah anak yang ada dalam kandungan, Bella. Hesti sendiri sudah menyetujui rencana perceraian Bella dan Vito, bahkan bukan rencana lagi. Vito dan Bella masing-masing sudah menerima surat panggilan sidang perceraian mereka.
" Mama, mau apa mama datang kesini? Bukannya mama beristirahat saja."Seru Vito kaget saat mama nya masuk keruangannya.
" Ada yang ingin mama bicarakan dengan mu, Vito. Ini soal anak yang ada dikandungan Bella. Apa kamu yakin 100 persen jika itu bukan anak kamu? Apa tidak sebaiknya kita lakukan tes DNA saja, agar semuanya jelas. Jika itu anak kamu, kamu harus mengambil hak asuhnya. Tapi kalau bukan ya sudah kamu lepas tangan saja."Ucap Hesti bicara dengan serius.
Hhhuuufffttt
Vito meletakkan pena yang sedari tadi dia pegang. Dia juga melepas kacamatanya, Vito bangkit dan berjalan mendekat ke sofa dimana saat ini mamanya duduk.
Vito sudah memikirkan masalah tes DNA itu tapi jika tidak tahu keputusan apa yang akan dia ambil jika itu benar anaknya. Sebab hati Vito yakin jika anak itu bukanlah anaknya, akan tetapi anak dari Baskoro.
" Ma, untuk tes DNA akan Vito lakukan tapi tunggu sampai bayi itu lahir. Sebenarnya bisa dari sekarang juga, tapi Bella tidak setuju. Jadi kita tunggu sekitar 3 atau 4 bulan lagi, Vito sendiri tidak tahu sekarang sudah berapa bulan kandungan Bella."Ucap Vito berkata dengan jujur.
" Jika itu anak kamu, pokoknya kamu harus mengambil hak asuhnya. Apapun yang terjadi anak itu harus ada dalam asuhan kita, mama tidak mau jika anak itu di asuh Bella."Seru Hesti dengan kesal.
Hesti hanya mengiyakan saja tanpa banyak bicara lagi. Semenjak dia tahu jika menantu kesayangannya sudah menikah dengan papa tirinya, mulai saat itu juga Hesti tidak banyak memaksakan kehendaknya kepada Vito. Namun jika soal wanita, Hesti tetap ikut campur tangan.
Dia beralasan, jika Vito tidak bisa memilih calon istri yang tepat. Selalu bertentangan dengan kriteria nya sebagai menantu idaman.
" Vito, apa kamu tidak mau menikah lagi?"Tanya Hesti membuat Vito menggeleng dengan heran.
" Ma, mama kan tahu kalau Vito dan Bella saja proses perceraiannya belum selesai. Kenapa mama sudah tanya soal menikah lagi sih ma? Lagipula Vito juga belum ada pilihan yang tepat, Vito tidak mau buru-buru menikah ma. Vito lagi mau berkarier, urusan jodoh dan menikah itu belakangan. Dan jika sudah waktunya pasti nanti ketemu juga sama jodoh."Ucap Vito yang sebenarnya malas untuk membahas soal pernikahan. Seban dia tahu mamanya pasti akan mulai menjodoh-jodohkannya dengan anak teman arisannya.
Hhhhuuuufffff
Hesti m3ndes4h dengan kesal, ternyata Vito masih saja tetap keras kepalanya. Hesti tidak akan memaksa Vito untuk cepat menikah lagi, membiarkan dulu Vito menyelesaikan urusan perceraiannya dengan Bella. Jika di paksa pun percuma, yang ada Vito akan tetap menolak dan keras kepalanya semakin jadi.
__ADS_1
" Ya sudah kamu selesaikan saja dulu proses perceraianmu dengan Bella. Mama pulang dulu ya, kepala mama sudah pusing lagi ini."Ucap Hesti bangkit dan melangkah keluar dari ruangan kerja Vito.
* Ma, kapan dulu mama ini tidak mengatur-atur Vito dan ikut campur dengan urusan percintaan Vito. Vito ini sudah besar, sudah dewasa dan sudah bisa menentukan mana yang baik dan buruk. Apa mama tidak bisa berkaca dengan masalah yang ada? Mama memaksa Vito menikah dengan Bella, tapi mama lihat sendiri wanita seperti apa Bella itu, Ma.*Gumam Vito dalam hati.
Aarrrghhhh
Vito memukul meja yang ada di depannya dengan kuat. Dia benar-benar frustasi dengan semua masalah yang saat ini dia hadapi. Masalah perceraian, masalah perusahaan, masalah dengan mamanya. Begitu banyak masalah dalam hidupnya, tidak kuat memikul beban masalah sudah pasti dia akan gila.
Tok
Tok
Tok
" Masuk."Seru Vito dengan kuat.
Sekertaris Vito masuk dan memberikan berkas-berkas yang tadi diminta oleh Vito.
" Apa bapak mau saya buatkan kopi atau teh? Sepertinya bapak lelah sekali?." Tanya Caca sekertaris Vito.
" Boleh, Ca. Buatkan aku kopi hitam saja ya, Ca."Ucap Vito.
" Baik pak."Jawab Caca lalu keluar dari ruangan Vito dan langsung menuju ke pantry untuk membuatkan Vito kopi.
Vito memeriksa berkas-berkas nya, semuanya bagus dan tidak ada yang kurang maupun salah. Caca memang bisa di andalkan, meskipun bekerja belum lama akan tetapi sudah bisa menguasai semua pekerjaan yang diberikan oleh Vito.
" Apakah David akan membatalkan kerja sama nya? Jika Widjaya Group membatalkan kerjasamanya aku sudah pasrah, dan perusahaan ini pasti akan banyak hutang. Tapi semoga saja David tidak mencampur adukkan urusan pribadi dan pekerjaan. Kita harus profesional."Ucap Vito bermonolog pada dirinya sendiri.
Caca kembali masuk dengan membawa secangkir kopi hitam permintaan Vito. Setelah meletakkannya di atas meja kerja Vito, Caca kembali ke ruangannya lagi.
__ADS_1
**********