
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Saat istirahat dari jam praktek nya di rumah sakit, Nia menyempatkan diri makan siang bersama Berta dan Rindi. Dua temannya itu masih ada di kota yang sama, Berta masih liburan semester.
Mereka makan di salah satu cafe yang dekat dengan rumah sakit tempat Nia bekerja, agar saat Nia kembali ke rumah sakit tidak terlalu jauh.
" Kalian kapan mau balik? Jika kalian balik aku pasti kesepian?."Tanya Nia dengan wajah yang dibuat sedih.
" Aku masih lama, karena aku masih liburan. Kemungkinan 2 mingguan lagi sih balik luar negeri. Tapi kalau Rindi sepertinya akan tetap tinggal di kota ini, sepertinya dia pindah kerja."Seru Berta melirik Rindi yang sedang menyeruput jus mangganya.
Nia, Rindi, dan Berta memang sudah berteman dari semenjak SMP. Mereka berkuliah di universitas yang sama namun dengan jurusan yang berbeda. Nia mengambil jurusan ke dokteran, Berta dan Rindi mengambil jurusan yang sama yaitu ilmu ekonomi. Saat ini Berta sedang mengambil S2 nya di luar negeri, dan Rindi sudah bekerja di salah satu bank swasta yang ada di luar kota.
Dari mereka bertiga, hanya Berta yang termasuk anak orang kaya. Papanya mempunyai peruaahaan yang bisa dibilang cukup besar.
" Benar kamu mau pindah kerja, Rin?."Tanya Nia memandang serius Rindi.
" Hemm iya Nia, aku sedang mengajukan surat pindah. Semoga saja di ACC, jika sudah di ACC aku bisa pindah di Kota ini. Aku ingin dekat dengan orang tuaku."Jawab Rindi dengan yakin.
" Bagus deh kalau begitu, dengan begitu nanti kita bisa sering bertemu. Pindah tetap di bank ABC juga kan?."Tanya Nia ingin memperjelas.
" Iya, di bank ABC pusat. Yang ada di jalan Mawar itu, lumayan kan tidak seberapa jauh dari rumah."Jawab Rindi secara detail.
Merek melanjutkan makan siang nya, disertai dengan canda tawa. Selama berteman, belum sekalipun mereka berantem sampai marahan berhari-hari. Berselisih paham pernah tapi tidak sampai cekcok.
" Kalian apa tidak ingin menikah? Atau jangan-jangan kalian sudah punya pacar tapi tidak mau memberitahu aku."Ucap Nia secara tiba-tiba.
Uhhuuk uhhukk uhhuuk
Tiba-tiba Berta dan Rindi tersedak dan batuk bersamaan. Dengan segera mereka menyambar air mineral kemasan yang ada di hadapannya dan langsung meminumnya.
" Kalian tidak apa-apa?."Tanya Nia khawatir dengan kedua temannya.
" Tidak apa-apa. Tadi hanya kaget saja dengan pertanyaan kamu itu. Kok bisa kamu ini membahas soal menikah atau pacar, kamu tahu sendirikan kami ber 2 ini jomblo forever dari dulu. Mana ada yang mau sama kita, kita ini bar bar dan tidak seanggun kamu."Seru Berta sambil terkekeh.
" Situ saja kali yang bar bar kalau aku tidak. Hemm aku masih ingin fokus sama karier dulu Nia, membahagiakan kedua orang tuaku. Kalau menikah sama orang kaya seperti kamu sih enak, sudah kaya, tampan, baik pula."Seru Rindi sambil menyunggingkan senyumnya.
__ADS_1
" Itu ada kan laki yang tampan, dan kaya. Kamu embat saja tidak apa-apa kok Rin. Nia pasti bisa mengerti."Seru Berta sambil tertawa dengan lebar.
Mendengar namanya di sebut-sebut, Nia jadi mengernyitkan keningnya. Dia tidak tahu apa maksud dari ucapan Berta tadi sehingga dia menanyakannya agar lebih jelas lagi.
" Maksudnya apaan sih? Kok pakai bawa-bawa aku segala?."Tanya Nia heran.
" Itu loh Nia, si Berta meminta aku untuk mendekati Vito. Dia ini memang agak-agak gila, mungkin memang sudah tidak waras lagi. Masa iya aku di jodohinnya sama Vito."Seru Rindi bicara terus terang agar tidak ada kesalah pahaman yang terjadi antara dia dan Nia.
" Oh Vito. Hemm aku sih tidak masalah sih kamu mau dekat sama dia. Lagipula aku dan dia kan memang sudah lama selesai, setahu aku sekarang dia juga sudah bercerai dengan istrinya. Kak Vito sebenarnya pria yang baik dan pengertian, tapi karena dia terpengaruh sama orang tuanya saja saat itu dia jadi menyebalkan. Jika memang di antara kalian ini ada yang berjodoh dengan Kak Vito, aku setuju-setuju saja. Yang namanya jodohkan tidak ada yang tahu."Ucap Nia bicara secara bijak. Dia sama sekali tidak keberatan jika diantara Berta dan Rindi ada yang menjalin hubungan dengan Vito.
Berta dan Rindi saling beradu pandangan, mereka tidak menyangka jika Nia akan bicara sebijak itu. Sama sekali tidak menyimpan dendam kepada Vito. Itulah hebatnya Nia, sesakit apapun itu dia masih tetap bersikap baik dan tidak membalas rasa sakitnya untuk orang itu.
" Kamu tidak dendam sama Vito?."Tanya Berta lagi.
" Dendam? Dendam karena apa? Aku tidak ada hak untuk membalas semua perbuatan kak Vito terhadap ku. Aku sudah melupakan semuanya, dia juga sudah dapat balasan dari apa yang pernah dia perbuat dulu. Sudah ya, jangan bahas soal kak Vito lagi."Seru Nia tidak mau lagi membahas masalah Vito.
Namun baru saja Nia mengucapkan tidak mau membahas soal Vito. Tiba-tiba saja Vito ada di hadapan mereka, Vito datang menghampiri mereka bertiga.
" Hai apakah aku boleh gabung?."Tanya Vito dengan percaya dirinya.
" Vito." Seru Nia dan kedua temannya secara bersamaan.
Vito mengulas senyum dengan manis, senyuman itu yang dulu pernah menghipnotis Nia. Senyum yang sangat manis, yang menambah karisma wajah tampan Vito.
Vito menarik kursi yang ada di samping Nia, lalu duduk disana. Vito sama sekali tidak menyangka bisa bertemu dengan Nia di cafe itu. Vito menatap wajah ayu Ni dari samping. Sampai sekarang Vito masih mengagumi kecantikan wajah natural Nia.
" Hemmm Berta, Rindi. Maaf ya, sepertinya aku harus kembali ke rumah sakit. Sebentar lagi jadwal praktekku sudah mau dimulai. Maaf kak Vito, aku duluan."Ucap Nia mencoba tetap bersikap biasa saja dengan Vito.
Nia memang sudah memaafkan Vito, namun dia tetap harus menjaga jarak. Terlebih pertemuan terakhirnya dengan Vito beberapa bulan yang lalu sempat membuat David marah, sampai David menghajar Vito hingga babak belur.
" Kamu menghindariku, Nia?."Tanya Vito.
" Maaf, aku tidak menghindarimu. Tetapi aku memang harus kembali ke rumah sakit, 15 menit lagi jam praktekku di mulau."Jawab Nia.
" Rumah sakit punya suami kamu juga kan? Telat dikit tidak apa-apa dong?."Seru Vito sambil tersenyum.
" Maaf, aku harus profesional. Meskipun rumah sakit itu milik suamiku, aku disana itu bekerja dan aku dokter. Aku sudah di sumpah untuk bekerja dengan baik. Maaf aku duluan ya."Seru Nia lalu bangkit dan berjalan keluar dari Cafe.
Berta dan Rindi pun memilih untuk pergi dari Cafe. Bukan mau menghindari Vito, akan tetapi mereka memang tidak ada pembahasan untuk dibicarakan.
" Kalian juga mau pergi?."Tanya Vito.
__ADS_1
" Emm maaf, kami memang sudah selesai makan dan kami tadi sudah mau pulang. Kebetulan kamu datang, jadi ya jangan salahkan kami dong kalau kami pada pergi."Ucap Rindi.
" Oh aku kira gara-gara ada aku terus kalian pergi."Jawab Vito lagi.
Berta dan Rindi pun keluar dari cafe dan menghampiri mobil Berta yang ada di parkiran. Tujuan mereka saat ini adalah Mall, mereka akan menonton sebelum mereka kembali di sibukkan dengan rutinitasnya.
********
Plakkk
Plakkk
Pak Wahab, papa dari Sabita saat ini marah besar dan menampar Sabita. Bagaimana dia tidak marah, jika Perusahaan Widjaya Group menarik saham dan menghentikan kerja sama dengan perusahaannya. Dan semua itu karena ulah dari Sabita, anak manja yang selalu menyusahkan orang tuanya.
" Dasar bodoh !! Kamu sudah membuat perusahaan papa rugi besar, Sabita. Anak tidak berguna, sudah sedewasa ini masih saja membuat papa mu ini susah !!."Seru pak Wahab dengan lantang.
Sabita dipeluk mamanya, saat ini Sabita hanya bisa menangis. Baru kali ini dalam hidupnya sang papa marah dan sampai menamparnya. Sabita memang anak yang manja dan selalu menghambur-hamburkan uang orang tuanya untuk hal yang tidak penting.
" Pa, tenang. Jangan bicara sambil emosi begini. Kasihan Sabita pa, lihat pipi Sabita sampai merah seperti ini. Cuma di putus kerja sama tidak akan membuat kita bangkrut juga kan, Pa."Ucap Rahma, mama dari Sabita sambil memeluk dan mengusap pipi Sabita yang memerah.
" Bela saja terus anak manjamu itu, Ma. Mama ini bodoh apa bagaimana? Mama tidak tahu berapa kerugian yang harus papa tanggung Ma. Papa rugi besar Ma, 150 milyar Ma. Belum saham 25 persen yang Tuan David tarik."Seru Wahab dengan lantang.
Deeggghh
Jantung Rahma dan Sabita tiba-tiba saja merasa sakit. Ternyata kerugian nya terlalu besar, dan bisa jadi perusahaan akan mengalami kebangkrutan.
" Sebanyak itu, Pa? Sefatal itukah kesalahan, Sabita?." Tanya Sabita tidak percaya.
" Iya, apa kamu kira sedikit? Tuan David itu investor terbesar di perusahaan papa, dan dia juga pemilik 25 persen saham di perusahaan. Makanya jadi anak itu jangan sombong, lihat dan cari tahu dulu orang yang akan kamu hina. Ini lah ajaran mama, sombong dan dikit-dikit suka menghina."Seru pak Wahab dengan kesal.
" Kok mama jadi di salahkan sih, Pa?."Protes Rahma tidak suka di salahkan oleh suaminya.
" Maaf pa,Sabita kan tidak tahu kalau Nia itu istrinya Tuan David."Ucap Sabita membela dirinya.
Hhuuuffffttt
Pak Wahab membuang nafas dengan berat, dia sangat pusing memukirkan perusahaan dan kerugian yang dia alami. Padahal perusahaan baru juga merangkak kembali, kini sudah dibuat rugi karena ulah anaknya sendiri.
" Pa, yang punya masalah kan Sabita sama Istri tuan David, tapi kenapa tuan David mencampur adukkan dengan pekerjaan? Ini namanya tidak profesional pa, papa harus protes."Seru Rahma meminta suaminya untuk protes.
" Mama tidak tahu Tuan David itu bagaimana. Dia tidak akan mentolerir jika ada orang yang menyakiti keluarganya. Mama ajari saja itu anak mama bagaimana bersikap baik dan benar, jangan menyombongkan diri."Ucap pak Wahab melirik Sabita yang duduk di samping mamanya.
__ADS_1
* Huuhhh semua ini gara-gara Nia. Awas saja kamu Nia, jangan mentang-mentang kamu istri dari pria kaya aku tidak berani memberi kamu pelajaran. Tunggu saja kamu, Nia !.*Gumam Sabita dalam hati.
***********