Dokter Penakluk Duda Arogant

Dokter Penakluk Duda Arogant
Bukan pacar tapi calon suami


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Miska dan Nia pulang lebih dulu, dan membiarkan Rindi bersama Vito. Mereka sengaja memberikan waktu berdua untuk Vito dan Rindi. Nia melihat ada cinta antara Rindi daoln Vito, sehingga membiarkan mereka berdua.


" Kak, memang tidak masalah kita tinggalin mbak Rindi sama Vito?."Tanya Miska saat mereka sudah tiba di rumah.


" Tidak apa-apa, sepertinya mereka memang ada urusan yang harus mereka selesaikan. Kamu apa tidak melihat ada cinta dimata mereka berdua?."Tanya Nia dengan menselonjorkan kakinya diatas sofa.


Hhhaaahhhh


Miska menghela nafas dengan berat, kalau sudah bicara soal cinta mencintai Miska paling malas. Apalagi cinta mencinta orang lain, yang dia mau memikirkan cintanya saja. Siapa lagi kalau bukan kang mas Rendi seorang.


" Jangan bahas hubungan cinta cintaan orang lain kak, aku pusing kalau mikirin urusan cinta orang. Cintaku sendiri terkadang rumit, rumitnya juga karena suami kak Nia itu sih."Ucap Miska sambil terkekeh.


" Jangan bawa-bawa suamiku, awas aku aduin suamiku biar hubungan kamu dan Rendi semakin rumit. Hahaaa... bagaimana ya kalau sampai suamiku meminta kamu menikah nya 10 tahun lagi?."Seru Nia tertawa dengan senangnya.


" Ihhh kak Nia ini apa-apaan sih. Bisa jadi perawan tua kalau sampai 10 tahun lagi, jangan sampai kak Rendi cari pasangan lagi dong."Seru Miska dengan cemberut.


Hahaaaa Hhaaahaaaa


Nia tertawa dengan keras, dia senang melihat wajah Miska yang cemberut. Menurutnya dia sangat menggemaskan, apalagi adiknya itu memang wajahnya sangat imut dan chubby.


" Kak, aku langsung pulang ya. Kak Nia tunggu saja orang toko datang mengantarkan barang, nanti biar mereka yang memasukan ke dalam kamar. Nah kak Nia sama kak David yang tinggal mengatur susunannya."Ucap Miska lalu bangkit dari duduknya.


" Kamu yang milih banyak barang jadi kamu juga yang bantuin menyusunnya, Miska !." Seru Nia sedikit berteriak karena Miska sudah melangkah menuju pintu sambil melambaikan tangannya.


Miska terus melangkah sambil terkekeh karena berhasil mengerjai kakak iparnya.


Sementara itu masih di salah satu mall, Rindi dan Vito masih tetap berada di restoran yang sama. Mereka terlibat obrolan yang serius, Vito menanyakan jawaban atas perasaannya yang sudah dia utarakan beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


" Apa kamu sudah ada jawabannya?." Tanya Vito terlihat dia sangat berharap Rindi memberikan jawaban yang sesuai dengan harapannya.


" Vito, apa kamu yakin ingin menjalin hubungan denganku? Kamu tahu sendirikan aku ini hanya anak dari seorang pensiunan Pns dan pekerjaanku pun hanya sebagai pegawai bank. Jarak kasta kita ini jauh banget Vito, kamu orang kaya dan seorang pengusaha. Aku tidak mau jika kita sudah menjalin hubungan, orang tua kamu menentangnya."Jawab Nia panjang lebar. Dia mengantisipasi agar hatinya tidak sakit saat ada penolakan dari orang tua Vito.


" Rindi, aku yakin 100 persen jika aku ingin menjalin hubungan denganmu dan ingin menjadikan kamu istri dan ibu dari anak-anakku kelak. Insya Allah, mama dan papaku sudah mempercayakan pilihan jodoh pada diriku sendiri. Emm.. Jika kamu mau, hari ini juga aku akan membawa kamu untuk bertemu dengan kedua orang tuaku. Jadi bagaimana? Apa kamu menerima cintaku?." Tanya Vito penuh keyakinan.


Rindi terdiam dan mencoba untuk berfikir, dia berusaha menyakinkan dirinya sendiri jika Vito adalah pria yang cocok untuknya. Pria yang bisa membimbingnya, dan menjadi imam dalam rumah tangganya nanti.


* Bismillah, semoga pilihan dan jawaban ku kali ini adalah jawaban yang terbaik dan tidak ada hati yang tersakiti.*Gumam Rindi dalam hatinya.


" Emm... Maaf aku tidak bisa menerima mu sebagai pacar, Tapi...."Rindi menjeda ucapannya sehingga Vito semakin penasaran.


Deggghhhh


Jantung Vito berdetak tidak menentu, hatinya pun terasa sakit. Ternyata Rindi menolak ungkapan rasa cintanya.Betapa hancurnya hati Vito, padahal dia sangat berharap jika Rindi mau menerimanya dan mengarungi bahtera rumah tangga dengannya.


" Tapi... Aku mau kamu menjadi suamiku."Seru Rindi dengan malu-malu.


Haaahhhh ? Apa ?


" Apa ? Jadi kamu tidak mau menjadi pacarku tapi kamu mau aku menjadi suami kamu? Benarkah kamu mau menjadi istriku? Aku sedang tidak berhalusinasi dan bermimpi?."Tanya Vito sedikit berteriak sehingga orang-orang yang ada di restoran itu memandang kearah mereka.


Sssstttt....


Rindi meempelkan jari telunjuknya di bibir, meminta Vito untuk memelankan suaranya karena saat ini mereka sedang menjadi pusat perhatian orang-orang.


" Maaf, maaf aku terlalu bahagia karena kamu menerima cintaku."Seru Vito dengan senangnya.


" Iya. Setelah Aku fikir-fikir aku juga mencintai mu dan aku ingin hubungan yang serius. Bukan hanya sekedar pacaran, karena aku tidak mau pacaran yang akan menjerumuskan kita kepada hal-hal yang negatif."Ucap Rindi dan disetujui oleh Vito.


" Aku akan segera membawa kedua orang tuaku untuk melamarmu dan jika perlu minggu depan kita menikah."Seru Vito dengan senangnya.


" Jangan minggu depan juga, Vito. Menikah itu perlu persiapan yang matang, jangan asal-asalan. Meskipun Aku tidak meminta pesra mewah, tapi aku ingin keluarga besar ku ikut menyaksikan hari bahagia ku yang sakral. Jadi ya perlu persiapan yang matang."Seru Rindi memprotes ucapan Vito.


Hhheheeeee

__ADS_1


Vito terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebab terlalu bahagia, dia sampai mau serba buru-buru melangsungkan pernikahan.


" Vito, tapi bagaimana dengan Nia? Apa Nia akan menganggapku pagar makan tanaman? Kamu kan mantan pacarnya Nia, aku takut jika Nia salah paham."Seru Rindi ragu-ragu.


" Aku yakin Nia akan merestui hubungan kita ini, dia tidak akan marah. Kamu tahu dia tadi sengaja pulang duluan karena ingin kita punya waktu berdua. Aku tahu bagaimana Nia, kamu juga tahu Nia bagaimana sebab kamu itu teman Nia. Nia itu baik, dia tidak mungkin akan marah dengan hubungan kita."Seru Vito menyakinkan Rindi sambil menggenggam tangan Rindi.


" Nanti aku akan bicara sama Nia tentang hubungan kita ini, Vito. Kalian memang sudah mantan, tapi Nia teman baikku. Aku tidak mau menyembunyikan apapun dari Nia."Ucap Rindi dengan serius.


" Apapun yang akan kamu lakukan aku mendukungnya."Ucap Vito dengan tetap menggenggam tangan Rindi.


Hari ini Vito sangat bahagia, apa yang dia harapkan sebentar lagi akab tercapau semuanya. Rindi adalah wanita yang akan menjadi istri dan ibu untuk anak-anaknya kelak. Wanita yang akan menemani sampai masa tuanya.


" Sekarang kita pulang."Ucap Rindi nengajak Vito untuk pulang.


" Iya, kamu bawa mobil apa tidak? Saya antar pulang ya?." Seru Vito menawarkan diri untuk mengantar Rindi pulang.


" Kebetulan aku memang tidak bawa mobil. Tadi Miska dan Nia yang datang kerumah menjemputku. Apa aku tidak merepotkan kamu?." Tanya Rindi merasa tidak enak jika merepotkan Vito.


" Aku tidak merasa di repotkan, apalagi kamu kan calon istriku. Yuk kita pulang sekarang, hari sudah semakin sore. Sekalian aku berkenalan dengan calon mertua ku, boleh kan?."'Tanya Vito sambil tersenyum.


Rindi mengangguk tanda dia membolehkan Vito berkenalan dengan kedua orang tuanya. Cepat atau lambat kedua orang tuanya memang harus tahu tentang hubungan mereka. Rindi sebagai wanita memang berprinsip, jika dia tidak mau berlama-lama berpacaran untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan dilarang agama.


Mobil yang di kendarai Vito kini sudah melaju membelah jalanan menuju rumah Rindi. Ada perasaan yang tidak menentu saat Vito ingin menemui calon mertuanya.


" Kenapa? Kok gelisah?."Tanya Rindi.


" Hemmm agak gugup. Ini pertama kalinya mau bertemu dengan orang tua kamu."Jawab Vito jujur.


" Apa ini terlalu cepat? Kita baru saja jadian, tapi ini kan kamu sendiri yang mau. Kamu yang mau bertemu dengan kedua orang tuaku, kalau kamu belum siap ya tunda dulu bertemu kedua orang tuaku. Nanti setelah aku turun dari mobil, kamu langsung pulang saja."Ucap Rindi.


" Tidak apa-apa, siap tidak siap aku harus siap."Jawab Vito sangat yakin.


Karena serius dengan obrolannya, tanpa terasa mobil yang di kendarai Vito sudah sampai di depan rumah Rindi. Meakipun Vito tidak tahu rumah Rindi, akan tetapi Rindi sudah memberikan arah-arah jalannya.


**********

__ADS_1


__ADS_2