Dokter Penakluk Duda Arogant

Dokter Penakluk Duda Arogant
Rencana dadakan


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


" Apa? Malam ini?." Seru Rendi kaget saat David mengajaknya untuk ikut ketempat Nia bertugas.


Siapa yang tidak kaget dan syok jika David mengajaknya secara dadakan seperti itu. Apalagi pekerjaan Rendi saja menumpuk, itu juga pekerjaan David tapi dibebankan kepada Rendi. Rendi ingin menolak, namun dia tahu pasti David akan memarahinya dan bisa-bisa dia akan dipecat.


" Iya malam ini dan kamu siapkan semua nya."Jawab David dengan santainya.


" Tapi Tuan, pekerjaan saya banyak dan harus segera saya selesaikan. Bagaimana kalau lusa saja?."Ucap Rendi mencoba memberi penawaran.


" Tidak ada tawar menawar lagi, jika kamu tidak mau ikut tidak masalah. Tapi jangan salahkan saya kalau gaji dan bonus kamu selama 6 bulan tidak akan aku berikan."Jawab David lagi dengan santainya.


" Haaahhh ! Jangan dong Tuan, kalau selama 6 bulan saya tidak diberikan gaji dan bonus bagaimana saya bisa menabung untuk biaya pernikahan saya nant? Masa iya mau pihak perempuan yang mau menanggung biayanya? Kan aku yang malu."Seru Rendi sepertinya dia keceplosan membahas soal pernikahan.


David memandang ke arah Rendi dengan menyipitkan matanya. Sejak kapan Rendi mempunyai pacar atau calon istri, karena setahu David selama ini Rendi tidak sedang dekat dengan siapa-siapa. Waktunya saja habis untuk pekerjaan.


" Kamu mau menikah? Sama siapa? Sepertinya kamu menyembunyikan sesuatu dari ku? Siapa wanita itu?."Seru David dengan serius.


Ggglleekk


Rendi langsung menelan salivanya sendiri, dia lupa jika dia dan Miska memang masih merahasiakam hubungannya. Tidak akan memberitahu siapa-siapa sebelum mereka benar-benar sudah siap.


Rendi terlihat bingung, tidak mungkin dia mau memberitahu siapa wanita itu kepada David. Yang ada David pasti akan langsung menghadiahkan bogeman di wajahnya.


" Emm.. Belum ada Tuan. Hanya menabung dulu, nah kalau tabungan nya sudah cukup siapa tahu dapat calon istri."Jawab Rendi gugup sama sekali tidak berani memandang wajah David.


" Awas kamu kalau macam-macam."Seru David seolah dia tahu apa yang ada di fikiran Rendi.


" Iya Tuan."Jawab Rendi singkat.


* Huuhhh bagaimana ini? Kapan aku dan Miska akan mengumumkan hubungan kami, kakaknya saja sepertinya tidak akan merestui hubungan kami.*Gumam Rendi dalam hati.


" Bagaimana? Apa kamu tetap tidak mau ikut?." Tanya David sekali lagi dengan tegas.


" Ikut Tuan,biar nanti aku bawa saja pekerjaan ku dan bisa aku kerjakan disana." Jawab Rendi menyakinkan.


" Bagus, cepat persiapkan semuanya. Jam 8 malam nanti kita harus sudah berangkat."Ucap David terdengar tegas.


Rendi hanya mengangguk dan bisa pasrah saja dengan keputusan David. Semua keputusan memang ada pada boss. Dengan rasa kesal dan menggerutu tidak jelas, Rendi kembali ke perusahaan untuk mengambil setumpuk berkas-berkas yang harus dia kerjakan.


" Sayang, tunggu kedatanganku. Pasti kamu akan terkejut saat melihatku sudah berada disana." Ucap David dengan senyum-senyum sendiri.


Miska menghampiri David yang sedang senyum-senyum itu. Kedatangan Miska tentunya mengagetkan David.


" Kak David !! Senyum-senyum sendiri sudah seperti orang gila." Seru Miska sambil menjatuhkan bobot tubuhnya di samping David.


" Diam kamu anak kecil."Seru David ketus.


Miska tidak terima di panggil anak kecil oleh David. Padahal saat ini dia sudah berusia 22 tahun, dan sudah memiliki pacar masih saja di panggil anak kecil.


" Aku bukan anak kecil kak. Tapi terserah kakak saja lah, oh iya kak denger-denger kak David nanti malam mau ke tempat kak Nia? Lantas pernikahan Kelly dan Keanu bagaimana? Mereka besok akan menikah loh, masa iya kak David tidak hadir mana menikahnya di rumah ini lagi."Seru Miska yang sebenarnya tidak setuju jika Kelly menikah dirumah orang tuanya.


" Aku tidak peduli dan itu bukan urusanku !!."Jawab David dengan singkat.


David bangkit dan meninggalkan Miska yang terlihat cemberut dengan bibirnya yang mengerucut. Belum juga dia selesai bicara sudah main di tinggal saja.


*****


Seperti yang sudah di janjikan oleh Leni. Malam ini Leni sudah tampil maksimal dengan mek up yang sedikit tebal untuk mengambil perhatian dari Vito. Bahkan Leni memakai baju yang terlihat lebih seksi denngan menonjolkan bagian buahnya yang besar itu. Meskipun sudah paruh baya, tubuh Leni memang masih bagus dan tidak jauh beda dari Bella.


Kini Leni sudah berada di restoran lebih dulu, bahkan dia datang 30 menit lebih awal dari waktu yang dia janjikan. Berbagai makanan sudah terhidang di atas meja.


" Mana sih kok Vito belum sampai juga."Seru Leni sambil melihat kearah pintu masuk terus menerus.


Namun seketika senyum Leni mengembang sempurna saat melihat sesosok pria yang sedari tadi sudah dia tunggu-tunggu. Vito terlihat masih memakai stelan kerjanya, dengan kemeja maroon yang dia gulung sampai siku. Leni merapikan rambut, baju serta riasannya terlebih dahulu sebelum Vito sampai di tempatnya.


" Maaf ma, Vito terlambat. Tadi di kantor ada pekerjaan yang masih harus Vito kerjakan."Seru Vito saat sudah duduk tepat dihadapan Leni.


" Oh tidak apa-apa Vito, mama juga belum lama kok. Ini mama tadi sudah pesan makanan, kita langsung makan saja ya. Jangan menunda-nunda makan nanti kamu sakit loh, kalau kamu sakit kan kamu yang repot. Tidak ada istri yang merawat kamu." Seru Leni dengan lembut seraya mengambil piring yang ada di hadapan Vito dan mengisinya dengan nasi dan berbagai lauk dan sayur.


* Kenapa mama malam ini terlihat sangat berbeda, terlihat menggoda. Mama lebih cantik dan menggemaskan. Jika seperti ini siapa saja pasti tidak menahannya. Sadar Vito, jangan sampai kamu mengulangi hal bodoh itu lagi. Ingat, dia itu mantan mertua kamu.* Gumam Vito dalam hati terus berperang dengan akal sehatnya.

__ADS_1


Leni melayani Vito dengan sangat baik, dia tahu jika Vito saat ini sedang memperhatikannya. Dia membiarkan Vito memandanginya sampai Vito tersadar sendiri.


" Emm.. Terima kasih Ma."Seru Vito sedikit canggung.


" Sama-sama sudah sekarang makan dulu."Jawab Leni masih dengan sangat lembut.


Vito tersenyum dan mengangguk, akhir-akhir ini pikiran Vito selalu di penuhi dengan hal-hal yang negatif. Tidak tahu kenapa, kejadian malam itu seakan sudah merubah kepribadian Vito.


" Vito, kamu tadi belum pulang kerumah ya?." Tanya Leni di sela-sela makan malamnya.


" Belum Ma, tadi Vito dari kantor langsung kesini. Kalau pulang dulu kelamaan, takutnya sampai rumah nanti malah Vito ketiduran."Ucap Vito sambil terkekeh kecil.


" Oh begitu. Bagaimana perceraian kamu dan Bella?." Tanya Leni pintar mencari topik pembicaraan agar Vito tidak bosan.


" Sudah Vito serahkan semua sama pengacara ma. Sepertinya akan lancar, sebab sidang pertama tadi kami tidak ada yang datang. Semoga saja cepat selesai agar Vito juga terbebas dari Bella."Ucap Vito menjawab dengan serius.


" Setelah resmi bercerai apa kamu tidak mau menikah lagi?." Tanya Leni lagi.


Vito hanya tersenyum saja tanpa menjawab pertanyaan Leni. Dia sendiri tidak tahu apakah dia masih ingin menikah lagi atau tidak, sebab dia seperti trauma dengan pernikaha. Terlebih pernikahan dari perjodohan, semua itu membuat Vito muak.


Mereka makan sambil mengobrol panjang lebar, tanpa terasa malam pun semakin larut. Jam mahal di tangan Leni sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.


" Loh mobil mama mana?." Tanya Vito saat melihat mobil Leni tidak ada di parkiran.


" Mama tadi naik taksi, mobil mama ada di bengkel. Tadi siang mama suruh karyawan untuk servise tidak tahunya besok siang baru selesainya. Sudah kamu pulang saja, mama ini mau pesan taksi online kok." Seru Leni dengan pura-pura mengutak atik ponsel nya beralasan memesan taksi online.


" Vito antar saja ma, ini sudah malam mana mungkin Vito tega meninggalkan mama di sini. Anggap saja sebagai ganti karena tadi mama sudah mentraktir Vito makan malam."Seru Vito menawarkan diri untuk mengantar Leni.


" Sudah tidak usah, mama pesan taksi saja. Kamu pasti lelah, arah rumah kita juga tidak searah Vito." Ucap Leni pura-pura menolak padahal dalam hatinya dia bersorak gembira.


Vito tetap memaksa untuk mengantarkan Leni pulang. Dan dengan begitu Leni pun setuju dan ikut dengan mobil Vito. Saat perjalanan pulang mereka tidak saling bicara, Vito fokus dengan setir mobilnya dan Leni fokus dengan degub jantungnya yang berdetak tidak beraturan.


Setelah 35 menit, mobil yang dikendarai Vito sudah sampai di depan gerbang rumah Leni. Terlihat pak satpam dengan sigap membukakan pintu gerbang agar mobil Vito bisa masuk.


" Sudah sampai ya, emm Vito tidak mau mampir dulu?." Tanya Leni dengan suara m4ndes4h di telinga Vito.


" Emmm iya ma."Jawab Vito gugup akhirnya mengiyakan.


* Huuhhh kenapa aku mengiyakannya? Padahal aku ingin cepat pulang, aku tidak mau hal bodoh itu terjadi lagi. *Gumam Vito dalam hati.


" Ya sudah yuk turun, nanti mama buatkan kopi spesial untuk kamu."Ucap Leni dengan lembut.


" Duduk Vito."Seru Leni meminta Vito duduk di ruang keluarga.


Rumah Leni terlihat sangat sepi, tidak ada pembantu satupun yang terlihat. Hanya ada pak Satpam yang berjaga di depan sana. Bik Lastri yang biasanya bekerja pun terlihat tidak ada, bik Lastri sendiri saat ini memang tidak ada di rumah. Dari pagi dia meminta izin untuk pulang kampung karena kangen dengan keluarganya.


" Silahkan minum, Vito." Seru Leni meletakkan secangkir kopi di meja.


" Terima kasih ma." Jawab Vito cepat.


Leni menjatuhkan bobot tubuhnya di samping Vito, dia duduk dengan kaki menyilang sehingga membuat paha putihnya terekspose sempurna. Dan itu tidak luput dari pandangan Vito, Vito hanya bisa menelan salivanya sendiri melihat pemandangan paha mulus itu.


" Bibik kok tidak ada Ma?." Tanya Vito berbasa-basi.


" Bibik tadi pagi pulang kampung, katanya kangen sama keluarganya." Ucap Leni dengan menampilkan wajah sedihnya.


" Mama, kenapa kok sedih begitu?." Tanya Vito.


" Mama ingat dengan keluarga mama Vito. Tapi mereka sudah tidak ada semua, orang tua mama sudah meninggalkan. Mama hanya punya 1 orang kakak laki-laki dan sekarang dia tinggal di luar negeri. Di kota ini mama hanya punya Bella dan Baskoro, tapi kenyataannya mereka berkhianat.Hiikkss Hikkkss"Seru Leni lalu menangis sesunggukan.


Vito tidak tega melihat Leni yang menangis seperti itu, Vito pun meraih tangan Leni dan menggenggamnya untuk memberikan suportnya.


" Mama tidak sendiri, ada Vito disini. Mama boleh menganggap Vito anak mama sendiri. Jika mama ada apa-apa mama bisa hubungi Vito."Seru Vito serius.


" Terima kasih Vito."Ucap Leni langsung menghambur dalam pelukan Vito.


Awalnya Vito hanya diam saja dan tidak membalas pelukan Leni. Namun tangisan Leni semakin sesunggukan sehingga tangan Viti pun memeluk Leni dengan mengusap punggung Leni dengan begitu lembut sehingga Leni merasa nyaman dalam pelukan Vito.


" Ma, sepertinya sudah malam. Vito pulang dulu ya ma, terima kasih atas traktiran makan malamnya. Kopi mama ini juga enak banget loh, Vito suka kopi buatan mama."Seru Vito sambil melepaskan pelukannya.


" Kalau kamu suka, kamu boleh main kerumah mama. Nanti mama buatkan kopi buat kamu." Seru Leni sambil mengusap air matanya.


Tidak tahu keberanian dari mana, tiba-tiba Vito juga ikut mengusap air mata Leni. Leni yang melihat itupun terpaku, dia terus memandangi wajah Vito dengan intens.


" Vito, mama sayang kamu." Seru Leni mengakui jika dia menyayangi Vito.


Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Leni pun kembali memeluk Vito dan mendekapnya dengan erat. Vito bingung dan serba salah harus bagaimana, dia takut setan menguasai hasratnya lagi. Apalagi saat ini mereka hanya didalam rumah berdua saja.

__ADS_1


Vito merasakan dua benda kenyal semakin menghimpitnya, dia memejamkan matanya untuk menjaga kewarasannya agar tidak terjadi hal bodoh lagi.


" Ma, emm itunya mama semakin menempel."Seru Vito gugup.


" Apa? Ini, bukannya kamu sudah pernah merasakan dua benda kenyal ini? Masa iya cuma menempel saja kamu sudah panas dingin. Kamu boleh memegangnya kok. Sudah pegang saja tidak perlu malu atau ragu-ragu. Cuma megang saja tidak ada yang melarang." Ucap Leni sengaja menggoda Vito.


" Em tidak ma."Jawab Vito singkat.


Namun tanpa di duga Leni mengambil kedua tangan Vito dan meletakkannya di dua benda kenyal itu. Awalnya Vito kaget dengan tindakan Leni, namun lama-lama Vito memberanikan tangannya untuk m3r3m4s dua benda kenyal itu.


Leni tersenyum penuh kemenangan, dia berhasil menggoda Vito. Leni sendiri merasakan r3m4s4n tangan Vito semakin kuat sehingga menciptakan sensasi lain pada tubuh Leni.


Leni tidak menyia-nyiakan kesempatan, dia pun mendaratkan cium4n mesra di bibir Vito. Tangan Vito bekerja, dan bibir Leni juga bekerja. Leni meny3s4p bibir Vito dengan penuh g4ir4h dan itu berhasil membangkitkan g4ir4h Vito yang sedari tadi dia tahan. Mereka berdua sudah saling berbagi saliva dan suara kecapan mereka bersahut-sahutan.


" Vito mama mencintaimu."Seru Leni saat cium4n mereka lepas.


Vito tidak menghiraukan ucapan Leni, kini mata dan telinganya sudah di tutup oleh g4ir4h kabut hitam. Yang ada difikirannya saat ini hanya n4fsu dan kenikmatan saja. Tangan Vito tetap berpegang pada dua benda kenyal milik Leni, dan mulutnya sudah menyusuri leher Leni.


" Aahhh... " D3s4h4n itu lolos juga dari mulut Leni membuat Vito semakin bersemangat dan berg4ir4h.


* Aku tidak perduli kamu itu mantan mertuaku, karena kamu duluan yang sudah menggodaku dan kamu harus bertanggung jawab. Kucing mana yang dikasih ikan menolak, jadi jangan salahkan aku ma. Aku tidak akan seperti ini jika kamu tidak menggodaku, maafkan aku jika malam ini mama kembali menjadi pelampiasan hasratku saja. Vito tidak mungkin membalas cinta, mama.*Gumam Vito dalam hati.


Mereka saat ini masih ada di ruang keluarga dan duduk di sofa. Tidak akan satu orangpun yang melihat kegiatan panas mereka, pintu depan pu sudah Leni kunci dari tadi. Vito menurunkan dress tanpa lengan yang di pakai oleh Leni, hanya sekali tarik dress itu sudah berada di lantai. Kini Leni hanya memakai dua benda penutup area sensitifnya saja.


Vito kembali mencium Leni dan tangan Vito tidak tinggal diam, dia mencari pengait bra dan berhasil melepasnya. Leni kini bagian atas sudah polos, tinggal segitiga merah berenda yang masih melekat.


" Vito, mama sangat mencintaimu. Vito aahhh."Seru Leni saat Vito m3nyes4p kedua benda kenyal yang besar itu secara bergantian.


Tangan Leni melepas kancing-kancing baju Vito, kemeja Vito kini sudah berada di lantai. Setelah itu Leni mencoba melepaskan ikat pinggang Vito, Vito sendiri masih sibuk dengan aktifitasnya sendiri.


" Celananya turunin Vito, mama susah melepaskannya."Seru Leni yang kesusahan melepas celana panjang Vito.


" Sabar ma."Seru Vito.


Vito langsung melepasnya dan membuangnya sembarang arah. Begitupun dengan segitiga bagian dalamnya sudah dia tanggalkan. Dengan sempurna kali ini Leni melihat milik Vito yang sudah tegak lurus siap untuk bertempur. Vito yang sudah tidak sabar lagi, dia melepaskan segitigs berenda itu dengan posisi Leni yang sudah tiduran di Sofa.


" Mama, apa mama tidak akan menyesal melakukan ini yang ke dua kalinya bersama Vito?."Tanya Vito.


" Mama tidak akan menyesal, justru mama sangat menginginkannya."Seru Leni dengan senyum penuh keyakinan.


Vito sudah tidak ragu lagi, dia pun mengarahkan pusaka itu di depan wajah Leni. Dengan sigap Leni melahap pusaka itu sampai ke akar-akarnya. Pertama kali bagi Leni, dia terinspirasi dari video Bella dan Baskoro.


" Ahhh... Ini enak sekali Leni."Seru Vito menyerukan suara Leni.


" Terus Leni, terus.. Aahhh ini sangat nikmat sekali. Aku sangat menyukai ini Leni. Terus jangan di lepas sebelum aku sampai puncak." Seru Vito meracau tidak karuan.


Leni tetap memainkan dan memakan sosis uratnya itu dengan lahap.


Arrrggghhhhh


Vito akhirnya sampai pada puncaknya, dan semua itu terjadi saat masih ada dalam mulut Leni. Leni sangat menyukainya, begitupun dengan Vito.


" Mama sangat hebat."Seru Vito memuji kelihaian Leni melayani Vito.


Leni dan Vito kembali melakukan olah raganya meskipun hanya di sofa tidak membuat mereka kesusahan. Kini sudah bergantian Vito yang bekerja, Vito sudah memasuki lembah yang sudah basah itu. Leni terus m3nd3s4h menikmati pergerakan Vito.


" Vito sayang, ahh mama sangat mencintai kamu. Lakukan terus Vito, sebab mama tidak akan mungkin bisa hamil lagi. Aahh Vitooo..."Seru Leni yang sudah sampai puncak permainannya.


Malam itu Leni dan Vito sudah seperti sepasang pengantin baru saja. Mereka melakukannya tanpa henti dan tanpa lelah, bahkan mereka pun sempat pindah kekamar Leni dengan Vito menggendong Leni.


" Terima kasih Vito."Seru Leni memeluk Vito dengan erat.


" Sama-sama Ma. Emm Ma, apa mama tidak takut hamil? Jika hamil Vito tidak mau tanggung jawab, pokoknya Vito tidak mau. Sebab ini semua terjadi karena mama yang memulainya, Vito tidak sanggup menahan godaan dari mama."Ucap Vito bicara dengan jujur.


" Mama tidak akan hamil Vito. Mama sudah tidak mungkin hamil lagi, sebab mama sudah steril karena ada infeksi pada rahim yang mengakibatkan kerusakan rahim jadi dokter menyarankan mama untuk steril. Dan itu terjadi sudah lama, saat mama baru melahirkan Bella." Jawab Leni dengan sungguh-sungguh.


* Anggap saja ini balasan karena mama sudah merebut suami orang dan membuat hidup wanita yang aku cintai menderita. Aku tidak akan pernah membalas cinta mama, lagi pula ini semua maunya mama. Mama nikmati saja.*Gumam Vito dalam hati.


" Mama minta kamu rahasiakan ini semua ya, Vito."Seru Leni.


" Ok. Sudah ya, Vito mau bersih-bersih dulu. Mama tolong ambilkan baju Vito yang ada di ruang keluarga. Setelah mandi Vito harus pulang, Vito tidak mau menginap."Ucap Vito terdengar tegas.


Leni hanya mengangguk dengan patuh, diapu turun ke lantai satu dengan hanya mengenakan lingerie transparan. Malam ini senyum Leni cerah mengembang, sebab dia dan Vito bisa mengulang kejadian malam itu.


**********


Yang minta Bab Leni dan Vito, ini sudah ya. Yang tidak suka tolong di Skip saja 🙏🙏😘😘

__ADS_1


Tinggalkan komen yang bijak 😘😘😘


__ADS_2