
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Langkah kaki Nia dan kedua temannya mendekat kearah mobil mereka masing-masing, Berta dan Rindi mendekat ke mobil Berta. Namun saat Nia sudah sampai di samping mobil mewahnya, tiba-tiba suara menggelegar Sabita mengagetkan Nia.
" Jangan dekat-dekat mobil ku !!!."Teriak Sabita dengan lantang sampai urat-urat dilehernya tercetak dengan jelas.
Nia, Berta dan Rindi saling beradu pandangan lalu mereka mengulas senyum. Mereka baru menyadari jika mobil yang sedari tadi dibahas di reuni tadi adalah mobil Nia. Nia dengan santainya justru bersandar di mobil itu, membuat Sabita dan kedua temannya Maya dan Noni ikut marah.
" Ehh Nia !! Awas loh kalau rusak kamu tidak bisa menggantinya. Gaji kamu 3 bulan saja belum tentu bisa untuk membenarkan mobil itu jika tergores."Seru Noni dengan senyum sinisnya.
" Dokter baru saja sudah sok. Kamu iri dengan Sabita karena dia punya mobil keren dan mewah itu? Lagian orang miskin seperti kamu mau beli mobil? Beli motor saja tunggu dapat gaji dulu, sudah sana menjauh dari mobilnya Sabita."Seru Maya dengan ketus.
Nia tidak menyangka jika teman-temannya itu masih saja seperti dulu. Sama sekali tidak berubah, justru mereka semakin menjadi-jadi. Tidak tahu malu, mengakui barang yang bukan miliknya.
" Kamu yakin ini milik Sabita? Oh iya kalian semua yakin ini mobil milik Sabita?."Tanya Nia dengan mengedarkan pandangannya kearah teman-temannya yang lain.
Nia sudah tidak bisa terus-terusan diam lagi, jika dengan mengatakan siapa dia yang sesungguhnya bisa membungkam teman-temannya itu akan dia lakukan. Ternyata benar, dengan uanglah kita akan dihargai. Namun tidak semua orang memandang seperti itu. Diluaran sana banyak orang-orang baik dan tulus dalam bergaul tanpa memandang uang dan kasta.
" Terus kalau bukan punya Sabita, punya siapa? Punya kamu? Jangan MIMPI !!."Seru Mayang dengan menggebu-gebu.
" Mobil itu memang miliki. Bukannya sudah ku bilang kalau itu hadiah ulang tahun dari papaku. Jadi apalagi yang membuat kamu ragu, Nia?."Tanya Sabita yang saat ini sudah berada persis didepan Nia.
__ADS_1
" Kalau ini mobil kamu mana kuncinya? Coba dong lihat, biar kami yakin. Dan semua teman-teman yang ada disini juga yakin. Dengan begitu, Nia nanti bisa menjauh dari mobil kamu." Ucap Berta ikut mendekat dan kini ada di samping Nia begitupun dengan Rindi.
Berta dan Rindi seakan menjadi penjaga untuk Nia, mereka sebenarnya hanya khawatir jika Sabita and the gank nya menyakiti atau melukai Nia seperti dulu saat masa mereka sekolah. Seujung kukupun mereka tidak akan membiarkan Sabita dan dua temannya melukai Nia, apalagi Nia saat ini sedang hamil. Jika sampai terjadi sesuatu dengan Nia, sudah pasti David akan mengamuk dengan mereka berdua. Sebab merekalah yang sudah mengajak Nia berangkat ke acara reuni SMA itu.
" Kuncinya ada sama papa ku. Soalnya tadi dipakai papaku, sebentar aku telepon papaku dulu."Seru Sabita dengan sangat percaya dirinya dia menghubungi papanya dan tetap mengira itu mobil dari papanya.
Sampai dua kali panggilan papanya tidak mengangkat teleponnya membuat Sabita menjadi kesal. Pasalnya kunci mobil itu dia memang tidak tahu, dia mengira ada sama papanya.
" Bagaimana? Masih belum di angkat juga? Mungkin papa kamu masih sibuk."Seru Nia sudah mulai malas menghadapi Sabita dan temannya.
" Awas minggir, aku mau pulang."Seru Nia meminta Sabita untuk minggir sebab dia mau masuk ke mobil.
" Kalau pulang ya tinggal pulang saja, tidak perlu menyuruh aku menjauh !! Sana, itu mobil Berta ada disana dan untuk apa kamu justru disini. Dasar aneh."Ucap Sabita dengan kesal.
" Hemmm.. Baiklah, begini saja Sabita yang terhormat. Aku ini mau pulang dan aku mau masuk ke mobil ku, tapi kamu justru menghalangi pintu mobil ku. Sekarang aku minta sama kamu, menjauhlah."Seru Nia dengan mengepalkan tangan kirinya.
Sabita, Maya dan Noni tertawa dengan sangat lebar. Mungkin saja perut mereka sampai sakit tertawa seperti itu. Namun teman-teman yang lainnya tidak ada yang tertawa, justru mereka hanya bengong melihat ketiga orang yang tertawa itu.
" Sepertinya Nia sudah gila, Guys. Bisa-bisanya dia mengakui ini mobil dia, jika ini mobil dia aku berani sujud di kakinya."Seru Sabita masih dengan tawanya.
" Kamu betul, Sabita. Kalau memang dia punya mobil seperti ini, kita bertiga akan sujud di kakinya."Seru Maya menyetujui ucapan Sabita.
Cling Cling Cling
Tiba-tiba mobil mewah itu menyala dan atapnya pun terbuka. Hal itu mengagetkan Sabita dan kedua temannya. Mereka belum ada yang tahu jika Nia lah pemegang kunci mobil itu.
" Kok bisa hidup dan terbuka?."Seru Maya heran.
__ADS_1
" Bisa dong, kan aku yang punya kuncinya."Seru Nia sambil menunjukan kunci yang ada di tangan kanannya.
Haaahhhhh !!!
Sabita, Maya dan Noni mulutnya langsung mangap dengan lebar dan mata mereka melotot sempurna.
" Ini mobil ku, bukan mobil mu Sabita dan juga bukan mobil hadiah dari papa kamu. Tapi ini mobilku hadiah dari suamiku, oh iya kalian belum tahu kan kalau aku ini sudah menikah? Aku kasih tahu ya, aku ini sudah menikah dan nama Suamiku itu David Putra Widjaya. Pemilik perusahaan Widjaya Group. Apa sudah jelas? Oh iya, Maya aku tegaskan sama kamu jangan pernah mengaku-ngaku sebagai sekertaris suamiku!!."Seru Nia tegas dan penuh penekanan.
" Cepat kalian sujud sama, Nia. Bukannya tadi kalian sendiri yang bilang jika mau sujud di kaki Nia. Sekarang sudah terbuktikan Nia bisa punya mobil mewah ini."Seru Rindi.
" Tidak perlu, Rin. Aku bukan Tuhan yang harus dia sembah, sudahlah sekarang lebih baik kita pulang saja. Tidak ada gunanya juga kita datang ke acara ini, tahu begitu lebih baik kita shopping saja."Seru Nia.
Sabita dan kedua temannya masih terdiam dan tidak bisa berkutik sedikitpun. Semua bukti dan fakta sudah ada, jadi tidak ada cara mereka untuk menyangkal Nia.
Nia dan kedua temannya pun masuk kemobil dan meninggalkan pekarangan rumah Sabita. Berta dan Rindi bertos ria, mereka senang melihat ketegasan Nia. Dengan begitu Nia tidak akan pernah dihina dan direndahkan lagi oleh Sabita dan yang lainnya.
Tanpa Nia sadari, sebenarnya sedari tadi ada yang memperhatikan dan merekam apa saja yanv terjadi. Orang itu adalah Bram, orang suruhan David yang memang di tugaskan untuk mengawasi Nia saat Nia ada di luar. Dan di mobil Nia sendiri memang sudah ada kamera CCTV modern dan canggih yang bisa langsung di akses David.
" Huhhh malu - malu tuh si biang reseh, Rin."Seru Berta bersorak gembira.
" Kamu benar, Berta. Kata-kata Nia tadi itu pelan tapi monohok sekali. Lihat saja mereka bertiga tidak ada yang berkutik sama sekali, bahkan menatap wajah Nia saja tidak sanggup."Seru Berta senang.
" Sumpah baru kali ini aku merasa senang melihat orang dipermalukan didepan umum. Nia memang keren banget, semoga saja seterusnya Nia itu akan tegas sehingga tidak mudah di hina ataupun dimanfaatkan orang."Seru Rindi penuh harap.
Berta hanya menganggukkan kepalanya, mobilnya terus mengikuti mobil Nia yang ada di depannya. Dari arah jalan, sepertinya Nia akan kerumah ibunya. Berta dan Rindi hanya mengukuti saja dan memastikan Nia tidak apa-apa.
**********
__ADS_1