
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Nia dan Nada saat ini ada dikamar Nada, Nia menemani Nada untuk tidur siang. Sampai sesiang ini Nia sama sekali belum masuk kekamar David. Dari datang tadi mereka berbincang di ruang keluarga, lalu makan siang dan sholat. Setelah itu Nia menemani Nada tidur siang, sehingga dia belum sempat masuk kekamar utama yang ditemlati oleh David.
Setelah 30 menit Nada sudah terlelap, Nia bingung mau kemana. Dia ragu untuk masuk kekamar David, sehingga dia memutuskab untuk tidur siang dikamar Nada saja.
" Lebih baik aku tidur dikamar Nada dulu saja, nanti tinggal beralasan kalau ketiduran. Aku malu kalau harus masuk kekamar nya Tuan David. Mungkin dia juga saat ini sedang istirahat, ditambah semalam memang dia tidurnya tidak nyaman." Ucap Nia pada dirinya sendiri.
Tok Tok Tok
Pintu kamar Nada ada yanv mengetuk, baru saja Nia ingin memejamkan matanya namun ternyata ada seseorang didepan pintu kamar Nada. Nia turun dari ranjang dan membuka pintu kamar Nad, terliht ada mbak Nur yang berdiri didepan kamar Nada.
" Ada apa mbak,Nur?." Tanya Nia dengan ramah dan sopan.
" Maaf Non. Non dipanggil Tuan David dikamarnya. Jika Non Nada sudah tidur, Non disuruh menemui Tuan David dan biar saya yang menemani Non Nada."Jawab mbak Nur dengan sopan.
" Oh baiklah, kebetulan Nada juga sudah tidur. Mbak Nir juga bisa istirahat, jadi biar Nada tidur sendiri saja." Ucap Nia dengan ramah.
Mbak Nur mengangguk patuh dengan yang diperintahkan oleh Nia. Nia sekarang sudah menjadi majikannya, Nia juga ramah dab sopan sehingga mbak Nur sendiri yang justru canggung dan tidak enak. Mbak Nur salah satu orang yang setuju dan mendukung Nia menjadi mama untuk Nada. Sebagai pengasuh yang sudah profesional dia tahu mana orang yang tulus kepada anak dan mana orang yang hanya nodus.
Mbak Nur melihat ketulusan itu ada dalam diri Nia, sejak pertama Nia datang kerumah utama.
Setelah mbak Nur pergi, Nia menutup pintu kamar Nada dan melangkahkan kakinya menuju kamar David yang ada di lantai dua. Nia menapaki anak tangga satu persatu dengan jantung yang terus berdebar - debar.
__ADS_1
* Kenapa aku grogi begini sih? Bukannya Tuan David itu memang sekarang sudah sah menjadi suamiku. Semalam saja saat tidur satu kamar aku tidak seperti ini. Tetapi kenapa justru saat ini mau menuju kamarnya saja aku grogi dan gugup seperti ini, seolah-olah Tuan David akan memakanku sekarang.*Gumam Nia sembari terus manapaki anak tangga.
Nia sampai di depan kamar David, namun dia masih saja mematung di depan pintu. Dia gugup mau masuk ke kamar David. Sedangkan di dalam kamarnya, David yang menunggu kedatangannya sudah tidak sabar lagi, dengan buru-buru dia membuka pintu tanpa melihat adanya Nia didepan kamarnya sehingga membuat David menabrak Nia.
Brrukkkk
Nia hampir saja jatuh terjerumus kelantai, beruntung David sigap langsung membungkuk dan menangkap Nia sehingga Nia tidak sampai mencium lantai. Nia ada dalam pegangan David dengan tubuh David sedikit membungkuk. Mata mereka saling beradu, mereka cukup lama dalam posisi itu.
* Sabar dulu David jangan asal nyosor. Nanti dia justru takut sama kamu. Lagipula kamu jangan terlalu over menunjukan jika kamu menginginkannya. Jaga wibawa kamu didepan istri baru kamu. Kamu juga belum tahu dia mencintai kamu atau tidal.* Gumam David dalam batinnya.
David pelan- pelan melepaskan Nia dan kembali lagi masuk kamar sebab orang yang dia tunggu sudah ada dihadapannya. Jantung mereka berdua sedang tidak baik - baik saja, sedari tadi madih saja jedag jedug tidak karuan.
" Tuan David memanggil saya?."Tanya Nia dengan sopan.
" Tuan, tuan ! Aku ini suami kamu." Sentak David dengan keras.
Nia terkejut dan kagrt dengan bentakan David tadi, beruntung tidak punya riwayat sakit jantung. Nia benar - benar sifat arogan David.
" Wah berani juga kamu bicara keras di hadapanku seperti ini?."Seru David sembari tersenyum mengejek kearah Nia.
" Sudah cepat bicara saja. Tadi tuan menyuruhku datang ke sini untuk apa? Maaf aku tidak terbiasa memanggil tuan dengan panggilan lain, untuk sementara mungkin aku akan memanggil anda tuan David, sampai aku menemukan panggilan yang cocok untuk anda."Ucap Nia dengan kesal.
David memandang jengah kearah Nia, tiba - tiba mood nya hilang karena Nia berani dengan nya. Nia duduk di sofa yang ada di kamar David yang lebar seperti lapangan sepal bola. David tadi memanggil Nia karena ingin menyuruh Nia untuk mengemas beberapa pakaiannya untuk di bawa kerumah yang akan mereka tempati.
David dan Nia sama - sama diam dan sibuk dengan fikirannya sendiri. Saat ini Nia sebenarnya masih sangat gugup dan canggung menghadapi David.
" Sudahlah mood ku tiba-tiba buruk karena kamu. Dadar wanita tidak sopan, sama suami berani bicara kasar."Seru David justru memilih keluar dari kamarnya.
" Dasar pria tidak jelas ! Dia yang memintaku untuk datang kesini tapi kenapa justru dia keluar dari kamar. Sudahlah terserah dia saja, lebih baik aku istirahat saja dikamar ini. Besok sepertinya aku akan kembali kerumah sakit. Aku sudah rindu suasana rumah sakit, 3 hari aku cuti pasti mbak Kesa bertanya-tanya kenapa aku cuti. Pokoknya harus sabar - sabar menghadapi David si arogan itu." Ucap Nia lalu merebahkan tubuhnya di sofa yang ada di kamar David.
__ADS_1
Tidak memerlukan waktu lama, Nia sudah terlelap dan mendengkur halus. Sedangkan David saat ini ada diruangan kerjanya, menyibukkan dirinya dengan beberapa berkas yang harus dia periksa dan tanda tangani.
**********
Saat ini di salah satu toko jasa pembuatan undangan, Bella dan Hesti sedang memilih model undangn yang cocok untuk pernikannya Bella dan Vito. Urusan pernikahan Vito sama sekali tidak mau ikut campur dan menyerahkan semuanya kepada Bella dan Hesti.
" Ini saja bagaimana, Ma?." Seru Bella menunjukkan contoh undangan yang berwana gold terlihat mewah dan elegant. Bentuk dan desain nya juga sangat bagus, Bella tidak peduli meskipun undangan itu mahal yang penting pestanya harus sangat - sangat mewah dan undangannya pun harus mewah.
" Iya ini bagus. Kamu memang pintar sekali memilihnya sayang. Benar - benar wanita yang elegant dan berkelas. Mama sangat beruntung mempunyai menantu seperti kamu, Bella.Seru Hesti memuji dan bangga terhadap Bella.
" Iya dong ma. Pokoknya mama ini tidak salah menjadikan aku sebagai menantu. Sudah baik, cantik, berkelas dan tentunya selevel dengan Vito dan keluarganya. Aku tidak bisa membayangkan jika Vito tetap bersama wanita kampung itu, duhh pasti mama dan keluarga besar akan malu memiliki menantu miskin dan kampungan itu." Seru Bella masih saja mencibir dan menghina Nia.
Hesti membenarkan apa saja yang sudah dikatakan Bella. Sampai kapanpun Hesti tidak akan memberikan restunya jika Vito menikah dengan Nia.
" Kata Vito dia mau menikah juga loh, Bel. Mama jadi penasaran seperti apa calon suaminya. Bisa saja seorang OB ditempat dia bekerja atau pria miskin yang masih tinggal satu daerah sama dia. Kasihan banget ya hidupnya, setelah pisah dari Vito dapatnya justru suami yang sebanding dengan level nya.
Hahahahaaaaa
Bella dan Hesti tertawa lepas, sampai orang - orang yang ada disekitrnya memandang kearah mereka. Bella dan Hesti tidak peduli, mereka berdua merasa jika mereka orang kaya dan pelanggan VIP yang mempunyai kebebasan di toko itu.
" Jadi ini ya pilihan Non Bella dan Nyonya Hesti?." Tanya sang karyawan mencoba menghentikan tawa Hesti dan Bella.
" Heeemmm aku mau undangan itu sebanyak 1000 pcs. Untuk harga aku ikut harga yang kamu berikan, tidak level aku kalau harus tawar menawar. Iya kan ma?." Seru Bella meminta persetujuan calon mama mertuanya.
" Iya sayang kamu betul. Setelah ini kita kebutik ya, kita pesan baju pengantin di butik langganan mama. Disana bagus - bagus dan mahal, tentunya bajunya juga berkelas dong sayang." Jawab Hesti semakin menyombongkan diri.
Karyawan toko yang sedari tadi menyimak apa saja yang dibicarakan oleh Hesti dan Bella, ingin rasanya dia segera mengusir mereka berdua. Namun apalah daya dua manusia yang saat ini ada dihadapannya adalah pelanggan VIP.
Selesai dengan urusan undangan, kini Bella mengendarai mobilnya menunggu butik yang dimaksud oleh calon mama mertuanya. Setelah menempuh perjalanan 30 menit, mobil yang dikendarai Bella sudah sampai didepan butik terbesar dikota itu. Hesti mengajak Bella untuk segera masuk ke butik menemui sang owner butiknya langsung, Hesti sudah membuat janji dengan sang owner secara langsung.
__ADS_1
***********