Dokter Penakluk Duda Arogant

Dokter Penakluk Duda Arogant
Bertemu calon mertua


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Niat hati ingin mempermalukan Miska justru dia sendiri yang di permalukan. Setiap kejahatan pasti akan ada balasannya. Seperti yang di lakukan oleh dokter Sari, kejahatannya dibayar kontan oleh Miska. Miska sudah tidak bisa mentolerir lagi kesalahan Dokter Sari, apalagi dia sudah membawa-bawa rumah tangga kakaknya. Meskipun dirinya yang di permalukan, tapi awalnya nama dan rumah tangga David yang dia seret.


Nia pun tidak membenarkan apa yang sudah di lakukan dokter Sari. Nia menyerahkan semuanya kepada Miska, apapun yang ingin di lakukan Miska dia akan mendukungnya.


" Mulai hari ini, Anda di PECAT !!!."Seru Miska dengan lantang.


Haahhh? Di pecat?


Dokter Sari tidak mau di pecat, dia tidak terima Miska memecatnya. Menurutnya ini hanya salah paham dan jika dia tahu siapa Miska, masalah seperti ini tidak akan terjadi. Dia menganggap ini bukan sepenuhnya salahnya.


" Aku tidak mau dipecat. Ini juga bukan sepenuhnya kesalahan ku. Anda yang dengan sengaja menutup identitas anda, jadi jangan salahkan saya. Seandainya saya tahu jika anda adik kandung dari Tuan David masalah ini tidak akan terjadi."Ucap dokter Sari membela diri dengan mudahnya tanpa mau menyadari kesalahan yang sudah dia perbuat.


" Tidak ada alasan apapun untuk membela diri. Sekali pecat tetap pecat !! Lagipula memangnya apa urusan anda? Saya mau menutup identitas saya itu bukan urusan anda, memang dari dulu saya begini dan baru kali ini saja masalah seperti ini terjadi. Pada dasarnya anda memag berprilaku buruk, anda iri dengan jabatan saya dan attitude anda itu terlalu rendah."Seru Miska sudah tidak bisa lagi untuk memberikan kesempatan kedua Dokter Sari.


" Miska, sudah. Sekarang kita kembali ke ruangan kita masing-masing. Kak Kesa tolong bayar dulu ya makanan kita, nanti aku ganti. Aku bawa Miska ke ruangannya dulu."Seru Nia bijak.


" Siap "Jawab Kesa dengan singkat.


Nia menarik tangan Miska menjauh dari dokter Sari. Nia tidak mau terjadi keributan yang semakin parah lagi, jika sampai suaminya dengar sudah pasti dia akan marah besar dan karier dokter Sari akan hancur, bahkan rumah sakit manapun tidak akan ada yang mau menerimanya.


Dokter Sari terdiam, dia masih berfikir mencari cara agar dia tidak di pecat. Dokter Sari pun pergi dari kantin dengan membawa rasa kecewa dan malunya. Niat mempermalukan, justru dirinya yang malu. Sorakan dari para pengunjung kantinpun bergemuruh mengiringi langkah kaki dokter Sari.


Sementara itu di ruangan Miska, dia terus saja menggerutu. Ingin rasanya tadi dia menampar mulut kurangajar dokter Sari, tapi dia sadar betul jika itu di tempat umum yang tentunya justru akan membuat nama baiknya ikut jelek.


" Miska, kendalikan amarah dan emosi kamu. Ingat ini di rumah sakit, jangan sampai orang-orang menilai rumah sakit kita ini buruk karena masalah ini. Kamu lihatkan, di sana tadi banyak orang luar."Seru Nia menasehati adik iparnya.


" Iya kak. Tapi aku tidak habis fikir sama dokter gila itu. Dia tadi itu memang berniat untuk mempermalukan aku tapi justru semua itu berbalik kepada dia."Ucap Miska dengan nafasnya yang masih tersengal-sengal.


" Kendalikan emosi kamu. Kakak mau kembali keruang praktek lagi, ini sudah waktu nya bekerja lagi."Ucap Nia.


" Iya kak."Jawab Miska dengan pelan.


Setelah Nia keluar dari ruangannya, Miska masih saja menggerutu. Keputusannya memecat dokter Sari adalah pilihan yang tepat, dokter Sari tidak pantas menjadi bagian dari rumah sakit milik keluarga Widjaya.


" Dokter Miska. Tolong jangan pecat saya, saya mohon maafkan saya."Ucap dokter Sari yang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu.


" Apa anda tidak punya sopan santun lagi? Masuk tanpa permisi lagi, tidak salah jika aku memecatmu karena kamu terlalu arogan dan tidak punya sopan. Silahkan keluar dari ruangan ku, aku sudah memecat mu."Seru Miska amarahnya kembali menggemu lagi.


" Saya seperti ini juga karena dokter Miska yang seenaknya saja. Kalau dokter tidak memecatku secara sepihak aku masih bisa bersikap sopan. Jangan mentang-mentang anda seorang direktur di rumah sakit ini, terus anda mau seenaknya saja asal pecat !! Aku disini juga punya saham, apa anda lupa?." Seru Dokter Sari bicara dengan amarah yang tidak terkendali.

__ADS_1


" Saham ? Memangnya sejak kapan kamu punya saham disini? Setahu aku saham 15 persen itu atas nama ayah mu, bukan nama mu. Jadi kamu tidak ada hak apapun disini."Ucap Miska sudah menyebut dokter Sari dengan panggilan kamu.


Saham 15 persen yang dimiliki oleh ayah dokter Sari sebentar lagi akan kembali menjadi milik keluarga Widjaya. Seban ayah dokter Sari sudah mengembalikannya dari seminggu yang lalu, dia tidak mau dengan adanya saham itu membuat dokter Sari bersikap seenaknya di rumah sakit. Terlebih saat Miska menggantikan pak Irawan, dokter Sari terus meminta papanya untuk memprotes keputusan pak Irawan.


" Tapi setahu aku saham itu sudah dikembalikan oleh ayah mu dari seminggu yang lalu. Tapi tidak dikembalikan secara cuma-cuma juga sih, karena aku membeli saham itu. Sekarang apa lagi yang mau anda banggakan? Salah besar kamu jika mau bersaing dengan ku."Seru Miska penuh penekanan.


* Si4l4n !! Jadi papa sudah menjual saham itu ? Papa bodoh !! Kenapa juga papa mengembalikannya, jika begini aku tidak ada kekuatan lagi di rumah sakit ini? Huuuhhh papa memang menyebalkan.*Gumam dokter Sari dalam hatinya.


" Tunggu saja pembalasan ku, Miska !!." Seru dokter Sari dengan kesal.


Brraaakkkk


Dia keluar dari ruangan Miska dengan emosi sampai membanting pintu ruangan Miska dengan cukup keras.


" Dasar gila." Seru Miska.


*******


Sore hari, sepulang Rindi kerja Vito menjemputnya. Dia membawa Rindi untuk dikenalkan dengan orang tuanya, Rindi sangat gugup saat mobil sudah memasuki halaman rumah orang tua Vito.


" Ayok Rin turun."Seru Vito.


" Aku takut."Jawab Rindi dengan gugup.


Hahaaaa


" Sudah tidak perlu takut Rindi, orang tuaku tidak mungkin akan memakan mu. Mereka sama-sama makan nasi seperti kamu juga loh."Ucap Vito sambil tertkekeh.


" Apaan sih."Seru Rindi dengan bibir mengerucut.


" Sudah yuk ah turun. Mama dan papa pasti sudah menunggu mu. Soalnya tadi aku sudah bilang kalau calon menantu mau datang."Seru Vito.


Dengan j4ntung yang dag dig dug, Rindi akhirnya turun dari mobil. Rindi dan Vito masuk kerumah, seakan tahu rasa gugup yang dirasakan oleh sang kekasih, Vito terus menggenggam tangan Rindi meskipun mereka sudah ada didalam rumah.


" Assalamualaikum, Mama Papa. Vito datang membawa calon menantu."Seru Vito terlihat sekali raut wajah bahagianya.


" Waalaikumsalam. Kalian sudah datang?." Seru Hesti menerima kedatangan Vito dan Rindi dengan hangat.


Rindi menyalami kedua orang tua Vito dengan sopan. Meskipun dia gugup, dia mencoba menepis rasa gugupnya.


" Silahkan duduk."Seru Hesti dengan ramah.


" Terima kasih Tante."Jawab Rindi sambil tersenyum.


Mereka berempat kini duduk di sofa ruang keluarga. Rindi masih nampak malu-malu, apalagi keluarga Vito terlihat sekali dari keluarga kaya. Beda dengan dirinya yang dari keluarga sederhana.


* Menurut cerita Nia dulu, mama nya Vito yang tidak setuju dengan hubungan mereka karena Nia hanya dari kalangan orang miskin. Apa aku juga akan mendapatkan perlakuan seperti yang di dapat Nia dulu.*Gumam Rindi dalam hatinya.

__ADS_1


" Nak Rindi bekerja dimana?." Tanya Hesti dengan lembut sama sekali tidak nampak sikap juteknya.


" Di Bank XX tante."Jawab Rindi masih terlihat gugup.


" Oh bekerja di bank. Kok jawabnya gugup seperti itu sih, tidak usah guguk nak Rindi."Seru Hesti membuat Rindi semakin malu.


" Nak Rindi, tidak perlu gugup atau malu seperti itu. Kalian inikan sebentar lagi menikah dan kita akan menjadi keluarga. Kapan kami boleh kerumah nak Rindi untuk melamar nak Rindi?."Tanya pak Sigit.


Glleeekkk


Rindi menelan salivanya sendiri. Tidak menyangka jika ayahnya Vito akan bicara to the point seperti ini. Hesti juga nampak setuju-setuju saja dengan yang dikatakan oleh suaminya.


" Mama dan Papa, merestui hubungan kami?."Tanya Vito dengan mata berbinar.


" Tidak ada alasan untuk kami tidak merestui hubungan kalian. Kamu berhak bahagia Vito, kamu itu anak kami satu-satunya dan kebahagiaan kamu adalah kebahagiaan kami juga. Kamu berhak menentukan pilihan kamu, mama tidak akan melarang dan ikut campur lagi. Mama menyesal selama ini sudah ikut campur dalam urusan pribadi kamu. Jika memang kalian siap, besok juga mama dan papa akan melamar Rindi untuk mu."Ucap Hesti dengan mata yang berkaca-kaca.


Hesti sudah menyadari kesalahannya di masalalu. Dan sekarang dia sudah menyerahkan semuanya kepada Vito, pilihan Vito pasti pilihan yang terbaik. Soal harta tidak lagi Hesti permasalahkan, dia mulai sadar jika kebahagiaan tidak selalu dengan uang.


" Mama." Seru Vito menghambur dalam pelukan Hesti.


" Terima kasih, Ma. Rindi pilihan Vito, dia wanita yang baik dan mau menerima segala kekurangan dan masa lalu Vito. Insya Allah Rindi wanita terakhir, dan yang akan menemani Vito sampai Vito menua."Seru Vito sangat terharu dengan keputusan mamanya.


" Aamiin. Semoga kalian bahagia selalu, jadi kapan ini kita bisa datang kerumah Rindi untuk melamarnya?."Tanya Hesti.


" Besok lusa, Ma."Jawab Vito dengan cepat.


Vito sangat bersemangat untuk melamar Rindi, sehingga saat Hesti menanyakan soal lamaran dia langsung menjawab dengan cepat tanpa berbasa-basi lagi.


" Rindi, kasih tahu orang tua kamu jika besok lusa kami akan datang untuk melamarmu."Seru Hesti.


" Iya tante "Jawab Rindi singkst sambil menganggukkan kepalanya.


Rindi hanya menganggukkan kepalanya dengan patuh. Hari pun semakin sore, bahkan sudah mulai gelap, Rindi meminta Vito untuk segera mengantarkannya pulang sebab mereka pergi dengan posisi Rindi yang baru pulang kerja. Rindi tidak mau membuat orang tuanya cemas.


" Nanti aku yang akan bicara sama orang tua mu soal lamaran. "Seru Vito saat di perjalanan mengantar Rindi pulang.


" Iya lebih baik kamu yang bicara sama ayah ku."Jawab Rindi setuju dengan Vito.


Rindi berencana akan menemui Nia terlebih dahulu sebelum Vito resmi melamarnya. Dia ingin memberitahu Nia tentang hubungannya dengan Vito. Rindi tahu Nia tidak akan marah, dia akan mendukung apapun yang Rindi lakukan. Akan tetapi Rindi tetap menjaga perasaan Nia, bagaimanapun Vito mantan pacar Nia dan dia sendiri sahabat karib Nia.


" Aku boleh memberitahu Nia tentang hubungan kita ini?." Tanya Rindi seakan meminta persetujuan Vito.


" Boleh. Memangnya kenapa dengan Nia? Dia itukan hanya mantan ku saja, lagi pula dia juga sudah menikah dan bahagia dengan rumah tangganya."Tanya Vito masih belum paham betul maksud Rindi.


" Nia itu teman karibku, kami sudah seperti saudara. Dan kalian dulu pernah saling mencintai, aku hanya ingin Nia tidak salah paham. Intinya aku juga ingin meminta restu dengan sahabatku."Jawab Rindi.


Vito pun mengangguk dan dia paham dengan apa yang dikatakan oleh Rindi.

__ADS_1


*********


__ADS_2