
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Vito dan Rindi masih ada di cafe menikmati makan siangnya. Namun tidak tahu secara kebetulan apa tidak, tiba-tiba Bella dan mama Leni juga makan di cafe yang sama. Awalnya Bella duluan yang melihat Vito, namun Leni juga melihatnya.
Bella tidak mau menghampiri Vito, karena tidak kuat melihat Vito bersama wanita lain. Berbeda dengan Leni yang dengan santainya melenggang mendekati Vito tanpa memperdulikan Bella.
" Vito."Seru Leni mengagetkan Vito dan Rindi yang sedang menikmati makan siangnya.
Ddeeegghhh
Vito langsung tertegun saat melihat Leni sudah berdiri di dekat meja tempat dia makan. Dan di belakang Leni ada Bella.
" Emm.. tante Leni. Mau makan siang juga, Tan?." Tanya Vito sedikit gugup.
Vito sudah lama sekali tidak bertemu dengan Leni, pertemuannya kali ini membuat Vito teringat lagi dengan peristiwa panas yang pernah mereka lalui.
" Iya, sudah lama ya kita tidak pernah bertemu. Kamu apa kabar?."Tanya Leni sembari mengulurkan tanggannya.
Dengan ragu-ragu, Vito menjabat tangan mantan ibu mertuanya itu. Hanya sekilas, lalu dia melepaskannya.
" Baik tante."Jawab Vito singkat.
* Kenapa juga harus bertemu dengan tante Leni dan Bella sih? Ganggu makan siang ku saja, pasti Rindi juga terganggu dengan kehadiran mereka. Semoga tante Leni tidak bicara yang aneh-aneh yang bisa membuat aku malu.*Gumam Vito dalam hati.
Justru Rindi terlihat menikmati makanannya tanpa ada rasa terganggu sama sekali. Dia hanya ingin cepat menghabiskan makanannya dan bisa cepat kembali ke tempat kerjanya. Bella kini sudah berdiri di samping mamanya dan melirik keberadaan Rindi.
* Apa wanita ini pacarnya Vito? Jadi Vito sudah punya pacar, sudah tidak ada harapan ku untuk kembali dengan Vito. Mungkin memang aku ini tidak pantas untuk Vito.*Gumam Bella dalam hatinya.
" Boleh kami gabung?." Tanya Leni tanpa sungkan.
" Emm boleh."Ucap Vito dengan terpakasa.
Bella dan Leni kini duduk bergabung dengan Vito dan Rindi. Terlihat Leni melirik Rindi yang sama sekali tidak menyapa kedatangannya dan Bella.
" Ini siapa, Vit?."Tanya Leni berbasa-basi dengan mengulas senyum manisnya.
" Ohh.. Ini, ini Rindi tante."Jawab Vito terbata-bata.
" Pacar kamu?." Tanya Leni lagi seperti wartawan bertanya dari ujung sampai ujung.
" Iya, Rindi pacar saya."Seru Vito dengan terpaksa berbohong agar Leni dan Bella tidak mengharapkannya lagi.
Uuhhuukk Uhhhuukk
__ADS_1
Tiba-tiba Rindi batuk-batuk, karena tersedak makanan. Dengan cepat Vito memberikan minuman yang ada di depannya, tanpa Rindi sadari jika minuman yang diberikan Vito adalah minuman Vito.
" Pelan-pelan dong Rin."Seru Vito menasehati Rindi.
" Kalian pasangan yang serasi."Seru Bella setelah sedari tadi dia diam, akhirnya dia mengeluarkan suaranya juga.
" Apa?." Seru Rindi semakin terkejut.
* Si4l banget sih makan siang hari ini. Kenapa juga Vito pakai mengatakan kalau aku ini pacarnya? Siapa juga yang pacarnya, kenal juga cuma syukur kenal. Menyebalkan sekali si Vito ini.*Gumam Rindi dalam hatinya.
Rindi menatap Vito dengan tajam, Vito hanya menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal. Dia tahu pasti saat ini Rindi marah karena kebohongannya yang dia buat.
" Kamu ini apa-apaan sih?."Seru Rindi dengan kesal.
" Ssttt...."Seru Vito sambil mengedipkan matanya.
Hhhuuuffff
Rindi hanya melengos, dia sudah menghabiskan makanannya dan berniat untuk kembali ke tempat kerjanya lagi.
" Aku mau kembali ketempat kerja dulu, emm maaf ya tante tidak bisa berlama-lama."Ucap Rindi mencoba bersikap ramah kepada Leni.
" Kok buru-buru sih, kita belum berkenalan loh. Kita kenalan dulu ya. Kenalkan saya Leni dan ini anak saya, Bella. Bella ini dulu mantan istrinya Vito. Tapi sekarang hanya mantan saja, kamu jangan cemburu ya."Ucap Leni memperkenalkan Bella.
* Ohhh jadi mereka ini mantan istri dan mantan mertuanya Vito, pantas saja sepertinya wajah nya tidak asing ternyata mantan istri Vito. Jadi Vito beneran sudah bercerai dari istrinya. Ehh apaan sih, kenapa aku jadi senang begini.*Gumam Rindi lagi.
" Oh iya silahkan. Maaf ya kami jadi mengganggu makan siang kalian."Seru Bella merasa tidak enak karena sudah mengganggu waktu makan Rindi dan Vito.
Rindi hanya tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya saja. Vito mau menahan Rindi, namun dia tidak punya kuasa. Rindi saat ini pasti marah dengannya, tanpa persetujuan Rindi, Vito sudah berbohong tentang statusnya dengan Rindi.
" Emm Rindi, kamu tidak marah kan?."Tanya Vito pelan namun masih terdengar ditelinga Bella dan Leni.
" Menurut kamu. Sudah aku mau bayar makanannya dulu."Seru Rindi berjalan menuju kasir.
Namun secara cepat Vito mencengkal tangan Rindi. Vito tidak mau Rindi membayar makanannya, dia yang mengajak Rindi untuk makan siang berarti dia juga yang harus membayar.
" Aku yang bayar, aku yang mengajak kamu makan. Maaf untuk yang tadi."Seru Vito dengan serius.
" Terima kasih."Seru Rindi lalu dia keluar dari cafe.
Bella merasa tidak enak karena sudah mengganggu makan siang Vito dan Rindi. Semua gara-gara Leni yang main langsung menghampiri Vito dan Rindi tanpa bicara dulu dengan Bella.
" Ma, sepertinya pacarnya Vito marah. Mama sih pakai asal menghampiri saja, mana mama juga kasih tahu kalau saya ini mantan istrinya Vito. Pasti si Rindi itu cemburu ma, aku jadi tidak enak dengan Vito, Ma."Seru Bella menyalahkan mamanya.
" Hahhh... Iya juga ya Bell. Mama kok tidak kefikiran sampai situ. Aduh bagaimana kalau Rindi marah dan minta putus dari Vito. Tapi bukannya kamu masih mengharapkan Vito, Bell? Bagus dong kalau mereka putus, jadi kamu bisa masuk menggantikan Rindi."Ucap Leni yang sepertinya tadi memang sengaja bicara seperti itu kepada Rindi.
* Mama sebenarnya sakit hati, Bell. Sakit hati melihat Vito sama wanita lain, dihati mama nama Vito seakan sudah terukir dengan sempurna. Tapi mama malu mengakui perasaan ini, mama malu sama kamu.*Gumam Leni dalam hati.
Vito yang baru selesai membayar makanannya pun kembali kemejanya untuk mengambil kunci mobil yang tertinggal. Bella dan Leni masih ada disana, Vito tidak berniat untuk melanjutkan obrolan mereka.
__ADS_1
" Kamu mau pergi juga?." Tanya Leni seolah tidak ingin jika Vito pergi.
" Iya tante, aku harus kembali ke perusahaan."Jawab Vito.
" Emm.. Vito tunggu ! Aku minta maaf ya, gara-gara aku dan mama Rindi jadi marah sama kamu. Pasti dia salah paham, sekali lagi maafkan aku ya. Bila perlu aku temui Rindi dan aku jelaskan sama dia kalau kita ini sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi."Ucap Bella yang benar-benar merasa tidak enak dengan Vito.
Vito melihat perubahan sikap Bella, Bella jadi lebih sopan dan bicaranya pun lembut tidak lagi arogan seperti dulu.
" Tidak perlu, Bella. Rindi tidak marah kok, dia tadi buru-buru karena sudah mau masuk jam kerja. Kalau begitu aku duluan ya, mau balik ke kantor."Seru Vito tetap berusaha ramah dengan Bella.
Vito pun keluar dari cafe dan menghampiri mobilnya yang terparkir di parkiran. Ingin sekali dia kembali menemui Rindi di tempat kerjanya, untuk meminta maaf atas kelancangannya tadi yang sudah mengakuinya sebagai pacarnya.
" Kalau aku temui Rindi sekarang pasti dia sudah kembali bekerja. Hemm.. Lebih baik besok saja saat jam makan siang aku temui dia. Maaf ya Rin, aku tadi memang sengaja bicara seperti itu agar Bella dan mamanya tidak mengharapkan aku lagi."Ucap Vito bermonolog pada dirinya sendiri.
Vito melajukan mobilnya meninggalkan pelataran parkiran cafe.
Sementara itu di tempat kerjanya, Rindi terus menggerutu karena ulah Vito tadi. Bisa-bisanya didepan mantan istriya, mengakui dirinya sebagai pacarnya.
" Dasar manusia gila, siapa juga yang pacarnya? Mengaku-ngaku saja."Gerutu Rindi.
" Kamu ini kenapa sih Rin? Aku perhatikan dari sehabis jam istrirahat tadi kamu menggerutu sendiri? Bukannya tadi habis makan siang sama cowok tampan yang tadi ya."Seru salah satu teman Rindi.
" Apaan sih, Laki-laki seperti itu kok dibilang ganteng? Gantengan juga bokap ku kak, kalau kak Nina mau ambil saja tuh."Seru Rindi sambil cemberut kesal.
" Ngawor kamu itu, aku ini sudah punya tunangan. Masa iya mau sama laki-laki lain, biarpun seperti ini aku tuh setia loh. Tapi ngomong-ngomong kalian cocok loh, kalau misal menikah pasti serasi banget deh. Apa kalian tidak pacaran ya? Pacaran saja loh." Seru Nina sambil terkekeh.
Blussshhh
Wajah Rindi langsung memerah karena malu. Bisa-bisanya Nina bilang jika Rindi dan Vito cocok dan serasi, sama seperti ucapan Leni tadi.
* Masa iya sih aku dan Vito itu cocok dan serasi? Hemm ini orang pada kenapa ya? Perasaan tadi mantan ibu mertua Vito juga bilang jika aku dan Vito serasi? Serasi darimananya?.*Gumam Rindi.
" Jangan banyak mikir, langsung libas saja. Siapa tahu memang jodoh."Ucap Nina lagi-lagi menggoda Rindi.
" Kak Nina ini apaan sih? Dia itu seorang duda loh kak. Mana tadi pas makan ketemu sama mantan istri dan mantan mertuanya. Dan anehnya masa dia bilang kalau aku ini pacarnya, kan si4l4n itu laki."Seru Rindi tanpa sengaja dia menceritakan apa yang tadi terjadi di cafe.
" Wahhh berarti dia ada rasa tuh sama kamu. Sudah pepet terus saja, mana sudah dudakan. Itu mah duren, alias duda keren."Ucap Nina lagi.
Plaaakkk
Rindi langsung memukul pundak Nina karena dia kesal, sedari tadi Nina meminta dia untuk mendekati Vito. Belum tahu saja Nina, jika Rindi itu benci sama Vito.
" Sudah, sudah... Kembali bekerja. Jam istirahat sudah habis, tidak boleh bergosip lagi."Seru Rindi sambil mendorong kursi Nina menjauh dari nya.
Hhhuuuffff
Jangan terlalu membenci seseorang Nina, nanti bisa jatuh cinta juga loh. Cinta juga bisa berawal dari rasa benci, yang lama-lama berubah menjadi cinta.
************
__ADS_1