
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Akhirnya sore itu pun, Nada sudah dibawa pulang oleh David dan Miska. Nia tidak ikut mengantar Nada pulang sampai rumah, karena Nia masih ada urusan lain yang harus segera dia selesaikan. Nada sudah bisa memahami profesi Nia yang sebagai dokter, sehingga tidak bisa terus-menerus menemaninya.
Meskipun begitu, Nia masih tetap menjadi dokter pribadi untuk Nada. Sebab itu semua sudah perintah langsung dari David sang pemilik Rumah Sakit tempat dia bekerja. Atas permintaan Nada lah akhirnya Nia diizinkan datang ke rumah selama 3 kali dalam seminggu. Nia sangat berterima kasih kepada Nada akhirnya karena Nada, David bisa menerima keputuan yang diberikan oleh Dinda.
" Sepertinya aku harus belanja lumayan banyak, karena Rindi malam ini mau main kerumah. Sudah sebulan lebih tidak bertemu dengan Berta dan Rindi. Sayang Berta kuliah diluar negeri, Rindi dapat kerja diluar kota bisa pulang juga bhanya pas weekend itupun sebulan sekali. " Seru Nia sembari mendorong trolinya.
Hari ini Nia mendapat gajinya sebagai dokter pribadi Nada, sebenarnya bukan hanya sebagai dokter pribadi saja. Lebih tepatnya pengasuh yang merangkap sebagai dokter pribadi.
Nia belanja seorang diri, sebab dia memang tidak punya cukup banyak teman. Selama ini temannya yang benar - benar dekat hanya Berta dan Rindi saja. Tidak ada yang lainnya lagi, teman yang lainnya hanya sekedar kenal, sapa dan senyum saja.
Bbrruukk...
Karena dia berjalan sembari melihat kederetan rak bahan makanan, tanpa sengaja troli yang dia dorong menabrak seseorang hingga orang itu menjerit karena kaget
" Aaaoouwww... Siapa sih dorong troli tidak lihat-lihat. Sakit tahu !" Seru Seorang wanita dengan kesal.
" Maaf mbak saya tidak sengaja ." Seru Nia meminta maaf sebab dia memang merasa bersalah tidak lihat kedepan saat jalan.
Akhirnya kedua wanita itu saling pandang dan sama - sama terkejut. Ternyata wanita yang Nia tabrak tadi adalah Bella, Nia sama sekali tidak menyangka bisa bertemu Bella di supermarket.
" Ohhh ternyata wanita miskin ? Mau ngapain kamu disini ? Belanja, memang kamu punya uang untuk membayarnya ?" Tanya Bella dengan senyum dan pandangan sinis kearah Nia.
" Maaf ya mbak, sebelumnya kita ini memang tidak pernah kenal. Kita hanya pernah bertemu saja saat aku dan Kak Vito berantem saat dimini market. Jadi diantara kita tidak ada masalah jadi tolong jangan buat saya marah dan jangan mengganggu saya." Ucap Nia bicara dengan sopan dan tegas.
__ADS_1
" Heeehhh.... Siapa kamu berani mengatur hidup saya ? Terserah saya dong kalau saya mau menghina kamu, nyatanya memang kamu pantas untuk dihina ko.Wanita miskin, murahan yang mainnya sukanya di hotel sama Om-Om hidung belang. Kasihan deh lo diputusin sama Vito, jadi wanita jangan kegatelan dan murahan dong." Ucap Bella justru semakin berani dan membangkitkan amarah Nia.
Ppllaakk
Satu tamparan berhasil Nia daratkan dengan sempurna di pipi menor Bella. Bahkan telapak tangan Nia terasa lengket dengan bedak Bella. Apa yang dikatakan Bella tadi sudah keterlaluan, sehingga membuat Nia hilang kendali.
" Nia !!" Teriak seorang wanita dengan lantang dan Nia mengenali suara wanita itu.
Ya, wanita itu adalah Hesti mama dari Vito. Nia langaung mengalihkan pandangannya kearah Hesti. Wajah Hesti terlihat memerah dan memandang tajam kearah Nia. Nia sama sekali tidak takut, sebab dia merasa tidak bersalah. Dia menampar Bella karena memang Bella yang lebih dulu cari masalah dengannya.
" Kamu apakan calon menantu saya ?" Tanya Hesti dengan tatapan nyalang kearah Nia.
" Saya menamparnya Tante. Sebab dia sudah menghina saya, apa saya salah memberikan pelajaran sama orang yang tidak ounga etika dan sopan santun?. Tanya Nia mencoba bersikap santai.
" Kamu itu memang pantas dihina. Lihat saja aku pasti akan membalas tamparan mu ini. Kamu tahu tidak jika Bella ini adalah calon istri Vito dan seminggu lagi mereka akan bertunangan dihotel bintang lima dengan pesta yang mewah dan meriah." Seru Hesti sambil memandang Nia sinis.
Deg...
" Kenapa ? Kaget ? Makanya jadi wanita itu yang baik - baik jadi Vito tidak akan meninggalkan kamu. Tapi kamu ini memang tidak cocok bersamding dengan Vito. Kamu cocoknya itu menjadi simpanan om - om. " Seru Bella.
Hahaahaaaa
Terdengar tawa riang dari Hesti dan Bella, sebegitu rendahnya kah seorang Nia dimata mereka berdua. Mereka tidak tahu apa - apa tentang hidup Nia tetapi kenapa mereka justru menghakimi Nia. Nia berusaha menghindari mereka namun sayang Bella justru mencengkram lengan Nia dengan kuat.
" Dengar baik - baik wanita murahan ! Jangan harap Vito akan kembali kepada kamu, karena setelah Vito dan aku bertunangan seceparnya kami akan menikah. " Seru Bella.
" Bella sayang, sudah jangan kamu hiraukan lagi wanita itu. Tante yakin jika Vito tidak akan salah pilih, kamu itu pilihan yang tepat dan calon menantu yang sempurna dan selevel dengan Vito." Ucap Hesti membanggakan Bella dihadapan Nia.
Bella melepaskan cengkramannya dan menghempaskan Nia sampai Nia hampir tersungkur dilantai. Beruntung rak yang ada disampingnya tidak dia tabrak, sehingga barang - barang yang ada di rak tidak berjatuhan. Setelah puas menghina Nia, Hesti dan Bella berlalu dari hadapan Nia.
Nia bangkit dan tanpa terasa air matanya mengalir dipipinya. Hinaan dari Hesti dan Bella tadi benar-benar melukai hatinya, sebegitu hinakah orang miskin dihadapan para orang kaya.
__ADS_1
* Kenapa kak Vito tetap tidak mempercayaiku. Aku ini tidak pernah melakukan apa yang dia tuduhkan kan, tapi kenapa justru dia menceritakan masalah ini kepada orang lain. Kemana kak Vito yang aku kenal ? Aku memang menginginkan hubungan ini berakhir tetapi bukan dengan kesalah pahaman begini.* Gumam Nia sembari mengusap air matanya.
Sebenarnya Vito sama sekali tidak memberitahu mamanya dan Bella soal kejadian di hotel beberapa hari yang lalu. Sudah pasti Hesti dan Bella tahu, sebab memang mereka yang merencanakan penjebakkan itu.
Nia menyelesaikan belanjanya lalu segera membayar nya, namun saat sedang ada di meja kasir Nia melihat seseorang yang teramat mirip dengan papanya. Wajah itu lamat - lamat masih bisa Nia ingat , meskipun saat ayahnya pergi Nia masih berusia 5 tahun namun Nia masih bisa mengingat wajah ayahnya. Bahkan tanpa sepengetahuan ibunya Nia masih menyimpan foto jaduli milik ayahnya yang dia simpan secara rapi didalam dompetnya.
" Ayah. Benarkah tadi pria yang memakai jas itu ayahn? Apa Ayah ada di kota ini ?" Seru Nia sembari pandangannya mengitari sekeliling supermarket.
" Maaf mbak jadi totalnya 350 ribu." Ucap kasir mengagetkan Nia.
Nia tersadar jika dia saat ini sedang ada di depan meja kasir untuk membayar barang belanjaannya. Dia segera mengeluarkan dompetnya dan mengambil uang sejumlah total barang belanjaannya. Selesai membayar barang belanjanya, Nia langsung berlari mencari keberadaan pria yang dia yakini ayahnya.
Nia berlari dan mencari sampai ke parkiran namun, hasilnya tetap saja nihil. Pria yang dia lihat tadi sudah tidak terlihat sama sekali.
* Apa tadi aku salah lihat ya ? Tapi tadi itu beneran ayah, aku masih hafal dengan wajag Ayah. Apa aku harus memberitahu ibu jika aku melihat ayah ? Tapi ibu sudah tidak mau lagi aku mengingat soal ayah.* Gumam Nia dalam batinnya.
Nia memesan taksi online untuk mengantarkan dia pulang. Setelah 10 menit menunggu taksi online yang dia pesanpun sudah datang. Sepanjang perjalanan Nia pulang dia hanya termenung memikirkan ayahnya dan hinaan dari Hesti dan Bella tadi.
Karena asik melamun, Nia sampai tidak sadar jika taksi yang dia naiki sudah sampai di depan rumahnya.
" Mbak sudah sampai." Seru sopir mengagetkan Nia.
" Ehh.. Iya pak. Maaf saya melamun tadi, terimakasih ya pak sudah mengantarkan saya. Ini ongkos nya kembaliannya ambil saja untuk bapak." Ucap Nia sembari menyerahkan yang selembar merah.
" Tapi ini masih 55 ribu mbak." Ucap sang sopir.
" Tidak apa - apa. Tadi saya baru saja gajihan berrbagi sedikit untuk bapak." Seru Nia dengan ramah.
Sopir itu tersenyum senang dan tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada Nia. Dan tidak lupa mendoakan kebaikan dan kelancaran rezeki untuk Nia. Setelah mobil itu pergi Nia masuk kerumah, rumah sepi karena ibunya pasti sedang ada dikebun sayur.
* Aku tidak boleh cerita sama ibu tentang apa yang aku lihat tadi. Aku tidak mau ibu menangis dan bersedih lagi, selama ini ibu sudah cukup menderita karena ulah Ayah.* Gumam Nia dalam batinnya.
__ADS_1
*********