
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Nia dan David sudah berada di rumah sakit, dan saat ini Ibu Karti masih ada di ruangan UGD sedang ditangani oleh dokter. Nia terus-menerus menangis, dari perjalanan menuju rumah sakit sampai saat ini ada di depan ruangan UGD pun dia masih menangis. David hanya diam saja sebab dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan agar Nia tidak menangis, untuk menghibur Nia pun David merasa gengsi seolah harga dirinya akan jatuh dihadapan Nia.
Dokter yang menangani ibu Karti keluar dari ruangan UGD , melihat dokter keluar Nia langsung memberondong dokter dengan segala pertanyaan. Terlihat sekali kekhawatiran diwajah Nia dan David bisa melihat itu semua.
" Bagaimana keadaan ibu saya dokter? Apakah beliau baik-baik saja? Apakah lukanya parah ?" Tanya Nia beruntun dengan khawatir.
" Luka di kepalanya cukup parah dan harus segera di operasi sebab ada pendarahan di kepalanya jika tidak segera diberhentikan akan berakibat fatal untuk ibu anda. Harus dioperasi malam ini juga." Ucap dokter memberitahu kondisi ibu Karti.
Nia semakin sedih saat mendengar ibunya harus dioperasi karena pendarahan di kepalanya harus segera diberhentikan. Operasi itu tidaklah murah, apalagi saat ini Nia memang tidak mempunyai uang yang cukup. Nia semakin bingung apa yang harus dia lakukan untuk mencari biaya operasi ibunya. Harapannya hanya satu Tuan David, Nia mencoba memberanikan diri meminjam uang kepada David.
" Baik dokter saya akan segera cari biaya untuk operasi ibu saya. Lakukan apa saja yang terbaik untuk ibu saya."Jawab Nia dengan penuh keyakinan.
Dokter mengangguk paham dan dia meninggalkan UGD dan membiarkan Nia tetap berada di depan ruangan UGD. Dokter itu tidak menyadari jika pria yang sedang duduk tidak jauh dari tempatnya berdiri adalah David, jika tahu itu David pasti dokter itu akan gemetaran.
" Tuan David. Emmm bolehkah saya meminta tolong ? Saya mau pinjam uang untuk biaya rumah sakit dan operasi ibu saya?." Seru Nia dengan penuh harap David mau meminjamkan dia uang.
" Tidak ! " Seru David dengan singkat.
Deg
Nia semakin tidak tenang, ternyata orang yang dia harapkan sama sekali tidak mau menolongnya. Bahkan orang kaya yang uangnya tidak berseri sekalipun menolak menolong orang yang saat ini benar - benar kesusahan. Air mata Nia semakin mengalir deras, dia tidak tahu lagi harus mencari uang kemana.
Disaat hatinya sedang kalut dua perawat datang dan membawa ibu Karti keluar. Nia heran dengan dua perawat itu, mau dibawa kemana ibunya ? Nia mendekati dua perawat itu.
__ADS_1
" Mau dibawa kemana ibu saya?." Tanya Nia keheranan.
" Mau kami bawa ke Rumah sakit Cahaya Kasih. Maaf mbak kami harus segera bawa pasien agar cepat sampai sana dan segera dilakukan operasinya. Menurut info dari pihak rumah sakit, disana team dokter sudah siap dan menunggu pasien. Kami dari pihak rumah sakit ini setuju saat seseorang meminta pasien untuk dirujuk kerumah sakit itu. Sebab rumah sakit itu paling besar di kota ini dan tentunya alat - alatnya juga lebih lengkap. Permisi." Seru salah satu perawat yang hendak membawa ibu karti menuju ambulance.
Nia masih terdiam, kira - kira siapa orang yang sudah meminta ibunya dibawa kerumah sakit Cahaya Kasih. Rumah sakit itu adalah rumah sakit tempatnya bekerja dan itu juga milik David.
" Tuan David" Seru Nia memandang kearah David penuh tanda tanya.
" Sudah ayo sekarang kita langsung ikuti ambulance itu, aku sudah meminta team dokter menyiapkan semuanya." Seru David sembari menarik tangan Nia menuju parkiran.
Nia mengulas senyum senangnya, sebab David ternyata peduli dengannya sampai dia mau memindahkan ibunya kerumah sakit yang lebih besar. Disepanjang perjalanan Nia terus memanjatkan doa dalam hatinya agar operasi ibunya berjalan dengan lancar. Nia melirik David sembari menyunghingkan senyum, ternyata tuan arogan itu baik juga.
* Aku tidak tahu kapan dia menghubungi dokter, tapi aku tetap berterimakasih karena tuan David sudah mau menolongku.* Gumam Nia dalam batinnya.
Mobil ambulance yang ada di depan mobil David sudah sampai didepan lobby rumah sakit. Benar saja team dokter segera menyambut kedatangan mobil ambulance itu. Ibu Karti langsung dibawa masuk keruangan operasi, Nia berlari mengikutinya dari belakang. David memilih langsung menuju ruangan yang biasa dia tempati saat datang kerumah sakit. Dia sedikit gengsi untuk ikut menunggu ibu Karti didepan ruang operasi bersama Nia.
" Masa iya aku harus ikut menunggu didepan ruang operasi? Yang ada justru dia akan semakin keras kepala. Aku bersikap baik seperti ini lantaran kemanusiaan saja bukan berarti aku mencintainya kan?."Tanya David pada dirinya sendiri.
* Sialan kenapa dalam keadaan seperti ini aku justru terbayang - bayang wajah perempuan itu. Ini tidak bisa dibiarkan aku harus bisa membuang wanita itu dalam ingatanku. Aku baik tadi karena kemanusiaan bukan karena aku ada rasa dengannya.*Gumam David dalam batinnya.
Sementara itu di tempat lain saat ini Bella bersama Hesti, calon ibu mertuanya sedang merayakan kemenangannya. Mereka berhasil mencelakai wanita yang sudah melahirkan Nia. Ternyata tabrak lari yang terjadi dan dialami oleh Ibu Kartini adalah sebuah kesengajaan yang dilakukan oleh Bella dan Hesti.
Mereka sengaja memberi peringatan untuk Nia melalui sang ibu. Jika ibunya sakit dan terluka sudah pasti Nia tidak akan berani mengganggu Vito. Sampai detik ini Hesti dan Bella masih saja membenci Nia dan menganggap Nia masalah utama dalam hubungan Vito dan Bella. Apalagi Bella, dia sangat takut jika Vito kembali lagi dengan Nia, sebab yang Bella tahu sampai saat ini Vito masih sangat mencintai Nia.
" Kita berhasil tante, lihat saja setelah ini Nia pasti akan sibuk dengan urusan ibunya. Dengan begitu, Nia tidak ada waktu untuk mengganggu Vito. Jika sampai dia masih berusaha mendekati Vito, aku pastikan nyawa dia sendiri yang akan melayang."Ucap Bella dengan kesal sembari menyeringai dengan sinis.
" Kamu benar sayang, tante benci sekali dengan wanita itu. Dia sudah ternyata 1 setengah tahun pacaran dengan Vito. Sudah pasti barang pemberian dari Vito dan uang Vito yang dia poroti. Dasar wanita licik dan murahan, sengaja memacari anakku untuk mengeruk uang Vito. " Seru Hesti sembari mengepalkan kedua tangannya.
Kini Hesti dan Bella ada di rumah Hesti untuk merayakan kemenangan dan keberhasilan mereka.Vito saat ini ada diperusahaan sedang lembur. Papa Vito sendiri tidak begitu memperhatikan apa yang sudah dilakukan oleh Istri dan calon menantunya, sebab dia juga sibuk dengan urusan perusahaan.
" Tante, pernikahan Bella dan Vito bisa tidak dipercepat ? Aku khawatir Vito akan tergoda lagi dengan wanita murahan itu. Wanita itu pasti nanti akan mendekati Vito, dia itu tidak ada kapoknya juga. Padahal Vito juga sudah memutuskannya dan membencinya. Tetapi kalau wanita itu terus menggoda Vito pasti Vito juga lama - lama tergoda. Jadi bagaimana kalau dipercepat saja?." Tanya Bella penuh harap , agar Vito bisa menikahinya secepatnya.
__ADS_1
" Kalau tante sih oke - oke saja tapi tidak tahu dengan Vito, Bella. Dia saat ini sedang sibuk dengan pekerjaannya dan harus mengatur cutinya terlebih dahulu. Sebenarnya tante sih sudah meminta Vito untuk bekerja di perusahaan keluarga menggantikan Papanya, tetapi Vito tetap saja tidak mau, dia bilang ingin belajar mandiri dan berusaha sendiri. Dia tidak mau bekerja secara instan dan mengandalkan warisan keluarga saja."Jawab Hesti apa adanya sesuai dengan yang dikatakan Vito.
Hhhuuuufffff
Bella terlihat menghela nafas dengan berat. Padahal dia ingin sekali menjadi Nyonya Vito, selain dia yang sangat mencintai Vito, keinginannya menjadi istri Vito karena Vito adalah pewaris satu-satunya semua aset yang dimiliki oleh keluarga Vito. Namun ternyata justru Vito memilih bekerja dan memakmurkan perusahaan orang lain.
" Coba tante bicara sama Vito agar dia mau memegang kendali perusahaan. Kasihan om Sigit, dia sudah tua seharusnya sudah beristirahat di rumah dan biar Vito yang menjalankan perusahaan."Ucap Bella mencoba merasa prihatin terhadap calon mertuanya.
" Susah Bella sayang, sudah berapa kali tante dan om bicara sama Vito agar mengambil alih perusahaan. Tetapi Vito tetap saja tidak mau, dia ingin mencari modal usaha sendiri dan membangun usahanya sendiri. Tante sudah tidak tahu lagi bagaimana cara bicara dengan Vito. Mungkin kalau Papanya benar-benar sudah sakit dan dia tidak bisa apa-apa baru dia akan mau mengurus perusahaan."Seru Hesti dengan wajah terlihat putus asa.
Bella memikirkan sesuatu, dia punya ide agar Vito mau mengambil alih Perusahaan secepatnya. Tetapi dia ragu Hesti akan menyetujuinya. Bella sudah tidak sabar lagi menjadi Nyonya Vito dan belanja sepuasnya. Meskipun Bella juga anak orang kaya tetapi papanya tidak punya perusahaan. Hanya seorang menejer di perusahaan yang sama dengan Vito. Dan mamanya mempunyai salon dan Cafe yang cukup besar dan terkenal sehingga Bella bisa hidup bergaya mewah.
" Bagaimana kalau Om Sigit pura - pura sakit agar Vito mau mengambil alih perusahaan itu Tante. " Celetuk Bella.
" Om Sigit tidak mau Bella, tante sudah beberapa kali bicara dengan papanya Vito agar dia mau berpura-pura sakit supaya Vito mau mengambil alih perusahaan. Tetapi papanya Vito tidak mau, dia tidak mau memaksa Vito. Apalagi sampai Vito nanti menjalankan perusahaan dengan terpaksa yang ada justru akan membuat perusahaan kacau. Bisa-bisa perusahaan tante gulung tikar Bella."Jawab Hesti sambil terbawa kecil.
" Iya juga sih tante takutnya Vito bekerja setengah-setengah karena dia merasa terpaksa. Coba nanti Bella yang bicara, siapa tahu jika mendengarkan permintaan dari calon istrinya Vito mau mendengarkan."Ucap Bella penuh percaya diri.
Hesti mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Bella. Siapa tahu jika Bella yang bicara Vito akan mengiyakan, dengan Vito berada di perusahaannya semakin mudah Hesti mengendalikan hidup Vito dan mengatur Vito.
" Oh iya tante sepertinya sudah semakin malam, jadi Bella pulang dulu ya. Besok Bella akan datang kesini lagi, kita nyalon bareng di salon mama." Seru Bella dengan senyum manisnya.
" Wah terimakasih sayang, ini baru calon menantu idaman bukan seperti si Nia itu. Kamu memang paling pintar menyenangkan mama calon mertua mu ini. Benar-benar wanita idaman." Seru Hesti sangat senang.
" Iya dong Tante. Baiklah Bella pulang dulu ya Taben sampai jumpa besok, daaa...!" Seru Bella sembari melambaikan tanganya.
* Bella memang calon menantu idaman ku, sudah cantik anak orang kaya. Meskipun tidak punya perusahaan jabatan papanya si Widjaya Group cukup tinggi. Salon dan Cafe juga besar, huuhh tidak akan menyesal Vito menikah dengan Bella.* Gumam Hesti dalam batinnya.
************
Berikan dukungannya ya kak. TERIMAKASIH 🙏🙏❤️❤️
__ADS_1