
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
"Sudah ya pa, kita sudah cukup lama bermain. Aku mau bersih-bersih dulu nanti Bella bantu bersihin punya papa juga. Ini sudah sore nanti keburu mama datang."Seru Bella memunguti pakaiannya yang berhamburan dilantai dan segera membawanya masuk ke kamar mandi.
Baskoro hanya mengangguk dengan pasrah, sebenarnya dia masih mau lagi tapi dia juga kasihan dengan Bella yang selama hampir satu setengah jam pegang kendali. Apalagi saat ini Bella juga sedang hamil anaknya. Keadaanya yang masih terluka membuat Baskoro tidak bisa mudah untuk bergerak.
Setelah 10 menit Bella sudah selesai membersihkan diri. Dan kini Bella keluar dari kamar mandi sudah mengenakan pakaiannya dengan lengkap. Bella duduk di sofa dan merapikan mek up diwajahnya beserta rambutnya.
"Emm pa, punya papa Bella bersihkan pakai tissu basah saja ya. Disini tidak ada kain lap dan baskom untuk membawa airnya."Seru Bella.
"Iya sayang."Jawab Baskoro dengan pasrah.
Bella mengambil tissu basah yang selalu dia bawa di dalam tasnya. Dengan segera dia mengelap dan membersihkan senjata Baskoro yang sedari tadi belum tertutup.
*Gara-gara senjata ini aku jadi ketagihan, awalnya senjata ini yang sudah mengajarkanku sebuah kenikmatan. Dan sampai sekarang senjata ini juga yang selalu memuaskanku karena suamiku sendiri tidak bisa memuaskanku.*Gumam Bella dengan tangan lihainya membersihkan milik Baskoro.
"Kenapa kamu melamun, Bella sayang? Kamu pasti belum puaskan? Tapi sudah kelelahan karena tidak ada perlawan dari papa. Maaf ya permainan kali ini papa hanya bisa diam saja, kamu tahu sendirikan kalau tangan papa masih ada selang infus dan luka-luka papa belum sembuh betul. Oh iya, tadi papa kan minta kamu untuk servise senjata dengan tangan atau mulut saja. Kenapa kamu bisa melakukan aksi yang berbeda?."Tanya Baskoro dengan tawanya yang renyah.
"Mana bisa Bella tahan jika sudah melihat alat tempur papa yang sudah menantang Bella. Nah ini sudah selesai, Bella tutup ya biar tidak terbang."Seru Bella sambil tertawa kecil.
Baskoro juga hanya ikut tertawa mendengar celotehan Bella. Baru saja Bella duduk di sofa untuk sekedar mengistirahatkan tubuhnya. Tiba-tiba pintu ada yang mengetuk dari luar. Bella kembali bangkit untuk melihat siapa yang datang, dia lupa membuka kunci pintunya saat sudah menyelesaikan permainannya tadi.
Ceklekkkk
Pintu terbuka dan terlihatlah wanita paruh baya yang berdiri didepan dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Mama !."Seru Bella gugup.
Ternyata yang datang adalah mamanya Bella, Leni. Leni heran dengan pintu yang terkunci padahal ada Bella didalam ruangan itu. Leni tadi mengira jika ada dokter yang memeriksa Baskoro sehingga pintu terkunci. Namun ternyata didalam ruangan itu hanya ada Bella dan Baskoro saja.
" Kenapa pintunya di kunci?."Tanya Leni penuh selidik.
"Emm itu ma, Bella lupa. Kebiasaan dirumah, dulu kalau habis masuk kamar selalu Bella kunci lagi. Maaf ya ma."Seru Bella beralasan.
"Yakin itu alasannya? Tidak ada yang sedang kamu sembunyikan dari mama?."Tanya Leni terus bertanya.
"Tidak ada ma. Emm, kebetulan mama sudah datang jadi Bella bisa segera pulang. Sudah sore nih takutnya Vito marah karena Bella pulang kesorean. Tadi Bella datang bareng-bareng sama mama Hesti, tapi dia sudah pulang duluan dan mama Hesti titip salam untuk mama."Ucap Bella bicaranya masih terlihat gugup.
Tidak tahu kenapa kali ini Leni menangkap sesuatu kebohongan dari Bella. Terlihat sekali wajah gugupnya dan dia juga bicara dengan tidak seperti biasanya. Namun Leni mencoba untuk biasa saja, dia tidak mau membuat Bella semakin gugup lagi. Mungkin ada saatnya nanti Leni akan mencari tahu soal Bella dan Baskoro.
"Iya sayang kamu pulanglah. Salam balik untuk mama mertua kamu. Oh iya papa kamu sedang apa?."Tanya Leni lalu berjalan masuk dan mendekati Baskoro yang sedang tertidur.
Sebenarnya Baskoro tidaklah sedang tidur, akan tetapi dia sedang pura-pura tidur untuk mengelabuhi Leni. Leni melihat wajah Baskoro yang berkeringat lebih dari biasanya.
"Papa kamu tidur tapi kok berkeringat ya, Bell? Seperti orang yang sedang maraton saja."Ucap Leni dengan melirik Bella.
"Mungkin papa kepanasan atau mungkin dia sedang mimpi ma. Emm, ya sudah kalau begitu Bella pulang dulu ya ma. Kalau mama butuh apa-apa nanti mama hubungi Bella saja, biar Bella yang akan antar kesini."Seru Bella ingin segera buru-buru pergi.
"Hemmm.. Pulanglah. "Jawab Leni singkat.
Setelah berpamitan Bella pun langsung keluar dari kamar rawat Papanya. Meninggalkan Leni yang masih saja penasaran dengan apa yang terjadi sampai Bella tadi mengunci pintu. Leni takut apa yang dikatakan oleh ibu Karti terjadi nyata, dimana ibu Karti mengatakan jika bisa saja Baskoro ada main dengan anak tirinya sendiri.
*Kenapa aku kefikiran dengan ucapan wanita miskin itu? Hemm tidak, ini tidak mungkin terjadi. Bella dan mas Baskoro tidak mungkin ada hubungan selain ayah dan anak. Tapi, kenapa hati kecilku seolah merasakan jika mereka berdua ada sesuatu. Tidak ada salahnya aku mencoba mencari tahu.*Gumam Leni dalam hatinya.
__ADS_1
"Emm kok ada mama? kapan datang ma? Bella sudah pulang ya, Ma?."Tanya Baskoro beruntun.
"Baru saja pa, mungkin sekitar 10 menit yang lalu. Bella juga sudah pulang, baru saja dia pulang. Papa sama Bella semakin hari semakin dekat ya, Bella juga kelihatannya sayang banget sama papa. Semenjak dia menikah terlihat benar sayangnya sama papa, begitupun sebaliknya."Ucap Leni mulai memancing Baskoro.
"Mama ini bisa saja. Bella memang anak yang baik dan berbakti, Ma. Meskipun aku hanya papa sambungnya, dia sama sekali tidak membeda-bedakan nya. Dia juga sangat menyayangi papa dan mama kan."Jawab Baskoro.
Leni hanya mengangguk setelah mendengar jawaban dari Baskoro. Tidak menutup kemumgkinan untuk Leni tetap memantau suaminya dan Bella.
"Pa, bagaimana keadaan mu sekarang? Apa sudah ada perubahan?"Tanya Leni ingin tahu perkembangan suaminya.
"Sudah mendingan Ma. Mungkin dalam 2 hari ini sudah diperbolehkan pulang, tinggal menunggu jahitan di pelipis ini kering. Semoga saja setelah keluar dari rumah sakit papa bisa langsung masuk kerja, soalnya dua hari papa tidak masuk dan tanpa memberikan keterangan apa-apa. Beruntung hari ini hari minggu sehingga tidak terhitung bolos kerja. Papa khawatir kalau Tuan David memecat papa, huuuhhh pekerjaan papa di kantor sebenarnya banyak banget, Ma."Seru Baskoro terlihat menghawatirkan pekerjaannya.
Jika dia sampai dipecat, tidak tahu lagi dia mau bekerja dimana. Sebenarnya dia bekerja juga hanya untuk dirinya sendiri dan membelikan apa yang Bella mau. Dan itu semua berlanjut sampai Bella sudah menikah, hampir setengah gajinya dia berikan untuk Bella sebagai imbalan karena Bella sudah melayaninya dengan maksimal yang tidak pernah Baskoro dapatkan dari istrinya, Leni.
"Kalau di pecat ya sudah tidak masalah. Lagipula selama ini papa kerja juga untuk diri papa sendiri, juga untuk Bella sih. Kuliah Bella dulu memang banyak papa yang keluar biaya tapi sekarang Bella sudah menikah dan menjadi tanggung jawab suaminya. Untuk kehidupan kita bisa dari usaha salon kecantikan mama, itu lebih dari cukup kalau cuma membiayai hidup kita berdua."Seru Leni tidak mempermasalahkan jika Baskoro di pecat dari perusahaan Widjaya Group.
*Mana bisa aku jika dipecat? Yang ada aku tidak akan ada uang lebih, terus bagaimana dengan Bella? Selama ini 50 persen uang gajiku aku berikan untuk Bella, belum yang lainnya. Setiap kali habis main aku selalu memberikan Bella uang meskipun dia tidak memintanya. Aku itu mau Bella tetap cantik dan terawat, kesalon mu juga tetap harus bayar.* Gumam Baskoro dalam hatinya.
************
Setelah acara pentas seni di sekolahan, kini David beserta keluarganya sudah pulang kerumah. Sebelum pulang kerumah David tadi mengajak keluarganya makan di salah satu restoran mewah yang ada di kota.
"Ibu menginap lagi saja ya? Nia sama Nada masih kangen loh sama ibu, nanti kalau liburan gantian Nia sama Nada yang menginap di rumah ibu. Tapi bukannya ini sudah liburan ya? Hemm tunggu saat Nia dapat libur kerja, minggu depan mungkin Nia menginap dirumah ibu."Ucap Nia meminta ibunya untuk tetap menginap.
"Baiklah. Malam ini ibu menginap, ya sudah kalau begitu ibu kekamar dulu ya. Badan ibu pegal-pegal nih seharian duduk saja, mau istirahat dulu ya. Kamu susul suami mu dikamar, pasti dia juga butuh sesuatu. Nada yuk tidur di kamar tamu sama nenek, Miska mau sekalian ikut?." Seru ibu Karti dengan sangat ramah dan lembut.
"Ayo nek, Nada mau tidur dikamar nenek saja. Tante Miska katanya mau pulang nek."Seru Nada penuh semangat.
"Iya bu. Miska mau pulang, soalnya ada pekerjaan yang harus Miska kerjakan. Kalau begitu Miska pulang dulu ya, assalamualaikum."Seru Miska tidak lupa mengucapkan salam dan mencium tangan Nia dan ibu Karti.
"Waalaikumsalam. Hati-hati bawa mobilnya."Seru Nia mengingatkan adik iparnya.
"Hubby kelihatannya kamu bahagia sekali? Tumben banget nih senyum-senyum, hal apakah yang membuat kamu tersenyum? Apa ada yang lucu dengan ponselku?."Tanya Nia yang kini sudah ikut berbaring di samping David.
"Lihat ini, dan kamu baca sayang." Seru David memperlihatkan ponsel ke arah Nia.
Disana terlihat nyata jika David sedang membaca chatt yang dikirim oleh ibu-ibu anggota arisan wali murid. Lebih tepatnya Chatt di group arisan.
[ Tadi papa nya Nada ganteng banget ya, seperti opa-opa korea. Cocok banget sama mbak Nia yang memang cantiknya seperti Nagita slavina.] Pesan yang dikirim oleh ibu Hani.
[Benar kamu jeng. Aku tidak menyangka jika suami mbak Nia setampan itu. Kira-kira ada tidak ya tempat untuk tukar tambah suami, jika ada aku mau dong tukar tambah suami.] Tulis ibu Jelita.
[Sadar jeng. Memangnya mau di tukar tambah yang bagaimana lagi? ] Tulis ibu Fitri.
[Tapi ada yang tahu gak sih kalau wajah suaminya mbak Nia itu mirip sekali dengan Ceo Widjaya Group. ] Tulis ibu Sulis.
[ Iya mirip banget]
[ Apa mungkin orang yang sama ya]
[Sepertinya iya deh, soalnya tadi tuh aku tanya sama suami. Kata nya iya foto yang aku ambil saat di panggung tadi itu benar Ceo Widjaya group] Tulis ibu Fitri yang suaminya memang bekerja sama dengan perusahaan widjaya group.
[Mana mungkin. Kalian ini mengada-ada deh. ] Tulis ibu Jelita.
[Aku tidak percaya.]Tulis ibu Hani.
Dan masih banyak lagi chatt yang belum Nia baca. Nia sudah tahu jika tokoh utama pembicaraan di group itu adalah suaminya. Nia tidak pernah menyangka jika suaminya akan menjadi tranding topik group arisan wali murid.
"Hubby senang dibicarakan sama ibu - ibu ini?." Tanya Nia ingin tahu.
__ADS_1
"Senang dong. Berarti suamimu ini punya daya tarik yang luar biasa."Jawab David sebegitu bangganya.
"Oh begitu. "Ucap Nia singkat.
"Jangan marah dong sayang. Aku kan cuma bercanda,begitu saja marah. Oh iya, sayang kenapa kamu tidak memberitahu saja yang sesungguhnya siapa kamu yang sebenarnya. Biar semua orang tahu jika kamu adalah milik tuan David."Ucap David.
"Biarkan mereka tahu dengan sendirinya saja Hubby. Idih siapa yang marah? Aku tidak marah kok."Jawab Nia dengan santainya.
David langsung memeluk dan mencium Nia, dia sangat gemas dengan wajah cemberut Nia. Tangan David juga sudah tidak bisa diam, dia bergerilya tidak menentu. Jika sudah seperti ini Nia tahu apa yang diinginkan oleh suaminya.
"Masih sore Hubby."Seru Nia mencoba protes.
"Sore atau pagi tidak jadi masalah."Ucap David yang sudah bisa menahan nya lagi.
"Jangan lama-lama ya, ada ibu dirumah ini. Dan aku juga harus membantu menyiapkan makan malam."Ucap Nia.
David tidak mengindahkan ucapan Nia, tujuan utamanya saat ini adalah bermain saat sore hari. Nia pun tidak bisa mengelak lagi, dia menikmati setiap sentuhan dan permainan yang diberikan oleh David. Sampai Nia juga lupa waktu jika mereka bermain cukup lama yang mengakibatkan mereka sama-sama kelelahan dan mereka pun tertidur.
Hari berganti malam, selesai mandi Nia dan David melaksanakan sholat magrib berjamaah. Tubuh Nia saat ini masih sangat-sangat lelah dan letih.
"Hubby ayo kita turun, kita makan malam dulu. Pasti ibu dan Nada sudah menunggu kita, tidak enak jika mereka terlalu lama menunggu."Ucap Nia mengajak David untuk makan malam.
"Yakin mau makan malam di bawah? Kamu lelah loh? Kalau mau makan malam di kamar tidak apa-apa, nanti aku minta pelayan untuk mengantarkan makan malam kita ke kamar."Ucap David merasa kasihan melihat istrinya yang sepertinya masih kelelahan.
"Tidak usah Hubby. Kita makan malam bersama-sama yang lainnya saja. Ada ibu juga, aku tidak enak sama ibu. Ini gara-gara Hubby sih ngajak main sore-sore mana lama banget lagi. Aku jadi kelelahan dan sampai tidak bantuin masak makan malam, padahal tadi sudah janji sama ibu kalau mau masak makanan kesukaan ku."Ucap Nia sembari mengerucutkan bibirnya.
Duhhhhh
Nia kamj justru membangkitkan gairah suami mu lagi. Apakah kamu tidak tahu jika suami mu saat ini sedang dalam mode On.
"Tapi kamu suka kan?." Tanya David dengan menggoda Nia.
"Sudahlah yuk kita turun, kalau dikamar terus aku yakin bakalan lebih lama lagi kita di kamar."Seru Nia lalu berjalan lebih dulu.
Hahaaa Haahaaa
David tertawa dengan keras, dia sangat gemas dengan ekpressi wajah sang istri. Tidak menunda-nunda lagi David pun mengikuti Nia turun ke lantai bawah untuk makan malam. Saat sampai ruang makan, disana sudah ada ibu Karti dan Nada yang sudah menunggu. David langsung memasang wajah cool nya kembali, hanya dengan Nia lah David bisa bersikap manja dan seperti bayi.
"Mama sama papa kok lama sekali sih. Nada sama nenek sudah lama menunggu, Nada sudah lapar."Seru Nada menggerutu dengan mengerucutkan bibirnya.
"Maaf ya sayang tadi mama habis sholat ketiduran."Jawan Nia berbohong.
"Mama itu apa di leher mama kok ada merah-merah? Sakit tidak itu ma?." Tanya Nada dengan wajah polosnya.
Haaaaahhhh
Nia langsung meraba lehernya, dia tidak sadar jika di lehernya ada bekas aksi dari David. Nia malu dengan ibunya, seharusnya hal seperti ini tidak patut di ketahui oleh Nia. Nia melirik David, namun David terlihat biasa saja.
"Emm oh ini tadi mama kan ketiduran terus di gigit sama nyamuk. Nyamuk nya nakal banget dan besar. Ya sudah yuk sekarang kita makan malam dulu."Ucap Nia mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Nanti sebelum tidur kamar mama di semprot obat nyamuk dulu ya ma. Biar nyamuk-nyamuk jahatnya mati."Seru Nada.
"Iya sayang."Jawab Nia singkat.
Ibu Karti hanya menggelengkan kepalanya sambil menahan tawanya. Tanpa Nia menjelaskan dia sudah tahu bekas apa yang ada di leher Nia.
Nia mengambil piring yang ada di hadapan David dan mengisinya dengan nasi dan beberapa lauk dan sayur. Setelah itu dia baru mengisi piringnya sendiri, Nada sendiri sudah di ambilkan oleh Ibu Karti.
*************
__ADS_1