Dokter Penakluk Duda Arogant

Dokter Penakluk Duda Arogant
Mendatangi rumah mantan istri


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Jam 4 sore Baskoro baru keluar dari kamarnya, dia masih membiarkan Bella tertidur di kamar tamu. Baskoro duduk di ruang keluarga dan meminta ART untuk membuatkan kopi hitam.


"Ini kopinya, Pak."Ucap Art melatakkan kopi di atas meja sembari memandang aneh kearah Baskoro.


Art itu merasa aneh kenapa Baskoro terlihat seperti habis mandi. Sebab rambut Baskoro basah dan tercium bau wangi shampo. Merasa diperhatikan oleh Art, Baskoro pun melirik Art yang ada dihadapannya.


"Apalagi?."Tanya Baskoro dengan ketus.


"Tidak pak. Hanya merasa aneh saja, apa bapak habis mandi?."Tanya Art dengan keponya.


Degghhh


Baskoro terlihat salah tingkah dan gugup saat Art bertanya perihal dia yang mandi. Namun Baskoro mencoba tenang dan menyiapkan jawaban yang masuk akal agar sang Art kepo itu tidak curiga.


"Oh ini memang habis mandi. Tadi kepalaku sangat pusing dan badan gerah sekali, sehingga aku mandi agar lebih segar. Aku sudah biasa disaat pusing pasti akan segera mandi. Oh iya mana obat yang tadi kamu beli, bawa sini biar aku minum sekalian air putihnya."Ucap Baskoro bicara dengan lancar.


"Oh begitu. Sebentar pak, saya ambilkan air minumnya dulu. Tapi anda mau minum kopi, lebih baik minum obay dulu dan kopinya minum nanti saja. Biar obatnya cepat bekerja."Ucap Art dengan ramah.


"Hemm.. Oh iya kamu menginap atau pulang?." Tanya Baskoro ingin tahu.


"Saya pulang pak. Biasanya saya akan pulang setelah menyiapkan makan malam, tetapi tadi Pak Vito menelpon memberitahu jika dia tidak akan makan dirumah karena harus lembur. Jadi saya hanya menyiapkan makan malam untuk Non Bella saja."Jawab Art yang bernama Minah itu.


"Kamu pulang saja tidak apa-apa. Biar Bella nanti beli makanan online saja. Kamu pasti capek seharian bekerja, sudah kamu pulang saja."Seru Baskoro bersemangat menyiruh Minah pulang.


Dengan begitu dia bisa mengulang permainannya dengan Bella tanpa takut ketahuan oleh Minah. Dia belum puas sebab tadi dia tidak bisa bermain secara leluasa, harus menahan suara mereka agar tidak terdengar sampai luar kamar.


"Tapi Non Bella nanti marah."Ucap Minah takut jika Bella marah.

__ADS_1


"Bella tidak akan marah. Lagipula nanti mamanya juga akan datang kesini menjemput saya, sebab saya tidak kuat bawa mobil sendiri. Mamanya pasti juga bawa makanan kok. Sudah sana pulang, oh iya ini ada sedikit rezeki untuk kamu karena kamu tadi sudah membelikan saya obat."Seru Baskoro sembari mengulurkan 4 lembar uang warna biru.


Minah mengambilnya dengan mata berbinar lalu segera keluar rumah meninggalkan rumah Vito. Dia sama sekali tidak menaruh curiga dengan Baskoro dan Bella. Mirna mengendarai motor meticnya menjauh dari rumah Vito. Dalam hatinya dia sangat senang mendapat uang dari Baskoro. Bahkan dia berharap Baskoro sering-sering main kerumah Vito, dengan begitu siapa tahu dia akan mendapat uang tips lagi.


Baskoro duduk di ruang keluarga sembari menikmati kopi hitam buatan Minah. Dia tidak menyentuh obat yang tadi sudah dibelikan oleh Minah, lagipula memang dia tidak sakit sehingga tidak perlu lagi minum obat. Obat yang dia butuhkan sudah dia dapat dari Bella.


*Enak juga kalau hidup begini, Bella tetap ada digenggamanku dan Leni juga tetap ada disampingku. Ternyata hidupku sangat beruntung, mempunyai istri cantik dan anak yang sangat cantik dan bisa memuaskanku. Emm, ngomong-ngomong apa kabar dengan anakku yang ada sama Karti? Akhir-akhir ini aku sering memimpikan anakku itu, apa aku harus menemui Karti dan menanyakan keberadaan Kurnia.*Gumam Baskoro dalam batinnya.


Baskoro bangkit dan masuk kekamar tamu, dimana saat ini Bella sedang tertidur dengan lelap. Baskoro ingin membangunkan Bella namu dia tidak tega. Akhirnya Baskoro mengirimkan pesan singkat di ponsel Bella, jika dia pulang dan ART sudah dia suruh pulang tanpa memasak. Tidak lupa Baskoro meletakkan yang 2 juta diatas nakas untuk Bella beli makan malam.


Dengan langkah pasti, Baskoro menghampiri mobilnya yang terparkir di halaman rumah Vito. Tujuan Baskoro saat ini adalah kediaman Karti, dia masih hafal betul tempat tinggal Karti, pasti masih rumahnya yang dulu. Rumah yang pernah dia tempati selama 8 tahun bersama Karti sampai Nia berusia 5 tahun.


Baskoro ingin segera tahu kabar anaknya, jika anaknya sudah sukses dia berharap bisa memanfaatkan nya. Mobil Baskoro sudah sampai di daerah tempat tinggal Karti, dia melajukan mobil menyusuri jalanan yang nampak sudah bagus dan mulus. Padahal jalan itu dulu hanya jalan batu dan banyak lubangnya, Baskoro tidak tahu jika jalan itu bisa mulus seperti itu karena sang menantunya yang memperbaiki.


"Seingatku dulu ini rumah Karti, aku hafal betul. Tapi rumah ini sekarang sangat bagus bahkan dari sekian rumah warga, rumah Karti lah yang terlihat megah dan besar meskipun tidak bertingkat. Hemm aku coba turun dan cek dulu, jika benar ini rumah Karti berarti saat ini dia sudah sukses. Atau jangan-jangan anakku yang sukses?*Gumam Baskoro dalam batinnya.


Baskoro sudah menepikan mobilnya dipinggir jalan, dia ingin memastikan lebih dulu apakah rumah itu benar rumah mantan istrinya. Sesampainya di depan rumah, rumah terasa sejuk dan nyaman namun sepi.


Tok Tok Tok


Baskoro mengetuk pintu berharap sang pemilik rumah segera membukakan pintu untuk nya.


Pintu terbuka, dan terlihat wajah terkejut dari orang yang membukakan pintu.


"Mau apa kamu kesini?." Tanya ibu Karti dengan ketus dan terlihat sekali ketidaksukaannya terhadap Baskoro.


"Karti. Apa kabar? Apa aku boleh masuk?." Tanya Baskoro dengan wajah tanpa bersalahnya.


"Pergi kamu ! Rumah ini sudah tidak menerima kehadiranmu lagi setelah kamu meninggalkan aku dan anakku. Aku tidak sudi kamu ada dirumah ku, cepat pergi dari sini !!." Bentak ibu Karti dengan penuh amarah.


Baskoro tidak bergeming, dia tetap berdiri dihadapan ibu Karti tanpa ada niat untuk pergi dari rumah itu. Nafas ibu Karti tersengal-sengal karena amarahnya sudah menguasai dirinya.


"Karti, aku hanya ingin bertemu dengan Kurnia. Tolong izinkan aku bertemu dengan anakku, kamu jangan melarangku untuk menemui anakku Karti. Sampai kapanpun Kurnia itu anakku, darah dagingku !!."Baskoro bicara dengan meninggikan suaranya.


Plaakk

__ADS_1


Plaakk


Dua tamparan dilayangkan tepat di pipi Baskoro, dia sudah tidak bisa mengendalikan amarahnya lagi. Seenaknya Baskoro datang dan ingin bertemu dengan Nia, padahal selama 19 tahun lebih dia tidak peduli dengan anakknya. Ibu Karti tidak akan membiarkan Baskoro bertemu ataupun menemui Nia.


"Jangam pernah kamu datang kerumahku dengan alasan ingin bertemu dengan anakku ! Baginya kamu sudah mati sejak19 tahun yang lalu. Kurnia itu anakku bukan anakmu !."Bentak ibu Karti dengan penuh amarah.


"Kamu tidak bisa bicara seperti itu, Karti. Bagaimanapun aku berhak atas Nia dan saat dia menikah nanti pasti dia akan membutuhkan aku sebagai walinya."Ucap Baskoro tetap membela dirinya.


"Tidak akan pernah ! Dia sudah menikah dan tidak akan pernah menjadikan kamu sebagai walinya. Sekarang pergi dari rumahku dan jangan pernah kamu datang lagi."Seru ibu Karti tetap mengusir Baskoro.


Apa ? Kurnia sudah menikah?


Baskoro syok mendengar kabar jika anaknya sudah menikah tetapi tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Baskoro marah dan tidak terima dengan keputusan ibu Karti yang menikahkan Nia tanpa dirinya.


"Pernikahan itu tidak sah ! Aku ayah kandungnya masih hidup dan aku yang lebih berhak menikahkan anakku daripada orang lain."Ucap Baskoro menganggap pernikahan Nia tidak sah.


Ibu Karti menarik sudut bibirnya, dia tidak menyangka jika Baskoro akan bersikap bodoh seperti ini. Selama 19 tahun dia pergi tanpa kabar dan tanpa ingat dengan anaknya,dan kini datang mempermasalahkan soal pernikahan anaknya.


"Kenapa tidak sah? Ada mas Kasim yang menikahkan mereka, mas Kasim itu kakak kandungmu jadi dia sah menjadi wali untuk anakku. Selama ini kamu kemana saja? Ada kamu memberi kabar kepada kami, ada kamu peduli kepada anakmu? Tidak kan? Apa Kurnia harua menikah menunggu kedatangan kamu yang entah kapan? Jadi jangan pernah kamu mengusik pernikahan anakku, sebab kamu tidak ada hak lagi atas anakku."Ucap ibu Karti dengan senyum sinisnya.


Baskoro langsung terdiam dan tidak bisa membela dirinya lagi. Dia tidak bisa menyangkal apa yang dikatakan oleh ibu Karti. Memang benar, selama ini dia tidak memberi kabar dan tidak memberitahu keberadaannya.


"Bisakah aku bertemu dengan, Kurnia? Aku hanya ingin melihat anakku. Akhir-akhir ini aku sering bermimpi bertemu dengannya."Ucap Baskoro.


"Dia tidak tinggal disini, dia sudah ikut suaminya. Sekarang lebih baik kamu pergi dan jangan pernah kamu datang lagi."Ucap ibu Karti terus mengusir Baskoro.


"Aku minta alamat rumahnya, biar aku datangi langsung kerumahnya."Ucap Baskoro seenaknya.


Brakkkkkkk


Ibu Karti menutup pintu dengan kasar hingga suaranya menggelegar dan membuat Baskoro kaget.


"Karti !! Buka pintunya ! Aku hanya ingin tahu alamat rumah suami anakku saja. Cepat beritahu alamatnya kepadaku, Karti."Ucap Baskoro dengan berteriak.


Saat ini ibu Karti memang dirumah seorang diri, Wati yang biasa menemaninya sedang keluar untuk belanja. Sehingga tidak ada yang membantu ibu Karti mengusir Baskoro.

__ADS_1


Baskoro telihat sudah lelah terus memukul-mukul pintu sambil berteriak. Akhirnya diapun menyerah dan lebih memilih meninggalkan rumah ibu Karti dan akan datang lagi esok hari.


**************


__ADS_2