
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Selesai jam kantornya, Rendi menemui Miska di cafe yang sudah mereka janjikan. Rendi sendiri belum memberitahu Miska jika besok malam dia akan datang kerumah bersama orang tuanya untuk melamar Miska. Di pertemuannya kali ini dia baru mau memberitahu, Miska.
" Ada apa kak Rendi mengajak ketemuan?."Tanya Miska saat mereka sama-sama sedang menikmati minuman yang mereka pesan.
Hhhuuuffff
Rendi menghela nafas dengan pelan-pelan sambil tersenyum manis ke arah Miska. Rendi baru ingin mengatakan jika dia akan melamar Miska.
" Besok malam aku dan keluargaku akan datang untuk melamarmu."Jawaban Rendi membuat Miska terkejut. Sebab sebelumnya Rendi memang tidak ada omongan apa-apa dengan Miska dan tahu-tahu sudah mau melamar saja.
" Kak Rendi serius? Kenapa baru memberitahu aku? Lagi pula, om dan tante juga belum ketemu Miska. Kak Rendi tidak mau mengenalkan mereka sama Miska dulu?." Tanya Miska dengan heran.
Sampai sekarang Rendi memang belum membawa Miska bertemu dengan kedua orang tuanya. Miska memang sudah mengenal kedua orang tua Rendi begitupun sebaliknya. Akan tetapi hanya sekedar kenal saja, dan tidak kenal dengan akrab.
" Kamu kan sudah mengenal mereka, dan mereka juga sudah mengenalmu. Orang tuaku juga sudah beberapa kali datang kerumah keluarga Widjaya saat ada acara, jadi lebih baik langsung lamar saja ya?." Seru Rendi tetap ingin langsung melamar Miska.
Rendi sendiri juga belum memberitahu kedua orang tuanya jika wanita yang menjadi pacarnya, dan yang akan dia lamar adalah Miska. Rendi ingin membuat kejutan untuk sang ibu, pasalnya sang ibu memang menginginkan menantu yang berkepribadian seperti Miska. Biarpun dia dari keluarga kaya raya, Miska tetap bersikap sewajarnya dan tidak sombong.
" Baiklah kalau itu memang sudah menjadi keputuhan kak Rendi. Nanti aku kasih tahu mama dan papa tentang niat kak Rendi ini. Tapi, bagaimana dengan kak David? Apa kak Rendi sudah mendapatkan restu dari kak David?."Tanya Miska dengan ragu-ragu.
Tantangan pertama hubungan mereka itu bukan ada di restu kedua orang tua, melainkan restu dari David. Sebagai adik satu-satunya dari David, Miska akan tetap patuh dan menghargai keputusan kakaknya. Apapun keputusan kakaknya itu adalah bentuk kasih sayang dari sang kakak untuk adiknya.
" Aku tadi sudah memberitahu niat ku melamar kamu, dan tuan David memintaku untuk datang saja. Keputusannya nanti saat aku dan orang tuaku sudah ada dirumah mu."Jawab Rendi terlihat tidak bersemangat.
* Jangan sampai kak David menolak lamaran kedua orang tua kak Rendi. Kalaupun memang dia belum memberikan restunya, tidak perlu meminta kak Rendi untuk tetap datang. Aku takut dia akan menolak dan marah-marah didepan orang tua kak Rendi. Kak David orangnya kan rada aneh, hemm aku tidak enak sampai itu benar-benar terjadi.* Gumam Miska dalam hati.
" Kamu kenapa kok diam?." Tanya Rendi sambil terus memperhatikan Miska.
" Oh tidak apa-apa kak. Ya sudah cepat kita habiskan minumannya, hari sudah semakin sore."Ucap Miska mencoba menghilangkan keraguannya.
Rendi menganggukkan kepalanya dengan tetap menyunggingkan senyum. Dia tahu apa yang saat ini di fikirkan oleh sang kekasih, apalagi kalau bukan soal kakaknya, David.
Setelah urusan mereka selesai, Rendi dan Miska pun meninggalkan cafe lalu pulang dengan mobilnya masing-masing. Arah jalan pulang mereka pun tidak satu arah, saat di perjalanan pulang, Miska mampir ke minimarket terlebih dahulu untuk membeli roti tawar yang selalu dipakai wanita setiap bulannya.
" Ehhh kita ketemu lagi."Seru seseorang saat Miska sedang mengantri di kasir minimarket. Miska langsung mengalihkan pandangannya kearah sumber suara dan dia mengulas senyum saat tahu siapa yang sudah menyapanya.
" Hai kak Vito. Belanja juga."Seru Miska menyapa Vito.
__ADS_1
" Iya nih. Beli kebutuhan kamar mandi, maklum hidup menjomblo jadi apa-apa serba sendiri."Jawab Vito dengan ramah.
" Makanya cepat cari gantinya jadi nanti ada yang ngurusin kak Vito."Jawab Miska sambil terkekeh kecil.
" Gantinya sebenarnya sudah ada, tapi ternyata aku kalah cepat dengan pria lain. Wanita itu ternyata sudah punya pacar, hahh malang benar ya nasib ku."Seru Vito sambil memd3s4h pelan.
" Mungkin kak Vito ditakdirkan untuk kembali rujuk sama mantan istri. Kalau memang bisa rujuk kenapa tidak? Lebih baik rujuk saja sana sama mantan istri kak Vito." Seru Miska seolah dia tahu dengan masalah rumah tangga Vito.
Hahaaaa Haaaaa
Pernyataan Miska justru membuat Vito tertawa lebar sampai-sampai semua orang yang ada di minimarket itu memandang kearah mereka.
Miska dan Vito pun tersadar jika mereka saat ini sedang mengantri di kasir minimarket. Setelah selesai membayar barang belanjaannya,Miska keluar minimarket lebih dulu. Baru juga dia membuka pintu mobil, tiba-tiba Vito memanggilnya.
" Miska tunggu !."Seru Vito sedikit berlari takut Miska lebih cepat masuk mobil.
" Iya kak ada apa? Soal yang tadi maaf ya, aku hanya bercanda saja kok jangan di ambil hati."Ucap Miska merasa tidak enak karena tadi sudah membicarakan masalah pribadi Vito.
" Oh soal itu tidak apa-apa. Oh iya ini untuk kamu, kamu pasti suka cokelat."Ucap Vito sambil mengulurkan 3 cokelat kearah Miska.
Miska tidak langsung menerima cokelat itu. Miska ragu untuk menerimanya, sebab dia tidak tahu apa motif Vito memberikan cokelat itu kepadanya. Bukan Miska tidak tahu soal hati Vito, Miska sebenarnya tahu jika wanita yang tadi di maksud Vito adalah dirinya.
* Apa aku harus menerima cokelat itu? Tapi nanti dia mengira aku ini memberi harapan, tapi kalau tidak diterima aku dikira sombong. Serba salahkan? Ya sudahlah terima saja, lagipula aku menganggap dia itu teman tidak ada yang lebih. Kalaupun dia berfikir lain ya terserah dia. Tapi sepertinya kak Vito tidak seperti itu.*Gumam Miska dalam hatinya.
" Emm iya kak terima kasih ya."Jawab Miska sambil mengambil cokelat dari tangan Vito.
" Tentu dong, tapi harus datang sama pasangan nya ya."Jawab Miska.
Tidak ada jawaban dari Vito, tapi hanya anggukan kepala dan senyuman saja. Dia juga bingung mau memberikan jawaban apa, sehingga dia memilih menganggukan kepala. Setelah sudag tidak ada lagi yang dibicarakan Miska pun masuk ke mobilnya dan melaju meninggalkan pelataran minimarket.
* Aku menemukan sosok Nia didalam diri Miska. Seandainya aku kenal Miska dari dulu mungkin aku bisa mendekatinya dari awal. Ternyata memang Tuhan belum mentakdirkan aku mendapatkan jodoh yang lebih baik.* Gumam Vito dalam hatinya.
********
" Mama, malam ini Nada mau bobok sama mama dan papa ya? Boleh kan ma?." Tanya Nada yang memang saat ini ada dikamar Nia dan David.
David yang sedang membaca buku tiba-tiba langsung menatap istrinya. Dia berharap jangan sampai Nada tidur dengan mereka, sebab malam ini David akan meminta jatah malamnya kepada sang istri.
" Boleh dong."Jawab Nia dengan singkat.
Uhhuk Uhhuk Uhhuk
Tiba-tiba David batuk-batuk, dia kaget mendengar jawaban dari Nia. Bagaimana bisa Nia mengizinkan Nada untuk tidur dengan mereka. David ingat betul terakhir kali Nada tidur dengan mereka, membuat David serba salah. Sebab tempat tidur dikuasai Nada dan dengan tepaksa David tidur di sofa. Dan untuk jatah malam juga gagal di eksekusi.
" Nada sudah besar loh kok mau tidur sama papa dan mama?."Tanya David meletakkan bukunya lalu berjalan mendekati Nada.
__ADS_1
" Papa ini kalau Nada mau tidur sama mama selalu tidak boleh. Pokoknya Nada mau tidur sama mama, masa papa terus yang tidur sama mama."Seru Nada dengan cemberut.
* Ini bocah pasti dapat ilmu seperti ini dari Miska. Bagaimana papa tidak tidur dengan mama Nada, mama itu istri papa. Ah kamu ini, kalau kamu tidur sini bisa gagal dong olah raganya.*Gumam David dalam hati.
Nia hanya bisa tertawa dalam hati, dia tahu maksud suaminya melarang Nada tidur dengan mereka. Wajah David terlihat kesal dan seolah sangat memelas.
David memberi kode Nia dengan mengedipkan matanya. Belum juga Nia buka suara, justru Nada lebih dulu yang berkomentar yang membuat David semakin salah tingkah.
" Mata papa sakit? Sana dikasih obat tetes dulu biar sembuh. Tapi mata papa tidak merah, papa bohong ya. Pura-pura sakit mata biar Nada tidak tidur disini."Seru Nada berhasil membuat Nia tertawa.
" Haaa Haaa.. Nada, Nada. Kamu ini ada-ada saja. Papa itu tidak sakit mata sayang, tapi mata papa hanya gatal saja. Coba Nada bantu papa garuk matanya,siapa tahu nanti hilang gatalnya."Seru Nia membuat Nada benar-benar mendekati papanya lalu menggaruk mata sebelah kanan milik David.
" Sudah tidak gatal kan pa?." Tanya Nada dengan wajah polosnya.
Hhhuuufffff
David menghembuskan nafas dengan kasar, sepertinya keinginan olah raga malamnya, malam ini harus di tunda dulu. Keadaan yang tidak memungkinkan.
" Iya sayang sudah tidak gatal. Terima kasih ya sudah bantuin papa menggaruk mata."Jawab David.
" Sama-sama papa. Sekarang Nada mau bobok saja ya, sudah mengantuk."Jawab Nada.
" Bobok dikamar Nada?."Tanya David antusius mengira Nada akan pindah kekamarnya sendiri.
" No !! Nada mau tidur sama papa dan mama."Jawab Nada yakin dan tidak bisa lagi di ganggu-gugat.
Hahhhh
Pasrah sudah David, ternyata anaknya memang tidak bisa di ajak kompromi.
" Hubby, aku sama Nada tidur duluan ya. Hubby lanjut saja baca bukunya, kalau sudah mau tidur jangan lupa matikan lampu utamanya."Ucap Nia seolah mengejek suaminya.
" Iya sayang. "Jawab David singkat.
Nia menyelimuti Nada, sebelum tidur Nia meminta Nada untuk membaca doa terlebih dahulu.
" Hai dedek bayi, dedek juga bobok ya. Kak Nada juga mau bobok. Da dedek bayi, good night."Ucap Nada sambil mengusap perut Nia sebelum dia benar-benar tidur.
" Iya kakak Nada."Jawab Nia menirukan suara anak-anak.
Tidak menunggu lama, dua wanita berbeda usia itu kini sudah tertidur. Dengkuran halus terdengar oleh David, David melihat dua malaikat tak bersayapnya sudah tidur dengan nyenyak.
" Ya Allah. Terima kasih, Engkau telah menjodohkan aku dengan Nia. Seorang wanita yang penyabar, sederhana dan penyayang. Dia bisa menjadi istri dan ibu untuk anak-anakku, dia berhasil menjadi seorang ibu yang baik dan bisa mengambil hati Nada. "Ucap David pelan sambil mengusap rambut Nia dan Nada secara bergantian.
David pun mematikan lampu utama yang ada dikamar, lalu menggantinya dengan lampu tidur yang ada di atas nakas samping kanan dan kiri ranjang. Setelah itu Davidpun ikut berbaring di samping Nada, Nada ada di tengah-tengah Nia dan David.
__ADS_1
**********