
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
" Mama Nia tidak mau jadi mama nya Nada Oma. Mama Nia tidak sayang Nada. Hhuuhuu Hikkkss Hikkks" Seru Nada sembari menangis.
Deg.
Hati Nia semakin sesak dan pilu mendengar tangisan Nada. Tidak tahu kenapa akhir-akhir ini Nia merasakan cinta dan kasih sayang yang lebih untuk Nada. Cinta dan kasih sayang Nia kepada Nada seperti kepada anak nya sendiri.
" Apa begitu Nia?" Tanya pak Widjaya.
" Maaf tuan. Saya tidak bermaksud seperti itu, emm saya tadi hanya memberikan sedikit pengertian untuk Non Nada. Agar dia tidak banyak berharap. " Seru Nia mulai menceritakan kronologi sebelum Nada menangis.
Pada akhirnya Nia menceritakan semua yang tadi sudah terjadi sehingga Nada menangis sesungggukan seperti itu. Pak Widjaya tidak menyalahkan Nia, apa yang dimaksud Nia juga benar. Disini pak Widjaya justru menyalahkan David. Seandainya jika David mendengarkan kata - katanya untuk menikahi Nia tentunya tidak ada yang namanya harapan palsu.
* Tapi jika aku tetap memaksakan David untuk menikah dengan Nia apa Nia setuju? Selama ini aku hanya bicara pada sebelah pihak saja. Siapa tahu Nia juga sudah punya calon suami.* Gumam pak Widjaya pada dirinya sendiri.
" Harap kamu maklumi saja apa yang dikatakan Nia. Sekarang lebih baik kamu pulang dulu, Nada kalau sudah ngambek begitu biasaya dirayu seperti apapun tidak akan mempan. Yang ada dia akan semakin menangis dan marah, hheeehhh anak itu mewarisi sifat kedua orang tuanya. Ceria, peduli dengan sesama itu dari Almarhum mamanya, keras kepalanya dari si David arogan itu." Ucap pak Widjaya.
" Baik Tuan kalau begitu lebih baik saya pulang saja dulu. Nanti kalau ada apa - apa dengan Non Nada kabari saya ya Tuan." Seru Nia.
" Iya nanti pasti saya kabari kamu. " Ucap pak Widjaya dengan ramah.
Akhirnya Nia pulang cepat, Nada sendiri saat ini sedang berada dikamarnya ditemani Karmila dan mbak Nur sang pengasuh Nada. Dia belum tahu jika saat ini Nia sudah pulang.
Sepanjang perjalanan Nia terus kefikiran soal Nada. Nia khawatir jika Nada akan sakit dan dia yang akan disalahkan oleh David. Boss arogan itu pasti akan memarahi dan memakinya tanpa mau mendengarkan alasan Nia.
Nia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mobil yang mengantarkannya pulang. Matanya terpejam untuk menetralisir penatnya tubuh fikirannya. Akhir - akhir ini banyak masalah yang terjadi dalam hidupnya. Lamunan Nia dibuyarkan oleh pak sopir yang mengatakan jika mereka sudah sampai didepan rumah Nia.
__ADS_1
" Terimakasih pak " Seru Nia dengan sopan sebelum dia turun.
" Sama - sama mbak Nia." Jawab pak sopir dengan ramah.
Setelah Nia turun dari mobil, pak sopir kembali melajukan mobilnys meninggalkan pekarangan rumah Nia.
" Loh Nia kok sudah pulang? Bukannya hari ini jadwalnya kamu kerumah Tuan David?" Tanya ibu Karti dengan heran sebab tidak biasanya Nia pulang jam segini. Biasanya akan pulang malam, ini baru jam 4 tetapi Nia sudah pulang.
Ibu Karti mendekati Nia, dia khawatir Nia sakit sehingga Nia harus pulang cepat. Melihat ibunya yang terlihat khawatir justru membuat Nia terharu. Ibunya benar - benar mengkhawatirkan dia.
* Betapa besar cinta dan kasih sayangmu untuk ku bu. Sebegitu khawatirnya ibu dengan ku.* Gumam Nia dalam batinnya.
" Nia tidak apa - apa bu. Memang hari ini Nia sampai jam segini, sebab tadi kerumah Tuan Davidnya cuma sebentar saja sebab mereka ada acara lain." Ucap Nia berbohong.
* Maafkan aku bu, terpaksa aku berbohong sebab aku tidak mau ibu kefikiran dengan masalah ku. Semoga saja besok aku masih bisa bekerja di rumah sakit itu bu. Aku khawatir boss arogan itu memecatku secara sepihak.* Gumam Nia dalam batinnya.
Ibu Karti hanya mengangguk sambil ber oh ria. Mereka berdua pun masuk kerumah, Nia masuk kekamarnya dan mengistirahatkan tubuhnya yang benar - benar lelah.
Braaakkkkk
" Kamu sudah berapa lama bekerja di perusahaan ini ?' Tanya David dengan menatap tajam Vito.
" Sudah 5 tahun Tuan. Maaf " Seru Vito ketakutan saat mendapati amarah David.
" Dasar bodoh !! 5 tahun kamu bekerja di perusahaan ku tapi masih saja sebodoh ini. Apa orang seperti kamu pantas menjadi seorang menejer keuangan jika menghandel proyek seperti ini saja tidak bisa !! Apa kamu mau aku pecat? Dasar tidak becus !!Percuma aku menggaji kamu besar kalau pekerjaanmu seperti ini.!" Bentak David dengan lantang.
* Kenapa David jadi semarah ini dengan Vito ? Seperti ada dendam pribadi saja. Padahal kesalahan Vito tidak sefatal itu, hanya telat melaporkan keuangan saja. Lagipula proyek masih tetap berjalan dengan normal * Gumam Rendi dalam batinnya.
Vito masih menunduk sembari mengumpat David, dia geram dengan sifat arogan David. Padahal juga semuanya baik - baik saja tidak ada masalah. Tetapi sepertinya David memang tidak mau menerima alasan apapun yang Vito sampaikan.
" Maaf Tuan, saya akan menyelesaikan semua laporan yang anda minta. " Seru Vito.
" Harus ! Dan segera selesaikan ! Besok pagi semua itu harus ada di atas meja saya, tidak ada kata untuk menolak. Jika kamu tidak sanggup lebih baik kamu mengundurkan diri saja. Sekarang kamu keluar dari ruanganku." Seru David bicara dengan lantang.
__ADS_1
* Ini gila ! Ini benar - benar gila, lama - lama bisa serangan jantung dan hipertensi aku jika terus - terusan menghadapi amatah Tuan David. Ini sudah jam 4 sore waktunya untuk pulang, laporan itu juga masih mentah. Bagaimana bisa diselesaikan dalam semalam.* Gumam Vito dalam batinnya.
" Kamu keluar sekarang, jangan sampai kamu dipecat." Ucap Rendi tegas meminta Vito untuk segera keluar dari ruangan David.
Vito mengangguk patuh, dia keluar dari ruangan David dengan wajah kesal dan kusut. Selama 5 tahun bekerja di perusahaan David baru kali ini Vito mendapatkan amarah yang luar biasa dari David. Dengan kesalahan yang tidak seberapa.
* Dasar Boss Arogan. Kalau begini terus lama - lama aku juga tidak sanggup bekerja disini. Kalau aku tidak bekerja disini pasti aku akan mengelola perusahaan Mama dan pasti mama akan terus menyetir hidup ku. Aku tidak mau sampai hal itu terjadi.* Gumam Vito dalam batinnya.
Setelah Vito keluar , Rendi mendekati David dan duduk di kursi seberang David. David hanya memandang jengah kearah Rendi.
" Boss ada masalah apa kamu sama Vito? Perasaan marah mu tadi bukan hanya soal pekerjaan? Apa ada masalah pribadi?" Tanya Rendi beruntun membuat David mengerutkan keningnya.
" Maksud kamu apa ? Mau kamu aku marah - marah seperti tadi? Dasar assisten tidak berguna !" Seru David dengan kesal.
" Seperti ada dendam pribadi. Padahal ini kan memang masalah kecil, bahkan menejer itu juga harus menyelesaikan laporan sesuai yang ada dilapangan dan ini belum waktunya. Kenapa kamu bisa semarah ini? Kamu memang suka marah - marah sih, tapi kali ini marahnya kamu aneh saja." Seru Rendi dengan heran.
David sendiri langsung terdiam dan memikirkan apa yang tadi dia lakukan. Dia mengakui pada dirinya sendiri jika tadi saat melihat Vito tiba - tiba ingin marah sehingga dia mencari alasan untuk memarahi Vito.
* Ada apa dengan ku, kenaps tadi aku negitu emosi saat melihat dia. Ini tidak seperti biasanya.* Gumam David dalam batinnya.
Namun David tetap tidak mau disalahkan. Menurutnya dirinya sudah benar dan tidak mau untuk disalahkan. Menurutnya dia itu Boss nya dan Boss pasti harus selalu benar.
" Dia memang pantas untuk mendapatkan semua itu agar dia bekerja dengan cepat. Sudah sana, kamu juga keluar dari ruanganku. Aku mau pulang , ini juga sudah waktunya untuk pulang. Jika pekerjaanmu belum selesai kamu harus bekerja lembur." Ucap David bicara dengan seenaknya.
" Tidak mau ! Sudah 3 hari ini aku selalu lembur, jadi untuk hari ini aku mau pulang saja. Percuma lembur tapi tidak dapat bonus dan gajipun tidak dinaikan." Ucap Rendi mencoba untuk protes.
" Memangnya berapa gaji kamu ? Kamu itu dapat dobel, ya sudah kalau begitu gaji kamu aku kurangi setengahnya. Tidak ada kata untuk protes !!" Seru David tegas.
Setelah bicara seperti itu David segera bangkit dan keluar dari ruangannya diikuti oleh Rendi yang mencoba memprotes apa yang sudah diputuskan oleh David. Namun David tidak perduli, dia sudah terlanjur kesal dengan Rendi.
" Jangan di potong dong gajiku Boss " Seru Rendi.
" Jangan bikin ulah kamu." Seru David.
__ADS_1
Rendi terlihat pasrah dengan keputusan David. Sebab ini bukan kali pertama David memotong gaji Rendi. Sehingga Rendi kelimpungan saat David mengatakan akan memotong gajinya.
***********