
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Tidak ada hujan dan tidak ada angin, tiba-tiba Baskoro datang ke perusahaan Vito. Dia datang dengan langkah kaki sombongnya, semua pasang mata para karyawan memandang aneh kearahnya. Kabar perselingkuhannya dengan Bella sudah menyebar luas di kalangan masyarakat.
Tanpa mau menunggu, Baskoro langsung menerobos masuk ke ruangan Vito. Vito yang sedang sibuk dengan pekerjaannya pun kaget dengan kedatangan sang mantan mertuanya itu.
" Maaf pak, saya sudah melarang beliau untuk masuk tapi beliau memaksa."Ucap sekertaris Vito.
" Hemm tidak apa-apa, kamu kembali keruangan kamu saja."Ucap Vito tegas.
Sekertaris Vito pun keluar dari ruangan Vito dan kembali keruangannya sendiri. Vito memandang tajam ke arah sang mantan papa mertuanya itu. Hal apa yang membuat dia datang menemui nya tanpa membuat janji terlebih dahulu.
" Apa anda tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu?."Tanya Vito ketus.
" Santai Vito, aku datang kesini tidak untuk mencari ribut. Aku terpaksa datang seperti ini, jika kamu tahu aku akan menemui kamu. Pasti kamu tidak mau menerima kedatanganku. Apa boleh aku duduk?."Seru Baskoro dengan senyum dibuat seramah mungkin.
Vito tidak menjawab, tapi dia hanya menganggukkan kepalanya saja. Kini Baskoro sudah duduk di sofa yang ada di ruang kerja Vito , namun Vito tetap duduk di kursi kebesarannya tanpa mau pindah lebih dulu.
Suasana hening sesaat, Vito maupun Baskoro sibuk dengan fikirannya masing-masing. Namun akhirnya Baskoro yang lebih dulu memulai obrolan mereka.
" Apa kabar kamu, Vito?."Tanya Baskoro mulai membuka percakapan.
" Tidak perlu basa-basi, cepat katakan apa tujuan anda datang kesini. Aku tidak punya banyak waktu, sebab aku sangat sibuk."Ucap Vito dengan tegas. Dia memang sibuk, sampai sekarang sudah masuk jam makan siang saja dia tidak keluar dari ruangannya.
__ADS_1
" Santai saja sih, aku juga tidak akan mengganggu pekerjaan kamu dan bukannya itu sudah jam istirahat makan siang? Hemm aku tidak akan berlama-lama juga. Aku hanya ingin membicarakan soal Bella, aku tidak mau kamu masih memberikan uang bulanan untuk Bella sebab Bella itu sekarang istriku bukan istri mu lagi."Seru Baskoro penuh penekanan.
Awalnya Baskoro tidak masalah jika selama proses perceraian dan Bella hamil Vito masih memberikan jatah untuk Bella. Sebab memang itu kewajiban Vito, terlebih mereka proses perceraian dengan Bella yang masih hamil. Namun makin kesini, Bella justru terlalu membanggakan Vito dan itu membuat Baskoro tidak nyaman.
" Aku tidak memberi nafkah itu cuma-cuma untuk Bella, tapi nafkah itu untuk anak dalam kandungan Bella. Selama proses perceraian dan belum tahu siapa ayah biologis anak dalam kandungan Bella, aku masih wajib menafkahi anak itu. Karena saat bercerai Bella dalam keadaan hamil. Tenang saja, setelah tes DNA nanti dan menyatakan itu bukan anakku, aku tidak akan memberikan uang lagi untuk Bella ataupun anaknya."Ucap Vito bicara dengan tenang agar Baskoro bisa memahami apa yang sudah dia katakan.
" Tidak perlu tes DNA juga sudah pasti itu anakku. Pokoknya kemarin itu terakhir kamu memberi Bella uang, aku masih sanggup memberi Bella uang."Seru Baskoro tetap tidak mau.
" Oh begitu. Baiklah kalau begitu aku tidak akan lagi memberi Bella uang. Kamu jelaskan saja sama Bella kenapa aku tidak memberikan dia uang. Sudah kan? Tidak ada yang mau di bahas lagi? Jika tidak ada lebih baik sekarang anda pergi dari sini, karena saya sedang sibuk."Ucap Vito mengusir Baskoro secara halus.
*Si4l4n !! Vito sekarang sudah berani menyombongkan diri dengan ku. Tidak masalah, yang penting saat ini Bella sudah ada dalam gengamanku.*Gumam Baskoro dalam hati.
" Silahkan anda keluar."Ucap Vito kembali meminta Baskoro untuk keluar.
" Tenang saja, aku akan keluar sekarang."Seru Baskoro.
Baskoro bangkit lalu dia berjalan menuju pintu keluar. Vito sudah tidak mood lagi untuk bekerja, dia pun membereskan berkas-berkas yang ada di atas meja kerjanya. Setelah itu Vito juga keluar dari ruangannya untuk pergi makan siang.
*****
" Berta !! Hallo Berta sayang !! aku kangen sama kamu !!."Seru Rindi berteriak sambil memeluk Berta.
Saat ini mereka ada di salah satu cafe, semua pasang mata para pelanggan yang datang mengarah kearah mereka. Mereka hanya berdua, tapi suaranya sudah seperti orang satu kampung ikut berkumpul.
" Rindi !! Jangan berteriak dong, malu noh kita jadi tontonan para pengunjung Cafe."Seru Berta melirik kearah para pengunjung.
Rindi mengedarkan pandangannya, benar saja banyak pengunjung yang memandang ke arah mereka. Rindi senyum-senyum malu sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.
" Maaf, soalnya aku bahagia sekali bisa bertemu dengan mu, Berta. Sudah lama banget kita tidak bertemu, sudah 7 bulan loh kita tidak bertemu. Apa kamu tidak kangen dengan ku?"Seru Rindi yang kini sudah mendudukan tubuhnya di atas kursi samping Berta.
__ADS_1
" Kangen ya kangen tapi tidak teriak-teriak dulu dong."Seru Berta sambil menonyor kepala Rindi.
" Aoww jangan main tonyor dong. Sakit tahu, kepalaku ini juga di fitrahin loh main pukul-pukul saja."Ucap Rindi pura-pura cemberut.
Saat mereka sedang bercengkerama, tiba-tiba mata Rindi menangkap sosok pria yang dulu sangat dia kenali. Rindi pun mengepalkan kedua tangannya, ingin rasanya dia menghajar pria itu saat ini juga.
" Hehh kamu kenapa? Kesambet?."Tanya Berta heran melihat wajah Rindi yang seperti menahan marah.
" Lihat itu, itu bukannya si Vito. Laki-laki b4nci tidak tahu diri itu."Seru Rindi menunjuk kearah Vito duduk.
Berta langsung mengedarkan pandangannya sesuai dengan arah tangan Rindi. Benar juga, disana ada Vito yang duduk sendirian sambil menikmati makanannya.
" Sudahlah, kita tidak perlu mengurusi dia lagi. Sekarang Nia juga sudah bahagia bersama keluarga kecilnya, dan bukannya Vito juga sudah mempunyai istri. Kita tidak boleh mengusiknya, yang lalu biarlah berlalu."Ucap Berta meminta Rindi untuk tidak mengusik Vito.
" Aku kesal saja, Berta. Kok bisa dia itu percaya fitnah itu, mana sampai menghina dan memutuskan Nia. Dia fikir Nia itu wanita murahan, dia itu kalau bicara kadang memang tidak pakai ot4k. Geram aku sama laki modelan dia itu."Ucap Rindi dengan kesal.
" Benci-benci, tapi jangan terlalu begitu. Awas loh kamu nanti jatuh cinta sama dia."Ucap Berta sambil terkekeh.
Buggghhh
Rindi memukul pundak Berta dengan cukup kuat sampai Berta mengaduh kesakitan. Bisa-bisanya Berta bicara seperti itu, mana mungkin Rindi akan jatuh cinta dengan Vito.
" Kalau bicara itu di fikir dulu dong, masa iya aku jatuh cinta sama Vito. Ogah banget deh. "Ucap Rindi dengan kesal.
" Lah siapa tahu loh kalian itu jodoh yang tertunda. Habisnya kamu kok benci nya kebangetan gitu sama Vito, Nia saja sudah memaafkan Vito dan sudah melupakan masalah nya. Tapi kamu kok terlalu gitu bencinya, hati-hati kalau bencinya kebangetan nanti bisa jatuh cinta loh."Seru Berta.
Hhuuuhhhh
Rindi mendengus kesal. Berta dari dulu memang senang mengganggunya.
__ADS_1
* Itu bukannya teman nya Nia, Berta dan Rindi? Ternyata mereka ada di kota ini juga, hemm samperin tidak ya?.*Gumam Vito dalam hati.
**********