Dokter Penakluk Duda Arogant

Dokter Penakluk Duda Arogant
Gengsinya David


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


" Mama, papa sudah datang." Seru Nada berlari menghampiri Nia yang sedang membantu Wati membuat kue brownies.


Nia langsung menghentikan aktifitasnya dan meminta Wati untuk memasukan brownis kedalam oven. Nia mencuci tangannya dan berjalan memgikuti Nada menuju dimana saat ini David sedang berbicara dengan ibu Karti.


" Hubby."Seru Nia menyalami tangan David.


* Biarpun aku kesal dengan nya, tidak mungkin dia mau aku cuekin saat ada di rumah ibu. Yang ada ibu akan curiga dan aku juga yang pasti akan di ceramahi oleh ibu.*Gumam Nia dalam hati.


" Sayang, maaf ya aku baru bisa kesini lagi. Semalam itu banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan sehingga tidak bisa ikut menginap dirumah ibu."Ucap David beralasan dengan manisnya.


" Iya Hubby, tidak apa-apa. Semalam Hubby juga kan sudah memberitahu lewat telepon. Oh iya, Hubby mau minum apa?." Tanya Nia bersikap biasa saja.


" Emmm apa saja boleh, kalau istriku yang buatkan pasti aku minum."Jawab David dengan mulut gombal kusutnya.


Ibu Karti hanya senyum-senyum melihat keromantisan antara Nia dan David. Ternyata David benar-benar suami yang baik dan bisa membahagiakan Nia. Kunci bahagia bukan melulu dengan uang, kebahagiaan itu juga harus ada komunikasi yang baik dan memberikan perhatian-perhatian kecil kepada pasangan.


" David, ibu tinggal dulu ya. Kalian berdua mengobrol saja, ibu sama Nada mau ke kebun belakang.Ayok Nada kita panen tomat nya sekarang saja."Seru Ibu Karti mengajak sang cucu kesayangannya.


Horeeeee


Nada berteriak dengan penuh semangat sampai David mengelus dadanya karena kaget dengan teriakan Nada.


Nia sendiri berlaru ke dapur untuk membuatkan teh manis sang suami.


" Ini kue nya, Non. Sudah saya siapkan di piring,masih agak hangat sih."Seru Wati sambil tersenyum manis.


" Terima kasih Novi. Yang di oven itu jangan sampai gosong ya, awas kalau gosong kamu aku suruh buat yang baru."Ancam Nia sambil terkekeh.


" Siap Non. Pasti tidak akan gosong."Seru Wati yakin.


Nia membawa nampan yang berisi teh dan kue itu ke meja ruang tamu. Disana David sendirian dan sedang memainkan ponselnya untuk menghilangkan rasa bosannya. Nia meletakkan teh dan kue yang dia bawa di atas meja.

__ADS_1


" Terimakasih sayang."Ucap David dengan senyum dipasang sempurna.


" Hemmm."Jawab Nia hanya berdehem dengan malas.


" Sayang kenapa kamu tidak pulang dan menginap pun tidak izin dulu. Mana juga tidak menghubungi ku, aku kan jadi khawatir sama kalian berdua. Seharusnya juga kamu itu meminta maaf denganku, bukannya malah juga ikut marah. Seharusnya aku loh yang marah."Ucap David masih saja dengan keegoisannya.


Hhhuuuffffttt


Ingin sekali Nia menggetok kepala suaminya agar suaminya tidak seegois itu. Dia marah juga tanpa sebab, Nia tetap saja bersikap santai dan seolah tidak peduli.


David melirik istrinya yang masih saja stay di tempat duduknya. Sedikitpun dia tidak beranjak untuk mendekatinya dan meminta maaf.


" Sayang, kita pulang yuk." Seru David mengajak Nia untuk pulang kerumahnya sendiri.


" Mau apa aku pulang? Sedangkan kamu saja masih marah denganku, hanya gara-gara Vito menemuiku saja kamu semarah ini. Sampai kamu kemarin membentakku. Aku tahu dan sadar betul siapa itu , Vito. Dia memang mantan pacarku dan kami dulu memang saling mencintai. Tapi itu dulu, tidak dengan sekarang, cemburu mu itu terlalu berlebihan."Ucap Nia terlihat sekali dia sedang kesal.


" Stop !! Jangan kamu ceritakan lagi soal mantan mu itu. Sudah cukup, aku minta maaf karena kemarin aku sudah marah. Itu semua karena aku cemburu melihat mantanmu itu ada di rumah ini."Ucap David meminta Nia untuk menghentikan pembahasannya tentang Vito.


David tidak mau lagi mendengar Nia membahas mantan pacarnya terus menerus. David pindah tempat dia duduk, kini dia sudah duduk di samping Nia. David menggenggam tangan Nia dan dia pun membawa Nia kedalam pelukannya. Dia tidak mau Nia banyak fikiran dan stress, yang akan mengganggu kehamilannya.


" Maaf, maaf kan aku sayang. Aku tidak akan marah lagi, maaf juga kemarin aku sudah membentakmu. Aku mencintaimu, aku sangat menyayangimu. Tolong jangan marah lagi ya, aku memang kemarin terlalu cemburu."Seru David dengan tetap memeluk Nia.


" Janji ya jangan marah-marah lagi seperti kemarin?." Seru Nia dengan manja.


* Huuhhhh ternyata baru semalam saja di diemin sudah tidak betah. Makanya jangan sok-sokan marah. Marah doang di gedein sih.*Gumam Nia dalam hati.


*********


Sementara itu saat ini di rumah Baskoro, Bella belum juga bangun. Padahal matahari sudah menyingsing, sarapan yang sedari tadi di beli Baskoro untuk Bella juga masih utuh.


" Bella, bangun dong. Sudah jam 10 nih, Bell. Mau sampai kapan kamu tidur, kasihan bayi dalam kandungan kamu loh karena kamu belum sarapan juga."Ucap Baskoro membangunkan Bella dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya.


Eemmmmhhhh


Bella pun meregangkan otot-ototnya, dia benar-benar masih mengantuk dan badannya pun terasa pegal-pegal. Dia lupa jika saat ini ada dirumah Baskoro.


" Emhh Vito sayang, tumben kamu membangunkan aku? Pasti kamu kangen ya?." Seru Bella dengan mata mengerjap-ngerjap, dia mengira jika yang membangunkannya adalah Vito.


" Bella , hai ini aku Baskoro bukan Vito !!."Bentak Baskoro tidak suka jika Bella memanggilnya dengan panggilan Vito.

__ADS_1


Haaahhhhh?


Bella memandangi kesekeliling kamarnya, dan ternyata dia memang tidak ada di kamarnya. Ada Baskoro juga yang ada di depannya dengan berkacak pinggang.


" Emm papa, oh aku lupa. Aku ada di rumah suami kedua ku, aku kira tadi Vito yang membangunkan aku. "Seru Bella dengan meringis.


" Cepat bangun, dan cuci muka sana. Itu sarapan kamu tadi sudah papa belikan, jangan sampai anak dalam kandungan kamu kurang gizi karena kamu telat makan."Seru Baskoro masih terlihat kesal.


* Duchhh kenapa jika papa marah kelihatan lebih macho sih. Dia bukan seperti pria berumur 60 tapi masih seperti 40 tahunan. Aku ini kagum apa cinta sih sebenarnya.*Gumam Bella dalam hati.


Usia kandungan Bella sudah masuk 5 bulan, dan perutnya pun semakin membesar. Namun tubuhnya masih tetap stabil, Bella memang pandai merawat tubuhnya. Dan itu berhasil membuat Baskoro semakin tidak bisa melepaskan Bella, dia sangat senang bisa menikahi Bella meskipun hanya dengan secara siri.


" Iya papa sayang. Sekarang kita ini sudah menikah, tapi kenapa aku masih memanggil dengan panggilan papa? Apa ya panggilan yang cocok untuk papa?."Tanya Bella sambil mengalungkan tangannya di leher Baskoro.


" Terserah kamu saja sayang. Aku tidak mempermasalahkan sebuah panggilan, yang penting aku dan kamu sudah menjadi satu, istriku sayang."Seru Baskoro sambil mengusap bibir Bella dengan jempol tangan kanannya.


Bella tersenyum genit kearah Baskoro, dia sengaja memancing Baskoro. Dengan begitu Baskoro tidak akan marah seperti tadi.


" Kamu menggodaku, Sayang?." Seru Baskoro.


" Ahhh kamu tahu saja, Sayang. Aku memang menggoda mu, apa salah menggoda suami sendiri?"Tanya Bella dengan tangan yang sudah tidak bisa tinggal diam.


Tangan Bella sudah menelusup ke dalam celana pendek yang dipakai oleh Baskoro. Dia sudah menemukan apa yang dia cari, dengan lincahnya dia memainkan sesuatu yang masih terbungkus rapi itu.


Baskoro dibuat tidak karuan oleh Bella, tangan Bella tetap lincah bergerak meskipun milik Baskoro masih terhalang bungkusnya.


" Sayang, ahhhh buka saja sayang semuanya."Seru Baskoro dengan suara serak menahan gelora hasrat yang semakin membara.


Dengan cekatan Bella sudah menurunkan dua pembungkus barang kesukaannya itu. Terpampang jelas, benda besar itu sudah berdiri tegak dan siap untuk di ajak bertempur. Benda yang selalu di idam-idamkan oleh semua wanita, benda yang bisa membuat Bella melayang-layang menuju nirwana.


" Sayang cuma dengan tanganmu saja sudah seenak ini. Aku tidak pernah bosan dengan permainan-permainanmu sayang. Sehari saja kita bermaini, aku merasa ada yang kurang. Teruskan sayang, aku sangat menikmati nya."Ucap Baskoro dengan mata terpejam.


Mereka berdua masih tetap dalam posisi sama-sama berdiri di samping ranjang. Baskoro sudah tidak tahan lagi dengan tangan-tangan lentik Bella. Singga tanpa menunggu lama, Baskoro mengangkat tubuh Bella dan membaringkan di atas ranjang. Nafas Baskoro sudah memburu tidak menentu.


" Sayang, kamu kenapa?." Tanya Bella pura-pura tidak tahu.


" Aku sudah tidak tahan sayang, kita masukkan sekarang saja."Seru Baskoro sudah tidak tahan lagi.


" Baiklah, aku dulu ya yang bekerja."Ucap Bella membalikkan posisinya.

__ADS_1


Baskoro hanya mengangguk dengan pasrah, siapapun yang bekerja tidak masalah. Yang penting hasratnya segera tersalurkan dengan baik. Akhirnya apa yang diinginkan Baskoro sudah tersalurkan dengan baik, dan Bella menservisenya dengan sangat-sangat baik dan sangat membuat Baskoro puas.


**********


__ADS_2