
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
" Beres. " Seru David setelah mengakhiri panggilan teleponnya dengan anak buahnya.
Anak buah David baru saja menghubungi David dan memberi kabar jika dua preman dan Sabita sudah mendekam di penjara sesuai dengan yang diharapkan David. Semenjak bersama Nia, David memang sudah tidak sekejam dulu. Jika masih yang dulu, dua preman itu saat ini pasti sudah tinggal nama saja.
Tok
Tok
Tok
Pintu ruangan David di ketuk oleh seseorang dari luar.
" Masuk."Seru David dengan suara baritonnya.
Ternyata Rendi yang datang keruangan David. Sebenarnya tidak ada masalah pekerjaan yang terlalu penting untuk dia bicarakan dengan David. Tapi dia masuk ruangan David juga ada hal lain yang ingin dia bicarakan serius dengan David.
" Ada apa?." Tanya David penuh selidik.
" Apa tuan, sibuk?." Tanya balik Rendi dengan wajah sedikit tegang.
" Hemmm tidak terlalu sibuk. Ada apa?."Tanya David lagi terus menanyakan maksud kedatangan Rendi keruangannya.
" Cepat katakan ada apa? Aku ini sibuk?." Tanya David lagi sampai mengeraskan suaranya.
Hhhuuufffff
Rendi menghela nafas dengan kasar, berhadapan dengan David memang menguji kesabaran dan adrenalinnya. Baru tadi dia bilang tidak terlalu sibuk, tapi sekarang sudah lain lagi yang dia katakan.
" Begini tuan. Tuan kan sudah tahu tentang hubungan ku dengan Miska, hemm saya harap tuan merestui hubungan kami. Dan besok malam saya beserta keluarga saya akan datang untuk melamar Miska."Ucap Rendi benar-benar gugup dan jantung berasa senam.
Bbrraaakkk
David menggebrak meja kerjanya, bukan dia marah dengan Rendi tetapi karena dia kaget dengan perkataan Rendi barusan. Dengan cepatnya Rendi akan membawa orang tuanya untuk melamar adiknya.
" Duduk."Seru David meminta Rendi untuk duduk lebih dulu baru melanjutkan pembicaraannya mereka.
Rendi mengangguk patuh, dia pun duduk di kursi yang berada tepat didepan David. Meskipun dia gugup dan jantung tidak aman, dia mencoba menutupi agar David tidak semakin memarahinya.
" Maaf tuan, apa anda marah karena saya mau melamar Miska?."Tanya Rendi.
" Marah? Menurutmu bagaimana?." Tanya David justru balik bertanya.
" Emm saya tidak tahu tuan."Jawab Rendi gugup.
__ADS_1
" Bodoh !! Sudah berapa tahun kamu bekerja dengan ku? Apa kamu masih tidak hafal juga dengan ku. Ohh atau jangan-jangan kamu memang sudah tidak mau lagi bekerja denganku jadi kamu cari-cari alasan saja. Kalau memang sudah tidak mau lagi bekerja denganku, ya bilang saja. Nanti aku akan memecatmu dan segera mencari penggantimu."Seru David bicara dengan sangat lancar.
Degghh
Jantung Rendi semakin tidak aman, mana mungkin Rendi sudah tidak mau bekerja lagi dengan Davvid. Hanya di perusahaan Davidlah dia mendapat posisi yang bagus dan gaji yang besar, sampai dia sudah bisa membeli rumah dan mobil sendiri secara kas.
" Maaf Tuan, saya masih betah dan mau bekerja dengan tuan."Jawab Rendi dengan cepat agar David tidak semakin marah.
" Hemmm. Sudah punya nyali juga kamu mau melamar adikku?." Tanya David membuat Rendi semakin gemetar menghadapi David.
" Saya memang tulus dan serius mencintai, Miska. Saya mencintainya bukan semata-mata karena dia anak dari keluarga Widjaya, bukan itu alasan saya mencintai Miska. Alasan saya mencintai Miska dan ingin menjadikan Miska istri, itu karena saya kagum dengan kepribadiannya yang sederhana, periang dan sabar. Meskipun Miska terlahir dengan kekayaan yang melimpah, dia tidak pernah berbangga diri dengan harta yang dimiliki orang tuanya."Seru Rendi kini sudah bisa menguasai rasa gugup dan tegangnya.
" Saya memang bukan pria kaya raya seperti tuan. Tapi, saya berjanji akan membahagiakan Miska dengan caraku sendiri. Insya Allah saya dan Miska bisa hidup bahagia, meskipun tidak bergelimang harta. Sekarang hanya restu dan izin dari tuanlah yang saya minta, agar hati ini semakin berani untuk segera melamar dan mempersunting Miska."Ucapan Rendi benar-benar menyentuh hati David.
David bukan tidak setuju dengan hubungan Miska dan Rendi, David hanya ingin tahu lebih jauh seberapa besar cinta Rendi untuk Miska. Dan seberapa jauh usaha Rendi untuk mendapatkan Miska.
" Datanglah kerumah orang tua ku, disana nanti kamu akan menemukan jawabanku."Ucap David membuat Rendi sedikit lega.
Namun ada ketertakutan yang dia rasakan, dia takut jika David akan menolak lamaran nya untuk Miska di depan orang tuanya. Akan tetapi Rendi tetap mensugesti dirinya sendiri jika semua akan baik-baik saja.
"Baik tuan, besok malam saya dan orang tua saya akan datang kerumah utama keluarga Widjaya."Jawab Rendi dengan yakin.
" Hemm sekarang kamu keluar dan kembalilah bekerja. Ini bukan waktunya untuk membicarakan masalah hati dan urusan pribadi, ini kantor dan ini juga masih jam kerja. Jangan sampai aku memecatmu dan kamu akan menjadi pengangguran sebelum berhasil menikahi adikku."Seru David sedikit mengancam sambil tersenyum licik.
Haahhhh !!!
Lagi dan lagi David kembali mengancam Rendi. Daripada semakin mendapat ancaman Rendi memilih keluar dari ruangan David yang panas dan mencekam itu.
*******
Di tempat lain, sebagai seorang ibu yang sudah melahirkan dan membesarkan Bella, tentunya membuat Leni merasakan sesuatu yang terjadi dengan Bella. Siang itu, sekitar jam 11 siang Leni mengendarai mobilnya dari klinik menuju rumah yang di tempati Baskoro dan Bella.
Leni memacu kuda besinya dengan kecepatan diatas rata-rata. Biarpun sudah berumur, Leni masih sangat lincah berkendara sendiri dengan kecepatan full.
" Kenapa aku sudah beberapa hari ini sangat merindukan Bella. Aku terus kefikiran dia, untuk tidurpun aku sudah tidur. Sebenarnya apa yang terjadi dengan anak itu?." Tanya Leni pada dirinya sendiri.
Cukup lama dalam perjalanan, akhirnya mobil yang di kendarai Leni sudah sampai di rumah Baskoro.
Tok
Tok
Tok
" Bella ! Bel, Bella !! Ini mama, cepat buka pintunya."Seru Leni mengetuk pintu sambil terus. berteriak memanggil-manggil nama Bella.
Tidak ada jawaban dari Bella, Leni mencoba menghubungi ponsel Bella. Ponsel Bella aktif namun tidak di angkat-angkat juga. Sampai pada akhirnya Leni menyerah dan hendak meninggalkan rumah Baskoro.
Braakkk
Braakkk
__ADS_1
Terdengar suara tendangan dan gebrakan dari arah dalam rumah Baskoro. Leni menghentikan langkah kakinya, lalu dia kembali mengintip melalui jendela tapi didalam sana terlihat sepi dan tidak ada siapa-siapa.
" Tadi suaranya itu dari dalam rumah dan seperti orang menendang ataupun memukul pintu. Apa jangan-jangan rumah ini ada penghuninya selain manusia?."Tanya Leni pada dirinya sendiri.
Brraakk
Suara itu kembali terdengar, namun hanya sekali saja.
Sedangkan didalam kamar, saat in Bella sedang disekap dikamar dengan tangan dan kaki tetikat di kursi dan mulutpun di lakban full oleh Baskoro.
Bella terus menerus mendekati pintu dan menendang pitu dengan menendang bagian yang terjangkau oleh kaki.
" Siapa didalam? Apakah itu kamu Bella?."Terdengar teriakan Leni dari luar rumah.
* Mama, tolongin Bella Ma. Ku mohon, mama jangan pulang. Carilah cara agar bisa masuk kerumah Ma.*Seru Bella dalam hatinya.
Suara Leni sudah tidak terdengar lagi, sepertinya Leni sudah putus asa atau justru dia ketakutan. Sebab rumah itu juga tetangganya berjarak jauh-jauh.
" Bella, Bella."Seru Leni dari dekat jendela kamar yang ditempati oleh Bella.
Ternyata Leni belum pergi, dia ada di dekat jendela mencari tahu sumber suara. Hati Leni semakin merasakan hal yang tidak enak, jendela itupun tidak bisa untuk mengintip. Semua celah ternyata sudah ditutup oleh Baskoro.
" Eeemmmhhhh.. Emmmhhh."Seru Bella dengan mulut yang terlakban sempurna.
Sayup-sayup Leni mendengar suara seseorang dengan suara seperti mulut yang di bekap. Leni semakin curiga ada sesuatu yang terjadi dengan Bella.
" Sepertinya ada orang didalam kamar ini, aku tadi seperti mendengar suara orang dengan mulut di bekap."Ucap ibu Leni mulai curiga dengan kamar yang ada didepannya.
" Bella, apa kamu didalam? Jika memang kamu ada didalam tolong kasih tahu mama. Terserah kamu kasih pertanda apa, Bella."Seru Leni sangat yakin kalau didalam kamar ada Bella.
Leni bergerak cepat dengan meminta bantuan para tetangga. Saat Leni hendak menghampiri rumah warga, tiba-tiba mobil Baskoro memasuki halaman rumah dan berhasil membuat Leni terkejut.
* Si4l !! Kenapa dia pulang? aku masih sangat penasaran dengan isi kamar tadi.*Gumam Leni.
" Leni !! Ngapain kamu datang kesini? Mau mengajak rujuk?."Tanya Baskoro dengan percaya dirinya.
" Oh aku datang kesini untuk bertemu dengan, Bella. Ada yang ingin aku bicarakan dengan Bella. Kalau boleh tahu, Bella kemana kok rumah sepi begini "Tanya Leni mencoba memancing pertanyaan.
" Hemm Bella sedang jalan-jalan sama temannya. Mungkin saat ini sedang makan siang dengan teman-temannya. Kenapa kamu tidak mencoba untuk menghubungi ponselnya saja."Jawab Baskoro dengan gugup.
Baskoro memang kelihatannya sangat gelisah, gugup dan tidak tenang. Dia kawatir jika Leni akan tahu kalau Bella sedang dia sekap didalam kamar sana.
" Lebih baik kamu pulang saja, nanti kalau Bella sudah pulang aku minta dia untuk menggubungi kamu."Ucap Baskoro mengusir Leni secara halus.
Leni menangkap suatu kebohongan dari raut wajah Baskoro. Leni takut Baskoro sudah berbuat yang tidak-tidak kepada Bellqla. Namun, Leni tidak boleh terlihat mencurigai Baskoro begitu saja. Harus mencari bukti-bukti yang real.
" Oh ya sudah kalau begitu aku pulang saja, dan kasih tahu Bella jika aku datang mencarinya."Ucap Leni lalu dia melangkahkan kakinya menuju mobilnya.
Setelah Leni benar-benar sudah pergi, Baskoro masuk dan kembali mengunci pintu rumah yang tadi sudah dia buka.
" Kasihan juga ya istriku ini. Oh iya, tadi mama kamu datang dan dia meminta untuk kamu menghubunginya. Nanti kamu hubungi mama kamu, awas saja kalau sampai kamu berani mengadu dengan mama kamu. Hukumannya main sampai pagi. Haahaaa haaaa haaaa."Ucap Baskoro dengan tawanya yang lantang.
__ADS_1
*********