
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Nia kesal dengan sikap David, bukan kesal karena David menghajar Vito. Tetapi kesal karena David datang hanya membuat keributan dan marah. Bahkan sekarang dia justru memilih pulang dan marah dengan Nia. Nia tidak habis fikir dengan jalan fikiran David, bisa-bisanya dia marah dan menuduh Nia masih mencintai Vito.
Tok tok tok
Kamar Nia di ketuk oleh ibu Karti, sang ibu menghawatirkan keadaan Nia sehingga dia menemui Nia di kamar.
" Masuk."Ucap Nia dari dalam kamar.
Tidak menunggu lama, ibu Karti pun masuk. Ibu Karti menghampiri Nia yang duduk di pinggiran ranjang.
" Nia, kemana suamu kamu?."Tanya ibu Karti dengan lembut.
" Sudah kembali ke kantor bu."Jawab Nia dengan suara dibuat sebiasa mungkin.
" Kalian sedang tidak marahan atau salah paham masalah yang tadi kan?." Tanya ibu Karti lagi.
" Tidak Bu. Ibu tenang saja, aku dan David tidak ada masalah apa-apa kok. David memang masih ada urusan di kantor jadi saat Wati membawa Vito keluar, suami Nia habis itu juga ikut pergi. Oh iya bu, malam ini Nia menginap disini ya. Nia merindukan kamar ini, mungkin bawaan dedek bayi didalam sini."Ucap Nia mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
Untuk malam ini Nia memutuskan untuk menginap saja di rumah ibunya. Pulang juga percuma, pasti akan diam-diaman dengan David. Nia sedang malas untuk mengurusi suaminya yang marah tidak jelas. Untuk Nada, jika dia mau menginap ya tidak masalah dan jika dia ingin pulang biar nanti di jemput sama sopir saja.
" Tapi apa kamu sudah izin sama suami kamu?." Tanya ibu Karti.
" Sudah bu, sebelum David pergi tadi Nia sudah izin lebih dulu. Dan dia pun mengizinkan, hanya Nada kalau dia tidak mau menginap nanti ada sopir yang akan menjemputnya. Tapi mana mungkin Nada tidak mau menginap? Dia itu betah kalau disini, bahkan sudah berkali-kali dia mengajak Nia menginap di sini."Jawab Nia terpaksa soal izin David dia berbohong.
" Sekolahnya bagaimana?." Tanya Ibu Karti.
" Besok kan hari minggu bu. Sebenarnya hari ini Nada sekolah sih, kebetulan para miss nya ada acara jadi sekolah diliburkan. Dan arisan wali murid dibuat maju sehari, oh iya bu mana Nada?." Tanya Nia menanyakan keberadaan anaknya itu.
Dari semenjak masuk rumah ibunya, Nia sudah melupakan Nada. Anak itu pasti sedang di kebun belakang, Nada memang senang berkebun cocok dengan nenek Karti.
" Ada di belakang sama Wati."Jawab ibu Karti singkat.
Nia hanya mengangguk pelan, tidak tahu kenapa tiba-tiba Nia sangat mengantuk. Sehingga beberapa kali dia terlihat menguap, ibu Karti pun meminta Nia untuk tidur lebih dulu. Orang yang sedang hamil memang seperti itu, suka mengantuk dan mood nya terkadang sering berubah ubah.
Nia membaringkan tubuhnya di atas kasur, meskipun kasur yang digunakan sudah berbeda dan tata letak kamar juga sudah jauh berbeda. Akan tetapi rasa nyaman kamar itu masih senyaman dulu saat masih kamar sederhana.
__ADS_1
" Kenapa tadi justru dia yang marah? Padahal dia kan tahu kalau aku sudah tidak ada apa-apa dengan Vito? Dasar suami arogan, kalau marah tidak lihat situasi dan tidak mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu. Lagian Vito tadi apa-apaan ya, seperti orang yang tidak waras saja."Ucap Nia bermonolog pada dirinya sendiri.
Nia terus berperang dengan fikirannya sendiri sampai tahu-tahu matanya sudah terpejam dan diapun tertidur dengan lelap.
Sementara saat ini di rumah orang tuanya, Vito membuat panik mamanya. Bagaimana tidak panik, melihat wajah Vito yang babak belur seperti itu. Sudah pasti Hesti akan histeris, Vito juga lupa kenapa justru dia pulang kerumah oranv tuanya bukan rumahnya sendiri.
" Vito .. !! Wajah kamu kenapa?."Tanya Hesti kaget melihat wajah Vito yang bonyok.
" Kecelakaan."Jawab Vito singkat sambil menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa ruang keluarga.
" Hahhh? Kecelakaan? Kecelakaan dimana dan kenapa hanya wajah kamu saja yang bonyok, Vito?." Tanya Hesti beruntun.
Sudah sakit, mendengar cecaran pertanyaan dari sang mama membuat dirinya semakin merasakan sakit lagi. Hesti terus menyecar pertanyaan sampai Vito mau menjawabnya lebih jelas lagi.
" Kecelakaan bagaimana, Vito? Jawab mama?."Ucap Hesti lagi.
" Biasalah ma namanya juga laki-laki."Jawab Vito seenaknya.
Bukannya mengambilkan obat atau alat untuk mengompres luka memar-memar Vito. Hesti malah terus saja menayakan sebab kenapa Vito bisa sampai babak belur seperti itu.
" Jadi kamu berantem? Bukan kecelakaan?." Tanya Hesti lagi.
" Ma sudah dong, jangan banyak tanya terus. Lebih baik sekarang mama tolong Vito, mama ambil obat atau air untuk mengompres luka Vito ini."Seru Vito dengan kesal.
Hesti menghela nafas dengan berat, disaat seperti ini masih saja dia yang harus mengurus Vito. Padahal Vito juga sudah punya istri, tapi masih beruntung sampai sekarang Vito belum menceraikan Bella. Bagaimanapun Bella, Hesti harus tetap mempertahankan Bella menjadi menantunya demi nama baiknya.
" Bibik, tolong ambilkan air dan peralatan untuk kompres. Jangan lupa salep untuk luka memar sekalian !."Teriak Hesti meminta kepada pembantu rumah tangganya.
" Vito kenapa, Ma?." Tanya Pak Sigit yang baru saja pulang dari main Golf dengan teman-temannya.
" Habis berantem dia. Tidak tahu apa yang diperebutkan sampai wajahnya babak belur begitu. Mama tidak terima anak mama seperti ini, sepertinya kita harus melaporkan masalah ini ke kantor polisi."Seru Hesti dengan kesal.
Vito yang memejamkan matanya hanya bisa mengumpat mamanya dalam hati saja. Apa mamanya fikir gampang main lapor polisi segala, yang ada justru anaknya sendiri yang akan diseret kepenjara.
" Ini Nyah obat dan air kompresnya."Ucap bik Sumi.
" Kamu bantu Vito mengompres itu luka-lukanya, aku ada janji sama teman-teman arisanku. Vito, mama pergi dulu ya. Kalau ada apa-apa panggil saja bik Sumi atau minta tolong sama papa kamu. Pa, mama pergi ya. Bye...."Ucap Hesti lalu melenggang pergi begitu saja.
" Mama kamu itu benar-benar keterlaluan, anak bonyok seperti ini bukannya diobati dulu malah di tinggal pergi."Seru Pak Sigit dengan kesal.
" Begitu saja papa cuma bisa diam kan? Tidak mau menasehati atau melarang mama. Mau sampai kapan papa diam begitu, jangan takut kalau itu demi kebaikan mama."Ucap Vito menanggapi perkataan papanya.
Pak Sigit tidak mau memperpanjang ucapannya lagi, ada bik Sumi di antara mereka. Pak Sigit pun masuk untuk menyimpan peralatan Golfnya dan tidak lama dari itu dia kembali lagi menghampiri Vito.
__ADS_1
" Apa kamu tidak mau kerumah sakit saja, Vito. Itu memarmu parah loh, kalau cuma mengandalkan obat oles saja rasa sakitnya lama hilangnya. Itu nanti malam pasti nyeri-nyeri itu, yuk kerumah sakit saja biar diobati dokter jadi biar luka kamu itu juga tidak bengkak. Itu pelipis kamu juga terluka."Ucap pak Sigit menghawatirkan keadaan Vito.
" Baiklah pa, bik terima kasih ya."Seru Vito.
" Iya sama-sama mas, Vito. Ini lebih baik memang ditangani dokter saja kok, Mas. Jadi biar bengkaknya juga tidak parah. Ini mas Vito sudah seperti maling yang tertangkap dan dihakimi warga saja. Heheee."Ucap bik Sumi.
Vito mencoba tersenyum, bik Sumi sudah dia anggap seperti ibunya sendiri. Sebab sejak Vito berusia 5 tahun diurus bik Sumi, sampai detik ini setiap Vito datang dan menginap bik Sumi lah yang mengurusnya. Mamanya, jangan ditanya lagi. Sudah pasti dia sibuk sendiri dengan teman-temannya dan jalan-jalan keluar negeri.
Pak Sigit mengendarai mobil sendiri, sedangkan Vito tiduran di kursi belakang. Kepalanya mulai sakit disertai pusing.
" Vito kita sudah sampai, mau papa ambilkan kursi roda?" Tanya pak Sigit.
" Tidak perlu pa. Vito masih kuat jalan sendiri kok."Jawab Vito mulai membuka pintu mobil dan menurunkan kakinya.
*Si4l4n !! Ini semua gara-gara David. Wajahku jadi bonyok dan jelek begini, lihat saja David ! Kalau aku sudah sembuh aku pastikan akan membalasmu.*Gumam Vito dengan langkah mulai menuju gedung rumah sakit.
Brruukkkk
Vito menabrak dokter muda yang dulu pernah dia temui. Vito terpesona dengan kecantikan dokter itu, cantiknya natural dan tidak membosankan. Sama persis dengan cantiknya Nia.
* Dokter cantik ini mengingatkanku dengan Nia.*Gumam Vito dalam hatinya.
" Anda terluka?." Tanya dokter muda itu yang bername tag Miska.
" Ohh maaf dokter. Tolong obati luka-luka memar anak saya,tadi dia itu habis berantem sampai wajahnya bonyok seperti ini."Pak Sigit justru yang menjawab pertanyaan Miska.
" Baiklah, saya akan bantu obati. Mari kita masuk dulu ke ruangan pemeriksaan."Seru Miska membantu Vito berdiri.
Pak Sigit pun membantu Vito untuk berdiri lalu memapahnya menuju ruang pemeriksaan. Tidak sampai lama, mereka sudah sampai di ruang pemeriksaan. Vito berbaring dan Miska dengan telaten mengobati luka Vito.
* Ini orang habis maling apa gimana ya? Kok wajahnya bisa bonyok seperti ini, sudah seperti dihakimi masa saja. Idihh ini kenapa malah dia terus memandangiku seperti itu? Hello aku ini sudah punya pacar dan tidak mungkin suka dengan kamu.* Gumam Miska merasa terganggu dengan tatapan mata Vito.
" Ini kenapa pak kok sampai bisa bonyok begini? Ketahuan maling ya?."Tanya Miska setengah bercanda.
" Dokter bisa saja. Biasalah laki-laki, terima kasih dokter sudah mau mengobati luka saya."Ucap Vito.
" Hemm. Sama-sama, sebenarnya ini ada dokternya sendiri. Cuma kebetulan dokternya sudah pulang dan saya gantikan. Sebentar lagi juga saya mau pulang, jadi kalau besok saat anda datang lagi dokternya sudah beda jangan kaget."Ucap Miska memberitahu.
" Oh begitu. Dokter ini sudah lama ya kerja di rumah sakit ini?." Tanya Vito mencoba sok akrab.
" Ohh kurang lebih hampir 3 bulan ini, saya cuma dokter magang saja. Dan seminggu lagi selesai, nah sudah selesai. Saya buatkan resep dulu ya, nanti bisa di tebus di tempat pengambilan obat."Ucap Miska tetap berusaha ramah meskipun dia merasa kurang suka dengan Vito.
* Oh dia dokter magang? Pantas saja dulu aku tidak pernah melihatnya.*Gumam Vito dalam hatinya.
__ADS_1
***********