
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Vito sudah ikut kerumah Bella, kali ini saja dia ingin menemui Leni. Dia tahu, Leni menjadi seperti ini juga awalnya karena perbuatan mereka berdua. Perzin4han yang mereka lakukan membekas di dalam ingatan Leni, dan Leni juga teropsesi dengan Vito.
" Mana mama bik?." Tanya Bella saat bik Lastri menyuguhkan minuman untuk Vito.
" Ada di kamarnya Non." Jawab bik Lastri.
Setelah meletakkan secangkir teh dan kue, bik Lastri kembali ke dapur. Leni ada dikamarnya, Vito enggan untuk melihatnya namun dia sudah terlanjur janji akan menemui Leni.
" Apa kamu mau menemui mama ku di kamar saja atau aku ajak turun kesini?."Tanya Bella seakan dia tahu apa yang saat ini difikirkan Vito.
" Bawa turun kesini saja, Bella. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, aku sudah mau menikah dan aku menghindari adanya fitnah."Jawab Vito secara lugas dan tegas.
" Baiklah. Kamu tunggu saja disini sambil minum tehnya. Aku akan ajak mama ku untuk turun, nanti aku mohon tolong bicara dengan pelan dan sabar. Jangan marah-marah, karena mama sekarang sensitif sekali dan kejiwaannya juga seperti orang yang kurang normal."Ucap Bella kembali mengingatkan Vito.
Vito mengangguk paham dengan yang dikatakan Bella barusan. Sembari menunggu Bella membawa turun mamanya, Vito lebih memilih memainkan ponselnya sembari sesekali meminum teh buatan bik Lastri.
Cukup lama menunggu, akhirnya Bella dan Leni turun juga ke lantai bawah. Mata Leni langsung berbinar saat dia mendapati Vito duduk di sofa ruang tamu.
" Vito."Seru Leni berlari kecil lalu memeluk Vito dengan erat.
Vito tidak bisa berbuat banyak, untuk sesaat dia membiarkan mantan mama mertuanya memeluknya. Bella melihat jika Vito sudah mulai tidak nyaman dengan pelukan mamanya, Bella pun meminta mamanya untuk melepaskan pelukannya.
" Mama, lepaskan dulu ya pelukannya. Kasihan Vito, dia susah untuk bernafas. Mama duduk saja di samping Vito."Ucap Bella bicara dengan lemah lembut.
" Kamu susah bernafas, Vito? Maaf ya, aku terlalu bahagia bertemu kamu jadi aku ingin selalu memelukmu."Seru Leni lalu dia melepaskan pelukannya.
* Haahh... Kenapa mama secara tiba-tiba bisa bicara dengan normal begini? Masa iya karena Vito, berarti Vito memang obat yang ampuh untuk mama. Biasanya dia bertingkah seperti orang yang tidak waras, tapi tidak dengan saat ini.*Gumam Bella dalam hatinya.
__ADS_1
Vito masih saja diam, dia masih bingung mau memulai pembicaraan darimana. Dia melihat Leni yang sangat bahagia bertemu dengannya.
" Emm.. Tante Leni apa kabar?." Tanya Vito mulai membuka percakapan.
" Baik, sangat baik. Bahkan sekarang sudah jauh lebih baik. Ini semua karena kedatangan kamu, Vito aku sangat merindukanmu. Aku juga sangat mencintaimu."Seru Leni yang saat ini sudah memeluk manja lengan Vito.
Vito terlihat sangat risih dengan perlakuan Leni. Vito tidak bisa membiarkan Leni terus menerus berharap dengannya. Dia harus tegas dan harus bisa membuat Leni menyadari jika semua perlakuan dan perasaannya itu salah.
" Emm.. Tante tolong lepaskan. Maaf kita tidak pantas seperti ini, ini tidak baik. Ada hati seorang wanita yang saat ini harus aku jaga, Tante. Tolong tante jangan seperti ini ya, sebentar lagi aku akan menikah jadi Vito minta tante sadarlah dengan kekeliruan ini. Tante bisa mendapatkan pria yang lebih baik dari Vito, tolong tante lepaskan lengan Vito ya."Ucap Vito bicara dengan cukup pelan dan lembut.
Deegghhh
Seketika Leni melepaskan lengan Vito dan sedikit menjauh dari Vito. Namun tiba-tiba dia menangis terdedu-sedu, Bella dan Vito pun tidak tahu harus berbuat apa. Mereka seperti membiarkan Leni menangis dan menumpahkan kekesalannya sendiri.
" Kamu jahat !! Kamu sudah melupakanku!."Bentak Leni dengan berteriak histeris.
" Maaf tante, aku hanya ingin hidup bahagia dengan pasanganku. Begitupun dengan tante, berbahagialah dengan kehidupan tante. Maaf jika Vito sudah melukai hati tante, tapi yang namanya perasaan itu tidak bisa di paksakan. Lupakanlah kenangan buruk kita, Kita sekarang sama-sama meniti kebahagiaan kita."Ucap Vito menasehati Leni agar Leni bisa menyadari kekeliruannya.
Leni diam dan menundukkan kepalanya. Seakan dia sudah paham dengan apa yang dikatakan oleh Vito.
" Tapi mama mencintai Vito, Bella."Ucap Leni dengan sedih dan terisak.
" Itu bukan cinta tapi obsesi, Ma."Seru Bella lagi.
Leni kembali diam namun isak tangisnya masih terdengar. Dalam hatinya yang paling dalam dia ingin sekali bersama Vito, namun sepertinya itu tidak akan mungkin terjadi.
" Pulanglah Vito."Seru Leni secara tiba-tiba.
Vito memandang ke arah Bella, dan Bella menganggukkan kepalanya. Tidak menunggu lama, Vito pun bangkit dan benar-benar keluar dari rumah Bella. Dengan rasa lega Vito memaju kuda besinya menjauh dari pekarangan rumah Bella.
******
Acara syukuran kelahiran anak Nia dan David baru di adakan sore ini. Acara tidaklah di adakan dengan besar-besaran, hanya mengundang beberapa teman, saudara dan keluarga besar beserta anak yatim.
David tidak mau jika istri dan anaknya yang masih bayi kelelahan jika harus mengadakan acara yang meriah.
__ADS_1
" Namanya siapa tadi kak?."Tanya Miska yang pura-pura lupa dengan nama keponakan barunya.
Tokkkk
David menggetok kening Miska dengan jari nya, baru juga satu jam yang lalu namanya di umumkan sekarang sudah lupa lagi.
" Isshhh kak David ini, sakit tahu. Kalau nanti jidat ini benjol kak Rendi bagaimana mau mencium keningku. Masa iya mau langsung pindah di bibir saja, aku sih tidak masalah. Tapi kak Rendinya yang pasti akan panas dingin."Seru Miska bicara tanpa filternya.
Rendi gelagapan dan salah tingkah, bercandanya Miska sangat menyulitkannya. Melihat sorot mata David saja sudah sangat mengerikan bagaimana jika menghadapinya disaat dia marah. Bisa jadi dendeng balado si Rendi.
" Jadi kalian pacarannya sudah sejauh itu? Jika seperti itu, minggu depan kalian menikah !!."Seru David terdengar serius.
Gleeekkkk
Rendi menelan salivanya sendiri, sepertinya David sedang tidak bercanda. Bisa di lihat sorot matanya yang tajam dan suaranya yang tedengar tegas.
" Miska kamu ini kalau bercanda jangan keterlaluan dong. Lihat tuh kakak kamu menanggapinya serius."Seru Nia memarahi Miska.
" Tidak apa-apa kak,,dengan begini aku dan kak Rendi kan bisa cepat menikah. Tahu tidak sih kak, kalau aku ini juga sudah ingin punya anak. Aku dan kak Rendi sudah berencana mau punya anak 3, 2 laki-laki dan 1 perempuan."Ucap Miska malah semakin jadi.
" Rendi, segera siapkan pernikahan mu dengan Miska minggu depan."Seru David lagi.
" Tapi apa tidak terlalu cepat tuan?."Tanya Rendi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Pak Widjaya dan Istrinya hanya bisa geleng-geleng kepala. Kelakuan Miska memang seperti disengaja, agar bisa cepat di nikahkan. Dan David yang memang takut adiknya melakukan dosa atau zin4 lebih memilih menikahkan saja.
" Hubby, apa tidak terlalu cepat? Menikah itu butuh persiapan yang matang, apalagi pernikahan Miska dan Rendi dulu mau di adakan pesta resepsi yang meriah. Apa cukup 1 minggu mempersiapkan semuanya."Ucap Nia yang merasa kasihan dengan Rendi yang harus menyiapkannya dalam waktu 1 minggu.
" Cukup sayang, seminggu itu sudah lebih dari cukup. Kamu tahukan Rendi itu siapa kalau dia sudah bertindak bakal beres semuanya. Jangankan seminggu lagi, besok lusa saja pasti dia bisa! Biar Miska tidak keg4njen4n terus, dia memang punya cita-cita menikah muda. Lihat saja tuh wajahnya saja berbinar bahagia."Seru David sambil melirik Miska yang senyum-senyum sendiri.
Hhhuuufff
Rendi terdengar menghela nafas dengan berat. Bukan dia tidak mau menikah secepat ini, yang dia bingungkan adalah dalam 1 minggu dia harus bisa mengurus pesta resepsi yang sesuai keinginan Miska dan keluarganya. Belum lagi pekerjaan di kantor sedang banyak-banyaknya. Banyak proyek baru yang masih Rendi kerjakan. Bagaimana kepala Rendi tidak pusing dibuatnya, tubuhnya cuma satu tapi pekerjaan yang harus dia kerjakan cukup banyak.
* Kuat-kuat badan ku, jangan sampai menikaj gagal dan pekerjaan pun tidak beres.*Gumam Rendi dalam hatinya.
__ADS_1
*********