
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
" Sayang kamu tidak apa-apa? Maafkan aku sayang, gara-gara aku tidak menjemput mu kamu harus mengalami hal seperti ini. Aku juga yang lupa memberitahu pak sopir untuk menjemputmu. Padahal aku sudah bilang jika ada sopir yang menjemputmu, tapi aku malah yang lupa memberitahunya. Maaf, maaf kan aku sayang."Seru David memeluk Nia sambil terus mengucapkan kata maaf dan menyalahkan dirinya sendiri.
Nia terharu sampai dia menangis di pelukan David. Mengetahui istrinya yang menangis membuat David semakin merasa bersalah. David mengira jika Nia terluka dan saat ini kesakitan. Jika Nia benar-benar terluka, David tidak akan memaafkan dirinya sendiri dan dia akan menghajar habis dua preman yang sudah menculik Nia.
" Sayang mana yang sakit? Katakan padaku, biar aku mengobatinya. Lihat saja, aku akan habisi dua preman yang sudah melukaimu itu."Seru David lalu mengusap air mata Nia yang membasahi pipinya.
" Hubby. Hiikkss Hiikksss."Ucap Nia lalu kembali terisak.
Memang sangat berlebihan, tapi tidak tahu kenapa Nia justru ingin menangis di pelukan suaminya. Bisa saja efek kehamilannya yang sudah membuatnya seperti itu.
" Sayang jangan menangis, aku sudah ada di sini dan akan selalu melindungimu."Ucap David dengan lembut lalu mencium mesra kening Nia.
" Terima kasih, Hubby. Terima kasih kamu sudah perhatian dan menyayangiku. Aku menangis bukan karena aku terluka, tapi karena aku terharu karena perhatian dan keperdulianmu, Hubby. Terima kasih."Ucap Nia kembali memeluk David.
David membalas pelukan Nia dan tangannya mengusap lembut punggung Nia. David membawa Nia duduk di sofa yang ada di kamarnya.
" Jadi kamu tidak terluka, Sayang?." Tanya David lagi.
" Tidak hubby, aku baik-baik saja. Mereka semua datang di waktu yang tepat jadi aku bisa mereka selamatkan tanpa ada luka sedikitpun. Tapi hubby, emm ternyata yang melakukan ini semua adalah Sabita. Dia masih saja dendam dengan ku karena dia bilang akulah yang menyebabkan papanya merugi dan terancam bangkrut."Ucap Nia dengan wajah cemberut kesalnya.
" Bukan kamu yang menyebabkan papanya bangkrut sayang. Aku memang menarik saham ku dari perusahaan Papanya, dan aku juga membatalkan kerjasama. Tapi, itu juga ada alasan tertentu. Perusahaan pak Wahab sudah banyak mencurangi perusahaan ku dan perusahaan lain. Kerja sama juga banyak kecurangan yang hampir membuat aku merugi. Jadi kamu jangan merasa bersalah seperti ini, semua ini terjadi bukan karena kamu. Dan untuk teman mu yang bernama Sabita itu, aku pastikan dia akan menyesal dan mendapat ganjarannya."Ucap David menyakinkan Nia agar Nia tidak bersedih lagi.
Nia paham dengan apa yang dikatakan David. Dia juga tidak terima perbuatan Sabita yang sudah berusaha menculik nya dan melukainya. Nia setuju jika David memberikan hukuman atau membalas perbuatan Sabita.
" Hubby, aku mau Sabita mendapat ganjaran atas perbuatannya ini. Aku benar-benar tidak terima dengan semua ini, aku tadi sangat ketakutan. Aku takut dua preman itu akan menyakitiku dan kandunganku."Ucap Nia dengan serius.
" Tenang sayang, aku pasti akan membuat dia merasakan apa yang kamu rasakan. Bahkan aku akan membalasnya lebih dari yang dia lakukan. Sekarang kamu istirahatlah, aku mau mandi dulu. Gerah dan kotor sekali badan ini, tadi setelah dari luar kota aku menemui dua preman itu dan aku juga sudah menghajarnya."Ucap David sambil melepas kemeja nya dan meletakkan di keranjang pakaian kotor.
Nia sudah bisa membayangkan bagaimana bentuk wajah dua preman itu saat ini. Yang pasti dia sudah babak belur karena David, Nia tahu betul bagaimana suaminya jika sudah marah. Nia sudah pernah melihat dengan mata kepalanya sendiri saat David menghajar Vito.
Tok
Tok
Tok
Pintu kamar Nia di ketuk dari luar, Nia bangkit dari duduknya lalu membukakan pintu.
" Miska, ada apa?." Tanya Nia saat tahu jika yang mengetuk pintu adalah Miska.
" Kak Nia mau makan malam dibawah apa mau diantar di kamar? Kalau mau makan di kamar nanti Miska ambilkan."Ucap Miska sangat perhatian dengan Nia.
" Nanti biar aku dan kakak mu makan dibawah saja. Itu dia sekarang lagi mandi, kalian makan duluan saja tidak apa-apa. Oh iya, terima kasih ya tadi sudah bantuin kakak mengobati pipi."Ucap Nia.
" Sama-sama kak. Ya sudah kalau begitu aku kebawah lagi ya, bilang kak David kalau sudah selesai mandi segera turun, papa mau kita makan malam sama-sama. Jadi kami menunggu kak Nia dan kak David."Ucap Miska lagi.
Nia pun mengiyakan apa yang dikatakan Miska sambil menganggukan kepalanya. Miska kembali turun ke lantai bawah, dia bergabung dengan mama dan papanya serta Nada yang fokus dengan kartun nya.
******
Di tempat lain, tepatnya di salah satu rumah kontrakan yang terbilang minimalis. Sabita sedang merutuki nasib nya, yang tadinya tinggal di rumah mewah, bertingkat di kawasan elit. Kini harus tinggal di rumah sederhana dan hanya rumah kontrakan.
__ADS_1
" Huuh panas, gerah sudah lengkap banget penderitaan ku ini. Ini semua gara-gara Nia, coba saja kalau Nia itu tidak berulah pasti semua ini tidak akan terjadi denganku. Tapi aku sudah bisa membalasnya,lihat saja dua preman bayaran itu pasti sudah menghajar nya dan mencicipinya. Hahaa.. Aku senang sekali, akhirnya aku bisa menghancurkan hidup Nia." Ucap Sabita tertawa keras didalam kamarnya.
Sabita mengira jika kedua preman bayarannya sudah berhasil menyakiti Nia. Sabita mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada preman sewaannya.
[ Bagaimana tugas kalian? Apa berjalan dengan lancar?.]
[ Aku mau kalian hajar wanita itu, bila perlu sampai anak dalam kandungannya m4ti. Aku sudah berubah fikiran, aku benar-benar mau dia menderita. Gara-gara dia hidupku seperti ini.]
[ Woyy balas pesanku.]
Tiga pesan beruntun Sabita kirimkan ke ponsel si gondorong. Namun belum juga ada balasan, Sabita tidak tahu jika saat ini dua preman bayarannya sudah ada dalam genggaman David.
Tringgg
Ponsel Sabita bergetar, ada pesan masuk dari Si gondrong.
[ Lancar dan aman. Malam ini aku akan mengeksekusi wanita ini.]
[ Tenang saja, aku akan melakukan semua perintahmu.]
[ Besok kamu datang saja di gedung tua daerah X yang dekat sungai itu. Saksikan sendiri bagaimana aku menyiksanya dan menghajarnya.]
Tiga pesan balasan dari si gondrong sudah Sabita baca. Senyum Sabita tiba-tiba cerah mengembang, bagaimana tidak? Apa yang dia rencanakan ternyata berjalan dengan lancar. Tanpa Sabita ketahui, jika balasan sudah menantinya.
Yang membalas pesannya pun bukan dua preman yang dia sewa, melainkan anak buah David lah yang sudah membalas pesan itu.
" M4mpus kamu Nia. Sekarang aku bisa tidur nyenyak meskipun panas dan gerah, tapi karena suasana hatiku sedang senang. Aku akan membiarkan panas dan gerah ini, lama-lama juga mata bisa terpejam."Ucap Sabita pada dirinya sendiri.
Sabita merebahkan tubuhnya di kasur kecil yang tidak seberapa empuk itu. Dia sudah tidak sabar untuk berganti hari esok, untuk melihat Nia yang disiksa dan dihajar oleh preman bayarannya itu.
******
Mobil David melaju dengan kecepatan yang luar biasa. Sampai mobil-mobil yang ada di depannya memilih untuk menepi dan membiarkan David mendahuluinya. Setelah 20 menit, mobil David sudah sampai di tempat tujuan dan segera dia turun lalu masuk menemui sandranya.
" Mana mereka?." Tanya Davi kepada anak buahnya.
" Ada di dalam ruangan biasanya, Tuan."Jawab anak buah David.
" Apakah wanita itu sudah menghubungi dua preman itu?."Tanya David lagi.
" Sudah tuan. Semalam saya yang membalas pesannya. Dan jam 10 nanti wanita itu akan datang menemui dua preman itu, dan saya alihkan di rumah kosong yang ada di dekat sungai sana. Setelah Tuan menemui mereka, mereka akan langsung kamu bawa kerumah tua itu."Ucap anak buah David secara mendetail.
David berjalan menuju ruangan dimana preman itu disekap. Saat pintu terbuka dan terlihatlah David memasuki ruangan itu, kedua preman itupun langsung bangkit dan menundukkan kepalanya.
" Aku memberikan pilihan untuk kalian. Mau penjara atau selamanya ada di tempat ini dan mendapatkan siksaan dari para anak buah ku. Oh iya, wanita itu nanti akan menemui kalian. Tapi aku minta, cukup kalian beri pelajaran saja dia jangan sampai kami menikmatinya lebih dulu."Ucap David tegas dan menakutkan.
David sengaja merubah rencananya, dia tidak tega jika dua preman itu akan m3l3cehkan Sabita lebih dulu. David teringat, jika dia punya adik perempuan dan anak perempuan sehingga dia meminta dua preman itu untuk memberi pelajaran saja dan selebihnya polisi yang akan memberikan hukuman.
" Iya tuan. Tuan, apa tidak ada pilihan lain. Kami tidak mau di penjara dan tidak mau ada di tempat ini. Tolong bebaskan kami tuan, kami sudah berjanji tidak akan berbuat kejahatan lagi. Kami juga sudah mengikuti perintah anda untuk memberikan pelajaran wanita itu."Ucap si gondrong mengiba.
Tidak ada kata ampun untuk penj4h4t yang sudah mencoba menculik dan melukai sang istri. Masih beruntung David menawarkan penjara, bukan siksaan sepanjang waktu.
" Pilihannya cuma dua, penjara atau disini selamanya. Lagi pula wanita itu juga akan meringkuk di penjara, jadi kalian bertiga sama-sama mendapat ganjaran yang setimpal."Seru David dengan tegas.
" Kaa.. kami mau di pen.. penjara saja , Tu,,tuan."Jawab sang preman bertato dengan gagap.
David tersenyum sinis lalu dia meninggalkan ruangan itu, dan langsung menuju mobilnya melanjutkan perjalanannya ke perusahaan.
Sementara itu saat ini Sabita sudah berada di perjalanan menuju tempat yang sudah dijanjikan. Tiga puluh menit yang lalu, anak buah David sudah mengirimkan titik lokasi kepada Sabita dengan memakai ponsel si gondrong.
__ADS_1
Sabita tersenyum cerah dan dia juga ikut melantunkan nyanyian sesuai dengan lagu yang dia putar.
" Hemm sepertinya ini tempatnya, tampak sepi dan menyeramkan. Tapi bagus juga, tempat seperti ini susah untuk di temukan, pasti suami Nia si David si4l4n itu tidak bisa menemukan keberadaan Nia."Ucap Sabita dengan bangganya.
Saat Sabita masuk, dia sudah di sambut oleh kedua preman bayarannya. Preman itu menatap tajam ke arah Sabita, tatapan penuh amarah dan dendam. Marah dan dendam karena sudah tidak berkata jujur siapa wanita yang kemarin mereka culik.
" Mana wanita br3ngs3k itu? Ehh kenapa dengab wajah kalian, seperti habis di pukulun begitu?.Tanya Sabita dengan keheranan.
" Bukan urusanmu."Ucap si Gondrong ketus.
" Haai jaga bicara kalian !! Aku ini orang yang membayar kalian, dan aku ini berarti boss kalian. Kalian kalau bicara jangan pakai otot."Seru Sabita tidak terima karena si gondrong bicara dengan kasar.
Pllaakk
Pllaakk
Si gondrong menampar Sabita, lalu menarik rambutnya sampai kepala Sabita mendongak tepat di wajah si gondrong.
" Apa yang kamu lakukan? Jangan kurangajar kamu !! Lepaskan, dan jauhkan wajah burukmu itu dari hadapanku. Kamu menjijikan dan bau."Seru Sabita masih saja bersikap arogant dan sombong.
Pllakkk
Pllaakk
Si gondrong kembali menampar pipi Sabita dengan kuat sampai sudut bibirnya mengeluarkan darah. Sabita semakin marah dan meradang.
" Kamu ternyata menjebak kami, kenapa kamu tidak bilang jika wanita itu istri dari tuan David. Gara-gara kamu, kami berdua harus berurusan dengan tuan David. Dan pukulanku tadi sebagai luapan amarah ku karena kamu sudah melibatkan kami dalam masalahmu.'Seru si preman bertato yang ikut buka suara.
" Maksud kalian apa? Kalian ketahuan David? Berarti Nia sudah di selamat dan dia tidak ada disini. Oh kalian juga membohongiku? Lihat saja aku tidak akan mentransfer uang sisa bayaran kalian."Seru Sabita dengan kesal sambil meringis kesakitan.
Bugghh Bugghh
Bugghh Bugghh
Plakkk , Brruukkk
Pukulan bertubi-tubi Sabita terima dari si preman bertato yang memang sedari tadi belum menghajar Sabita sama sekali. Sabita tersungkur di lantai yang kotor, dia kesakitan dan mencoba menahan rasa sakitnya itu.
" Kenapa kalian menghajarku. Hikkss Hikkss."Sabita menangis karena tidak kuat dengan rasa sakit akibat tamparan dan pukulan preman itu.
" Itu balasan untuk mu karena kamu kami juga dihajar tuan, David." Seru si gondrong dengan mata penuh amarah.
Empat anak buah David keluar dari persembunyiaannya. Mereka langsung memegang satu persatu targetnya. Dua preman itu nampak sudah puas sudah meluapkan emosinya kepada Sabita dan mereka juga siap tidak siap harus ikut kekantor polisi.
" Kalian siapa lagi? ."Tanya Sabita keheranan.
" Tidak penting siapa kami. Yang penting sekarang kalian bertiga ikut kami ke kantor polisi dan pertanggung jawabkan perbuatan kalian di kantor polisi. Dengan cara menjadi narapidana disana."Ucap anak buah David.
" Tidak !! Aku tidak mau di penjara, semua ini ulah preman itu bukan ulah ku. Bawa saja mereka!."Teriak Sabita dengan lantang.
" Aku sudah puas menghajarnya. Sekarang bawalah kami dan dia ke kantor polisi. Terima kasih sudah memberikan kesempatan kami untuk menghajar wanita ular ini lebih dulu." Ucap si preman bertato.
Sabita terus berontak agar tidak dibawa ke kantor polisi. Tapi tenaganya kalah kuat, apalagi tubuhnya yang lemah dan sakit-sakit membuat dia semakin tidak bisa memberontak. Sabita kehilangan banyak tenaga, dan akhirnya dia tidak berdaya dan pasrah saja. Hidung Sabita dan wajah Sabita bonyok akibat di hajar oleh dua preman bayarannya sendiri. Seperti istilah senjata makan tuan.
Mereka ke kantor polisi dengan mengendarai dua mobil. Salah satunya mobil Sabita, yang nantinya akan mereka tinggal di kantor polisi dan biar diambil oleh orang tua Sabita.
Hanya butuh waktu 30 menit, mereka sudah sampai di kantor polisi. Ketiganya langsung diserahkan kepada polisi dan laporannya pun sudah di proses. Setelah semuanya selesai, keempat anak buah David meninggalkan kantor polisi.
**********
__ADS_1