Dokter Penakluk Duda Arogant

Dokter Penakluk Duda Arogant
Memang mirip


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Nia yang sudah selesai jam praktik siangnya, kini sudah berada di ruangan dokter Irawan. Sebenarnya dia penasaran kenapa dokter Irawan kembali memanggilnya. Apa masih masalah yang kemarin, namun saat Nia sudah berada di ruangan dokter Irawan ternyata dokter Irawan tidak sendirian ada seorang pria yang umurnya tidak jauh dari dokter Irawan dan ada anak gadis serta ada nada di sana.


" Nia kenalkan ini Tuan Widjaya beliau ini juga pemilik rumah sakit ini. Dia orang tua dari David, dan ini Miska adik David yang sekarang juga sedang berkuliah kedokteran di kampus yang sama dengan tempatmu kuliah dulu." Ucap pak Irawan dengan jelas.


* Kenapa juga pak Irawan mengenalkan secara mendetail begitu ? Apa karena aku sudah resmi bekerja di rumah sakit ini sehingga aku pun harus tahu silsilah dari keluarga pemilik rumah sakit ini * Gumam Nia dalam batinnya.


Nia membungkukkan badannya sembari mengulas senyum ramahnya. Diapun memperkenalkan dirinya secara langsung.


" Perkenalkan Nama saya Kurnia , biasa di panggil Nia " Seru Nia dengan ramah dan sopan.


Menyadari keberadaan Nia, membuat Nada seketika meletkkan botol susunya dan langsung bangkit menghampiri Nia dan meminta Nia untuk menggendongnya. Melihat tingkah menggemaskan Nada membuat Nia dengan cepat menggendong Nada.


" Mama , kok lama cih. Nada kangen sama mama. Oh iya mama aku mau makan bakso lagi. Yuk kita makan bakso lagi." Ucap Nada dengan ceria.


Nia tidak enak dengan perlakuan nada bagaimanapun Nia bukan mamanya nada, apalagi saat ini ada kakek dan aunty nada. Membuat Nia semakin salah tingkah dan takut jika semua ini akan berdampak buruk untuk karirnya. Dia takut dipecat secara tidak hormat oleh sang owner rumah sakit.


" Nada sayang turun dong mama nya pasti capek, biar mama duduk dulu. " Ucap pak widjaya dengan lembut.

__ADS_1


" Oh iya Nada lupa, Opa." Seru Nada semakin menggemaskan.


Nada segera turun dari gendongan Nia, dan Nada mengajak Nia ikut bergabung duduk di sofa dengan mereka semua. Dengan sungkan Nia pun mengikuti permintaan Nada. Dia tidak mau membuat nada bersedih ataupun menangis.


* Kalau diperhatikan Nia memang sedikit mirip dengan Hera. Tinggi nya, tubuhnya bahkan wajahnya ada kemiripan. Pantas saja Nada mengira jika Nia adalah ibunya.* Gumam pak Widjaya dalam hatinya.


Miska terus memperhatikan wajah Nia, menurut Miska memang wajah Nia ada sedikit kemiripan dengan mantan suami kakaknya. Maka tidak salah lagi jika nada mengira dia adalah mamanya.


" Hemm.. Maaf pak Irawan, tadi bapak memanggil saya ada apa ya pak ?" Tanya Nia ingin tahu maksud pak Irawan memanggilnya.


" Oh tidak apa - apa Nia. Ini tadi pak Widjaya ingin bertemu kamu. Beliau ingin mengantarkan cucunya untuk bertemu kamu." Jawab pak Irawan.


Nia memandang kearah Pak Widjaya, beliau hanya mengangguk sambil tersenyum. Begitu pula dengan Miska, sedangkan nada sudah tidak bisa lepas lagi dari Nia. Sedari duduk tadi Nada sudah meletakkan kepalanya di atas paha Nia. Dengan santainya anak itu tidur dengan bantalan paha Nia, sembari melanjutkan meminum susu botolnya lagi.


" Tidak apa-apa Pak. Namanya juga anak kecil, lagi pula Nada juga tidak merepotkan saya. " Jawab Nia dengan lembut dan sopan.


" Kalau kamu tidak keberatan bolehkah cucu saya menganggap kamu sebagai mamanya dan memanggil kamu dengan panggilan mama? Mungkin dengan begitu cucu saya bisa bahagia dan tidak akan bersedih lagi karena kematian mamanya. "Ucap pak Widjaya dengan serius seakan memohon kepadanya.


Justru Nia yang merasa tidak enak dengan Pak Widjaya, sampai pak Widjaya berkata seperti itu kepadanya. Akhirnya Nia pun mengangguk tanda setuju dengan apa yang diminta oleh Pak Widya barusan. Miska juga ikut bahagia dengan jawanan berupa anggukan kepala dari Nia.


" Opa nanti mama kita ajak pulang ya opa, aunty. Mama biar tidak di Rumah sakit terus Opa. Kemarin juga papa marah sama mama, mungkin karena mama lama pulangnya. Kalau mama tidak mau pulang Nada mau ikut mama dirumah sakit juga. Nad kangen tidur dipeluk sama mama ." Celoteh bocah kecil itu penuh harap.


Nia tidak bisa berbuat apa - apa karena dia juga kasihan dengan Nada. Disisi lain dia taku Nada terus memanggilnya Mama. Apalagi Nada sampai ingin tidur dengannya.


*******

__ADS_1


BRAAAAKKK


" Dasar bodoh ! Mengerjakan laporan begitu saja tidak becus dasar sekertaris bodoh !" Teriak lantang David memarahi sekertarisnya sembari melemparkan berkas laporan yang dia minta.


Maya sebagai sekertaris David sudah tidak kaget lagi dengan perlakuan David. Amarah David sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Maya. Namun hari ini David sudah keterlaluan, dia meminta laporan dan hanya memberikan waktu satu jam saja. Maya yang memang sedang mengerjakan pekerjaan yang lainnya, kaget saat David meminta laporan itu. Sehingga Maya mengerjakannya dengan buru-buru dan hasilnya tidak maksimal.


" Maaf Tuan saya akan memperbaiki laporan ini. Tadi saya mengerjakan memang sedikit buru - buru dan tidak teliti. Itu karena anda hanya memberikan waktu satu jam saja. Padahal laporan ini masih mentah dan harus saya kerjakan dalam 1 jam." Seru Maya tidak takut menjelaskan kepada David.


" Dasar kamu saja yang tidak becus mengerjakannya. Sekarang kerjakan dan jangan sampai salah lagi. Sore ini laporan itu harus sudah ada di meja ku .!" Bentak David lagi.


" Baik Tuan. Akan saya perbaiki dari sekarang." Ucap Maya lalu segera keluar dari kandang macan itu.


di luar Seno sang asisten David sudah menunggu Maya dia ingin menanyakan Ada hal apa sampai David semarah itu dan suaranya menggelegar dan terdengar sampai ke ruangannya yang tempatnya memang bersebelahan dengan David.


" Ada apa lagi Maya. " Tanya Seno saat Maya sudah ada diluar.


" Lama-lama ikut gila aku menghadapin bos gila itu. Bisa darah tinggi, jantung juga aku. Dikit-dikit marah, dikit-dikit marah beruntung gaji di sini besar sehingga aku masih bertahan sampai sekarang. Kalau bukan karena tergiur gaji besar mana mau aku menjadi sekretaris bos gila dan arogant itu. " Jawab Maya dengan kesal.


Maya pun menceritakan kepada Seno hal apa yang membuat David menjadi marah. Seno hanya bisa menggelengkan kepalanya setelah mendengar cerita dari Maya. David memang semakin arogan semenjak kematian sang istri, sehingga banyak karyawan yang mengeluhkan sikap arogan dari David terutama dari sang sekretaris.


" Sudah kamu sabar-sabar saja, sekarang kamu segera selesaikan laporan itu sebelum boss arogan itu memarahimu kembali. " Ucap Seno meminta maya untuk lebih sabar.


Maya hanya membuang nafas dengan kasar lalu berjalan menuju meja kerjanya dan mengerjakan laporan yang dinginkan David sang bos arogan dan dingin. Dingin sedingin batu es yang baru saja keluar dari freezer.


**********

__ADS_1


__ADS_2