
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
David, Rendi dan salah satu pilot sudah mengudara menuju tempat Nia saat ini bertugas. Namun Heli itu tidak bisa mendarat di daerah tempat Nia bertugas, dan terpaksa harus mendarat di tempat lain. Semua itu karena medan disana tidak memungkinkan dan hari juga sudah cukup malam.
" Jadi kita harus melanjutkannya besok?." Tanya David.
" Iya Tuan, disana listrik belum berfungsi dan medan pendaratan juga tidak memadai. Non Nia dan rombongan kemarin juga mendarat di sini dan mereka melanjutkan dengan mobil, tapi ya begitu seharusnya bisa 25 menit tapi sampai 1 jam baru bisa sampai tempat. Lebih baik kita menginap saja di dekat sini, besok saya lihat dulu medannya siapa tahu ada tempat pendaratan yang baik."Seru pilot yang bertugas.
" Memang tidak ada tanah lapang atau pekarangan yang luas gitu untuk pendaratan?." Tanya David semakin kesal.
" Ada tuan. Namun saat itu banjir dan masih digenangi air, kalau sekarang ini saya belum tahu. Mana disana juga tidak ada listrik, lebih baik kita menginap saja di sini Tuan."Ucap pilot itu tetap mencoba bernegosiasi.
David merasa kesal, dia tadi sudah membayangkan malal ini bertemu dengan Nia. Dan melihat senyum bahagia Nia karena dia mengunjunginya tapi justru harus terpending sampai besok pagi.
Rendi sendiri terderah dengan David, menginap ayok dan jika mau lanjut juga ayok. Tubuh dan otaknya benar-benar sudah lelah, ingin sekali dia meluruskan tubuhnya di kasur yang empuk.
" Bagaimana, Ren?." Tanya David meminta persetujuan Rendi.
" Terserah Tuan saja."Jawab Rendi pasrah.
David menimang-nimang keputusannya, akhirnya dia pun memutuskan untuk menginap saja dulu di penginapan sekitat tempat mereka mendarat dan besok pagi mereka akan meneruskan perjalanan.
" Tapi besok apa masih harus pakai mobil?." Tanya David memastikan.
" Jika memungkinkan kita bisa teruskan pakai Heli lagi, jalanan darat juga sepertinya belum normal Tuan."Jawab sang pilot.
" Tapi kenapa waktu itu istriku bisa memakai mobil? Kalau bisa Heli kenapa harus pakai mobil? Kamu mau membohongiku ya."Seru David.
" Aduh maaf tuan, kalau soal itu saya tidak tahu."Jawab pilot dengan takut-takut.
Dengan protes yang cukup panjang dan sengit akhirnya mereka bertiga menginap di salah satu penginapan. Heli mereka tinggalkan di tanah lapang yang cukup aman, Rendi juga sudah meminta izin kepada penduduk sekitar.
Sementara itu di tempat Nia, saat ini Nia sedang menyiapkan obat-obatan yang akan dia bawa besok pagi untuk memgunjungi posko pengungsian warga. Seminggu tinggal di daerah itu membuat Nia sudah mulai akrab dengan penduduk sekitar. Banyak anak-anak kecil yang dekat dengan Nia dan ada beberapa remaja juga yang mengagumi kecantikan Nia.
" Nia, sepertinya pak lurah muda itu menaruh hati deh sama kamu."Ucap dokter Rachel yang memang tidur satu kamar dengan Nia.
" Husstt apaan sih kak, masa iya pak lurah itu suka sama aku sih. Aku ini sudah bersuami loh kak, mana sekarang juga lagi bunting gini. Apa dia tidak bisa membedakan mana wanita yang masih single dan mana yang sudah bersuami."Ucap Nia sambil menyusun obat-obatan.
" Nah kalau soal itu sih tidak tahu. Kamu lihat sendirikan, pak lurah muda itu suka curi-curi pandang sama kamu. Mana tinggalnya bersebelahan lagi, pasti saat kamu duduk-duduk di teras dia diam-diam sering merhatiin kamu loh."Ucap Rachel lagi terus menerus membicarakan pak lurah muda.
__ADS_1
Nia membenarkan perkataan Rachel, sudah beberapa kali Nia melihat pak lurah diam-diam memperhatikannya dari jendela rumahnya. Dan saat ikut ke posko juga sering curi-curi pandang dengannya. Pak lurah itu memang tampan, muda dan dia seorang sarjana yang memang mendedikasikan dirinya untuk kemajuan desa tempat tinggalnya. Usia nya pun menurut info dari para warga baru berusia 26 tahun.
" Kak sudah malam, yuk tidur."Seru Nia tidak mau melanjutkan soal pembahasan Rt muda itu. Nia sama sekali tidak tertarik dengan pembahasan itu.
" Baiklah. Tapi bagaimana ya kalau suami kamu tahu jika istrinya ada yang naksir disini. Yang ada pasti dia akan langsung datang kesini dan menghajar pak lurah itu. Hahaaaa."Seru Rachel tertawa lebar.
" Jangan sampai deh Kak. Aku malah yang tidak enak hati kalau sampai itu terjadi, suamiku itu orangnya cemburuan. Meskipun aku tidak merespon orang itu, bisa-bisa orang itu akan mendapat amukan dari suamiku. Please deh jangan sampai suamiku tahu, aku kasihan sama pak lurah itu kalau sampai dihajar."Jawab Nia yang sudah paham betul bagaimana suaminya.
Rachel bergerdik ngeri membayangkan David yang sedang marah. Sebab dia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana marahnya David. David pernah marah dengan beberapa dokter di rumah sakit dan seakan rumah sakit itu akan roboh karena gunjangan amarah David.
" Kak Rachel kenapa?."Tanya Nia yang melihat wajah Rachel tiba-tiba berubah seperti orang yang ketakutan.
" Tidak apa-apa, hanya membayangkan bagaimana marahnya suami kamu. Mengerikan sekali !."Seru Rachel sambil mengangkat bahunya.
" Memang kak Rachel pernah melihat suamiku marah?."Tanya Nia.
" Pernah, dan itu sangat-sangat mengerikan. Rumah sakit suasananya tiba-tiba berubah mencekam, dan terasa panas luar biasa. Pokoknya sangat mengerikan."Seru Rachel terus menerus.
Nia tahu betul bagaimana jika suaminya marah, jadi tidak salah juga jika Rachel takut dengan David. Bahkan bukan hanya Rachel saja yang takut, tapi hampir semua orang takut jika berhadapan dengan David di arogan itu.
*******
" Mana istriku?." Tanya David yang tiba-tiba sudah ada di depan pintu rumah yang dijadikan tempat menginap rombongan para dokter.
Mata Rachel dan beberapa dokter yang sudah bersiap-siap lebih dulu langsung membulat lebar. Mereka kaget dengan kedatangan David yang tiba-tiba dan tahu-tahu sudah berada di depan mereka.
" Kenapa kalian bengong saja?."Tanya David pelan namun tegas.
" Emm ada di kamarnya Tuan, Nia.. Ehh Non Nia sedang bersiap-siap."Jawab Rachel terbata-bata.
Jika di depan David dan keluarganya, Rachel dan dokter yang lainnya memang akan memanggil Nia dengan embel-embel Nona untuk menghargai dan menghormati keluarga Widjaya, itupun memang atas permintaan dari Nia sendiri.
" Hubby."Seru Nia kaget.
Nia baru saja keluar dari kamarnya dan dia kaget saat melihat suaminya sudah ada di ambang pintu depan.
David segera menghampiri Nia yang masih diam mematung di depan kamarnya. David segera memeluk dan menciumi Nia, Nia yang tersadar pun langsung meminta David untuk berhenti menciuminya sebab malu dengan yang lainnya.
" Hubby, sudah. Malu dilihatin yang lainnya."Seru Nia merasa canggung.
" Ok."Seru David justru menarik Nia masuk ke kamar.
Rendi langsung bertindak, dia meminta team dokter yang lain untuk berangkat lebih dulu. Nanti Nia akan menyusul setelah urusannya dengan David selesai.
" Kalian duluan saja. Oh iya, apa ada kamar yang bisa aku tempati?." Tanya Rendi.
__ADS_1
" Tidak ada, Tuan. Tapi kalau tuan Rendi mau istirahat, tuan Rendi bisa memakai kamar yang saya tempati. Nanti biar saya tidur dengan dokter Anton saja."Ucap dokter Alan dengan sopan.
" Tidak begitu buruk."Jawab Rendi dengan santai.
Sementara itu didalam kamar sana, sepasang suami istri sedang melepaskan rasa rindu mereka yang sudah seminggu ini tertahan. David langsung melahab istrinya tanpa menunggu persetujuan sang istri.
" Hubbyy... Eemmmhhh."Seru Nia mencoba menahan suaranya.
" Keluarkan suaramu indahmu itu sayang, jangan kamu tahan-tahan. Diluar tidak ada siapa-siapa, mereka sudah pergi."Ucap David dengan tetap bekerja dengan baik.
Aahhhh... Emmhh
Ahhhhhh
Suara d3s4h4n Nia akhirnya berhasil lolos juga. David semakin bersemangat untuk terus menggempur sang Istri. Nia sendiri sudah benar-benar terlena dengan permainan sang suami sampai dia lupa jika saat ini dia harus ke posko pengungsian.
" Ahhh.. Hubby aku, aku... Arghhhh."Seru Nia yang ternyata sudah sampai pada puncak yang sedari tadi dia inginkan.
Sepertinya David lupa jika saat ini masih ada Rendi di dalam rumah itu. Suara permainan mereka berdua benar-benar membuat Rendi bergerdik ngeri.
" Si4l4n !! Suara mereka sangat mengganggu konsentrasi kerjaku. Apakah orang yang b3rcint4 selalu lupa diri seperti itu, tidak tahukah mereka jika di dalam rumah ini masih ada aku."Gerutu Rendi dengan kesal.
Saat ini Rendi memang masih ada di ruang tamu dengan setumpuk berkas yang dia bawa dari perusahaan. Berkas-berkas itu harus segera selesai, Rendi tidak bisa berlama-lama ikut David di sana. Besok dia harus sudah kembali, ada meeting dengan klien dari Jepang yang harus dia temui untuk menggantikan David.
Nia dan David bermain sekitar 1 jam saja, sebab Nia teringat dengan tugasnya. Dia meminta David untuk menghentikan permainan mereka. Setelah bersih-bersih, Nia kembali memakai bajunya dan akan segera menyusul rombongan di posko pengungsian.
" Sayang apa disini tidak ada listrik?."Tanya David yang kepanasan.
" Listrik nya belum berfungsi Hubby, bahkan ponselpun belum ada jaringan juga. Namun untuk akses jalan sudah mulai dibenahi, meskipun kemarin sempat di guyur hujan tapi alhamdulillah tidak banjir lagi."Ucap Nia menjelaskan.
" Kamu mau kesana naik apa?."Tanya David lagi.
" Sepertinya naik motor, mungkin ada motor yang ditinggal untuk aku pakai."Jawab Nia yang sudah siap untuk berangkat.
David langsung bangkit dan memakai pakaiannya dengan cepat. Dia tidak akan membiarkan Nia mengendarai motor sendiri, David berinisiatif untuk mengantar Nia ke posko pengungsian.
" Aku antar saja. Aku ingin melihat para warga di tempat pengungsian. Dan aku juga mau tahu apakah bantuan yang aku kirimkan benar-benar sudah tepat sasaran."Seru David.
Nia hanya mengangguk sambil menghela nafas, melarang David untuk ikut pun percuma, yang ada dia akan tetap memaksa. Nia dan David keluar dari kamar bersamaan, namun betapa terkejutnya Nia saat melihat ada Rendi di ruang tamu. Dia ingat dengan suara permainannya tadi, yang pasti terdengar sampai luar kamar.
" Ada Rendi?." Seru Nia dengan canggung.
" Iya dia memang ikut. Apa kamu tadi tidak melihatnya?." Seru David dengan santainya.
Rendi hanya menganggukkan kepalanya saja, dia pura-pura tidak tahu apa yang terjadi dengan Tuan dan Nonanya itu.
__ADS_1
* Jadi sedari tadi ada Rendi di sini? Ya ampun, betapa malunya aku. Suara ku tadi pasti terdengar sama dia, benar-benar memalukan sekali.*Gumam Nia memaki dirinya sendiri.
************