Dokter Penakluk Duda Arogant

Dokter Penakluk Duda Arogant
Milik siapa


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


"Hubby tadi ibu-ibu wali murid di sekolahan Nada mengajak iku arisan. Dua minggu sekali 10 juta dan aku sudah terlanjur bilang iya sebelum izin sama kamu Hubby."Seru Nia menyesal. Seharusnya dia izin terlebih dahulu dengan suaminya baru dia bilang iya atau tidak kepada ibu Hani dan ibu Jelita.


Hahaaa Haaahaaaa


Bukannya menjawab, David justru tertawa dengan lepas sehingga membuat Nia menjadi keheranan. Apakah suaminya ini sudah gila dan stress karena dia sudah berani ikut arisan tanpa memberitahu dan izin terlebih dahulu. Arisan yang menurut Nia terlalu besar, 10 juta dya minggu berarti 20 juta sebulan.


"Hubby kenapa justru tertawa? Tidak lagi stress kan karena mikirin uang arisanku?."Tanya Nia dengan wajah polosnya.


"Sayang mau kamu ikut arisan berapa puluh juta atau berapa ratus jutapun aku tidak akan marah. Uang 20 juta dalam sebulan itu tidak ada apa-apanya. Bahkan uang bulanan kamu saja berkali-kali lipat dari itu?."Seru David dengan tawanya yang mulai berhenti.


"Memangnya berapa uang bulananku? Aku tidak pernah mengeceknya, Hubby."Seru Nia memang tidak tahu uang bulanan yang diberikan David. Bahkan black Card yang diberikan David saja jarang sekali dia gunakan.


David mengambil ponselnya yang ada di atas nakas lalu membuka aplikasi bank onlinenya dan mencari riwayat transaksi ke rekening Nia setiap bulannya. Setelah ketemu, David menunjukannya kepada Nia.


"Ini kamu lihat sendiri."Ucap David memberikan ponselbya kepada Nia.


Nia mengambil ponsel itu dan melihat apa yang ada dilayar ponsel David. Mata Nia terbelalak sangat lebar saat mengetahui jumlah uang bulanan yang diberikan David.


"Haahhh 200 juta ? Ini uang semua atau daun, Hubby. "Seru Nia dengan mata yang melebar sempurna.


David hanya tertawa melihat wajah terkejut Nia, wajah itu justru membuat David semakin gemas. Istrinya memang wanita yang masih sangatlah polos. Padahal dia sudah tahu jika suaminya adalah konglomerat atau orang terkaya nomor satu di kotanya. Namun untuk arisan 20 juta perbulan saja Nia masih merasa takut. Takut jika sang suami akan marah karena arisannya yang kebanyakan.


"Uang 200 juta yang aku transfer di rekening kamu itu uang murni nafkah untuk kamu, Sayang. Itu belum Black Card yang aku berikan untukmu, tapi kenapa kartu itu tidak pernah kamu pakai. Dengan kartu itu kamu bisa beli apa saja, kamu mau kesalon atau kamu mau beli mobil keluaran terbaru juga bisa."Ucap David membuat Nia semakin kagum dengab kekayaan sang suami.


"Tapi Hubby kan setiap bulan memberiku uang 50 juta secara kas juga. Itu kan sudah uang nafkah juga ."Ucap Nia dengan bingung.


"Uang 50 juta itu untuk kebutuhan rumah sayang ku. Untuk bayar ART dan para pekerja dirumah ini, tagihan listrik dan segala macam sudah di atur sama Rendi. Aku tidak mau ribut ngurusin hal-hal seperti itu jadi biar Rendi saja yang mengurusnya."Ucap David dengan santai.


Hahhh...


Orang kaya mah bebas mau ngapain saja, apalagi orang kaya seperti David. Tinggal bilang sama assistennya semuanya beres dan tidak akan ada yang tertinggal. Sedari dulu David memang tidak mau ribet dengan urusan rumah, begitupun dia juga tidak mau membuat sang istri pusing mikirin bayar ini dan itu.


" Apa 50 juta kurang?." Tanya David dengan mudahnya.


"Haahhh.. Tidak hubby, cukup kok. Ini kan cuma untuk keperluan dapur sama untuk beli kebutuhan kamar mandi. Insya Allah sudah lebih dari cukup Hubby ." Ucap Nia dengan cepat.


"Ok . Kalau ada yang kurang bilang saja ya sayang. Ya sudah sekarang waktunya kita main yuk, bagaimana mau tidak?." Tanya David sembari memainkan alisnya.


Nia sudah tahu dan hafal betul apa yang saat ini diinginkan oleh suaminya. Dengan tidak menolak, Nia pun mengiyakan ajakan suaminya. Sebab itu sudah menjadi kewajibannya dan menjadi hak untuk suami nya. Akhirnya sepasang suami istri itu hanyut dalam permainan malamnya.

__ADS_1


Sementara itu saat ini dirumah Vito, Vito yang baru saja selesai mandi dan mencari pakain dalamnya dibuat heran dengan segitiga yang terasa asing dimatanya. Dia merasa tidak punya segitiga merek Z dan size nya pun XL. Sehingga Vito bertanya-tanya segitiga milik siapa yang ada di lemari nya.


"Ini punya siapa? Kenapa ada di dalam lemariku?" Tanya Vito pada dirinya sendiri.


Vito mengeluarkan segitiga itu dari dalam lemari lalu menanyakam kepemilikannya kepada Bella. Siapa tahu itu milik Bella, namun Vito ragu. Seban segitiga itu segitiga milik pria, dan tidak mungkin Bella yang punya.


"Bella, kamu tahu tidak ini segitiga siapa?."Tanya Vito sambil menunjukan segitiga itu kepada Bella.


"Segitiga apaan sih , Sayang?." Tanya Bella yang memang masih fokus dengan kaca riasnya.


"Iniloh kamu lihat dulu, ini punya siapa? Dan kenapa bisa ada dilemariku, sedangkan aku tidak punya merek ini bahkan sizenya juga besar begini. Atau jangan-jangan kamu sudah macam-macam dirumahku dengan pria lain?." Tanya Vito mulai menaruh curiga dengan Bella.


Bellapun menoleh kearah Vito yang saat ini berdiri disampingnnya dengan masih menggunakan handuknya. Namun atas sudah memakai kaos rumahan.


Degghhhh


Jantung Bella berdetak dengan cepat, dia tahu betul milim siapa segitiga yang saat ini ada ditangan Vito. Ya, segitiga itu adalah milik Baskoro. Baskoro memang meninggalkan segitiga itu karena saay itu segitiga kotor sudah terkena cairannya sendiri.


*Haahh itu bukannya milik papa. Itu benar milik papa, kenapa aku lupa untuk menyimpannya ditempat yang aman. Ini pasti si minah yang sudah menyusun segitiga itu dilemari Vito. Apa yang harus aku katakan sama Vito, pasti dia sudah berfikir yang aneh-aneh.*Gumam Bella dalam batinnya.


"Jawab Bella !! Ini punya siapa?" Bentak Vito dengan kasar.


"Aaa.. Aku, aku tidak tahu Sayang. Mungkin itu punya kamu dan kamu lupa kalau pernah punya."Jawab Bella dengan terbata-bata.


"Aku tidak punya yang seperti ini, Bella."Ucap Vito dengan kesal.


Bella masih saja terdiam, dia tidak tahu harus bicara apalagi. Vito pasti akan terus bertanya sampai dia benar-benar mendapatkan jawaban yang menurutnya masuk akal.


" Tapi kalau Papa memang mandi dan berganti pakaian, memang papa selalu bawa pakaian ganti gitu setiap dia pergi kemana-mana "Tanya Vito merasa aneh dengan jawaban Bella.


" Papa itu memang dari dulu selalu menyediakan pakaian ganti di mobilnya. Sehingga di manapun tempat bisa berganti pakaian, tanpa harus membeli yang baru. Aku tahu betul kebiasaan papa, itu sudah menjadi kebiasaan papa dari dulu. Kalau kamu tidak percaya nanti aku bisa telepon papa dan kamu tanya langsung sama papa."Seru Bella menyakinkan Vito.


Vito diam dan mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Bella. Vito tidak mau berseudzon terlebih dahulu terhadap Bella, dan mencoba mempercayai apa yang barusan dijelaskan oleh Bella. Mungkin memang benar jika segitiga itu milik papa mertuanya yang memang beberapa hari yang lalu sempat beristirahat di kamar tamu.


"Tidak perlu ! ya sudah sana simpan saja segitiga ini dikamar tamu yang kemarin di tempati oleh papa. Jadi kalau dia datang kesini lagi bisa tahu kalau itu miliknya tertinggal disini."Ucap Vito masih kesal.


"Iya."Jawab Bella singkat.


Bella mengambil segitiga yang diletakkan Vito di atas kasur. Bella membawa segitiga itu ke kamar tamu yang sempat ditempati oleh papanya. Gara-gara segitiga milik papanya membuat jantung Bella tidak aman.


"Huhh gara-gara kandang ini bikin aku syok dan jantung tidak aman. Kok bisa sih papa ini meninggalkan kandangnya di sini. Beruntung Vito itu mudah percaya dengan apa yang aku katakan sehingga aku bisa aman. Kalau saja Vito tidak percaya pastinya malam ini akan terjadi keributan besar antara aku dan Vito."Gerutu Bella dengan kesal.


Bella duduk dipinggir ranjang kamar tamu, dia mencoba mengirim pesan kepada Baskoro.


[Pa, sibuk tidak?.] Tulis Bella singkat.


Dalam hitungan menit pesan Bella itu langsung bercentang biru. Dan terlihat Baskoro sedang mengetik balasannya.

__ADS_1


[Iys sayang. Papa ada diruang kerja papa,ada apa?]Tanya Baskoro dengan emot Love di akhir.


[Gara-gara segitiga papa yang tertinggal dirumahku, membuat Vito menaruh curiga. Kenapa sih pa sampai ketinggalan begitu. Besok-besok aku tidak mau ya kalau sampai ada barang yang tertinggal lagi. Beruntung tadi Vito percaya dengan penjelasanku.]


[Haah..iya maaf sayang. Papa lupa sayang, saat itu justru papa pulang tanpa memakai segitiga. Tapi Vito amankan, dis tidak marah ataupun curiga?.]


[ Untuk saat ini dia percaya, tapi tidak tahu kalau sampai hal ini terjadi lagi. Bisa-bisa Vito akan memasang CCTV di rumah ini dan Papa tidak bisa bebas keluar masuk ke rumah ini. Apalagi sampai kita masuk dalam satu kamar yang sama. Bella tidak mau ya Pa, kalau sampai kejadian ini terjadi lagi. Pokoknya sebelum Papa pulang dari sini, Papa harus memastikan jika tidak ada barang-barang papa yang tertinggal.]


[ Iya Sayang, maafkan Papa. Papa janji tidak akan teledor lagi dan akan memeriksa barang-barang papa sebelum Papa pulang. Oh iya tadi kan kita tidak sempat melakukannya. Bagaimana kalau besok siang Papa datang lagi ke rumah kamu tapi jika ada Vito ataupun ada mama kamu. kamu harus memberitahu Papa terlebih dahulu agar tidak seperti tadi siang. Beruntung tadi siang Papa datang memang membawa makanan untuk kamu, kalau tidak papa juga bingung harus alasan apa datang ke rumah kamu tanpa Mama kamu.]


[Ya.] Balas Bella dengan singkat.


"Bella.... !!!."Teriak Vito dari arah dapur.


Setelah mendengar teriakan Vito, Bella pun bangkit dari duduknya dan langsung menghampiri Vito yang saat ini sudah berada di dapur. Lebih tepatnya sudah duduk di kursi makan.


" Iya ada apa? Kamu mau makan? Itu kan sudah terhidang Sayang, tinggal ambil saja sendiri kan bisa."Seru Bella dengan malas.


" Hai kamu itu istri ku, jadi kamu harus melayaniku saat aku maka. Bukan hanya melayaniku saat di ranjang saja, Bella. Apa kamu lupa syarat yang sudah aku berikan? Meskipun kamu tidak mengerjakan pekerjaan rumah, tetapi kamu tetap melayaniku seperti suami pada umumnya. Untuk apa aku menikahi kamu jika aku apa-apa masih saja sendiri."Seru Vito dengan kesal.


Bella sudah tidak bisa membantah lagi omongan Vito, sehingga dengan segera dia melaksanakan apa yang diminta oleh Vito. Bella mengambil piring yang ada di hadapan Vito dan mengisinya dengan nasi dan beberapa lauk. Makanan memang tadi sudah disiapkan oleh Minah sebelum dia pulang.


" Ini makanan nya, silakan dimakan suamiku sayang."Ucap Bella dengan pelan.


"Hemmm. Kenapa kamu juga tidak makan? Bukannya kamu saat ini sedang hamil? Apa kamu memang mau membunuh anak itu karena kamu tidak mau makan? Kamu mau diet ?."Tanya Vito dengan ketus secara beruntun.


" Aku tidak berselera makan, aku hanya ingin beristirahat. Karena tubuhku sangat lelah sekali dan aku juga mengantuk."Jawab Bella seakan membantah perkataan Vito.


" Terserah kamu saja Bella. Aku pun tidak peduli jika memang kamu tidak mau aku pedulikan. Aku peduli seperti ini bukan berarti aku menerima kamu, tapi aku memikirkan anak yang ada dalam di kandungan kamu. Jika terjadi apa-apa dengan anak itu, Aku tidak mau tanggung jawab. Dan apabila anak itu tidak tertolong karena kamu tidak mau makan, itu berarti dengan mudah aku akan menceraikan kamu."Seru Vito dengan senyum sinisnya.


* Kurang ajar sekali Vito, berani-beraninya dia menyumpahi anak ini mati agar dia bisa mudah untuk menceraikanku. Oh tidak bisa, bagaimanapun aku harus tetap mempertahankan anak ini. Entah ini anak papa atau anak Vito yang terpenting anak ini harus tetap ada dalam rahimku. Agar Vito tidak menceraikanku.*Gumam Bella dalam batinnya.


Tanpa menolak dan tanpa banyak bicara lagi, Bella pun mengambil makanan dan ikut makan malam bersama dengan Vito. Sebenarnya bukan dia yang tidak mau untuk makan, tetapi bawaan dia hamil lah yang tidak punya rasa lapar sama sekali.


"Kenapa makan mu sangat sedikit?." Tanya Vito yang memang melihat Bella makan hanya sedikit.


"Tidak lapar, Sayang. Mungkin karena bawaan hamil muda sehingga aku tidak nafsu makan. Tapi tadi siang sih aku makan banyak, karena papa bawa cumi asam manis."Ucap Bella berterus terang.


"Papa tadi kesini lagi? Kok papa sering datang saat siang sih, padahal aku tidak ada dirumah. "Seru Vito mulai heran.


"Emm tadi siang itu ada mama juga. Mama datang duluan terus papa datang saat jam makan siang. Akhirnya mama dan papa juga makan siang disini. Oh iya Sayang, besok siang bisakan temani aku kedokter untuk periksa kandungan."Tanya Bella sengaja mengalihkan pembicaraan.


Vito masih mengunyah makananannya dan hampir menelannya jadi dia belum bisa menjawab pertanyaan Bella. Setelah makanan itu tertelan,Vito pun menjawabnya.


"Bukannya kamu baru dari dokter beberapa hari yang lalu?."Tanya Vito dengan heran.


"Iya. Itukan aku cek hamil tidaknya, dan ternyata aku hamil. Terus cek rutinnya mulai besok dan bulan berikutnya juga ditanggal yang sama."Jawab Bella menjelaskan.

__ADS_1


Vito hanya mengangguk saja, tidak mengiyakan dan tidak menolaknya.


**********


__ADS_2