Dokter Penakluk Duda Arogant

Dokter Penakluk Duda Arogant
Keluarga bahagia


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Vito diam memandangi wajah Nia yang semakin cantik dan semakin mempesona. Tidak dipungkiri rasa cinta untuk Nia sampai saat ini masih bertahta di hatinya meskipun dia sudah menikah dengan Bella. Rasa cintanya untuk Nia tidak berkurang sedikitpun, tetapi untuk menggapai Nia sudah tidak mungkin lagi. Nia sudah hidup bahagia dengan keluarga barunya.


Kesalahan terbesar yang Vito perbuat adalah memutuskan Nia dan meninggalkan Nia tanpa mau mencari sumber masalah yang sebenarnya. Padahal hati kecilnya menyangkal jika Nia adalah seorang wanita yang selama ini difikirkan Vito.


"Nia apa kabar?." Tanya Vito yang terlihat salah tingkah didepan Nia.


"Mas apa-apaan sih? Kenapa kamu seperti grogi begitu bertemu dengan mantan pacar kamu ini? Ingat dia itu sudah menikah dan Kita juga sudah menikah, bahkan saat ini aku sedang mengandung buah cinta kita."Seru Bella bicara dengan mesra sembari melirik Nia yang tetap diam.


"Bella, aku hanya menyapa dia saja kok."Jawab Vito dengan menahan rasa kesalnya.


Nia menyunggingkan senyum tipis disudut bibirnya, dia menertawakan sikap Bella yang menurutnya terlalu berlebihan.


"Apa ingin yang anda tanyakan, Vito? Jika tidak ada, saya akan melanjutkan langkah kaki saya. Saya masih banyak keperluan yang harus saya kerjakan, tidak ada waktu untuk meladeni hal yang tidak penting."Seru Nia dengan menyeringai sinis memindai Vito dan Bella secara bergantian.


"Sombong. Padahal awalnya dari wanita miskin dan murahan, sekarang mentang-mentang sudah menikah dengan orang kaya belagu banget. Kalau bukan karena hasil dari merangkak ke ranjang tuan David mana mungkin tuan David menikahi mu. Wanita murahan saja bangga, apa yang kamu banggakan itu suatu saat akan menghancurkan hidup mu."Ucap Bella mencibir Nia dengan ketus.


"Bella, kamu ini bicara apa sih? Mulut kamu itu dijaga, jangan asal bicara. Kamu tahukan siapa suami Nia, jika kamu menyinggungnya sudah tahu kamu akan mendapat masalah. Bukan hanya kamu saja yang akan dapat masalah, pasti akan berimbas juga kepadaku. Kamu lupa perbuatanmu malam itu sudah menghancurkan semuanya."Seru Vito tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh Bella.


Bella sama sekali tidak bisa mengendalikan dirinya, dia terlalu benci dengan Nia sehingga setiap kali bertemu Nia dia akan selalu menghinanya.


"Kalau mau menghina itu berkaca dulu, Nona Bella. Kamu mengatakan aku ini wanita murahan, apa kamu tidak bisa berkaca pada dirimu sendiri? Jangan kamu kira aku tidak tahu kelakuan kamu diluar sana. Lihat saja suatu saat nanti topengmu akan terbuka juga. Dan jika topengmu sudah terbuka, siap-siap saja boom akan meledak."Seru Nia dengan tetap menunjukan senyum sinisnya.

__ADS_1


"Haahh maksud kamu apa? Jangan asal bicara kamu !."Bentak Bella dengan wajah sudah memerah bahkan tangannya sudah diangkat hendak menampar Nia.


Namun dengan cepat Vito menangkap tangan Bella agar tidak sampai menampar Nia. Mata Bella melebar saat Vito menangkap tangannya, dia tidak terima atas apa yang sudah dikatakan oleh Nia. Apalagi Vito terlihat justru lebih membela Nia.


"Lepaskan, Sayang. Aku ingin menampar mulut wanita murahan ini yang semakin kurangajar."Seru Bella dengan kasar.


"Haahhh jangan maling teriak maling. Sudah lah aku mau lanjut pulang, tidak ada pentingnya berdebat dengan orang seperti kalian. Oh iya satu lagi ini untuk mu Vito, kamu harus jaga baik-baik istrimu dan jangan sering kamu tinggal nanti dia bisa cari kesenangan diluaran sana. By...."Seru Nia sambil melambaikan tangannya.


"Haaii lancang mulut kamu !!."Teriak Bella dengan lantang sampai orang yang ada disekitarnya memandang kearah mereka.


Nia tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Bella. Bella terus berteriak-teriak memakinya pun dia tidak peduli, dia tetap berjalan menuju mobilnya. Dia cukup lega bisa membalas perkataan Bella, bukan maksud Nia ingin membuka aib Bella. Itu semua hanya untuk memberi Bella pelajaran agar bisa lebih menjaga sikapnya.


********


"Mama, tadi di sekolah Nada belajar baca puisi. Kata ibu guru mau ada pentas seni di sekolahan. Ini puisinya, kata Miss Nada belajar juga dirumah."Ucap Nada memberitahu soal kegiatannya kepada mamanya, Nia.


Nia mengambil kertas puisi yang diberikan oleh Nada, dan membacanya sekilas. Puisi yang sangat bagus dan menyentuh hati yang bertemakan tentang ibu.


"Kata ibu guru 7 hari lagi Ma. Mama sama papa harus datang ya, nanti lihat Nada baca puisi. Ada teman Nada yang nyanyi, ada yang main alat musik pokoknya banyak banget. Kata Miss nanti mama harus datang karena ini untuk acara ibu."Ucap Nada menjelaskan dengan bahasanya sendiri. Namun Nia tahu apa yang dimaksud oleh Nada.


Sekitar seminggu lagi memang hari ibu dan biasanya disetiap sekolahan-sekolahan mengadakan acara persembahan untuk para ibu. Dan sudah pasti para walu murid terkhusus ibu pasti diharuskan untuk datang. Sebagai pemilik yayasan sekolahan tempat Nada bersekolah sudah pasti David juga akan datang di acara tersebut.


"Iya sayang. Nanti papa sama mama insya Allah datang kok. Nada harus belajar baca puisinya yang bagus ya, yang menjiwai. Nanti mama bantu Nada untuk belajar membaca puisinya ya."Seru Nia lalu memeluk Nada dengan penuh kasih sayang.


"Horee .... Asik, mama memang paling baik. Nada sayang sama mama, terimakasih ma."Ucap Nada penuh semangat.


"Sama-sama sayang. Hemm sekarang kita kedepan yuk, kita tunggu papa. Sebentar lagi papa pulang dari kantor, jangan lupa salim ya nanti sama papa."Seru Nia mengingatkan.


"Iya ma. Siap !!."Seru Nada dengan tingkah polosnya.

__ADS_1


Nada dan Nia beranjak dan meninggalkan ruang keluarga lalu menuju depan rumah untuk menunggu David yang sebentar lagi pulang dari kantor. Benar saja tidak lama menunggu mobil David sudah sampai di halaman rumah. Terlihat David turun dari pintu belakang mobil langsung menghampiri anak dan istrinya. Sedangkan Pak sopir melajukan mobil menuju garasi mobil.


"Papa."Seru Nada menyambut uluran tangan David lalu menciumnya.


"Anak papa semakin cantik dan semakin pintar,Papa cium dong sayang."Seru David yang kini sudah mensejajarkan tubuhnya dengan Nada.


Nada pun mencium papanya, dan David membalas dengan mencium kedua pipi sang anak.


"Hubby, sini tasnya. Apa kamu melupakan keberadaan ku yang sedari tadi berdiri disamping Nada."Seru Nia pura-pura merajuk.


"Sayang, mana mungkin aku melupakanmu. Kalian berdua itu wanita yang sangat spesial dan tidak mungkin sampai lupa. Ini tas nya, katanya mau membawakan tas."Seru David lalu memeluk Nia dan hampir saja mencium Nia.


Dengan cepat Nia menghindar, dia tidak mau David menciumnya disaat ada Nada didekat mereka. Apalagi David jika sudah mencium tidak hanya dipipi saja. David pun langsung menyadari jika ada Nada, sehingga dia hanya memeluk Nia saja.


"Hubby.. Kok mama memanggil papa dengan panggilan, Hubby?."Tanya Nada dengan polosnya.


"Itu panggilan sayang mama untuk papa, Nada sayang."Seru David menjawab apa yang dipertanyakan oleh Nada.


"Nada juga sayang papa. Jadi Nada panggil papa Hubby juga ya pa?."Tanya Nada meminta persetujuan dari sang papa.


Nia dan David hanya saling melempar pandangan mereka. Nia tadi benar-benar lupa, seharusnya dia tidak memanggil David dengan panggilan Hubby. Sekarang Nada jadi ikut-ikutan ingin memanggil papanya dengan panggilan Hubby.


"Emm.. Bagaimana ya sayang. Hubby itu panggilan dari mama untuk papa, dan itu khusus untuk orang yang sudah dewasa seperti mama dan papa ini. Nada kan masih anak-anak dan Nada juga anaknya papa David, jadi tidak boleh sembarangan memanggil orang tua ya, Sayang. Nada harus tetap memanggil dengan panggilan, Papa."Seru Nia menjelaskan dan memberi pengertian Nada dengan lembut agar mudah dimengerti.


"Oh... Begitu ya ma. Ya sudah kalau begitu Nada panggil nya papa saja. Tidak mau Hubby karena Nada masih kecil."Seru Nada sedikit paham dengan apa yang dijelaskan oleh Nia.


"Sekarang kita masuk yuk. Papa capek nih berdiri terus disini, Nada papa gendong yuk."Seru David langsung duduk jongkok di depan Nada.


Dengan semangat Nada langsung melompat di punggung David dengan tawa riang gembira. Nia mengikuti anak dan suaminya dari belakang dengan senyum bahagia yang terus mengembang dibibirnya.

__ADS_1


************


__ADS_2