
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Kejadian dipesta pernikahannya semalam membuat Bella disalahkan oleh teman-temannya, bahkan Vito dan mamanya Bella juga menyalahkannya. Acara pestanya semalam tidak sampai selesai, sebab pihak hotel memintanya untuk segera mengosongkan aula hotel. Tentunya semua itu atas perintah David.
Untuk menginap di kamar yang sudah mereka pesan pun sudah tidak diperbolehkan. Sehingga malam itu juga semua keluarga pulang kerumah Vito, bersama kedua orang tua Bella juga ikut menginap dirumah Vito.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan, Vito? Perusahaan kita terancam bangkrut jika Tuan David menarik saham dan membatalkan kerja samanya dengan perusahaan kita?."Tanya Pak Sigit dengan wajah kebingungan.
"Apa separah itu pa?." Tanya Hesti yang tidak menyangka jika dampak perbuatannya dan menantu kesayangannya sampai keperusahaan.
"Jikapun tidak bangkrut, kita akan banyak hutang Ma. Saham tuan David memang tidak besar tapi kerjasama dengan perusahaannya jika dibatalkan kita akan rugi besar, Ma. Ini semua gara-gara Bella, coba dia tidak melakukan kesalahan ini sudah pasti keadaannya tidak akan seperti ini. Lihat pak Baskoro dan Vito juga di pecat, terus kita harus bagaimana menjalani semua ini."Seru Pak Sigit mengusap wajahnya dengan kasar.
Bella tidak terima jika hanya dia saja yang disalahkan, dia melakukan itu semua juga atas dukungan mama mertuanya, Hesti. Hesti juga harus disalahkan dan ikut bertanggung jawab. Mana dari semalam Vito sama sekali tidak menegurnya, malam pengantinnya berantakan karena masalah yang dia perbuat.
"Loh papa kok menyalahkan Bella sih? Mama juga salah dong, karena ini semua juga ide dan persetujuan mama. Jadi jangan Bella saja dong yang disalahkan, tapi aku juga tidak menyangka jika wanita miskin itu adalah istri dari tuan David."Seru Bella dengan kesal.
"Bella !! Jangan membela dirimu sendiri, ini semua juga gara-gara kamu. Lihat papa dan suami kamu sampai dipecat dari Widjaya Group. Terus kalau sudah begini papamu mau bekerja dimana? Sebelum bertindak seharusnya kamu itu mikir, jangan grasak-grusuk."Seru Leni mamanya Bella memarahi sang anak yang terlihat bodoh sekali.
Mendengar perdebatan di meja makan membuat Vito kesal dan tidak nafsu lagi untuk makan. Dia bangkit dan beranjak meninggalkan meja makan, Bella tidak tinggal diam. Dia ikut menyusul Vito yang kini lebih memilih masuk kekamar pribadinya.
"Kenapa kamu ikut kesini? Kepalaku pusing Bella mendengar perdebatan kalian. Sampai aku tidak nafsu untuk sarapan, sudah lebih baik kamu keluar dan tinggalkan aku sendiri. Aku ingin memyendiri Bella, tolong jangan gaggu aku !!."Seru Vito bicara dengan lantang.
"Kamu ini kenapa sih, Vito? Aku ini istri kamu, kenapa kamu justru mengusirku dari kamar kita. Atau jangan-jangan kamu ini masih memikirkan wanita sialan itu? "Seru Bella justru memsncing emosi Vito.
Vito mengangkat tangannya dan hendak memukul Bella, namun dia urungkan. Dengan kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah, yang ada justru dia akan semakin dikuasai dengan amarah dan emosi.
"Apa kamu itu bodoh atau memang pura-pura lupa? Semalam kamu sudah menghancurkan semuanya, gara-gara kamu aku kehilangan pekerjaan. Papa kamu juga kehilangan pekerjaan, bahkan perusahaan keluargaku juga terancam bangkrut. Kamu ini bodoh atau bagaimana sih? Seharusnya kamu itu mikir Bella, mikir!! Jangan cuma mau menang sendiri, lagipula untuk apa juga kamu mempermalukan Nia seperti semalam. Pesta yang seharusnya meriah justru berakhir dengan tragis."Seru Vito bicara dengan kasar.
Bella terdiam, dia tidak tahu jika suami Nia adalah Ceo perusahaan Widjaya Group. Jika dia tahu, pasti dia tidak akan mempermalukan Nia seperti semalam. Dia memang benci kepada Nia, dan tidak akan membiarkan Nia hidup bahagia meskipun David ada dibelakang Nia. Rasa benci Bella justru semakin mendarah daging.
Sedangkan dimeja makan, kedua pasang orang tua sedang mencari solusi agar Perusahaan dan pekerjaan mereka masing-masing aman.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita temua tuan, David. Kita meminta maaf secara langsung dan kita akan siarkan secara langsung permintaan maaf kita kepada media. Semoga saja dengan cara itu Tuan David bisa maafkan kita semua."Ucap Baskoro menyampaikan pendapatnya.
"Apa? Jika sampai disiarkan dimedia itu menurutku sangat berlebihan. Apa tidak ada cara lain untuk meminta maaf saja tanpa harus bawa-bawa media. Sebab semua itu akan membuat kita semakin malu."Seru Hesti kurang setuju dengan ide yang disampaikan oleh besannya.
"Jeng Hesti, lalu kita harus bagaimana? Ya sudah, begini saja. Hemm Pak Sigit dan Suami saya datang ke perusahaan Widjaya Group untuk meminta maaf secara langsung kepada Tuan David. Pak Sigit meminta agar Tuan David tidak menarik saham dan membatalkan kerja samanya. Dan papa meminta agar tidak dipecat, untuk Vito di pecat tidak apa-apa sebab dia nanti bisa menggantikan pak Sigit untuk memimpin perusahaan."Ucap Leni mamanya Bella.
Mereka yang sedang ada diruang makan itupun mengangguk dan menyetujui pendapat yang disampaikan oleh mamanya Bella, Leni. Pak Sigit dan Baskoro akan datang keperusahaan saat jam makan siang.
"Ma, kita pulang sekarang."Seru Baskoro dengan singkat.
"Heemm iya pa. Oh iya jeng Hesti, maaf ya sudah merepotkan jeng Hesti dan keluarga. Saya titip Bella ya, dia memang dari kecil saya manja dan tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah. Jadi kalau dia tidak bisa apa-apa tolong jangan dimarah."Ucap Leni.
"Jeng Leni tenang saja, saya itu menyayangi Bella seperti anak saya sendiri. Dia itu menantu idaman saya banget, sudah cantik, baik dan selevel dengan keluargaku."Jawab Hesti terlihat sekali dia yang memang menyayangi Bella.
*Bodoh !! Belum tahu saja kalian siapa itu Bella yang sesungguhnya. Hemm bagaimana ya reaksi mereka kalau tahu Bella itu pecar dari papa tirinya sendiri. Bahkan sudah bertahun-tahun papa ini yang menidurinya. Apa mereka tidak tahu ya kalau Bella itu kalau malam suka ke Club malam dan mabuk-mabukan.*Gumam Baskoro dalam hati.
Baskoro melirik ke arah lantai dua dimana kamar Bella dan Vito berada. Sebenarnya dia ingin sekali menaiki anak tangga itu dan melihat kekamar Vito, apa yang saat ini sedang dilakukan Bella dan Vito.
"Papa kenapa ngelihatin keatas terus?."Tanya Leni penuh selidik.
"Ohh ini ma, kok Bella tidak turun juga ya. Apa kita tidak berpamitan kepada Bella terlebih dahulu?." Tanya Baskoro berbasa-basi. Padahal dia memang ingin sekali bertemu dengan Bella, biarpun hanya sekedar memeluknya.
Gleekkkkk
Baskoro menelan salivanya sendiri, dia terlihat tidak menyukai apa yang baru saja disampaikan oleh istrinya. Sampai kapanpun Baskoro tidak akan rela jika Bella sampai hamil anak dari pria lain. Membiarkan Bella menikah dengan Vito saja sudah membuat Baskoro cemburu berat, apalagi sampai Bella hamil.
Kedua orang tua Bella akhirnya pun pulang, dengan Baskoro yang mengendarai mobilnya. Leni menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi mobil sembari memejamkan matanya. Sebenarnya Leni malu dengan apa yang dilakukan Bella dan teman-temannya saat pesta tadi malam. Namun Leni tidak mau memarahi anak manja dan semata wayangnya itu.
Sementara saat ini dikediaman David, Nia hari ini tidak diperbolehkan kerumah sakit. David meminta untuk istirahat terlebih dahulu dirumah.
"Hubby jadi sekarang semua orang sudah tahu kalau aku ini istri kamu?." Tanya Nia dengan wajah yang tidak mengenakan.
"Apa kamu tidak mau jika orang-orang tahu siapa kamu sayang? Apa kamu malu mempunyai suami sepertiku ?."Tanya David.
"Bukan begitu, Hubby. Aku hanya tidak mau orang-orang baik kepadaku hanya karena aku istri seorang Ceo Widjaya Group. Aku hanya ingin mereks berteman dan baik denganku dengan tulus bukan karena aku istri seorang Ceo. Aku tidak mau jika mereka yang mendekatiku hanya ingin menumpang pamor saja, Hubby. Seperti Miska, dia lebih nyaman dengan identitasnya yang tersembunyi."Jawab Nia menjelaskan agar David tidak salah paham dengannya.
"Kamu tenang saja sayang, aku tahu apa yang kamu maksud. Aku semalam sudah meminta Rendi untuk menekan media agar tidak mengeluarkan berita kejadian tadi malam, jika mereka melanggar mereka sendiri yang akan hancur. Hanya orang-orang yang semalam bermasalah dengan kita saja yang tahu siapa kamu yang sesungguhnya. Untuk para tamu undangan aku yakin tidak semuanya tahu, tetapi suatu saat nanti orang-orang harus tahu siapa kamu. Aku tidak mau istri seorang David dihina dan direndahkan oleh orang. Sudah sekarang kamu istirahat saja, aku harus berangkat ke perusahaan sebab ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."Ucap David bicara panjang lebar.
__ADS_1
Nia mengangguk patuh dengan apa yang dikatakan suaminya. Setelah David berangkat ke kantor, Nia turun dari ranjangnya dan keluar kamar untuk mencari keberadaan Nada.
"Nada dimana mbak Nur?." Tanya Nia saat mendapati mbak Nur seorang diri di ruang keluarga sedang membereskan mainan Nada.
Hari ini memang Nada tidak bersekolah, tidak tahu apa alasan David sehingga meminta anaknya untuk dirumah saja.
"Ada di taman belakang bersama Nyonya Karmila, Non."Jawab mbak Nur dengan ramah.
"Haahh ada mama? Sejak kapan mama ada disini mbak?."Tanya Nia yang memang sama sekali tidak tahu tentang kedatangan mama mertuanya.
"Baru saja kok Non, mungkin baru 15 menit yang lalu."Jawab mbak Nur lagi.
Nia melangkahkan kakinya menuju taman belakang, bagaimana bisa dia istirahat dikamar saja seperti permintaan David tadi. Sedangkan saat ini dirumahnya ada mama mertuanya yang berkunjung.
"Loh Nia, kenapa kamu keluar sayang? Bukannya kamu harus istirahat saja dikamar." Seru Karmila.
"Nia capek ma kalau hanya dikamar saja, lagipula Nia inikan tidak sakit ma. David saja yang terlalu khawatir dengan keadaan Nia. Oh iya, mama tadi datang sama siapa?." Tanya Nia mengalihkan topik pembicaraan.
"Tadi mama bareng sama Miska. Sekalian dia mau kerumah sakit jadi mama nebeng saja sekalian. Soalnya mama mengkhawatirkan keadaan kamu, kamu benar tidak apa-apakan sayang?."Tanya Karmila masih terlihat khawatir.
Nia tersenyum dan terharu dengan perhatian dari mama mertuanya. Padahal dia sama sekali tidak sakit dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan, belum sempat Nia menjawab pertanyaan dari mama mertuanya. Nada sudah menghampiri Nia dan duduk dipangkuan Nia dengan begitu manjanya.
"Mama kata papa kok mama sakit? Mama memang sakit apa? Yuk kekamar saja, Nada mau pijitin mama biar mama tidak sakit lagi."Seru Nada dengan sangat antusius.
"Mama tidak sakit kok sayang, hanya tadi sedikit capek saja dan sudah betistirahat jadi sekarang capeknya sudah hilang. Terimakasih anak mama sudah perhatian sama mama."Jawab Nia dengan bijak.
"Dihhh kalau mamanya sakit kenapa Nada duduk dipangkuan mama begitu?." Tanya Karmila dengan senyum mengembangnya.
Plaaakkk
Nada memukul keningnya sendiri dan langsung turun dari pangkuan Nia. Nia yang kagetpun hanya bisa heran dengan kelakuan anaknya itu.
"Nada lupa Oma. Maafin Nada ya ma." Seru Nada dengan gaya bicara memelas.
"Iya sayang tidak apa-apa. Mama sudah tidak sakit kok, sini duduk dipangkuan mama lagi."Seru Nia sembari menepuk pahanya agar Nada kembali duduk dipangkuannya.
Karmila terlihat sangat bahagia melihat interaksi antara Nia dan Nada. Terlihat sekali ketulusan di wajah Nia, Nia memang pantas menjadi mama sambung untuk Nada. Salah besar jika saat itu dia akan mencoba menentang pernikahan David dan Nia, beruntung sekali dia segera sadar diri. Kebahagiaan tidak melulu diukur dengan harta dan level seseorang.
__ADS_1
****************