Dokter Penakluk Duda Arogant

Dokter Penakluk Duda Arogant
Mantan suami


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


" Karti ."


Pria itu menyebut nama ibu Karti dengan sangag fasih dan seperti memang sudah sangat mengenal ibu Karti. Ibu Karti sendiri masih terdiam, terpaku melihat sosok pria paruh baya yang saat ini ada di hadapannya. Tiba-tiba saja jiwanya beegejolak dan amarahnya merasuki tubuh tuanya.


" Wati, kita pergi sekarang."Seru Ibu Karti mengajak Wati untuk melanjutkan perjalanan mereka kepasar.


Ibu Karti tidak mau berbicara dengan pria yang saat ini ada dihadapannya. Bertemu dengan pria itu membuat rasa sakit hatinya yang semakin sakit dan terasa terulang lagi.


" Karti tunggu !!" Seru pria itu memanggil ibu Karti dan mencengkal tangan ibu Karti.


" Lepaskan ! Jangan sentuh aku, Baskoro !!."Seru ibu Karti dengan mata yang terlihat penuh amarah.


Pria itu adalah Baskoro, mantan suaminya yang sudah 19 tahun meninggalkan dia dan Nia demi hidup mewah bersama seorang janda beranak satu. Ibu Karti tidak bisa memaafkan kesalahan yang diperbuat oleh Baskoro, karena dia juga Nia harus hidup menderita. Sebab uang yang ibu Karti tabungkan untuk biaya sekolah Nia juga dibawa kabur oleh Baskoro. Uang 7 juta saat itu sudah besar sangat besar, tetapi Baskoro dengan tidak tahu malunya membawa uang itu.


" Lepaskan tangan anda, Tuan!."Seru Wati dengan tegas.


" Siapa kamu? Jangan ikut campur dengan urusan ku!."Sentak Baskoro sembari menatap tajam kearah Wati.


" Siapa saya tidak penting bagi anda, yang jelas jika kamu sampai menyakiti ibu Karti, kamu akan berhadapan dengan orang yang akan menghancurkan hidupmu. Dalam sekejap anda akan hancur, jangan sampai saya menghubungi Tuan saya."Ucap Wati tidak takut dengan Baskoro.


Hahahaaaaaa


Baskoro sedikitpun tidak takut, justru menganggap perkataan Wati sebagai lelucon di pagi hari. Baskoro dengan angkuh dan sombongnya tidak memperdulikan perkataan Wati.


" Dasar wanita tidak tahu diri ! memangnya siapa Tuan mu? Aku tidak takut dengan tuan mu, dan satu lagi kamu dibayar berapa sama wanita tua miskin ini untuk bersandiwara. Haahaaa." Seru lalu Baskoro tertawa dengan lantang.


" Sudahlah Wati jangan kamu ladenin tua bangka tidak tahu diri ini. Sekarang kita lanjutkan kepasar."Ucap Ibu Karti.


Wati mengangguk lalu menghampiri motornya, beruntung motor hanya lecet-lecet dan masih bisa untuk digunakan lagi. Melihat ibu Karti yang hendak pergi membuat Baskoro semakin marah, sebab dia merasa belum selesai bicara.


" Karti tunggu ! Aku belum selesai bicara. Mana anak kita, apakah dia menjadi wanita sukses atau dia hanya menjadi wanita miskin yang pekerjaanya hanya menjadi buruh cuci sepertimu?."Pertanyaan sombong dan menghina Baskoro lontarkan.


" Jangan pernah mengganggu hidupku dan anakku. Bagi kamu sudah mati!!"Seru Ibu Karti dengan tegas.

__ADS_1


Wati san ibu Karti meninggalkan Baskoro yang masih diam mematung di tempatnya. Dalam lubuk hati Baskoro ada segelintir rindu untuk anaknya, namun dia egois dan tidak mau mengakuinya meskipun dengan dirinya sendiri.


*Kurnia. Apakah kamu masih ingat dengan Ayah?.*Gumam Baskoro dalam batinnya.


Baskoro menghampiri mobilnya dan kembali melajukan mobilnya menuju perusahaan tempatnya bekerja. Di sepanjang perjalanan dia terus saja memikirkan pertemuanya dengan mantan istrinya, Karti.


*Kenapa bisa bertemu dengan Karti? Setelah 19 tahun tidak berjumpa, hari ini tanpa sengaja aku bertemu dengannya. Bagaimana kabar anakku, apa dia menjadi anak yang aku banggakan atau justru dia menjadi anak yang membuat aku malu. Haahh.. Untuk apa aku memikirkan anak yang tidak penting itu, anakku cuma 1 yaitu, Bella. Bella akan menikah dengan pria kaya dan Bella bisa aku banggakan.*Gumam Baskoro sembari fokus dengan setir mobilnya.


Sesampainya diperusahaan, Baskoro langsung memarkirkan mobilnya. Setelah itu dengan buru-buru masuk kegedung perusahaan. Beruntung sekali rapat belum dimulai sehingga dia terbebas dari amukan sang Tuan David.


" Kenapa baru datang, Om?."Tanya Vito yang duduknya tepat disamping Baskoro.


" Tadi ada insiden kecil di jalan, hampir saja menabrak orang. Beruntung orangnya tadi cepat menghindar, kalau tidak sudah pasti saat ini Om tidak ada disini. Kalau bukan rumah sakit pasti ya kantor polisi."Seru Baskoro sedikit berbisik ditelinga Vito.


" Tapi Om tidak apa-apakan?." Tanya Vito.


" Seperti yang kamu lihat aku tidak apa-apa. "Jawab Baskoro dengan santainya.


Obrolan mereka berhenti, seban David dan Rendi masuk kedalam ruangan rapat. Tatapan David tajam kearah Baskoro dan Vito, David sudah tahu dari Wati jika tadi mertuanya hampir saja celaka karena pria yang bernama Baskoro. Secara diam-diam Wati memfoto Baskoro dan memgirimnya kepada David. Dan secara kebetulan Baskoro adalah salah satu menejer yang bekerja diperusahaanya.


*Ada hubungan apa antara Baskoro dengan ibu mertuaku? Hemm sepertinya aku harus mencari tahu, siapa tahu ada rahasia diantara mereka berdua. Mulai sekarang tidak akan aku biarkan siapapun menyakiti istriku dan ibu mertuaku.*Gumam David dalam batinnya.


Secara tiba-tiba David memukul meja dengan cukup kuat sampai semua yang hadir untuk rapat terlonjak kaget dan memandang kearah David.


" Cepat mulai rapatnya, jangan cuma sibuk dengan fikiran kalian masing-masing." Seru David dengan tegas.


Satu persatu dari perwakilan devisi mulai melaporkan hasil kerja bulanannya. Mereka menyampaikannya dengan pelan dan teliti, agar tidak terjadi kesalahan sehingga tidak membuat David marah.


************


Nia mengantarkan Nada sekolah,hari ini adalah hari pertama kali Nia mengantarkan Nada bersekolah. Sebab selama 3 hari ini Nada meliburkan diri tidak masuk sekolah. Beruntung sekali pemilik yayasan sekolah itu sang Opanya sendiri.


" Nada sayang belajar yanh pintar ya. Maaf nanti di jemput sama pak sopir ya, mama harus kerumah sakit."Ucap Nia dengan lembut.


" Iya ma."Jawab Nada dengan dengan singkat sembari mengacungkan kedua jempolnya.


Tiba-tiba ada dua ibu-ibu yang menghampiri Nia dan Nada. Dua ibu-ibu itu juga membawa anaknya masing-masing yang ternyata temannya Nada.


" Mamanya Nada ya?." Tanya salah satu ibu yang memakai kacamata hitam.


" Iya bu."Jawab Nia dengan sopan.

__ADS_1


Para wali murid itu tidak ada yang tahu jika Nada adalah anak dari David, orang terkaya nomor 1 dikota itu. Tuan Widjaya sengaja merahasiakan identitas Nada agar Nada lebih mudah bergaul dan mendapatkan teman yang tulus, hanya para dewan guru saja yang tahu siapa Nada.


" Mamanya Nada cantik."Seru Cintia teman Nada.


" Iya cantik ."Jawab Binar teman Nada yang satunya.


" Helleh cantik darimana? Masih cantikan juga mama." Jawab mamanya Cintia.


" Teman- teman ini mamaku, aku punya mamakan? Karena mama aku sibuk terus, mama aku dokter. Sekarang aku akan diantar sekolah sama mama terus."Seru Nada berceloteh.


Teman-teman Nada tadi hanya menganggukkan kepalanya. Mereka akhirnya sama-sama masuk kekelas dan Nia juga ingin langsung menuju kerumah sakit namun tiba-tiba sang ibu dari teman Nada tadi menghentikan Nia untuk mengajak berkenalan.


" Kenalkan saya Hani, mamanya Binar."


" Kalau saya Jelita, mamanya Cintia."


Seru dua orang ibu-ibu itu secara bergantian mengenalkan dirinya masing-masing kepada Nia. Dengam ramah dan senyum mengembang Nia menyambut uluran kedua ibu itu.


" Nia. Senang berkenalan dengan ibu berdua."Jawab Nia dengan sopan.


" Nia seorang dokter ya? Bekerja dirumah sakit mana? Mau ikut arisan para wali murid tidak? Kalau mau nanti kita ikutkan secara susulan, arisannya kecil kok cuma 2 juta setiap minggunya."Seru Jelita dengan sombongnya dan bertanya secara beruntun.


Nia sebenarnya tidak mau menanggapi ocehan ibu yang ada didepannya itu mengingat sudah semaki siang dan dia harus segera krrumah sakit sebab 1 jam lagi jam prakteknya sudah dimulai.


" Saya bekerja dirumah sakit Cahaya Kasih. Emm ,maaf ya bu. Bukannya saya tidak mau ikut, berhubung saya buru-buru jadi lain kali saja ya kita bahas soal arisan. Soalnya saya harus bekerja,maaf banget ya."Seru Nia sembari menangkupkan kedua tangannya.


" Huhhh sombong banget sih. Baru juga jadi dokter, makanya seperti kita dong. Tidak perlu bekerja sudah dapat uang puluhan juta setiap bulannya. Jadi kita dirumah cukup ongkang-ongkang kaki, shopping terus kesalon. Tidak perlu repot-repot bekerja, bukan begitu say." Seru Jelita meminta persetujuan temannya, Hani.


" Benar banget say." Seru Hani menyetujui apa yang dikatakan oleh kongsinya.


Nia tidak mau menanggapi dua wanita sombong yang ada dihadapannya itu. Dia memilih segera menghampiri mobil yang ada dipinggir jalan. Nia tadi sengaja meminta sopir untuk menunggu dipinggir jalan saja, sebab Nia tadi bernoat hanya mengantarkan Nada masul saja lalu akan langsung pergi. Siapa sangka ada dua ibu sombong yang menghampirinya dan mengajak berkenalan.


" Huuhh belum juga selesai bicara sudah main pergi saja. Apa mungkin dia tidak punya uang untuk ikut arisan, makanya diatadi buru-buru pergi begitu?." Seru Jelita.


" Bisa jadi begitu say. Sudahlah jangan dihiraukan lagi, sembari menunggu anak pulang yuk kita ke salon saja. Aku ingin creambath nih, rambut ku sudah lepek dan gatal banget."Seru Hani sembari memegang rambut lurus sebahunya.


" Ok deh." Seru Jelita menyetujui saran dari Hani.


Dua ibu-ibu sombong dan angkuh itupun pergi dari halaman sekolahan dan menuju mobilnya masing-masing untuk menumu kesalon kecantikan langggana mereka yang berada tidak jauh dari sekolah anak-anak mereka. Hani dan Jelita memang terkenal sombong dikalangan para wali murid anak.


***********

__ADS_1


__ADS_2