
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Dua bulan berlalu
Nia merasakan perutnya yang mulas luar biasa, terasa sangat sakit. Meskipun belum pernah melahirkan, Nia tahu jika saat ini dia mau melahirkan. Saat ini baru jam 10 pagi, David masih ada di kantor, Nada pun sedang sekolah. Dirumah hanya ada para pelayan dan beberapa keamanan rumah.
" Aduhh ini sakit sekali, sepertinya aku sudah mau melahirkan."Ucap Nia pada dirinya sendiri.
Nia turun ke lantai bawah dengan menahan rasa sakitnya. Tidak ada yang tahu jika saat ini Nia mau melahirkan.
" Aduh ini semakin sakit."Ucap Nia menghentikan langkahnya dan duduk di anak tangga paling bawah.
Tiba-tiba mbok Jum yang sedari tadi ada di dapur masuk ke ruang tengah. Dan dia melihat Nia yang duduk di anak tangga sambil memegangi perutnya.
" Non Nia kenapa?."Tanya mbok Jum dengan khawatir.
" Perut Nia sakit mbok. Sepertinya Nia mau melahirkan, tolong telepon suami saya bik."Ucap Nia bicara sambil terbata-bata.
Mbok Jum dengan cepat mengeluarkan ponsel dalam kantong clemeknya. Dia mencoba menghubungi David, sampai panggilan ke tiga David belum juga menganggkat teleponnya.
" Tidak di angkat Non. Mbok panggil sopir untuk menyiapkan mobil, kita kerumah sakit sekarang Non."Seru bik Jum lalu dia berlari sambil berteriak memanggil sang sopir.
Mendengar mbok Jum berteriak, dua pengawal yang berjaga di depan rumah pun langsung ikut berlari masuk kerumah. Mereka takut terjadi sesuatu didalam rumah sana.
" Ada apa mbok?." Tanya salah satu pengawal.
" Itu Non Nia mau melahirkan. Cepat kalian bantu Non Nia ke mobil, cepat jangan bengong saja."Seru mbok Jum.
Dua pengawal itu hanya bengong dan saling pandang. Bagaimana cara mereka membawa Nia ke mobil jika mereka sama sekali tidak berani memegang Nia. Memegang Nia sama saja mereka cari mati.
" Mbok, bagaimana kami mau membantu Nona. Mbok tahu sendirikan kalau kita ini pria semua, yang ada tuan David akan marah besar. Mbok panggil bik Sumir saja untuk membantu mbok membawa Non Nia ke mobil."Ucap Salah satu pengawal.
" Sumir dan yang lainnya tidak ada dirumah. Mereka ada di rumah utama membantu nyonya Karmila menyiapkan acara arisan sosialitanya. Tidak ada pilihan lain, sekarang salah satu bantu saya angkat Nona. Kasihan Nona sudah kesakitan."Ucap mbok Jum.
Memang tidak ada pilihan lain selain mengikuti apa kata mbok Jum. Mbok Jum dibantu salah satu pengawal membawa Nia ke mobil, pak sopir sudah menyiapkan mobil didepan.
" Sakit mbok."Seru Nia merasakan rasa sakit yang luar biasa.
__ADS_1
" Sabar ya Non. Kita lagi jalan kerumah sakit, mbok tetap mencoba menghubungi Tuan. "Seru mbok Jum sambil mengusap-usap perut Nia.
" Mbok tolong telepon ibu. Aku ingin ibu menemani aku bersalin, tolong mbok."Seru Nia ingat dengan ibunya.
Mbok Jum mengangguk, di ponsel mbok Jum memang sudah tersimpan kontak keluarga besar. Sebagai kepala ART tentunya hal itu sangat penting, agar disaat genting seperti saat ini Mbok Jum bisa menghubungi para keluarga.
[ Hallo assalamualaikum mbok Jum. Ada apa mbok? Apa Nia sudah mau melahirkan?] Tanya ibu Karti langsung menebak jika Nia akan melahirkan.
Naluri seorang ibu tidak bisa dibohongi. Ibu Karti merasakan jika terjadi sesuatu dengan Nia.
[ Iya bu. Sekarang ibu langsung kerumah sakit keluarga Widjaya saja ya. Ini kami dalam perjalanan kerumah sakit.]
[ Iya mbok. Iya ]
Klik
Mbok Jum buru-buru mematikan sambungan teleponnya karena dia juga akan menghubungi Miska. Memberitahu jika Nia akan melahirkan, sehingga Miska bisa memberitahu pihak rumah sakit.
Hanya dalam satu kali panggilan Miska sudah menganggkat teleponnya. Mbok Jum langsung memberitahu Miska.
" Mbok apa suami saya sudah bisa di hubungi? Ehh... Aku lupa mbok, suamiku ada meeting sampai siang. Pantas dia tidak mengangkat teleponnya."Ucap Nia yang baru ingat jika David meeting.
Mobil yang membawa Nia kini sudah sampai di lobby rumah sakit. Ada beberapa dokter dan perawat yang menyambut kedatangan Nia. Salah satunya ada Miska. Para dokter dengan sigap membantu Nia masuk ke ruangan bersalin.
* Kenapa aku jadi malu begini ya? Seperti istri sultan yang apa-apa serba dilayani, mau melahirkan saja team dokter sudah berjejer menunggu begini.*Gumam Nia dalam hatinya.
[ Hallo Miska, ada apa?.] Tanya Rendi.
Miska menghubungi David tak kunjung ada jawaban akhirnya dia memilih menghubungi Rendi, agar Rendi bisa menyampaikan pesannya kepada David.
[ Mana kak David? Aku sedari tadi menghubungi dia, tapi tidak ada jawaban juga?]
[ Tuan David sedang memimpin meeting, ada apa? Jika ada pesan sampaikan saja padaku nanti aku akan menyampaikannya.]
[ Sampaikan sekarang juga jika Kak Nia mau melahirkan.]
[ Haahh... Nia sudah mau melahirkan? Gawat, ini harus segera aku sampaikan kalau tidak dia pasti akan marah besar.]
[ Iya cepat sampaikan]
Klik
Miska mematikan sambungan teleponnya lalu dia menghubungi mama dan papanya. Di rumah memang sedang ada arisan sosialita, tapi Miska tetap memberitahu mama dan papanya. Mau akan langsung datang atau tidak, yang penting Miska sudah memberitahu mereka.
__ADS_1
Di tempat lain, tepatnya di perusahaan. Rendi membisikkan sesuatu ketelinga David, dan dengan cepat David bangkit dan keluar dari ruangan meeting. Rendi mengambil alih kepemimpinan metting itu.
********
David mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang diluar nalar. Dia hanya ingin segera cepat sampai rumah sakit dan menemani istrinya melahirkan.
" Sayang semoga aku bisa keburu untuk menemani mu bersalin."Seru David.
Mobil David belok ke plataran rumah sakit dan berhenti tepat didepan pintu masuk gedung rumah sakit. Dia memarkirkan mobilnya sembarang, bahkan kunci mobil pun masih terpasang. Semua itu akan di urus oleh pengelola parkir dan pihak keamanan rumah sakit. Seorang sultan mah bebas mau parkir dimana saja.
Didepan ruangan bersalin saat ini sudah ada Miska, pak Widjaya dan mbok Jum. Mereka bertiga harap-harap cemas menanti kelahiran sang babby boy sultan.
" Mana istriku?." Tanya David dengan nafas tersengal-sengal.
" Ada di dalam ruang bersalin kak. Kak David masuk saja tidak apa-apa,tapi didalam sudah ada ibu Karti juga."Seru Miska memberitahu.
David pun masuk keruangan bersalin, dan langsung mendekati istrinya yang nampak kesakitan sampai David saja tidak tega melihatnya.
" Sayang, kamu pasti kuat. Maaf aku datangnya terlambat."Seru David lalu nencium kening Nia dengan lembut.
" Iya hubby, aku pasti kuat dan aku pasti bisa. Sudah ada Ibu dan Hubby di sini yang memberikan aku kekuatan."Jawab Nia dengan menyunggingkan senyum nya.
" Sekarang kita mula lagi yuk Non. Sudah ada papa dan neneknya pasti dedek bayinya sudah mau keluar."Ucap dokter Rachel.
Nia mengangguk dengan pelan. Nia mengikuti arahan dari dokter Rachel dengan baik. Dan benar saja, setelah 6 menit berjuang akhirnya tangisan sang babby boy pun memenuhi ruangan bersalin itu.
Oooeekkk Oooeeekkk Oooeeekkk
Tangisan terdengar sampai ke luar ruangan, disana Miska memeluk papanya. Dia ikut bahagia dengan kelahiran sang keponakannya.
" Alhamdulillah bayi kamu sudah lahir Nia."Ucap ibu Karti sambil mengusap kepala Nia dengan lembut.
" Iya bu. Bu, maaf ya kalau selama ini Nia belum bisa membahagiakan ibu. Bu, ternyata melahirkan itu sakit ya bu."Ucap Nia dengan mata yang berkaca-kaca.
" Iya sayang. Sudah jangan menangis, ibu sudah bahagia. Kamu sudah menjadi anak terbaik ibu."Ucap ibu Karti.
" Maaf Tuan, bayinya mau di adzani sekarang apa nanti nunggu di bersihkan?."Tanya dokter Rachel.
" Sekarang saja."Jawab David dengan singkat.
David ingin segera mengadzani anaknya, agar suaranyalah yang pertama kali di dengar anakknya. David menerima bayinya yang diberikan Rachel, dan segera dia adzani.
Nia tersenyum bahagia melihat David yang dengan lembut melantunkan adzan.
__ADS_1
* Ya Allah, akhirnya kebahagiaan ku sudah lengkap. Ada Nada dan ada adik laki-laki kami. Semoga keluarga kami selalu diberikan kebahagiaan. Aamiin.*Gumam Nia dalam hatinya.
***********