
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
" Jeng Fitri !."Seru ibu Hani membaca nama yang baru saja keluar dari kocokan.
Arisan pertama kali ini yang dapat adalah ibu Fitri, ibu Fitri terlihat sangat senang mendapatkan arisan. Uang sekitar 280 juta kini sudah ada ditangannya. Ibu-ibu yang lain juga ikut senang seperti yang dirasakan oleh ibu Fitri. Namun ada satu ibu-ibu yang terlihat tidak sebahagia ibu-ibu yang lainnya. Itu adalah ibu Sulis, sepertinya dia sedang memikirkan tagihan makanan yang dia perkirakan sampai belasan juta. Sebab melihat menu-menu yang dipesan harganya sampai ratusan ribu dan tidak hanya satu menu yang mereka pesan. Satu orang bisa memesan 2 sampai 3 menu.
Nia melihat wajah murung ibu Sulis pun merasa kasihan. Nia pun tidak mau membuat ibu Sulis malu ataupu bersedih. Tanpa banyak bicara, Nia langsung menyampaikan niatnya untuk mentraktir mereka semua.
"Emm ibu-ibu semuanya, saya kan baru gabung di arisan ini dan ini hari pertama kali nya saya ikut arisan. Jadi sebagai perkenalan kita semua, hari ini makanan kalian semua saya yang bayar."Ucap Nia secara gamblang.
"Boleh-boleh saja si mbak, tapi inikan ulang tahunnya Jeng Sulis seharusnya dia dong yang bayarin. Untuk mbak Nia besok saja ya, kalau pas kita kumpul lagi baru traktir kita."Ucap ibu Jelita.
"Tidak bu, biar hari ini saja saya yang traktir. Sebagai tanda perkenalan kita semua. Ibu Sulis maaf ya, untuk hari ini biar saya yang traktir."Ucap Nia dengan sopan dan selalu mengukir senyum.
"Iya tidak apa-apa mbak, Nia."Ucap ibu Sulis dengan senyum mengembang sempurna.
Terlihat sekali senyum sempurna ibu Sulis, dia terlihat sudah lega. Nia ikut senang melihat perubahan ibu Sulis.
"Padahal tadi saya sengaja memilih restoran ini, yang memang makanannya enak dan mahal-mahal. Biar Jeng Sulis yang bayar, sebab dia kan ulang tahun jadi sudah jadi kebiasaan kita kalau yang ulang tahun yang traktir. Tapi ya sudah kalau ditraktir sama mbak Nia."Ucap ibu Jelita.
Tebakan Nia ternyata benar, jika ibu Jelita lah yang sudah memilih restorannya. Nia tidak habis fikir dengan perkumpulan para ibu-ibu yang saat ini ada didepannya. Mentang-mentang ditraktir makan seenaknya dan semaunya.
"Nanti kalau saya ulang tahun gantian ibu Sulis saja yang traktir."Seru Nia dengan mengedipkan mata sekilas kearah ibu Sulis.
__ADS_1
"Iya mbak Nia."Jawab ibu Sulis.
Tanpa dipanggil, pelayan pun datang menghampiri perkumpulan ibu-ibu itu untuk memberikan Bil pembayaran makanan yang harus segera dilunasi. Nia mengambil Bil itu dan mata Nia melebar sempurna saat mendapati deretan angka yang harus di bayar. Uang sebanyak itu hanya habis untuk sekali makan saja.
*Hahhh tagihannya sampai 16 juta ? Tidak heran sih menu yang mereka pesan saja memang yang mahal-mahal. Pantas saja ibu Sulis tadi terlihat gusar, tagihan makanan sama uang arisan besar uang tagihan makanannya. Apa mungkin memang begini gaya hidup mereka jika berkumpul? Hemm aku memang tidak tahu apa-apa, apalagi ini pertama kali aku kumpul dengan mereka.*Gumam Nia dalam hatinya.
"Bagaimana mbak Nia? Mbak Nia tidak sanggup bayar ya? Sudah kalau begitu biar jeng Sulis saha yang bayar dia pasti uang nya banyak. Suaminya kan seorang polisi berpangkat tinggi."Seru Ibu Jelita terlihat meremehkan Nia.
"Oh tidak kok bu. Biar saya saja yang bayar, tadi kan memang saya yang sudah berjanji ingin mentraktir makanan ibu-ibu semuanya. Insya Allah saya ada uang nya kok."Ucap Nia sembari mengulas senyumnya.
" Memangnya berapa sih Mas tagihannya?."Tanya ibu Jelita ingin tahu berapa habis total makanan yang mereka pesan.
" Totalnya 16 juta, Bu."Jawab pelayan dengan ramah dan singkat.
Nia mengambil black card yang diberikan oleh David, dan ini untuk pertama kalinya Nia menggunakan black card pemberian David. Nia tidak mau ibu-ibu melihat kartu miliknya, sehingga dia meletakan kartu itu langsung di atas nampan kecil dan tertutup dengan nota tagihan tadi.
"Apa biar yang setengahnya saya saja mbak?." Seru ibu Sulis merasa tidak enak dengan Nia.
Semua ibu-ibu itupun hanya mengangguk sambil memandang heran kearah Nia. Nia yang mereka kira wanita biasa saja ternyata mempunyai banyak uang, sampai mengeluarkan uang sebanyak 16 juta dalam sekali traktir. Selama ini jika mereka makan dan di traktir tidak lebih dari 5 sampai 7 juta.
"Mbak Nia suaminya kerja dimana sih? Sepertinya jatah bulanan mbak Nia banyak juga ya? Bisa arisan 10 juta dua minggu sekali, ini bayarin makan sampai 16 juta. Belum lagi SPP sekolah anak juga mahal loh."Tanya ibu Fitri yang baru saja dapat arisan.
"Suami saya kerja di salah satu perusahaan bu. Sudah jangan bahas soal uang lagi, emm sepertinya hari sudah mulai sore dan saya mau pamit duluan ya. Keburu suami saya pulang tapi saya belum sampai rumah. Jadi arisan untuk dua minggu lagi dirumahnya ibu Fitri ya?."Seru Nia sembari menerima kartunya yang diberikan oleh pelayan dan segera dia masukkan ke dompet lagi.
"Iya mbak ."Jawab ibu Hani dan yang lainnya secara bersamaan.
Dreeett Dreeett Dreeett
Belum juga meninggalkan restoran ponsel Nia sudah berdering disertai getaran. Dari nada deringnya Nia sudah tahu siapa yang menghubungi nya, sudah pasti sang suami tercinta. Nia menganggkat teleponnya sembari dia jalan menuju keluar restoran.
__ADS_1
[Iya Hallo Hubby.] Seru Nia dengan cepat tidak mau membuat David marah.
[Apa kamu belum pulang?] Tanya David pada intinya.
[Emmi ini sudah ada di parkiran mau pulang.]
[ Hemm.. Cepat pulang ! Aku tidak mau saat aku pulang kamu belum ada dirumh. Jam 5 aku sudah sampai rumah, masih ada waktu 2 jam lagi. ]
[Iya Hubby maaf aku terlalu lama kumpul dengan ibu-ibu wali murid itu.]
[Tidak masalah kamu kumpul dengan mereka ataupu teman kamu. Yang penting kamu tahu waktu saja, ya sudah aku mau lanjut kerja dulu. Oh iya tadi kamu menggunakan kartu kamu ya?.]
[ Ehh.. emm iya Hubby. Aku gunakan 16 juta, maaf aku tidak izin dulu.]
[Bagus. Tidak perlu izi pun tidak masalah, itu hak kamu. Kamu gunakan untuk apa saja tidak masalah. Uang ku juga masih banyak, jadi kalau habis aku akan memberi kamu lebih lagi. ]
[Ya sudah aku mau jalan dulu ya hubby, nanti kita bicara dirumah.]
[Hemm...]
Klik
Nia mematikan sambungan teleponnya, dia khawatir David marah dia sudah menggunakan uang tanpa izin. Apalagi untuk mentraktir ibu-ibu wali murid. Nia masuk ke mobil dan segera melajukan mobilnya keluar dari area parkir restoran. Hanya Nia sendiri yang pulang duluan, yang lainnya masih ada di dalam, bahkan mereka ingin jalan-jalsn ke Mall terlebih dahulu.
"Semoga saja David tidak marah, dari bahasanya tadi terdengar ketus. Tapi kenaps dia memintaku untuk menghabiskan yang banyak dan beli apa saja. Aku masih belum bisa menebak dengan benar sikap David."Seru Nia pada dirinya sendiri.
Ccciiiiittt......
Braaaakkkkk
__ADS_1
Suara hantaman dua benda saling bertabrakan, seketika membuat orang-orang yang ada disekitaran jalan berhamburan dan berlari melihat kearah sumber suara.
*********