
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
" Mama " Seru Nada masuk keruang perawatan Ibu Karti.
Mendengar ada anak kecil masuk keruangannya dan memanggil seseorang dengan mama, membuat ibu Karti siapa yang anak iti panggil mama dan siapa anak itu? Ibu Karti mengira jika anak itu salah masuk kamar. Namun ibu Karti melihat seorang gadis muda yang usianya tidak seberapa jauh dari Nia juga bersama anak kecil itu.
" Eh Nada, kamu kok sampai sini sih sayang?." Tanya Nia dengan ramah dan lembut.
" Nada pengen ketemu nenek alias ibunya Kak Nia makanya tadi dia merengek minta antar kesini." Seru Miska menjelaskan.
" Mama, mana nenek?" Seru Nada dengan gaya bicara khas anak kecil.
Haaahhhh ? Mama ?
Ibu Karti heran saat mendengar anak kecil itu memanggil Nia dengan panggilan Mama. Banyak sekali yang ingin ibu Karti tanyakan kepada Nia namun kepalanya masih terasa sakit sehingga dia memilih untuk diam saja dulu.
Nia melangkah mendekati ibu Karti sembari tangannya menggandeng Nada. Bocah 4 tahun yang cantik dan menggemaskan itu kini sudah berada di dekat ibu Karti sembari menyunggingkan senyum sehingga deretan gigi putihnya terlihat.
" Nada ini nenek, beliau ini ibunya Mama Nia." Seru Nia dengan lembut mengenalkan ibu Karti kepada Nia.
" Hallo nenek. Aku Nada, nenek cepat sembuh ya. Jangan sakit lagi." Seru Nada dengan suara lucunya.
Wajah ibu Karti bingung dan dia memandang kearah Nia untuk mencari jawaban. Nia tahu saat ini pasti sedang bingung siapa anak kecil yang bernama Nada yang saat ini memanggil dirinya dengan panggilan mama Nia.
" Emm iya nak terimakasih." Seru ibu Karti menjawab sapaan dari Nada.
" Bu, ini Nada anaknya Tuan David. Dia memang memanggil Nia dengan panggilan Mama Nia. Dan ini Miska adik Tuan David." Seru Nia mencoba menjelaskan kepada ibu Karti agar ibunya tidak bingung.
" Hallo bu, kenalkan saya Miska. Semoga lekas sembuh ya bu." Seru Miska menyapa dengan ramah.
Ibu Karti menganggug pelan sembari menyunggingkan senyum ramahnya. Dia tidak menyangka jika Nia sangat dekat dengan anak David. Apalagi saat ini Miska juga ikut menjenguknya, dia merasa seolah tindak pantas dijenguk oleh keluarga pemilik rumah sakit tempatnya saat ini dirawat.
" Nenek sakit apa ?." Tanya Nada lagi mencoba mengakrabkan diri dengan Ibu Karti.
" Nenek jatuh sayang. Terus kepala nenek sakit dan berdarah, makanya Nada juga kalau main hati - hati ya jangan sampai jatuh biar tidak sakit seperti nenek." Ucap ibu Karti dengan lembut.
" Nada sayang, sudah dong neneknya jangan diajak bicaea terus. Kasihan nenek loh , kepalanya masih sakit. Nada duduk saja ya, biar neneknya istirahat dan cepat sembuh." Ucap Miska mendekati Nada dan mengajak Nada duduk si sofa yang ada diruangan itu.
Nada mengangguk lalu ikut dengan Miska duduk di sofa dan memakan buah anggur yang ada diatas meja.
" Bu, Nia duduk disana ya. Ibu istirahat saja biar ibu cepat sembuh." Seru Nia dengan lembut.
" Iya Nia." Jawab ibu Karti dengan pelan.
Niapun ikut bergabung dengan Nada dan Miska yang duduk di sofa. Nada sedang sibuk dengan buah-buahan yang ada di atas meja, padahal buah itu tadi Misks bawa untuk buah tangan saat menjenguk Ibu Karti tetapi justru Nada yang memakannya.
" Kok dimakan terus menerus sih Nada, itukan buat Nenek yang lagi sakit. Masa iya Nada yang makan sih." Seru Miska sembari tertawa.
" Aaoww maaf Aunty Nada lupa." Seru Nada seraya menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
__ADS_1
Hahahahaaaa
Nia dan Miska justru tertawa melihat kelakuan Nada yang menurut mereka menggemaskan. Sampai mereka lupa jika saat ini mereka sedang berada dirumah sakit, dan ada diruangan ibu Karti. Melihat kedua wanita dewasa yang ada didekatnya tertawa lebar membuat Nada langsung menempelkan jari telunjuknya di depan mulutnya.
" Sssttt nenek sedang bobok." Seru Nada dengan tingkah menggemaskannya.
" Haahhh... Iya sampai lupa kalau saat ini sedang berada di rumah sakit, bahkan ibunya Kak Nia saja sedang beristirahat. Maaf ya Kak tadi kelepasan."Seru Miska sembari terkekeh pelan.
" Iya Miska tidak apa-apa. Tadi aku juga lupa kalau saat ini sedang di rumah sakit. Ta sudah sekarang kita ngobrolnya pelan-pelan saja ya. Maaf ya sayang tadi mama kelupaan."Ucap Nia sembari mengusap rambut indah Nada.
Mereka berbincang dengan memelankan suaranya, cukup lama Nada dan Miska berada dirumah sakit merekapun keluar dari ruang rawat Ibu Karti. Miska kembali mengenakan maskernya agar tidak ada orang yang mengenalinya. Miska memang anak orang kaya dan hidupnya bergelimang harta tetapi tidak ada yang tahu jika Miska adalah anak dari Tuan Widjaya. Hanya teman karibnya Tiara dan Marta saja yang tahu identitasnya.
Ditambah penampilan sederhana Miska yang membuat orang tidak akan pernah menyangka jika dia anak dari Tuan Widjaya, orang terkaya nomor 1 di kota itu.
" Aunty kok pakai masker terus sih kalau keluar sama Nada?." Tanya Nada mencoba untuk protes dengan kebiasaan Miska.
" Aunty alergi debu." Jawab Miska sekenanya.
Begitulah Miska jika dia ikut keluar bersama keluarganya dia selalu memakai masker dan jika makan malam diluar selalu meminta private room. Miska bukan tidak mau membuka jati dirinya terhadap teman-temannya tetapi Miska hanya ingin melihat teman yang benar-benar tulus dan teman yang benar-benar menganggap pertemanan tanpa memandang siapa Mischa.
Mobil yang dikendarai Miska sudah meninggalkan pelataran parkiran gedung rumah sakit. Miska memang terbiasa mengendarai mobilnya sendiri tanpa memakai jasa seorang sopir. Mobil yang dipakai Miska pun mobil biasa, bukan mobil mewah pada umumnya yang seperti dipakai oleh mamanya dan David sang kakak.
" Nada mau tidak mama Nia benar-benar menjadi mamanya Nada dan akan tinggal di rumah sama kita?."Seru Miska mulai mempengaruhi sang keponakannya.
" Mau Aunty , Nada juga mau punya adik. Jadi mama Nia harus apa?."Tanya Nada dengan wajah polosnya.
" Heemm begini, Nada harus bilang sama papa kalau Nada mau mama Nia benar-benar menjadi mamanya Nada. Jadi papa harus menikah dengan mama Nia, bagaimana Nada mau kan?."Seru Miska tetap mempengaruhi Nada yang masih sangat polos.
Miska tahu Nada sangat menyayangi Nia, begitupun dengan Nia yang juga sangat menyayangi Nada dengan tulus. Nia pantas menjadi pendamping David, sebab Nia benar-benar terlihat tulus dan menyayangi Nada apa adanya.
" Tapi Nada jangan bilang sama papa kalau aunty Miska yang menyuruh ya? Nanti papanya Nada marah sama aunty dan tidak mau menikah sama mama Nia. Nada akan sedih, aunty juga akan sedih."Ucap Miska merayu Nada.
" Siap aunti , Nada tidak akan bilang sama papa. Nada juga mau mama Nia jadi mamanya Nada beneran. Oke aunty kita diam - diam ya."Ucap Nada sembari tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Miska mengangguk dan tersenyum lalu mereka saling beradu tangan sebagai bentuk kerja sama. Mereka berdua benar-benar sangat mengharapkan Nia mau menjadi Mama sambung untuk Nada. Kepribadian Nia juga sangat disukai oleh Miska. Sopan, lembut dan penyabar serta penuh kasih sayang. Nia juga sederhana, dan enak diajak bicara, berwawasan luas.
Mobil yang dikendarai Miska saat ini sudah sampai di depan gerbang rumahnya. Berhubung mobil Miska tidak mempunyai sensor, pak satpam dengan buru-buru membukakan pintu gerbang agar mobil miska bisa masuk ke halaman rumahnya.
**********
Sementara itu, saat ini David sudah berada di rumah sakit dan dia menunggu kedatangan Nia di ruangan pribadinya. Mengetahui David memanggilnya membuat Nia segera menemui David, sebab Nia juga ada yang ingin dibicarakan dengan David. Tentunya soal biaya rumah sakit yang saat ini menjadi bebannya.
Tok Tok Tok
Pintu ruangan David diketuk dari luar, David sudah tahu pasti itu Nia yang sudah datang. Dengan segera David meminta Nia untuk masuk, sebab David tidak mempunyai waktu banyak untuk berbicara dengan Nia. Jam 4 sore dia ada meeting dengan klien dari luar negeri.
" Maaf ada apa Tuan David memanggil saya?."Tanya Nia sambil menundukkan kepalanya.
" Angkat kepalamu ! Aku paling tidak suka ada orang yang berbicara denganku sambil menunduk. Aku ada di depanmu, bukan ada di bawah situ. Apa kamu bicara sama lantai."Seru David dengan wajah garangnya.
Nia langsung mendongakkan kepalanya dan memandang ke arah David. Wajah David tidak ada senyumnya sama sekali, sehingga membuat Nia merasa takut. David meminta Nia untuk duduk di kursi seberang meja kerjanya.
" Aku akan membuat penawaran untukmu, tetapi kamu tidak boleh menolak penawaran dariku ini."Ucap David mulai membuka percakapan mereka.
" Maaf tuan apa yang ingin tuan tawarkan kepada saya? a)Asal penawaran Tuan itu tidak memberatkan, Insya Allah saya akan melakukannya."Jawab Nia dengan yakin.
__ADS_1
" Aku tahu saat ini kamu pasti sedang pusing memikirkan biaya rumah sakit. Jika pun biaya ini ditangguhkan menjadi hutang, kamu akan kebingungan dan tidak mampu untuk membayarnya. Sekarang aku punya penawaran untuk kamu, kamu akan terbebas dengan hutang biaya rumah sakit ibumu. Tetapi kamu harus mengikuti apa perintahku, tenang saja aku tidak akan berbuat macam-macam justru apa yang aku tawarkan ini akan membuatmu semakin dikenal oleh orang-orang."Seru David bicara dengan tegas.
Nia Masih belum paham apa yang disampaikan oleh David dan penawaran apa yang akan diberikan David. Justru Nia beranggapan jika David akan menjadikannya istri sebagai pengganti Mama untuk Nada.
* Dia bilang aku akan dikenal banyak orang? Wahh jangan - jangan aku akan dijadikan istri oleh Tuan David. Hemm kira - kira aku terima tidak ya ?* Gumam Nia dalam hatinya sudah bersorak gembira.
" Apa kamu mau tahu penawaran apa yang ingin aku berikan?." Tanya David.
* Pasti menikah nih. Lalu apalagi kalau bukan menikah. Tapi masa iya aku menikah dengan pria arogan ini. Tapi jujur sih sepertinya aku mulai menyukai tuan David.* Gumam Nia terus bermonolglog pada dirinya sendiri.
David mengerutkan keningnya melihat Nia yang senyum-senyum sendiri. David mengira Nia sudah gila memikirkan biaya rumah sakit ibunya.
" Emm.. penawarannya apa Tuan?." Tanya Nia ingin lebih lebih memastikan apa yang ditawarkan David.
" Aku mau kamu membayar biaya rumah sakit ibumu dengan kamu mau bekerja sama dengan ku atau lebih tepatnya dengan perusahaan ku. Bagaimana ? Apa kamu mau dan sanggup?." Tanya David.
Haaahhhh ? Kerja sama dengan perusahaan?
* Huhhh kerja sama dengan perusahaannya ? Kenapa aku justru sudah mikir soal Tuan David yang akan menjadikan aku mama sambung untu Nada. Huuuhh sadar Nia, jangan mikir yang tidak mungkin. Tapi kerjasama apa ya?.* Gumam Nia dalam batinnya.
Nia belum paham dengan apa yang disampaikan oleh David. Yang dimaksud David kerjasama dengan perusahaan, kerjasama dalam bentuk apa dan seperti apa? Nia tidak mau asal menyetujui kerjasama itu jika tidak jelas. Siapa tahu David hanya ingin memanfaatkannya saja.
" Kerja sama bagaimana Tuan?."Tanya Nia lagi.
" Bodoh !! Begitu saja tidak tahu, perusahaan ku saat ini sedang mencari model untuk produl kecantikan. Nah karena kamu ada hutang biaya rumah sakit kepadaku, kamu harus menjadi modelnya. Sebab aku tidak mau rugi, kamu pasti akan mencicil hutang itu dan tidak tahu kapan akan selesainya. Sampai siang ini saja biaya itu sudah 55 juta. Kalau sampai seminggu ibu kamu dirawat disini bisa sampai 100 juta, sebab kamar yang dipakai ibumu VIP. Bagaimana penawaranku Nia?." Tanya David penuh penekanan.
Nia diam mencoba memikirkan semua yang dikatakan oleh David barusan. Menjadi seorang model tidaklah mudah, apalagi profesinya saja seorang dokter dan bukan seorang Entertainer. Namun demi ibunya dia akan melakukan apa saja yang terpenting hutangnya lunas dan Ibunya bisa segera sembuh.
" Apa jika aku mengambil penawaran dari tuan, tuan bisa membiarkan Ibuku dirawat di sini sampai dia sembuh? Meskipun dengan waktu yang lama atau kurang lebih satu minggu." Tanya Nia butuh kepastian.
" Tidak masalah, aku akan menjamin ibu kamu sampai sembuh. Asalkan kamu menerima penawaranku ini." Jawab David meyakinkan Nia.
" Tapi aku ini bukan seorang model Tuan, aku seorang dokter. Bagaimana bisa aku menjalankan tugasku sebagai model iklan nanti?. Kalau gagal pasti aku yang anda salahkan."Seru Nia mencoba memberitahu segala kemungkinan yang akan terjadi.
" Kamu tenang saja, nanti ada seseorang yang akan membantu dan mengarahkan kamu yang penting kamu mau atau tidak." Tanya David dengan tegas ingin dia menjawabnya secara pasti.
Hhhuuuffff
Terdengar hlaan nafas Nia, Nia mencoba meyakinkan dirinya. Dia sebenarnya sangat tidak mengerti dunia modeling, apalagi berakting di depan kamera. Namun demi ibunya dia akan melakukan apa saja. Mungkin dengan cara ini dia bisa membantu biaya rumah sakit ibunya Nia ingin ibunya cepat sembuh dan bisa beraktivitas seperti biasa. Jika dia menolak tawaran David, Nia khawatir David akan mengeluarkan ibunya dari rumah sakit sekarang juga .
" Baiklah tuan saya ambil tawaran dari tuan, tapi jika ada kesalahan tolong jangan menyalahkan saya. Sebab saya bukan seorang model. Saya mau melakukan ini semua demi Ibu saya, demi biaya rumah sakit. Tetapi bagaimana dengan pekerjaan saya? Bukannya anda sudah kembali memperbolehkan saya bekerja lagi di rumah sakit ini?." Tanya Nia bingung dengan pembagian waktu kerjanya.
" Soal pekerjaan, kamu tenang saja. Kamu selesaikan saja dulu urusanmu denganku, tidak akan memakan waktu lama. Mungkin antara dua atau tiga hari akan selesai. Sebelum aku memberitahu kapan jadwal pemotretannya, kamu boleh melakukan pekerjaanmu sebagai dokter di rumah sakit ini sembari kamu menjaga ibu kamu."Ucap David kali ini bicara dengan bijak tanpa ada nada pemaksaan.
" Baik baiklah tuan David, kalau begitu saya akan melakukan apa yang anda tawarkan tadi. Apakah masih ada yang ingin anda bicarakan dengan saya? Sebab saya ingin ke kamar rawat ibu saya?."Tanya Nia.
Sebab Nia juga sudah tidak ada lagi yang ingin dibahas dengan David. Namun tidak tahu dengan David, apakah masih ada pembahasan yang ingin dia bicarakan.
David menggelengkan kepalanya sebagai pertanda jika sudah tidak ada lagi pembahasan yang perlu dia bahas. David pun mengizinkan Nia untuk meninggalkan ruangannya. Sebab dia sendiri juga akan segera pergi menemui klien untuk meeting.
Nia pun keluar dari ruang kerja David, David sendiri merasa senang sebab Nia mau menerima penawarannya. David sudah meyakini jika dirinya benar-benar jatuh cinta kepada Nia, namun dia gengsi untuk mengakuinya atau menunjukkannya di hadapannya. Sebisa mungkin dia menutupi perasaannya agar tidak diketahui oleh Nia dan orang lain.
* Bagaimana jika dia tahu aku menyukai dan jatuh cinta kepadanya? Tapi benarkah ini cinta? Saat dia duduk di hadapanku tadi, jantung ku terus berdebar-debar bahkan hatiku juga merasa berdesir. Mendengar suaranya saja sudah membuat hatiku senang.*Gumam David dalam batinnya.
David meninggalkan ruangannya, dan menuju lift khusus petinggi rumah sakit yang langsung terhubungkan ke basement tempat parkir mobilnya. David mengendarai mobilnya meninggalkan rumah sakit menuju restoran mewah, yang akan dijadikan tempat meeting bersama klien dari luar negeri. Di sana juga Rendi sudah menunggu kedatangannya.
__ADS_1
************