Dokter Penakluk Duda Arogant

Dokter Penakluk Duda Arogant
Makan siang Rindi


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Bella baru saja mendapat telepon dari kantor polisi, memberitahukan jika Baskoro sudah di tangkap dan saat ini ada di kantor polisi. Bella diminta untuk datang ke kantor polisi untuk memberikan keterangan lagi.


Bella dan Leni langsung melajukan mobilnya ke kantor polisi. Mereka sudah tidak sabar lagi melihat Baskoro yang pasti saat ini sangat kacau dan terpuruk. Hal yang paling membahagiakan bagi Bella adalah melihat Baskoro mendekam sel jeruji besi.


" Polisi menangkap Baskoro dimana, Bell? Akhirnya setelah 2 minggu manusia tidak punya hati itu tertangkap juga."Tanya Leni penasaran.


" Polisi tadi bilangnya dia di rumah sakit, terus ada satpam yang membawa dia ke kantor polisi. Sepertinya dia datang menemui Nia untuk meminta perlindungan ma. Dan naasnya dia susah dikenali banyak orang, jadi satpam langsung membekuknya."Seru Bella.


Mobil yang dikendarai Bella terus melaju membelah jalanan menuju kantor polisi. Dia juga sudah tidak sabar ingin bertemu Baskoro dan memberikan dia pelajaran.


Setelah 30 menit berkendara, mobil Bella sudah sampai di depan kantor polisi. Bella dan Leni turun dan segera masuk menemui polisi yang menangani kasus Baskoro.


" Selamat siang pak."Sapa Bella dengan ramah.


Deegghhh


Baskoro langsung menatap Bella dan Leni secara bergantian. Tatapan Baskoro sama sekali tidak membuat Leni maupun Bella iba dan peduli. Justru mereka mau Baskoro dihukum seberat-beratnya.


" Siang ibu, Bella. Silahkan duduk."Jawab pak polisi tidak kalah ramah menyapa Bella.


Bella dan Leni duduk bersebelahan, di kursi lain ada Baskoro yang memandang mereka dengan aneh. Sudah tertangkap bukannya menyesali perbuatannya, tapi Baskoro seakan menaruh dendam kepada Bella dan Leni.


" Ibu jelaskan kembali hal apa saja yang sudah ibu Bella alami selama bersama Baskoro "Ucap pak polisi dengan tegas.


Tanpa ada yang dikurangi dan di tambah-tambah , Bella menceritakan semuanya. Dari awal dia keguguran, sering disiksa dan di sekap serta di jual kepada pria hidung belang.


" Memang kamu pantas mendapatkan itu semua, Bella. Kamu itu p4l4cur !!! Haahaaaaa..."Baskoro bicara dengan lantang lalu dia tertawa seperti orang yang sudah tidak waras lagi.


" Diammmm !!." Bentak salah satu polisi sehingga Baskoro pun langsung terdiam.


Selama 20 menit Bella memberikan keterangan, akhirnya dia di perbolehkan untuk pulang. Sebelum pulang, Bella dan Leni menemui dan bicara lebih dulu dengan Baskoro.


" Membusuklah kamu di penjara, Baskoro. Gara-gara kamu aku harus kehilangan anakku. Manusia bi4d4b tidak punya hati, aku sudah melayangkan gugatan cerai untuk mu. Aku sudah tidak sudi lagi menjadi istri pria psikopat sepertimu."Seru Bella dengan penuh penekannya.


" Cuuiihh... Jangan harap aku akan menceraikan kamu. Seumur hidupku, kamu akan tetap menjadi istriku dan tidak akan ada pria lain yang bisa memilikimu. Tanpa tanda tanganku, kamu tidak bisa bercerai."Seru Baskoro sambil melud4h.

__ADS_1


" Dengan uang aku bisa melakukan apapun untuk anakku, Baskoro. Nikmati saja kehidupan baru mu di dalam penjara, sampai kamu m4ti."Seru Leni bicara dengan sinis.


Setelah bicara dengan Baskoro, Bella dan Leni keluar meninggalkan kantor polisi. Baskoro di masukkan ke dalam sel tahanan, dia meronta-ronta tidak mau di penjara. Namun polisi pun tidak menghiraukan teriakan Baskoro.


Brrakkkk


Baskoro di dorong paksa masuk ke dalam sel tahanan.


" Kalau tidak mau di penjara jangan jadi orang jahat. Nikmati saja hari-harimu disini."Seru pak polisi.


" Si4l4n !! Semua ini gara-gara anak tidak tahu diri itu. Coba kalau dia mau melindungiku sudah pasti saat ini aku tidak mendekam di tempat yang sempit dan pengap ini."Ucap Baskoro bermonolog sendiri.


Baskoro tetap menyalahkan Nia, karena tidak mau melindunginya. Padahal dia sendiri sudah tahu semua itu karena ulahnya sendiri.


*********


Vito datang ke salah satu bank untuk mengurus ATM nya yang bermasalah. Secara tidak sengaja, Rindi yang melayani Vito.


" Ada yang bisa saya bantu pak?." Tanya Rindi dengan bahasa formal.


" Ehh Rindi. Kamu kerja disini? Oh ini aku mau mengurus ATM ku yang error, sepertinya karena ATM sedikit terkelupas jadi harus buat baru."Ucap Vito terlihat malu-malu.


" Baik, di tunggu ya pak saya proses dulu."Seru Rindi melayani dengan ramah dan full senyum.


Meskipun dia benci dan kesal dengan Vito, posisinya saat ini dia sedang bekerja dan dia harus profesional. Terlebih dia juga baru di bank itu sehingga dia tidak mau dipecat hanya gara-gara kesal dan memarahi Vito.


" Saya harus profesional kerja."Jawab Rindi dengan mata tetap fokus di layar monitornya.


Hhuuuffff


Vito hanya mengangguk saja, yang dikatakan Rindi memang benar jika saat ini masih jam kerja dan Rindi harus profesional.


Setelah menunggu 30 menit, akhirnya ATM baru Vito sudah jadi dan sudah bisa digunakan. Rindi memberikan ATM itu kepada Vito.


" Rin, makan siang bareng yuk."Seru Vito masih sempat mengajak Rindi untuk makan siang bersama.


" Maaf saya tidak bisa. Ini masih jam kerja."Jawab Rindi mulai jengah dengan Vito.


" Ya kali sekarang, nanti Rindi saat jam makan siang. Aku tunggu di cafe seberang ya. Jangan tidak datang loh, 25 menit lagi sudah waktunya jam makan siang."Seru Vito sedikit memaksa Rindi.


* Idih kok maksa ya? Memangnya dia siapa? Aku iyain saja lah, daripada nanti dia tidak pergi-pergi malu juga dilihatan yang lainnya.*Gumam Rindi dalam hati.


" Iya, sekarang anda silahkan keluar. Masih ada nasabah yang harus saya layani."Seru Rindi dengan sopan.

__ADS_1


" Ok, aku tunggu di cafe ya."Seru Vito dengan perasaan senang.


Tidak seperti biasanya Vito senyum-senyum dan perasaan nya berbunga-bunga seperti itu. Dia dulu tidak pernah dekat dengan Rindi, hanya sekedar kenal saja karena Rindi dan Berta teman Nia saat mereka sama-sama kuliah. Meskipun mereka beda jurusan, persahabatan tetap terjalin dengan baik.


" Gila, masa iya dia ngajakin aku makan siang. Mana dia mantannya Nia, kalau teman-teman lihat aku kan tidak enak. Ihhh kenapa tadi aku iyakan, tapi kalau tidak aku jawab dia bakalan terus disini. Dan aku juga yang akan malu." Ucap Rindi pada dirinya sendiri.


Sementara itu, saat ini Vito sudah berada di cafe seberang tempat kerja Rindi. Vito memesan secangkir kopi lebih dulu, dia belum memesan makanan. Menunggu Rindi datang baru akan memesan.


" Kenapa tadi aku bisa sebegitu gampang nya mengajak Rindi untuk makan siang. Padahal dulu aku ini tidak dekat sama dia, hanya sekedar kenal karena dia teman Nia. Hemm tapi kalau di perhatiin Rindi itu cantik juga ya, manis dan senyumnya juga manis banget. Dulu aku mengira jika dia itu 1 jurusan sama Nia, ternyata hanya Nia dan Berta saja yang ambil kedokteran. " Ucap Vito bermonolog dengan dirinya sendiri.


Setelah menunggu 30 menit lebih, akhirnya Rindi datang juga dan saat ini sudah duduk di hadapan Vito. Vito curi-curi pandang, jantungnya juga berdegup dengan kencang.


* Duh kenapa dengan jantung ku ya? Apa aku terkena lemah j4ntung?.* Gumam Vito dalam hati.


" Kamu pesan saja, Rin. Aku tadi sudah pesan kok." Seru Vito rada gugup.


" Iya."Jawab Rindi singkat.


Rindi memanggil pelayan lalu dia memesan makanan dan minuman. Setelah memesan makanan, Rindi sibuk memainkan ponselnya. Mau mengobrol dengan Vito pun dia tidak ada bahan obrolan.


" Kapan kamu menikah, Rin? Teman kamu saja sudah mau punya anak?." Tanya Vito mulai berbasa-basi.


" Belum ada calonnya."Jawab Rindi dengan singkat. Sebenarnya dia tidak suka dengan pertanyaan Vito yang menurutnya tidak patut untuk ditanyakan. Lagipula mereka juga tidak akrab.


" Ohh.. Begitu. Oh iya, mana si Berta? Kok aku tidak pernah lihat dia lagi.?" Tanya Vito berbasa-basi.


" Berta ada dirumahnya. Dia ambil S2 di luar negeri kan, tapi sekarang masih libur. Kayaknya masih di rumah. Coba kamu datang saja kerumahnya, nanti ketemu sama dia."Jawaban Rindi terdengar tidak mengenakan.


Vito tersenyum sambil menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal. Jujur saat ini dia sangat gugup dan bingung mau mengobrolkan apalagi. Terlebih Rindi terkesan dingin dan cuek, tidak seperti dulu.


" Ehh kamu kok sepertinya tidak suka makan siang sama aku?." Tanya Vito ragu-ragu.


" Sudahlah jangan banyak mengintrogasi aku, aku datang kesini untuk makan siang bukan untuk kamu tanya ini dan itu. Lagipula kamu tadi kenapa sih ngajak aku makan siang segala? Kita ini kenal saja tidak dekat, jadi bingungkan cari bahan obrolan."Seru Rindi.


Makanan yang mereka pesan pun sudah datang, ternyata makanan yang dipesan Rindi juga sama dengan makanan yang dipesan oleh Vito begitupun dengan minumannya.


" Kok sama sih."Gumam Rindi pelan namun masih bisa didengar oleh Vito.


" Berarti kita ini jodoh."Jawab Vito sambil terkekeh.


Hhhuuuuhhh


Rindi hanya melengos sambil mendengus, perkataan Vito tadi sama sekali tidak menuru Rindi sama sekali tidak masuk akal. Mana ada jodoh, yang ada Rindi itu masih kesal dan benci dengan Vito atas apa yang dulu pernah di perbuat Vito kepada Nia.

__ADS_1


* Ini orang kok lama-lama semakin ngeselin ya, masa iya ngataain kita jodoh? Jodoh darimananya?.*Gumam Rindi terus bermonolog pada dirinya sendiri.


*********


__ADS_2