Dokter Penakluk Duda Arogant

Dokter Penakluk Duda Arogant
Belajar membaca puisi


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Bella dan Vito pulang dari rumah sakit bersama. Vito sesekali melirik Bella yang sedari tadi banyak diam. Tidak seperti biasanya Bella diam, sebab biasanya dia akan ramai dengan terus bercerita seperti burung beo.


"Kenapa kamu diam?."Tanya Vito dengan tangan fokus dengan setir dan pandangan lurus kedepan tanpa melihat kearah Bella.


"Tidak apa-apa sayang. Emm apa kita tidak mau mampir untuk makan malam dulu?."Tanya Bella mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Tidak perlu ! Dirumah bibik sudah masak makan malam."Jawab Vito dengan cepat.


Bella kembali diam, sebenarnya dia masih kefikiran papanya yang saat ini masih terbaring di rumah sakit. Padahal tadi dia ingin tinggal di rumah sakit menemani papanya, sebab papanya lebih membutuhkannya sampai beberapa kali mengigau dan menyebut namanya.


Akhir-Akhir ini Bella juga ingin selalu dekat dengan papanya. Dia sendiri juga tidak tahu hal apa yang membuat dia selalu ingin berdekatan dengan papanya. Apakah mungkin karena bawaan kehamilannya? Semua itu hanya Bella yang tahu.


"Tadi kok aneh ya, kenapa papa memanggil nama kamu terus menerus? Seperti ada sesuatu yang terjadi di antara kalian berdua?."Ucap Vito.


"Emm.. Maksud kamu bagaimana, Sayang? Jelas kami ada hubungan lah. Dia kan papaku, jadi tidak salah dong kalau kami dekat. Dari kecil aku memang sangat dekat dengan papa, meskipun dia bukan papa kandungku."Ucap Bella mencoba menjelaskan agar Vito tidak curiga dan tidak semakin berfikir negatif.


Dalam hati Bella dia sudah ketar-ketir, takut sekali jika Vito mengetahui hubungan terlarangnya dengan sang papa tiri. Bella memang mencintai Vito, tapi dia juga peduli dan membutuhkan papanya.


Tidak tahu sampai kapan Bella dan Baskoro akan menjalin hubungan terlarang itu. Hubungan yang sudah dia jalani selama 9 tahun itu ingin sekali Bella akhiri tapi papanya tidak mau. Baskoro terlanjur mencintai Bella, tidak masalah Bella menikah dengan pria lain yang penting dia masih bisa berhubungan dengan Bella.


Tanpa terasa mobil yang dikendarai Vito sudah sampai di depan rumahnya. Vito melirik sekilas Bella, namun yang dilirik terlihat melamun. Vito yakin jika Bella sedang memikirkan sesuatu yang sampai saat ini masih mengganggu fikirannya.


"Turun Bel."Seru Vito mengagetkan Bella yang sedang melamun.


"Heehh apa?."Seru Bella dengan kaget.

__ADS_1


"Turun, ini sudah sampai rumah. Apa kamu mau tetap di mobil saja?." Seru Vito dengan ketus.


Vito membuka pintu mobil lalu turun lebih dulu dan membiarkan Bella yang masih bengong. Setelah Vito menginjakkan kakinya di teras rumah, Bella baru turun dari mobil menyusul Vito yang lebih dulu masuk ke rumah.


*Kenapa dalam beberapa hari aku ingin sekali selalu ada didekat papa? Apa karena kehamilan ku ini? Hemm jangan-jangan yang aku kandung ini anak papa dan bukan anak Vito? Tidak, tidak !! Ini anak Vito dan harus anak Vito, aku tidak mau jika ini anak papa. Jika ini anak papa pasti suatu saat nanti akan kacau.*Gumam Bella dalam batinnya.


*****


Sementara itu selesai makan malam, David dan Nia serta Nada sedang berkumpul di kamar Nada. Nada meminta papa dan mama nya untuk menemaninya latihan membaca puisi. Untuk pentas seni akan dilaksanakan pada hari minggu dan hanya tinggal 2 hari lagi.


"Sayang, nanti saat acara pentas seni kamu bisa datang kan?."Tanya David kepada Nia.


"Iya dong Pa, pasti mama akan datang. Mama kan mau melihat anak cantik mama ini pentas membaca puisi. Oh iya, apa papa tidak bisa datang?."Tanya Nia mengganti nama panggilannya.


"Heemm aku belum tahu, sebenarnya ada undangan dari sekolahan Nada. Akan tetapi aku ada urusan keluar kota dan jika memungkinkan aku akan datang. Tapi jika tidak datang tolong kamu wakilkan ya, Sayang? Dan kamu harus menyiapkan sambutan sebagai pemilik yayasan."Seru David.


Haahhhh


Sambutan ? Mata Nia langsung melotot mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh David. Bagaimana bisa Nia menyampaikan sambutan? Dia sendiri saja tidak mau ibu-ibu di sekolahan tahu siapa dirinya, bahkan untuk pihak sekolah saja hanya kepala sekolah yang tahu siapa dia dan Nada yang sesungguhnya.


"Harus bisa."Ucap David dengan tegas.


Nada yang mendengar obrolan mama dan papanya malah tidak bisa konsentrasi untuk membaca puisinya. Sehingga dia memprotes mama dan papanya secara langsung.


"Mama dan papa jangan berisik dong, Nada tidak konsentrasi belajarnya."Ucap Nada protes.


David dan Nada saling pandang lalu mereka berdua pun tertawa. Mereka lupa jika saat ini sedang ada di kamar Nada, padahal tujuan utama mereka adalah menemani Nada belajar namun justru mereka sibuk dengan percakapannya sendiri.


"Maaf ya sayang. Mama dan papa sudah mengganggu belajar kamu. Tapi Nada sudah pintar dan bagus kok baca puisinya. "Ucap Nia.


"Ini kan mama yang mengajari Nada."Jawab Nada dengan senyum bangganya.


"Coba Nada baca puisinya, papa ingin melihat anak cantik papa ini membaca puisi. Anggap saja mama dan papa sebagai penonton nya."Ucap David merayu anaknya agar tidak marah lagi.

__ADS_1


" Ok pa."Ucap Nada penuh rasa percaya diri.


Nada mulai membaca puisi sesuai dengan yang di ajarkan oleh Nia. David dan Nia mendengarkan dengan seksama dan penuh rasa bangga. Ternyata Nada bisa membaca puisi sebagus itu, membuat David terharu.


"Anak papa pintar sekali sih, siapa nih yang ngajarin?."Tanya David.


"Mama dong pa yang mengajari Nada. Oh iya papa nanti kalau Nada tampil, papa datang ya. Pokoknya Nada mau papa dan mama datang semua."Ucap Nada dengan wajah penuh harap.


"Iya sayang, nanti papa usahakan ya."Ucap David dengan mengusap kepala Nada dengan lembut.


Padahal tadi dia sudah bicara dengan Nia, jika dia meminta Nia untuk menggantikannya saat ada sambutan dari pemilik yayasan karena dia akan keluar kota. Namun Nada sudah memintanya langsung untuk datang, mau tidak mau dia harus bisa datang. David tidak mau membuat anaknya kecewa dan bersedih.


"Papa keluar dulu ya, ada pekerjaan yang harus papa selesaikan di ruang kerja. Nada lanjutkan belajarnya sama mama ya, sayang."Ucap David sambil melirik Nia.


"Iya pa."Ucap Nada.


David pun keluar dari kamar Nada menuju ruang kerja pribadinya. Ada pekerjaan yang harus dia selesaikan, akhir-akhir ini David memang sedang sibuk sehingga dia sering membawa pekerjaan pulang dan menyelesaikannya dirumah.


[Rendi, tolong kirim email file yang tadi aku minta.] Ucap David menelpon David. Tanpa berbasa-basi lagi.


Disebarang telepon sana terdengar Rendi menghela nafas dengan berat. Dia yang baru saja ingin beristirahat sudah mendapat perintah lagi dari sang Tuan.


[Baik Tuan, akan segera saya kirimkan.] Jawab Rendi dengan cepat.


[Heemmm.. Jangan lupa file itu yang lainnya juga kamu kirim. File kerja sama dengan perusahaan XX juga kamu kirimkan.]


[Baik tuan.]


Klik


David mematikan sambungan teleponnya, dan mulai sibuk dengan berkas-berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya. Satu persatu, David memeriksa berkas itu.


David ingin pekerjaannya segera selesai agar semua nya cepat beres. David akan mengusahakan jika dia akan datang saat acara pentas seni di sekolah nya.

__ADS_1


*Hemmm semoga saja aku bisa datang ke acara pentas seni itu agar Nada tidak bersedih.*Gumam David dalam batinnya.


***********


__ADS_2