
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
[ Apa? Sayang lusa pulang?.] Seru David kaget saat Nia menyampaikan jika dia akan pulang besok lusa.
Saat ini Nia dan David sedang berbicara lewat sambungan telepon. Nia berada di kamar dan teman-temannya bersantai di ruang tv sambil membuat laporan untuk di serahkan ke rumah sakit.
[ Iya Hubby, lusa kami semua pulang. Berhubung jalanan sudah bisa di lalui dengan mobil jadi kami naik mobil jemputan dari rumah sakit saja ya hubby.] Ucap Nia.
[ Tidak bisa !! Kalau yang lain terserah, tapi istriku harus naik helli biar tidak capek di jalan. Kamu itu sedang hamil muda sayang, apa kamu tidak akan kecapean jika jalan darat. Itu jauh loh sayang, butuh 4 sampai 5 jam perjalanan. Atau kalau tidak kalian semua naik pesawat saja kalau tidak mau nail helli.] Seru David tidak mengizinkan Nia untuk naik mobil atau perjalanan darat.
Hhhuuuffff
Terdengar helaan nafas Nia dari sambungan telepon. David tahu jika saat ini istrinya itu sedang kesal, akan tetapi David tidak memperdulikannya. David hanya tidak mau Nia kelelahan dan akan berakibat fatal dengan kandungannya.
[ Baiklah, Hubby atur saja bagaimana baiknya.] Jawab Nia terdengar pasrah begitu saja.
[ Hemmm kalian nanti naik pesawat saja, biar Rendi yang mengurus semuanya. Dengan menaiki pesawat istriku ini masih bisa menikmati perjalanan bersama teman dokter yang lainnya. Jarak dari tempat kalian tinggal ke bandara juga hanya 40 menit saja kan?]
[ Iya Hubby.]
Nia setuju-setuju saja dengan apa yang sudah di rencanakan David. Sambungan telepon selesai, Nia memilih bergabung dengan teman nya yang lain. Mereka menikmati malam-malam terakhir mereka ada di desa itu.
__ADS_1
*****
Sementara itu saat ini Leni mendatangi rumah Vito , wanita paruh baya itu sangat merindukan Vito. Sudah beberapa hari dia tidak bertemu dengan Vito, karena dia menenangkan diri di luar kota.
Melihat mobil Leni yang memasuki halaman rumahnya membuat Vito mendengus kesal. Dia tidak bisa menghindar sebab saat ini Vito sedang duduk di teras rumahnya sembari menikmati rokoknya.
" Mau ngapain lagi tante datang kesini?."Tanya Vito saat ini sudah merubah nama panggilan Leni dengan tante, bukan mama lagi.
" Vito, aku kan baru datang kok sambutannya seperti itu sih? Aku datang karena aku sangat merindukanmu, beberapa hari ini aku mencoba untuk menenangkan diri namun ternyata aku justru semakin merindukan kamu,Vito."Ucap Leni tidak tahu malu mengatakan rindu kepada sang mantan menantunya.
* Sepertinya dia sudah tergila-gila denganku dan akan frustasi saat tidak aku hiraukan. Leni, Leni sekarang kamu baru merasakan bagaimana sakitnya tidak di hiraukan oleh orang yang kamu cintai.*Gumam Vito sambil mengulas senyum sinis.
Vito memandangi Leni dari atas sampai bawah, seandainya Leni bisa bersikap normal selayaknya mantan mertua. Mungkin Vito masih tetap menghormatinya, namun kini Leni tak ubahnya seperti wanita murahan yang menginginkan belaian seorang laki-laki.
" Apa tante tidak malu bicara seperti itu? Aku ini mantan menantu anda dan mana mungkin aku membalas perasaan anda itu. Oh iya, ternyata kelakuan Bella itu turunan dari tante ya? Sama-sama wanita murahan !!."Seru Vito dengan ketus.
Vito tersenyum mengejek Leni sambil terus menikmati rokoknya. Leni sudah seperti wanita murahan yang tidak tahu malu. Mau sampai kapanpun Vito tidak akan mau membalas perasaan Leni. Masih banyak wanita muda dan cantik yang bisa Vito dapatkan, lagi pula apa kata orang jika Vito mempunyai hubungan dengan wanita yang lebih pantas menjadi mamanya.
" Pulang lah tante, ini sudah malam. Aku tidak mau kehadiranmu disini membuat para warga salah paham. Apalagi kamu menangis seperti ini, sudah sekarang tante pulang dan carilah pria yang lebih baik dari ku. Aku tidak mungkin membalas perasaan tante, karena aku masih normal dan tidak mungkin mau sama tante-tante yang sudah tua, ibarat daging tante itu sudah terlalu alot."Seru Vito dengan senyum mengejek Leni.
Air mata Leni tumpah begitu saja, kata-kata Vito sebuah penghinaan untuknya. Leni tidak menyangka jika mulut Vito sepedas itu.
Plaakkk
Leni menampar wajah tampan Vito, dia tidak terima dengan penghinaan dari Vito. Dua kali mereka bercinta Vito juga sangat menikmatinya, tapi kenapa sekarang justru Vito mengangapnya wanita murahan dan terhina.
" Apa dua kali kita melakukannya itu tidak ada artinya untuk kamu? Bukannya kamu juga sangat menikmatinya dan kamu juga menikmati tubuhku, Vito. Mungkin aku memang murahan mau tidur dengan pria b4jing4n seperti kamu. Tapi apa kamu tahu, semenjak malam itu aku sudah melabuhkan hatiku kepadamu dan tidak ada pria lain yang menjamahku selain kamu. Sekarang dengan mudahnya kamu menghina ku !! Keterlaluan kamu Vito!."Seru Leni dengan kesal.
__ADS_1
Vito langsung terdiam, dia tidak akan pernah tahu jika Leni akan semarah ini. Apa yang dia lakukan memang salah sudah mempermainkan perasaan Leni. Namun Vito melakukan itu karena dia kesal dengan Leni yang ternyata dia wanita yang sudah membuat Nia dan ibunya menderita.
" Aku tidak bermaksut untuk menghina tante. Emm maaf, lebih baik tante pulang saja dan ini juga sudah malam. Jangan merendahkan harga diro tante begini, malu lah sedikit."Seru Vito tetap meminta Leni untuk pulang.
" Keterlaluan kamu, Vito. "Seru Leni marah.
Braaakkkk
Vito masuk ke rumah dan menutup pintu dengan keras. Dia tidak memperdulikan Leni yang terus memanggil namanya agar mau membukakan pintu untuknya. Sepertinya Leni sudah tidak punya urat malu lagi, ada beberapa tetangga yang melihat kearah rumah Vito dan mereka mengira Leni marah karena Vito menceraikan Bella.
" Kasihan banget sih ibu itu. Pasti dia marah karena Pak Vito menceraikan anaknya."Ucap ibu-ibu yang bertubuh gempal.
" Bagaimana tidak di cerai kalau kelakuannya saja sangat memalukan. Masa iya selingkuh sama papa tirinya sendiri. Tapi kenapa juga itu ibu Leni masih membela anaknya terus. Padahal dia juga disakiti loh sama anaknya itu."Ucap ibu-ibu yang lainnya.
" Husst sudah jangan ikut campur urusan orang. Bubar-bubar, sudah malam waktunya untuk istirahat."Ucap ibu Rt meminta para ibu-ibu masuk kerumahnya masing-masing.
Para ibu-ibu itupun kembali ke rumahnya masing-masing. Leni sendiri terlihat sudah lelah, dia akhirnya pergi meninggalkan rumah Vito dengan masih terisak.
* Bagaimana aku bisa bersama Vit ? Sepertinya dia benar-benar tidak mau denganku. Apa aku ini yang bodoh ? Aku memang saat itu yang menggoda Vito, tapi Vito juga mau denganku. Kurangajar kamu Vito, kamu ternyata cuma mau menjadikan aku pelampiasan h4sr4tmu saja.*Gumam Leni sambil menyeka air matanya.
Mobil Leni melaju menjauh dari rumah Vito. Didalam rumah nya Vito hanya mengintip kepergian Leni dengan senyum sinisnya.
" Akhirnya pergi juga wanita tua itu. Hufff aku malas menghadapi wanita itu, apa dia kira aku ini menyukainya? Oh tidak mungkin, dia sendiri waktu itu yang sudah menyodorkan tubuhnya kepadaku, jadi aku tidak perlu merasa bersalah."Ucap Vito pada dirinya sendiri.
Vito menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamunya. Bagaimanapun caranya dia tetap akan menghindari Leni agar tidak berbuat zina lagi.
********
__ADS_1